KING IN THE NORTH

KING IN THE NORTH
bab 29 hurt



North Kingdom.


Seperti batas kewarasan yang sulit untuk di terima....


Olive tidak akan lupa bagaimana janji King Alzov sebelum berjalan meninggalkannya terkulai lemas tak berdaya. Meski rasa sakit itu masih terasa di setiap jengkal tubuhnya, anehnya Olive masih berharap janji pria itu benar.


Tapi dua hari berlalu sama sekali Olive tak merasa King Alzov peduli padanya, justru Olive mulai merasa mungkin dirinya sama tak berharganya seperti seluruh janji pria itu padanya, tiap kali Olive merasa bodoh dan tak berdaya karena membiarkan dirinya berpegang pada sesuatu yang tidak masuk akal. Olive masih terisak di atas ranjangnya saat seorang pelayan wanita datang untuk memeriksanya.


"Kuharap Anda baik-baik saja, My Lady."


Olive mengenali suara lembut Gabriel, entah bagaimana suara perempuan itu benar-benar terdengar seperti suara seorang ibu baginyanya. Gabriel memang sudah seperti seorang ibu bagi Olive, wanita itu jugalah yang membantunya kabur tempo hari. Olive merasa lega mengetahui nasibnya tidak harus berahir seperti Edmun, dan tiba -tiba Olive kembali teringat kesedihannya yang lain.


Gadis itu kembali menangis saat Gabriel memeluknya.


"Tenanglah sayang."


Olive hanya dapat kembali terisak...


"Apa King Alzov menyakitimu? " bisik Gabriel.


Olive tidak tau apa yang harus di katakannya sementara tubuh lemahnya hanya bisa sedikit bergerak di atas tempat tidur.


"Percayalah sayang, kau akan baik-baik saja, dan aku akan mengobati lukamu."


Olive baru sadar ternyata Gabriel memang sengaja datang dengan seperangkat kotak pengobatan, Olive tidak tau ... "Apa King Alzov yang mengutus, Bibi?"


Gabriel menggeleng, dan entah bagaimana itu membuatnya kecewa.


Menyadari betapa kejam hati King Alzov yang sudah menelantarkannya tak berdaya seperti mahluk tak berharga dan menyedihkan.


"Apa Rajaku pernah datang kembali?" tanya Gabriel, lagi.


Olive hanya menggeleng, King Alzov memang tidak pernah muncul setelah malam itu, Olive sendiri masih merasa kehilangan akal jika harus mengingat kembali kejadian malam itu.


"Biar kulihat lukamu, Nak."


Olive patuh mengikuti instruksi Gabriel dan mulai membuka pakaian sutranya.


Ada beberapa bekas memar kebiruan di sekitar punggung Olive, meski sudah tidak bengkak bekas luka tersebut masih meninggalkan rasa nyeri saat di sentuh pelan.


"Aku tidak percaya King Alzov tega melakukan semua ini padamu," koremsi Gabriel.


Olive berbaring tertelungkup saat pelayan tersebut menyeka punggungnya dengan air hangat.


"Jangan takut Nak, percayalah aku akan mencari cara untuk mengeluarkanmu dari tempat ini."


"Sungguh aku tidak ingin membuatmu ikut celaka, Bibi Gabriel," bagi Olive sudah cukup dengan apa yang menimpa Edmund dan pangeran Keive.


Olive berusaha bangkit untuk memeluk Gabriel, karena dia sungguh lega jika pelayan itu baik-baik saja.


Olive sendiri tidak tau apa lagi yang tersisa dari dirinya, jika pun dia masih ingin hidup, sepertinya seluruh kemalangan sudah membuatnya mati rasa. Sudah tidak ada bedanya lagi bagi Olive jika harus mati sekarang karena atau besok karena dia tau sudah tidak mungkin bisa kembali pada keluarganya lagi.


"Oh.... Percayalah sayang, kau berhak di cintai," Gabriel bisa melihat keputusasaan gadis muda tersebut.


"Bibi aku tidak tau....., benar-benar tidak tau.... "Olive kembali menangis.


"Sepertinya kau demam, sebaiknya kucarikan baju hangat untukmu, Nak."


Setelah memberi Olive baju dan selimut Gabriel nampak lega sepertinya gadis itu mulai tertidur.


"Aku akan segera kembali membawakan sup hangat untukmu, istirahatlah dulu."


Gabriel berjalan perlahan sebelum menutup pintu dengan pelan.


"Jangan pernah berani coba-coba membawanya kabur dari ku lagi, Gabriel."


Pelayan itu ter kejut saat mendapati rajanya sudah berdiri di ujung lorong tak jauh darinya.


"Jangan pikir aku tidak tau kau yang membantunya kabur tempo hari."


"Saya hanya seorang pelayan, My Lord. Silahkan Anda bisa menghukum saya, bukan gadis malang itu."


"Aku masih menghormatimu Gabriel, jangan sampai kau melanpaui batas."


Mungkin King Alzov tidak akan melepaskannya begitu saja jika orang lain yang melakukannya, tapi Gabriel sudah di anggapnya seperti keluarga sendiri meskipun dia hanya seorang pelayan. Dia tetap wanita yang mengasuhnya dari kecil, baik dirinya maupun Artur pernah melalui masa-masa di mana Gabriel adalah satu-satunya orang yang bisa mereka andalkan.


"Saya hanya ingin menjaga hak-hak Pangeran Artur, tapi sepertinya Anda sendiri yang sudah sangat melewati batas."


"Jangan coba mengingatkanku tentang Artur !"


"Sampai kapan Anda akan terus merampas miliknya?"


"Kali ini aku serius Gabriel, jangan ikut campur! " kecam King Alzov pada  pengasuh tuanya itu.


"Apa kehilangan Claire masih belum cukup baginya? "


"Dengar, mungkin Artur akan membunuhku karena ini, tapi aku tetap tidak akan mengembalikan Olive padanya !"


"Jangan bilang Anda perduli padanya, bersikap bijaklah , My Lord.  Anda sudah menelantarkannya hingga hanya kematian yang di inginkan gadis itu sekarang."


Rahang King Alzov sempat berkedut, tapi, "Kau tidak akan mengerti Gabriel."


"Saya sangat mengenal Anda, My Lord... Sekarang pernahkah Anda ingin menengoknya sendiri tanpa harus mengutus pelayan seperti yang Anda lakukan beberapa hari ini?"


King Alzov justru kembali mengabaikan pertanyaan Gabriel dan memilih pergi begitu saja.


Gabriel hanya bisa mengelus dadanya yang terasa pedih, andai saja pria besar yang sudah di besarkannya itu bisa sedikit saja berbelas kasih, mungkin Pangeran Artrnyapun juga akan bisa kembali.