KING IN THE NORTH

KING IN THE NORTH
bab 44 The wedding



Setelah acara minum teh itu Olive segera kembali kekamarnya, merasa tidak enak setelah menolak secara halus permintaan Pangeran Keive untuk menemani berkeliling sebentar.


Tapi sepertinya Pangeran cukup mengerti, karena dia sendiri juga merasa lebih baik Olive mendapatkan waktu istirahat yang cukup.


Olive berjalan sendiri melewati lorong menuju kamarnya saat kembali berpikir.


Kadang Olive tidak mengerti bagaiman dia bisa menolak kebaikan Pangeran Keive, Olive tau hanya wanita paling beruntung yang mendapat perhatian sebesar itu dari seorang Pangeran menawan seperti Pangeran Keive. Kadang Olive merasa dirinya seperti wanita tidak tau diri saat diam-diam justru memikirkan King Alzov, bahkan setelah semua yang dilakukan pria itu padanya.


Olive memang membencinya, tapi di sisi lain Olive juga sadar mungkin kebencian King Alzov juga takkalah besar dari pada kebenciannya sendiri. Itulah kenapa Olive membenci dirinya tiap kali mulai memikirkan pria itu, Olive sadar mungkin lebih baik dengan tidak akan pernah melihatnya lagi. Negri utara sudah terasa semakin jauh sekarang, mungkin bagi King Alzov bukan masalah dia bisa datang semudah biasanya dia melawati jendela kamarnya, tapi nyatanya dia memilih untuk tidak datang, dan itu sudah jelas menegaskan sikap nya.


Olive duduk di ujung tepi ranjangnya tiap malam memandang jendela kamarnya yang tertutup, dan mungkin dia masih akan melakukan hal itu untuk waktu yang lama.


Tapi sepertinya Pangeran cukup mengerti, karena dia sendiri juga merasa lebih baik Olive mendapatkan waktu istirahat yang cukup.


Olive berjalan sendiri melewati lorong menuju kamarnya saat kembali berpikir.


Kadang Olive tidak mengerti bagaiman dia bisa menolak kebaikan Pangeran Keive, Olive tau hanya wanita paling beruntung yang mendapat perhatian sebesar itu dari seorang Pangeran menawan seperti Pangeran Keive. Kadang Olive merasa dirinya seperti wanita tidak tau diri saat diam-diam justru memikirkan King Alzov, bahkan setelah semua yang dilakukan pria itu padanya.


Olive memang membencinya, tapi di sisi lain Olive juga sadar mungkin kebencian King Alzov juga takkalah besar dari pada kebenciannya sendiri. Itulah kenapa Olive membenci dirinya tiap kali mulai memikirkan pria itu, Olive sadar mungkin lebih baik dengan tidak akan pernah melihatnya lagi. Negri utara sudah terasa semakin jauh sekarang, mungkin bagi King Alzov bukan masalah dia bisa datang semudah biasanya dia melawati jendela kamarnya, tapi nyatanya dia memilih untuk tidak datang, dan itu sudah jelas menegaskan sikap nya.


Putri Aurora melahirkan Putra pertamanya tadi pagi, kebahagiaan menyebar ke seluruh negeri karena kabar bahagia itu. Demikian juga dengan Olive dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


Di tengah kebahagiaan saat keluarga sedang berkumpul menyambut kehadiran Pangeran kecilnya, tiba-tiba Pangeran Keive berlutut untuk melamar Olive.


Sepasang mata hijau muda itu menatapnya penuh harap, tidak ada yang salah dengan kebaikan hatinya. Seorang Pangeran yang sempurna berlutut di depannya, sungguh sesuatu yang tidak pernah sekalipun terlintas dalam pikiran Olive bakal mendapatkan keberuntungan sebesar itu.


Seluruh ruangan hening dalam seketika, baik Artur dan Marra pun seperti sama sekali tidak menduga Pangeran Keive memilih momen ini untuk melamar Olive. Sementara gadis itu masih membeku tak ubahnya patung kristal yang mungkin akan hancur saat di sentuh.


"Kau boleh berkata tidak, tapi mungkin diam mu akan kuartikan, ya... "


"Apa kau akan membiarkannya," tuntut Mara pada Artur, "di mana kakakmu yang tidak bertanggung jawab itu! "


"Kita tidak bisa mencampuri masalah seperti ini, Mara."


"Dengar Artur, Keive kakaku bagaimanapun aku ingin dia bahagia dan aku tau Olive tidak akan memberinya apapun selama dia masih menunggu saudaramu yang berengsek itu!!! "


"Dimana saudaramu itu sekarang! "


*****