
Setelah mengetahui saudara laki-lakinya yang ternyata masih diam-diam mendatangi Olive, Artur pun mulai cemas. Artur tau bagaimana saudaranya itu tidak akan suka jika miliknya di ganggu, dan rencana Mara untuk menjodohkan Olive dan pangeran Keive sepertinya bukan main-main untuk di sepl kan. Artur sudah sangat mengenal saudaranya dan dan wajar jika dia takut ide Mara ini bisa memicu kemurkaan King Alzov. Artur berusaha untuk membujuk Mara, agar memikirkan kembali rencananya.
" Dengarkan aku, Mara," pinta Artur, "biarkan Olive tinggal, karena aku kenal siapa Al."
"Kenapa?, King Alzov akan tetap menculik Olive jika dia mau," keras Mara.
"Kurasa dia sudah melakukannya jika mau."
"Jangan membella saudaramu," tuduh Marra, "ingat jika sampai Olive tau yang sebenarnya."
Mara coba mengingatkan bahwa King Alzov lah yang bertanggung jawab atas kematian kedua orang tua Olive.
"Apa kau gila menyerahkan putri Claire padanya, kau pikir apa yang akan dilakukannya pada Olive jika dia sampai tau gadis itu putri Lady Claire! "
"Entahlah Mara, kurasa Al berbeda."
"Baiklah jika menurutmu begitu, tapi bagaimana dengan Olive, bagaimana jika dia tau saudaramu itulah penyebab kematian kedua orang tuanya!! "
Artur tidak bisa bicara tentang hal itu, masalah ini rumit, tapi ide Mara untuk mendekatkan Olive pada Pangeran Keive juga bukan perkara sepele.
"Dengar Mara, aku mencintaimu bagaimanapun keadaannya, kita sama-sama tau itu hasil dari pencapaian kita bersama bukan orang lain."
"Tidak Artur aku tidak akan mempertaruhkan Olive, baik bagiku atau Keive, Olive sudah seperti keluarga kami, kuharap kau bisa mengerti kenapa aku tidak rela. "
Alangkah terkejutnya Mara ketika melihat Olive sudah berdiri di ambang pintu...
"Dia putri Lady Claire", hanya itu yang coba Olive cerna, Olive berjalan mundur berniat untuk kembali kekamarnya sebelum Pangeran Artur mencegahnya.
"Olive dengarkan penjelasan kami."
"Apa semua orang merahasiakan semua ini dariku? " tanya gadis itu dengan suara bergetar.
"Dengar Olive," Mara coba mendekatinya, "kami menyayangimu, bagaimanapun kami tidak ingin siapapun menyakitimu."
"Maaf putri, ijinkan aku kembali kekamarku saja," sungguh Olive hanya membutuhkan waktu untuk sendiri untuk mengatasi syoknya, dan kali ini sepertinya Mara dan Artur cukup mengerti.
"Baiklah, mungkin besok kita bisa bicara, akan kusampaikan salammu pada kakakku, istirahatlah, Olive."
Mara mengecup Olive sebelum pergi, bagaimanapun ini ulangtahun kakak laki-lakinya, tentu Mara tidak bisa melewatkannya, meskipun dia tau nantin Pangeran Keive akan kecewa. Karena rencananya untuk melamar Olive sepertinya harus sedikit tertunda.
Setelah kembali kekamarnya, Olive masih tidak tau apakah dia harus menangis, mengetahui Lady Claire adalah ibunya tentu bukan masalah mudah. Tragedi itu benar-benar masih mengerikan untuk Olive bayangkan, King Alzov lah yang telah menjadikannya yatim piatu. Semua sudah terlambat bahkan kali ini Olive mendapati dirinya seperti anak durhaka yang kotor, yang tersisa sekarang tinggal kebencian yang rasanya bisa menelan dirinya sendiri.
Kini Olive hanya bisa mengutuk dirinya sendiri karena telah membiarkan dirinya jatuh cinta pada orang sejahat King Alzov.
Olive masih menangis saat mendengar suara berderit dari engsel daun jendelanya yang tiba-tiba terbuka...
Olive masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat di hadapannya....
Jelas bukan seauatu yang sedang dia harapkan...!!!
*****
Mara sangat panik saat seorang pelayan memberitaunya bahwa Olive tidak ada di kamarnya pagi ini .
Baik Mara maupun Artur sudah menyuruh semua pengawal untuk memeriksa ke semua tempat bahkan mencarinya di sekitar kampung.
"Sepertinya percuma," dengus Mara kesal, King Alzov tetap menculiknya....
"Lihat apa yang sudah dilakukan saudaramu yang berengsek itu !"
"Tenanglah, Mara."
"Mana mungkin aku bisa tenang jika Olive bersamanya, kau tau sebenci apa saudaramu itu pada mendiang Lady Claire, bayangkan apa yang akan dilakukan saudara laki-lakimu itu pada Olive jika sampai tau gadis itu adalah putri Lady Claire."
"Tenanglah aku sendiri yang akan ke Utara," tegas Artur yang ikut geram dengan tindakan saudaranya.
Artur pergi hari itu juga hanya dengan berbekal busur dan kudanya, tanpa membawa pengawal seorangpun. Pangeran Artur kembali menyebrangi hutan terlarang. Mungkin Claire tidak pernah sempat di selamatkannya, tapi kali ini dia bertekat untuk menggambil Olive meskipun harus dengan cara menumpahkan darah saudaranya sendiri sekalipun.
Artur cukup mengenal Al yang tidak mungkin mau mengalah, dia sudah cukup waspada mempersiapkan dirinya meski harus bertarung melawan saudaranya sendiri, satu-satunya saudara baginya.
*****