
"Pangeran Artur, saya tidak tau Anda akan datang."
Meski terkejut Gabriel nampak bahagian melihat pangeran kesayangannya itu .
"Kau tidak memberitau akan berkunjung," tambah King Alzov yang baru bangkit dari tempat duduknya.
"Duduklah Artur, Gabriel baru menuangkan teh gingseng kesukaanmu."
Meski dengan bahasa lugasnya bukan berarti King Alzov tidak tau Artur datang untuk sesuatu.
Meski Artur datang tanpa mengetuk pintu dan mengabaikan segala etikanya, kali ini dia coba bersikap sopan dengan mengambil tempat duduk di depan Al, di seberang meja marmer bundarnya.
"Selamat untuk kelahiran putramu."
Artur hanya tersenyum, kemudian sengaja menoleh Gabriel yang masih menyiapkan cangkir untuknya.
"Selamat Gabriel karena cucumu juga akan segera menikah."
Gabriel justru menjatuhkan teko di tangannya,wanita itu sangat terkejut dengan sebutan cucu yang dikatakan Pangeran Artur barusan. Tentu Artur tau Claire adalah putri Gabriel, bahkan jauh hari sebelum dia melamar Claire Artur sudah tau Claire adalah anak yang diambil ayahnya dari seorang pelayan. Artur sudah meyakinkan Claire bahwa itu semua tidak penting baginya, tapi sepertinya Claire justru merasa dirinya semakin tidak pantas bagi kebaikan seorang Pangeran seperti Artur. Bagaimanapun Claire menganggap dirinya hanya putri seorang pelayan , Cintanya kepada Artur begitu tidak pantas untuk di raih, hingga kepedihan akhirnya justru menyesatkannya pada pelukan orang yang salah.
"Maaf Pangeran, saya akan membuat yang baru."
Artur membiarkan pengasuhnya itu pergi, karena dia ingin mereka hanya berdua.
Artur masih menatap saudaranya, menunggunya yang kembali melanjutkan entah apa yang sedang ditulisnya, sayang penampilan saudaranya yang tenang itu tetap tidak akan menipunya.
"Benarkah kau masih sama sekali tidak peduli ?
King Alzov masih takbergeming.
"Dia akan memilih orang lain, dan aku akan tetap akan menuntutmu untuk kesalahannya ini !"
Al menghentikan kegiatannya dan beralih melihat Artur.
"Tentu, aku tidak perlu cemas kau akan selalu menjaganya dengan baik, Artur." King Alzov masih setenang sebelumnya sama sekali tidak nampak emosi di sana, dia justru sudah kembali melanjutkan kegiatannya.
"Hentikan Al, aku tau apa yang telah kau lakukan untuknya, dan aku tau dia tidak sesederhana yang sedang coba kau ucapkan."
Kali ini King Alzov kembali berhenti melihat Artur saat kembali bicara...
"Katakan kenapa kau rela berkunjung jauh-jauh ke tempat ku ini saudaraku? "
"Kau membodohiku dengan menyelinap di kamar seorang gadis, sekarang aku ingin kau menjemputnya dan bawa kemari! "
Artur kehabisan kesabaran jika harus berbasa-basi lagi.
"Kudengar pangeran Keive juga cukup baik."
Tentu King Alzov tau segalanya, dia memilih tetap duduk di mejanya tentu bukan tanpa alasan.
"Aku justru terkejut jika kau menginginkannya bersama orang sepertiku."
Al benar, mereka tau resiko yang harus di tanggung Olive pada akhirnya jika itu terjadi.
"Kau benar untuk itu, tapi aku akan mengalah demi kebahagiaan Olive."
King Alzov justru tersenyum, "Dia boleh mendapatkan apapun yang dia inginkan."
"Bagaimana jika ternyata yang diinginkannya adalah keegoisanmu?"
Artur sempat membuatnya berpikir untuk beberapa saat sampai King Alzov kembali menggeleng pelan.
"Apa maksutmu Al !!!"
Kali ini Artur bangkit dari tempat duduknya, ototnya menegang, menyadari sesuatu yang sempat terlintas di kepalanya.
"Apa maksutmu dengan banyak waktu? " tuntut Artur, tidak akan tinggal diam jika sampai kecurigaannya benar.
Kali ini King Alzov benar-benar serius saat balik menatap Artur dengan netra gelapnya.
"Aku terpaksa, dan tidak punya pilihan."
Sepertinya kecurigaan Artur selama ini benar....
"Jangan bilang kau memberikan darahmu padanya!"
Al diam....Artur tau dia benar, "ikatan darah bukanlah sesuatu yang main-main," bahkan Artur sendiri tidak memiliki keberanian untuk melakukan hal macam itu pada Marra. "Kau sudah menjadikannya milikmu selamanya Al."
"Seharusnya aku mempertimbangkan pendapatnya untuk keputusan sebesar ini," Darah murni adalah sebuah ikatan yang tidak akan terputus bahkan oleh kematian.
"Kemudian kau ingin aku yang mengurusnya? "
"Hanya kau satu-satunya yang bisa kupercaya."
"Jangan bodoh Al, cepat atau lambat dia akan tau dan... "
Oh.... " dan Olive hanya akan membenci mu! "
Sepertinya Artur baru sadar Al benar.
"Apa karena itu kau tidak pernah muncul selama ini Al... " bukan lagi pertanyaan karena suara Artur melunak menyadari keterpurukan saudaranya.
Memang keputusan yang sulit bagi King Alzov saat itu, Olive hanya manusia yang tidak akan bertahan hidup setelah peristiwa semacam itu. King Alzov memilihnya hidup meskipun dengan cara yang salah.
"Dia boleh melakukan apapun di hidupnya."
Hidup baru yang mungkin masih belum Olive sadari, gadis itu tidak tau jika kelak tubuhnya itu tidak akan pernah berubah lagi. Mungkin penyihir seperti Latuza akan rela menukar apapun untuk keabadian seperti itu, tapi bagi gadis seperti Olive mungkin kematian akan lebih dipilihnya di banding harus menjalani hidup panjang yang tidak pernah dia inginkan bersama mahluk terkutuk yang sangat ia benci.
"Kau pikir itu semua bisa menebus dosamu ! "
"Kau juga boleh membenciku, Artur."
Belakangan ini King Alzov merasa sudah belajar banyak dari memaafkan".
"Aku tidak membenci Claire atau bahkan kekasihnya itu, sayangnya semua sudah tidak mengubah apapun."
"Kau salah, semua itu sudah jauh mengubah dirimu," kata Artur yang sepertinya juga baru menyadari kebenaran kata-katanya.
King Alzov hanya menatap Artur kali ini, tapi dia masih tak mengatakan apapun.
"Aku hanya ingin Olive bahagia Al, dan kau masih bisa mengubah pikirannya."
"Kami masih punya banyak waktu jika dia memang ingin bersamaku, kau tidak perlu cemas saudaraku."
Artur tau persis sekeras apa hati saudaranya tapi melihat usaha untuk mengalah kali ini, itu benar-benar langka.
"Dengar Al, aku menyayangimu, dan kau pantas mendapatkannya. Bukan karena kau satu-satunya saudaraku, tapi karena aku bisa melihatnya bahkan saat itu!" tegas Artur, dirinya memang tidak pernah menyalahkannya tentang Claire, mungkin Al hanya tidak menyadari ada bagian dari dirinya yang masih hangat di dalam sana.
Artur pergi meningalkan King Alzov yang masih duduk tanpa menyentuh cangkir tehnya.
*****