KING IN THE NORTH

KING IN THE NORTH
bab 36 The Stranger



Ini adaah malam kedua ketika Olive terbangun tengah malam dengan perasaan cemas. Hujan begitu deras diluar kilat dan petir menyambar-nyambar tapi Olive yakin bukan hal itu yang membuatnya terbangun tadi. Sama seperti malam sebelumnya saat Olive terbangun dengan perasaan tak kalah anehnya karena sekilas seperti merasa ada seseorang yang duduk di ujung ranjangnya. Olive sempat bangun untuk mengecek keseluruh bagian kamarnya, namun tidak ada siapa-siapa kecuali jendela kamarnya yang sudah terbuka lebar bar, mungkin karena badai. Jendela kamarnya terlalu tinggi untuk di panjat dari luar tidak mungkin seseorang masuk atau keluar dari sana, satu-satunya jalan hanyalah pintu yang masih tertutup itu, dan biasanya para pelayan akan mengetuk dulu jika ingin masuk.


Sepertinya di luar sedang terjadi badai di sertai hujan petir yang deras, Olive tidak menemukan penerangan untuk menerangi kamarnya, lilin-lilin yang menempel di dinding kebetulan juga padam semua, mungkin karena angin dari jendela kamarnya yang terbuka. Olive berniat bangkit untuk menutup jendela saat tiba-tiba kilat menyambar, cahayanya sempat ikut menyinari sudut-sudut kamarnya meski hanya dalam seper sekian detik namum alangkah terkejutnya Olive saay meyadari keberadaan Sosok gelap yang berdiri tak jauh dari ranjangnya.


Tubuhnya seketika menegang menyadari ternyata dia tidak sendiri di ruangan tersebut. Dalam kegelapan sempurna Olive yakin jikapun dirinya berteriak tidak akan ada yang mendengarnya, gemuruh badai petir akan menenggelamkan jeritannya.


Olive sudah berencana untuk lari kearah pintu saat lengan besar itu lebih dulu menangkapnya, mendorong tubuh Olive pelahan untuk kembali jatuh keatas tempat tidur.


Olive tidak bisa melihatnya, karena terlalu gelap untuk matanya yang belum beradaptasi.


Olive yakin siapapun itu dia sedang berada di atasnya, menekan tubuhnya keatas tempat tidur, meski tidak menyakitkan Olive sadar posisinya sangat rentan sebagai seorang wanita. Olive merasakan sebuah jari menyentuh bibirnya dengan lembut, memberinya isyarat untuk diam. Olive benar-benar ketakutan, dadanya kian berdegup kencang tapi perutnya terasa panas dan bergelayar ketika merasakan sesuatu yang keras menghimpit tubuhnya, karena entah siapapun itu dia pasti seorang pria. Olive bingung karena sepertinya orang itu tidak sedang ingin menyakitinya.


*****


Pagi harinya Olive hanya merasa seperti orang yang kehilangan orientasi, karena bangun dengan perasaan yang luar biasa aneh.


Olive mulai mengira mungkin semalam dia hanya bermimpi, meski mungkin mimpi itu terasa begitu nyata sekalipun.


Suara pintu kamar nya di ketuk seorang pelayan yang biasa mendatanginya setiap pagi, Olive mempersilahkannya masuk.


Sepertinya pelayan itu terkejut melihat Olive yang masih berada di atas tempat tidur.


"Putri Aurora sudah menunggu Anda untuk minum teh di taman."


Olive sendiri terkejut bagaimana mungkin dia bisa bangun sesiang ini.


Olive segera bangkit untuk mandi, dia sempat meraba beberapa bagian tubuhnya karena masih kurang yakin dengan apa yang dilakukannya semalam, entahlah dia benar-benar belum pernah mengalami mimpi yang terasa begitu nyata.


Olive berusaha menyelesaikan ritual pagi harinya secepat mungkin karena tidak ingin Putri Aurora menunggu terlalu lama.


"Lihat kau nampak pucat, apa kau tidak tidur semalam? "


Sambut Mara menilai Olive yang baru duduk di depannya.


"Badai semalam cukup mengganggu tidurku," tentu rasanya konyol jika harus memberitahukan yang sebenarnya pada putri Aurora.


Dan sepanjang hari itu rasanya Olive masih belum bisa berpikir waras, tiapkali dia kembali teringat mimpinya semalam, dan di benaknya yang lain Olive mulai berpikir bagaimana jika ternyata semua itu bukan mimpi, tapi rasanya mustahil karena Olive menemukan dirinya hanya sendiri pagi tadi.


Siang itu saat kembali kekamar Olive berulang kali mengecek seluruh kamarnya, dan dia yakin tidak ada yang aneh. Karena merasa bodoh akhirnya Olive hanya bisa menyudahi ke curigaannya tersebut, tapi dia tidak lupa untuk memastikan semua pintu dan jendela terkunci dari dalam malam ini.


Olive sudah cukup tenang berada di kamarnya, malam ini hujan tidak turun meski angin masih bertiup cukup kencang. Meski demikian Olive masih enggan untuk memejamkan mata, dia selalu memastikan tiap lilin di kamarnya agar terus menyala. Saat itu Olive baru sadar, tiap malam para pelayan tidak pernah lupa mengganti semua lilin baru dan tadi pagi Olive ingat semuanya dalam ukuran yang sama saat di bersihka, seolah lilin tersebut memang mati dalam waktu yang bersamaan, rasanya mustahil jika angin yang melakukannya kecuali memang ada yang sengaja mematikannya.


Pikiran itu justru hanya membuat ketakutanya bertambah nyata, namun jika kejadian itu bukan mimpi berarti?????...


Olive ter lonjak oleh suara jendela kamarnya yang tiba-tiba terbuka, sementara tadi dia sudah yakin menguncinya dengan benar. Beberapa lilin mulai mati meski tidak seluruhnya, kamarnya hanya terlihat remang meski tidak sampai gellap gulita.


Olive berusaha menahan degub jantungnya berburu kencang.


"Tenanglah aku tidak ingin membuatmu takut... "


sepertinya Olive mengenali suara berat itu.


Olive meraba dinding di belakangnya berusaha menemukan sesuatu untuk dia pegang karena tiba-tiba lututnya terasa lemas disaat seharusnya dia bisa berlari dan berteriak karena mungkin akan ada yang mendengarnya.


Pelahan sosok tinggi dan gelap itu muncul dari dekat jendela yang baru terbuka, Jubah gelapnya berkibar tertiup angin dari luar. Olive masih tidak bisa mengenalinya karena siapapun itu dia memakai tudung kepala, dan tingginya seperti hampir tiga kaki di atas Olive, Olive semakin beringsut ke dinding saat sosok besar bertubuh gelap itu berjalan mendekatinya.


"Tolong jangan mendekat," tiba -tiba Olive bersuara dan pria berjubah itu berhenti beberapa langkah di depannya, biji matanya seperti berkilat dalam kegelapan, masih menatapnya dari bayangan tudung jubahnya yang suram.


"Jangan takut padaku,"


Pria itu membuka tudung kepalanya.


Pekik Olive, meski tidak ada suara yang keluar dari mulunya, Olive benar-benar masih belum bisa percaya King Alzov berdiri di depannya, di kamarnya.


"Aku hanya ingin melihatmu."


Perlu beberapa saat sampai Olive berani membuka mulutnya...


"Apa Yang Mulia juga datang semalam? "


King Alzov hanya tersenyum mengiyakan.


Sungguh Olive masih belum memiliki keberanian untuk mencernanya.


"Kau tumbuh begitu cepat."


"Kau menjijikkan!!! " pekik Olive teringat akan perbuatan tidak senonoh yang sudah mereka berdua lakukan semalam, dan entah sudah seberapa sering King Alzov mengunjunginya diam-diam-diam selama ini.


"Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."


"Sungguh Anda tidak hanya melihatku," Olive kembali mundur waspada.


Tentu Olive masih ingat jelas apa yang di alaminya semalam, rasanya mustahil bahkan dalam kegelapan sempurnapun dirinya tetap tidak bisa menolak tiap sentuhan Pria itu.


"Kau benar-benar menguji batas pengendalian diriku."


" dan Anda sengaja mempermainkanku! " Olive hampir menjerit histeris.


"Karena kau masih tidak mendengarkanku dan berani kabur dariku."


"Aku masih ingat siapa yang menelantarkanku."


"Aku tidak akan menyakiti mu."


"Anda baru saja melakukannya,My Lord."


Olive masih ingat bagaimana dia bangun sendiri pagi tadi dengan perasaan kecewa yang entah bagaimana bisa begitu sulit untuk di jelaskan.


"Ikutlah bersamaku," bujuknya saat kembali berjalan mendekati Olive.


"Tidak!" tolak Olive, meski dia tau


King Alzov tidak sedang mempertimbangkan pendapatnya, karena sejatinya dia bisa melakukan apa saja yang dia mau.


"Aku tidak akan memaksamu," tiba-tiba King Alzov berhenti, "tapi kau boleh memikir kannya."


Olive terkejut dan tak percaya King Alzov benar-benar memberinya pilihan...


"Jangan coba mendatangiku lagi !"


Tegas Olive sebelum King Alzov benar-benar pergi.


Dan yang Olive heran bagaimana bisa pria itu bisa pergi begitu cepat, sampai Olive berlari ke jendela sekedar memastikan.


Dia sudah pergi.... Otak Olive sempat kosong.


Batin Olive penuh pertanyaan, bagaimana mungkin, kamar Olive terletak di bagian menara yang tinggi dan mustahil bagi manusia untuk bisa memanjat sampai ke atas sini kecuali dia memang bisa terbang.


Oh.... Olive tidak berani berpikir lebih jauh lagi....


*****