
Saat sadar Olive sudah berada di dalam sebuah sangkar berukuran besar yang mampu menampung berat tubuhnya. Sangkar tersebut seperti sengaja digantung di langit-langit goa Olive mencari kesekeliling di mana terdengar suara tetesan air dari langit-langit goa. Olive memdongak keatas, dan tak heran udaranya begitu lembab mungkin goa ini ada di kedalaman tanah. Hanya ada cahaya obor tiap beberapa ceruk dan itu tidak terlalu membantu penglihatannya yang masih buruk . Olive berharap bisa mengambil beberapa tetes air karena dia begitu kehausan .
Olive menengok keluar sangkar yang mengurung tubuhnya, dan langkah terkejutnya Olive saat menyadari suara bergemuruh itu berasal dari bawah tempat sangkar besar itu di gantung, Olive segera mencari celah untuk bisa melihat kebawah.
Dan apa yang dia temukan sebuah cawan besar lebih besar dari sangkar yang dia tempati. Cawan tersebut berisi sesuatu yang bergemulak layaknya mahma pijar yang mencair,
Olive masih tidak tau siapa kiranya yang berniat untuk merebusnya hidup-hidup.
Ingatan terahir Olive hanyalah mahluk berjubah gelap berdiri di dekat jendela kamarnya, beberapa saat sebelum entah siapa yang Olive duga seorang penyihir itu mulai mengayunkan tongkat kecil yang membuat olive tidak ingat apapun sampai terbangun di tempat mengerikan ini.
"Aku senang kau sudah bangun mahluk kecil."
Suara itu mengejutkan Olive, Olive segera mencari-cari dari mana suara itu berasal.
Dan tiba-tiba beberapa obor yang semula redub tiba-tiba menyala lebih terang. Olive bisa melihat lebih jelas sesosok wanita yang baru saja keluar dari salah satu lorong, wanita itu masih menjentikkan jari-jarinya seperti sedang membaca mantra dan dalam seketika asap hitam pekat keluar dari cawan besar tersebut hingga membuat pandangan Olive kembali kabur untuk beberapa saat.
"Apa kau masih ingat padaku gadis muda? "
Tentu, Olive ingat ular berkepala manusia tersebut pernah hampir mecabik tubuhnya andai saja Pangeran Artur tidak datang menyelamatkannya waktu itu.
"Latuza... " bisik Olive mengenali kepala iti, meski kali ini tubuh manusianya yang nampak lebih dominan.
Latuza mulai berjalan mendekatinya, rambut hitamnya berkibar meski tidak ada udara bergerak sama sekali di goa lembab tersebut. Olive yakin rambut -rambut tersebut yang bergerak sendiri. Saat lebih dekat barulah Olive sadar itu bukan rambut melainkan kepala ular-ular kecil yang menjuntai-juntai seperti rambut terurai yang mengerikan.
"Tempat apa ini? "
"Ini adalah hukuman kecil setelah kekasihmu itu membakar istana dan para pengikut setiaku."
"Kenapa kau melakukan ini padaku? " terdengar kegugupan di bibir Olive saat memberanikan diri untuk menanyakan nya, meski dia tau kemungkinan dia memang hanya akan di rebus layaknya aneka resep pembuat mantra.
"Karena Rajaku akan melakukan apapun untukmu gadis muda."
"Perhitunganmu salah besar, bahkan dia tidak akan pernah sudi lagi untuk sekedar menyebut namaku," rasanya Olive yakin itu benar jika mengukur kadar kebenciannya sendiri pada King Alzov kali ini. Sepertinya King Alzov juga demikian, karena tidak ada manusia yang dibenci oleh penguasa negri Utara itu melebihi kebenciannya kepada Lady Claire, dan dia ibunya sekarang, Lady Claire adalah ibunya... Olive kembali mengingatkan otaknya.
"Sepertinya usahamu akan sia-sia, asal kau tau dia justru akan berterima kasih jika kau membunuhku sekarang juga," tawa Olive jelas mengejek Latuza, "karena Aku putri Lady Claire, aku juga tidak takut mati sepertinya."
"Jangan coba menipuku gadis muda."
Mata Latuza membelalak
menyadari kebenaran gadis di depannya.
"Sepertinya kau lebih mengenalnya dari pada aku."
Wajah latusa berubah masam, menyadari kebodohannya, karena seharusnya dia tau dari awal, terlalu banyak kemiripan di antara mereka. Dia memang putri Claire....
"Maaf jika aku mengecewakanmu," ejek Olive sekali lagi.
Latusa mulai berteriak kencang melempar cawan persembahan dengan tongkat sihirnya, hingga cawan yang penuh mantra meluap-luap itu ter pental hingga meruntuhkan dinding goa saat ahirnya benda tersebut meledak layaknya dinamit. Air dari cawan tersebut bahkan membuat bongkahan batu ikut meleleh seperti lilin cair, Olive hanya bisa melihatnya ngeri.
Menyadari usahanya akan sia-sia Latuza segera berpikir keras. Bagaimanapun dia tidak mau menyerah begitu saja. King Alzov sudah memporak porandakan istanannya dan membantai seluruh pengikut setianya, mungkin gadis muda ini sudah tidak bermanfaat tapi bagaimanapun dia putri Claire pasti ada yang lebih peduli padanya di banding Rajanya.
Artur....
Akal licik Latuza segera menyusun rencana baru, jika King Alzov terlalu mustagil baginya, mungkin darah Artur masih bisa di dapatkannya.
Latuza merasa tidak memiliki pilihan setelah pengabdiannya berpuluh-puluh tahun pada King Alzov selama ini tidak juga membuat King Alzov cukup berbelas kasih padanya. Justru Rajanya itu mengabaikannya begitu saja seperti sampah yang tak berguna, dan semua itu hanya karena kehadiran seorang anak manusia. Latuza yang di kuasai kecemburuannya kala itu akhirnya justru membuatnya semakin celaka Latuza sudah kehilangan segalanya, bahkan eksistensinya kali ini tak lebih baik dari tikus tanah yang bersembunyi di selokan kotor. Latuza harus hidup bersembunyi dari gangguan para penyihir lain yang mungkin masih menyimpan dendam dari masa ke sombonganya selama menjadi satu-satunya penyihir yang mendapat tempat dekat bagi Rajana.
Setelah kehilangan istana dan para pengikutnya Latuza bersembunyi di sebuah goa bawah tanah di dasar telaga penghisap nyawa, karena hanya tempat itulah yang dirasanya aman. Latuza menjadi seperti ular yang bertapa memupuk kebenciannya pada penguasa Negeri Utara tersebut.
Kebencian itulah yang akhirnya memberikan kekuatan untuk kembali bangkit, saat hati King Alzov tidak mungkin dia dapat, keabadian tetap akan menjadi sesuatu yang menarik bagi para penyihir sepertinya.
*****