
Putri Aurora tidak mau lagi memikirkan pangeran Artur karena baginya saat ini hanya kesehatan Pangeran Keive yang paling penting. Meskipun sejauh ini Marra hanya bisa menunggu dan menunggu, waktupun seperti berjalan lebih lambat dari biasanya. Meski tabib istana sudah meyakinkan Pangeran Keive akan segera siuman tapi ini sudah hampir tiga hari dan dia belum menunjukkan tanda-tanda bakal membaik.
Bagaimanapun Mara tetap merasa apa yang menimpa kakak laki-lakinya itu juga karena dirinya, seandainya saja hari itu Mara berpikir jernih dan tidak terburu-buru memberitahukan keadaan Olive pada kakaknya, pasti semua ini tidak perlu terjadi.
"Keive, maafkan aku," sesal Mara dalam hati saat berlutut dan berdoa di bilik kecilnya.
Marra sengaja mematikan seluruh lilin dan membiarkan ruangan itu dalam keadaan gelap gulita. Dia memang hanya ingin sendiri beberapa hari ini tanpa ingin di ganggu siapapun. Suasana sunyi itu membuat Marra merasa sedikit tenang, sampai tiba-tiba terdengar deritan engsel pintu yang ter bukan, dan seorang pelayan sudah berdiri gugup di ambang pintu bersama cahaya yang menerobos masuk menyilaukan mata Marra.
"Putri, Pangeran baru saja siuman dan menanyakan Anda."
Marra terlonjak dari duduknya dan segera berdiri untuk menghampiri para layan tersebut.
"Apa kau yakin? "
"Ya, Putri."
Pelayan itu mengangguk yakin dan Mara segera berlari kekamar kakaknya...
"Keive...." ucap Marra merasa terharu menyaksikan kakak laki-lakinya.
Pangeran Keive benar-benar siuman dan beberpa tabib istana sedang memeriksanya.
"Pangeran akan segera pulih, beliau hanya butuh waktu untuk beristirahat."
"Bolehkah aku bicara padanya? " tanya Marra.
"Tentu Putri, silahkan kami akan memeriksanya satu jam lagi," kata tabib istana itu sebelum meninggalkan mereka berdua.
Mara berjalan mendekati kakaknya yang masih berbaring lemah di atas ranjang, tapi pemuda itu sudah tersenyum padanya.
"Kau membuatku takut," kata Marra saat berlutut di dekat ranjangnya.
"Jangan menangis, Mara."
"Aku baik-baik saja, lihatlah dirimu," Marra men dong akan untuk menatap kakak kakak laki-lakinya dengan pedih.
"Olive, aku tidak bisa membawanya pulang," ucap sang Pangeran.
Bagaimanapun Mara juga ikut sedih tentang hal itu, tapi keselamatan kakak laki-lakinya tetap jauh lebih penting bagi Marra, mengingat betapa mengerikannya berbagai kisah tentang hutan terlarang.
Pangeran Keive sedang membawa Olive dengan kudanya saat tiba-tiba tanah hutan seperti bergetar dan melemparkan tubuh mereka dari kudanya, Olive terpental jauh dari dirinya. Meski Pangeran Keive sudah sering mendengar kisah tentang mahluk sihir yang menghuni hutan terlarang tapi baru kali itu dirinya benar benar melihat mahluk setinggi hampir empat puluh kaki meraung seperti singa namun bertubuh seperti kelabang raksasa.
Mahluk itu mencabik-cabik tubuhnya meski tak berniat untuk membunuhnya, monster tersebut terlalu mustahil untuk di lawan. Pangeran Keive hanya mencemaskan Olive sampai tak memperdulikan keselamatannya sendiri, walau sebenarnya sang pangeran sadar jika mahluk besar itu hanya bermaksut menjauhkan Olive darinya. Tiap kali dia coba berlari kearah Olive mahluk besar bercakar itu kembali menghempaskan tubuhnya hingga terpental.
"Kau tau aku benar -benar mencemaskanmu."
"Tenanglah Mara, aku baik-baik saja, mahluk tersebut sepertinya memang tidak berniat untuk membunuhku."
"Kau benar-benar tidak memperdulikan keselamatanmu."
"Berterima kasihlah karena Pangeran Artur menemukanku."
"Artur... " kutip Marra heran.
"Ya, dia yang membawaku pulang."
Mara tak habis pikir kenapa tidak pernah ada yang menyebut namanya sampai hari ini, Mara juga tidak melihatnya saat terjadi kepanikan tempo hari.
"Pangeran Artur tidak ingin membuatmu cemas, kau beruntung memilikinya adikku."
"Aku tidak yakin... " Sepertinya Mara memang perlu diyakinkan berulang kali untuk hal itu.
"Maafkan dia, Mara."
"Kenapa kau juga membelanya ?" sedih Marra.
"Dia mencintaimu, Marra. "
" Akulah yang pertama kali mengijinkan nya untuk menikahimu."
"Bagimana kau bisa melakukannya? " Marra benar-benar terkejut dan masih belum bisa mengerti dengan alasan kakak laki-lakinya itu.
"Pangeran Artur datang dan berlutut padaku untuk memintamu. "
"Apa kau juga akan memberikan ku pada setiap pria yang berlutut kepadamu? " tanya Marra kemudian dan pangeran Keive tegas menggeleng.
"Aku selalu mengikutimu tiap kali kau kabur ke hutan, maaf karena aku selalu mencemaskanmu, Marra. "___ "aku sempat sangat marah saat pangeran Artur sengaja menahanmu untuk bermalam bersamanya di huthutan. Jika bukan karena keesokan harinya dia lebih dulu menemuiku untuk berlutut memintamu, mungkin aku juga tidak akan pernah memaaf kannya. "
Marra tidak sanggup lagin menatap Pangeran Keive kecuali dirinya hanya ingin menunjukkan kedua matanya yang sudah dipenuhi genangan air mata. Marra mendongak sebentar untuk mencegah airmatanya jatuh, dia hanya menghela nafas berat kemudian menyapunya kasar. Marra baru kembali berani menatap Pangeran Keive setelah merasa cukup tenang, bagaimanapun Marra tidak ingin siapapun melihatnya sedang terluka.
"Dia masih mencintai wanita lain ... " ucap Marra kemudian.
"Apa hanya itu yang membuatmu berat untuk memaafkannya? "
Marra sendiri tidak yakin, yang pasti dia hanya merasa tidak bisa mengenal Pangeran Artur dengan benar. Marra mengakui jika dia sudah sangat jatuh Cinta dengan pemuda yang di temuinya di tengah hutan tersebut, tapi saat harus menyandingkan nya dengan nama pangeran Artur, Marra merasa mereka adalah sosok yang berbeda.
Bahkan sampai saat ini Marra masih belum bisa merelakan kenangan mereka berdua, walaupun berulang kali Marra harus menelan kekecewaannya. Jika Theonya itu adalah pangeran Artur maka pemuda yang di cintai nya selama ini mungkin hanya sekedar imajinasinya saja.
"Apa kau akan memaafkannya jika aku yang memintanya?"
Marra tidak mengatakan apa-apa, menggelengpun juga tidak.
"Temui dia, Marra. "
Sang pangeran masih menatapnya, dan baru saat itu Marra sadar.
"Apa dia ada di sini? " tanya Marra tiba-tiba setengah berjengit dari posisi duduknya, dan pangeran Keive mengangguk.
"Dia sedang bicara dengan Yang Mulya. "
"Oh, " pekik Marra merasa luar biasa di hianati oleh semua orang.
"Dia menunggumu, Marra. "
Pangeran Keive kembali mengingatkan adik perempuannya.
Sementara Marra masih menatap pangeran Keive yang ternyata sudah bisa duduk di ranjang. Jika mengingat kondisinya kemarin sepertinya kesembuhan pangeran keive masih sangat luarbiasa baginya, dan hanya keajaiban yang bisa menolongnya. Jelas itu bukan sesuatu yang wajar, normalnya manusi tidak akan sembuh secepat itu, kecuali ___ sepertinya Marra tau siapa pelakunya.
"Ingat, aku melakukan semua ini hanya karenamu, " kata Marra sebelum bangkit dan keluar dari kamar kakak laki-lakinya.
*****
"Apa kau masih ingin menghukumku?" kata Pangeran Artur ketika berjalan mendekati Marra dan berlutut.
"Aku juga akan melompat ke tebing jika kau tidak memberi ku kesempatan, Marra."
"Omong kosong! " tepis Marra kesal, dia tau bahwa seorang Artur tidak akan mati semudah itu.
"Terima kasih kau sudah menolong saudaraku, " kata Marra kemudian. Tentu Marra juga tidak bodoh, dia tau Artur jugalah yang sudah membuat Pangeran Keive siuman hari ini.
"Ma'af kan aku, Marra. "
"Apa hanya itu yang kau inginkan? " tanya Marra lebih terdengar seperti tantangan.
"Aku ingin menikahimu. " tegas Artur kemudian.
"Kenapa? " lanjut Marra, " kenapa aku? " tanya gadis itu pada pemuda yang sudah kembali berlutut di depannya. "Jangan bilang kau juga yang membuat Hold terperosok kedalam lumpur! "
Marra mungkin tidak akan pernah tau apa saja yang sudah di lakukan pangeran Artur untuk mendapatkan hatinya tapi Marra bisa ikut merasakannya ketika sang Pangeran kembali mencium punggung tangannya dalam jeda yang sangat lama.
"Tolong jangan lari lagi dari ku, " mohon Artur ketika mendongak untuk mentap Marra yang tak bergeming. Sampai kemudian dia bangkit dan membawa gadis itu kedalam pelukannya, sepertinya Marra juga tidak keberatan berada di sana. Artur memang baru akan merasa lega saat gadis yang selalu berusaha kabur darinya itu benar-benar rela berada dalam pelukannya.