KING IN THE NORTH

KING IN THE NORTH
bab 32 edmund



"Aku baru tau, jika tawana dari penjara bawah tanah masih bisa keluar. "


"Percayalah, aku sendiri yang akan membawamu kembali pada keluargamu."


"Trimakasih Edmun."


"Ayolah Olive."


Edmun menariknya untuk ikut naik ke punggung kudanya. Mungkin Olive akan merasa canggung jika belum tau Edmun adalah kakak sepupunya. Kali ini olive memeluk pinggang Edmun saat duduk di belakangnya.


"Trimakasih Edmun, sungguh terimakasih."


Jelas Edmun menyadari ketulusan Olive.


"Apa saja yang dikatakan bibi Gabriel padamu? "


"Aku tidak pernah merasa memiliki saudara selama ini."


"Apakah Dominic bersikap buruk padamu? "


Olive mengangguk tanpa bicara.


Kuda mereka mulai memasuki hutan terlarang.


"Benarkah kau tau jalan yang benar?" tanya Olive.


"Tenanglah Olive, seharusnya hari itu aku yang dengantarkanmu sendiri."


"Ya, mungki Pangeran Keive tidak perlu celaka."


"Paman Hoob bilang aku bisa mempercayainya, dan kulihat dia juga sangat peduli padamu."


"Maksudmu Pangeran Keive? " yanya Olive bingung.


"Jangan bilang kau tidak tau itu, tidak mungkin dia rela pergi sejauh ini untuk menjemputmu, tanpa sebuah alasan."


"Pangeran Keive memang selalu baik padaku, tapi sungguh sampai hari itu aku juga tidak pernah menyangka dia mau melakukannya."


kuda yang mereka tunggangi seketika memekik nyaring karena tiba-tiba tanah yang mereka lalui seperti tiba-tiba terbelah.


Tak lama beberapa mahluk melata mulai keluar dari dalam tanah, kuda yang semakin panik berjingkat-jingkat sampai melemparkan tubuh mereka berdua.


"Olive tetaplah bersamaku."


Edmun mengeluarkan belati yang berhasil membuat mahluk-mahluk tersebut berdesis mundur.


"Apa mereka akan pergi?"


"Mereka hanya mahluk sihir, Olive."


Olive tidak tau kenapa sepertinya belati yang di pegang Edmunlah yang yang membuat mahluk-mahluk hutan itu mundur.


"Dominik juga memiliki pisau seperti itu," Olive baru ingat saudaranya itu selalu membawanya saat berburu kehutan.


"Setiap kesatria memilikinya, karena hanya mereka yang di ijinkan menyebrangi hutan terlarang."


"Apa orang tuamu yang memberikannya? " karena seingat Olive Edmund hanya seorang pengawal...


"Benda ini bukan milikku, mungkin suami Gabriel yang memilikinya dulu."


"Gabriel yang memberikannya untukmu? "


Edmun mengangguk, "dia ingin aku mengantarkanmu menyeberangi hutan terlarang ini."


Mereka kembali menunggangi kudanya menyeberangi hutan terlarang, "kita harus sampai ke batas hutan sebelum petang,Olive. Pegang belati ini dan jangan pernah menoleh kebelakang."


Olive berpegang erat di pinggang Edmun yang memacu kudanya lebih cepat. Begitu banyak mahluk berdesis seperti ikut mengejar mereka namun Olive tidak berani menoleh kembali ke belakan seperti pesan Edmund. Meski di siang hari dasar hutan terlarang tetap segelap malam, mereka mulai melewati kawasan berkabut, kuda mereka menolak untuk melanjutkan perjalanan.


"Sepertinya kudamu ketakutan? "


"Tenang Olive sepertinya kita mendekati istana Latuza."


"Siapa Latuza? "


"Dia penguasa hutan ini."


"Apa dia akan membiarkan kita lewat? "


"Entahlah sepertinya kita harus turun dari kuda."


Edmun sudah coba kembali membujuk kudanya tapi sepertinya kuda tersebut masih menolak untuk masuk lebih dalam.


"Apa menurutmu kita lebih baik berjalan kaki? "


"Tunggu Olive," Edmun mencekal lengan Olive yang masih di sampingnya.


"Sepertinya ada yang tidak beres, keluarkan belatimu."


Olive menyerahkan belati tersebut pada Edmun.


Tak lama kabut pekat mulai memudar dan nampak jelas mahluk melata yang meliuk dan bergelayut di atas batang pohon besar tak jauh dari mereka.


Sungguh Olive belum pernah melihat mahluk seperti itu. Seluruh tubuhnya seperti hewan melata dengan sisik dan cakar tapi kepalanya menyerupai wanita yang sangat luarbiasa cantik meski mengerikan.


Olive langsung beringsut waspada dan bersembunyi di balim punggung Edmund.


"Latuza, kami hanya ingin mejebrangi hutanmu," kata pakuda itu.


"Tentu saja, kau boleh pergi tapi tinggalkan gadis yang bersamamu."


Mahluk itu turun dari dahan pohon dan meliuk untuk mendekati mereka berdua.


"Jangan mendekatinya, Latuza." Edmun coba mengacungkan belati ditangannya .


"Singkirkan benda itu, karena itu hanya mainan anak -anak yang tidak akan menakutiku."


"Tolong ijinkan kami pergi."


"Tentu aku akan sangat berterima kasih kau sudah membawanya kabur dari Rajamu, dan mengirimnya kemari," tawa mahluk itu seolah menembus langit-langit hutan yang bergema.


Olive masih tidak tau kenapa mahluk mengerikan itu seperti tidak sabar ingin menelannya.


"Dengar, aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya."


"Mangnya apa yang bisa kau lakukan untuk mencegahku, Anak Muda,"  ejek Latuza dengan seringai menjijikannya.


Mahluk itu berputar melilit beberapa batang pohon dan dalam sekejap batang-batang tersebut hancur menjadi serpihan debu. Mahluk itu menyeringai menunjukkan gigi-gigi tajam yang siap mencabik mereka berdua. Bahkan langkah kakinya berdentum saat cakar -cakarnya menyentuh tanah.


"Pegang belati ini dan larilah jika ada kesempatan," bisik Edmun pada Olive yang masih bergetar berdiri di belakangnya.


"Aku tidak akan meninggalkanmu."


"Percayala, Latuza hanya menginginkanmu."


"Edmun, aku tidak mau !"


"Lari Olive.... Lari!!! "


Edmun mendorong Olive, kemudian coba menghalangi Latuza yang mulai mengejarnya. Edmun menemukan batang kayu untuk menyerang ular betina tersebut meski nampaknya sia-sia, tubuh Edmun justru langsung terpental oleh kibasan ekor ular betina tersebut.


Olive masih berlari dan Latuza mengejarnya. Edmun yang baru bangkit kembali berusaha melompat menunggangi tubuh Latuza, dan dengan mudah sekali lagi mahluk itu kembali mementalkannya hingga terpelanting.


Olive jatuh tersungkur di antara semak hutan, dia panik karena tidak tau apa yang harus dia lakukan saat ular betina itu mulai mendekatinya dengan desingan cakar - cakar tajamnya.


"Mahluk lemah yang menyedihkan, bahkan orang bodoh itu mengirimmu untuk datang padaku tanpa perlu membuatku bersusah payah."


"Apa maumu? " triak Olive saat penyihir itu semakin dekat.


"Jangan takut gadis kecil, aku hanya ingin sedikit bermain-main dengan mahluk kesayangan Rajaku."


Olive coba beringsut mundur.


"Sungguh aku tidak tau kenapa kau menginginkanku? "


"Seharusnya Rajamu memperingatkanmu untuk tidak bermain terlalu jauh," mahluk itu kembali meliuk dan berdesis.


"Siapa kau sebenarnya? "


Latuza hanya menyunggingkan senyum di ujung bibirnya yang mengerikan.


"Lihatlah, pernahkah kau melihat mahluk yang lebih sempurna dariku?"


Olive tercengang saat menyaksikan mahluk melata itu tiba-tiba berubah menjadi manusia dengan wujud yang sangat menawan, sunggub Olive belum pernah melihat kecantikan sesempurna itu, meski Olive sadar itu semua hanya tipu daya sihir.


"Kau tau kenapa King Alzov tidak lagi menginginkanku? " desis ular betina iti dengan pertanyaannya.


"Lihatlah, kau hanya mahluk lemah tak berdaya, dan aku akan segera membuat hidupmu berahir. Tapi sebelum itu aku ingin kau tau King Alzov adalah Raja kami dan selamanya hanya akan menjadi Raja kami."


"Aku tidak peduli, aku hanya ingin pergi dari mahluk-mahluk telah kutuk seperti kalian !"


"Gadis bodoh, tidak ada yang bisa pergi darinya"....meski berwujut manusia mahluk itu masih mendesis seperti layaknya ular betina, " tapi aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."


"Aku bukan gadis lemah seperti yang kau kira," tanpa di duga Olive berhasil menancapkan belati di tangannya menembus dada sebelah kiri mahluk tersebut.


"Berani sekali kau!! " Latuza mengibaskan belati itu seperti duri kecil yang sama sekali tak menyakitinya, tapi sepertinya tindakan Olive barusan berhasil memancing kemurkaan Latuza.


Olive segera berlari saat Latuza kembali melemparnya dengan bongkahan batang pohon kering, Olive berhasil menghindar tapi sepertinya dia tidak akan selalu seberuntung itu.. Olive kembali tersandung dan terjungkal, tubuhnya sempat menggelinding seperti bola salju saat menuruni lereng sampai akhirnya tubuhnya terhempas dia tas tanah lembab di tepi rawa.


"Kau pikir kau bisa lari, kau hanya akan membuatku semakin marah." mahluk melata yang penuh kemurkaan tersebut sudah kembali kewujut aslinya . Cakar -cakar tajamnya sudah siap mencabik tubuh Olive saat satu anak panah yang baru melesat menembus dadanya. Mahluk itu mengerang, kemudian kembali dengan seringai kemarahan.


"Hentikan atau aku akan benar-benar membunuhmu, Latuza !"


Jelas Latuza kenal suara itu....


"Yang Mulya Artur... "


Ada kelegaan saat Olive melihat Pangeran Artur menunggangi kuda hitamnya lengkap dengan busur dan anak apanah yang masih mengarah lurus kearah ular betina itu.


"Jangan berani menyentuhnya! "


Olive sendiri tidak tau kenapa tiba -tiba mahluk mengerikan itu beringsut mindur, seolah memberi hormat pada kedatangan Pangeran Artur.


*****