
"Gue tahu dia salah, gue juga tahu kewajiban Lo sebagai ketua OSIS tapi, yang gue gak habis pikir kenapa bisa sekolah ini milih orang yang kasar dan gak tahu cara menghargai orang lain?" kali ini cowok itu menghempaskan tangan Steffy dari Agatha, tentu saja Agatha sedikit terguncang namun segera ia memperbaikinya.
Steffy tersenyum sinis kepada Agatha menandakan dia menang kali ini.
"Cowok bad emang pantesnya sama cewek bad!" ucap Agatha tertawa sakratis sambil menatap Aldo dan Steffy.
"Astaga ada ribut-ribut apa ini Agatha?" tanya Bu Alda selaku wakil kepala sekolah.
"Ini Bu saya mau bawa Steffy ke ruangan ibu karena dia telah mem-bully anak IPA 3." jawab Agatha.
"Benar begitu Steffy?" tanya Bu Alda.
"Maaf Bu, saya lancang. Steffy memang salah karena mem-bully adik kelas tapi, apa sepantasnya seorang ketua OSIS yang menjadi panutan kita semua bertindak kasar kepada senior?" tanya Aldo menatap tajam Agatha
"Apa benar Agatha kamu kasar terhadap Steffy?" tanya Bu Alda.
"Iya Bu, maaf saya salah." ucapan Agatha itu keluar dari mulut Agatha, kali ini ia kalah telak setelah dua orang bad di sekolahnya perlahan membuat namanya buruk di sekolah ini Bu Alda menghela nafas.
" yasudah kasus ini saya anggap selesai karena ini hanya kesalahpahaman, kalian bisa bubar." suara Bu Alda membuat langkah Aldo yang menyeret tangan Steffy menuju kantin dan diikuti satu persatu teman Steffy.
"Aneh ya tuh orang kemarin baik sama lo eh sekarang malah bikin reputasi lo hancur?" tanya Riska menatap kepergian dua orang yang membuat Agatha kesal.
"Setau gue dulu sebelum di SMA ini, Aldo dan Steffy sempet pacaran." ucap Febri memberikan informasi tapi, Agatha langsung saja berlalu menuju ruang OSIS.
"Gue ngebelain lo, bukan berarti lo bisa seenaknya!" tegas Aldo melepas dengan kasar Cengkraman.
"Terus buat apa lo ngebelain gue? Supaya gue tutup mulut kalau seorang bad boy sekolah menyukai musuh bebuyutan?"tanya Steffy dengan meninggikan suaranya.
"Tutup mulut lo!" Aldo emosi dengan mengepalkan tangan dan nafasnya mulai tidak teratur.
"Lagian gue bingung apa sih bagusnya si nenek lampir yang kerjanya marah kalau ada pelanggaran? Gue bingung kenapa lo yang seorang bad boy bisa suka sama dia?" tanya Steffy kesal.
"Karena dia jauh lebih baik dari lo!" ucap Aldo yang tenang namun lebih pada penekanan.
"Kita buktiin dia atau gue yang bisa dapetin lo!" ucap Steffy kesal dan meninggalkan Aldo.
Aldo mengusap wajahnya kasar setelah kejadian dia membela Steffy dan menjatuhkan image seorang Agatha, Aldo tahu ini kesalahan fatal. Agatha tidak akan pernah suka dirinya di rendahkan dan image baiknya hancur, ia juga mengemban amanat orang tua Steffy.
Flashback on
"Aldo, janji ya sama Om dan Tante
Kamu bakal jaga Steffy sampai kapanpun." ucap om Danu yang memang adalah sahabat baik keluarga Aldo.
"Iya om, saya janji akan selalu jaga Steffy." ucap Aldo memandang wanita yang sejak kelas 2 SMP menemaninya.
"Maaf ya kalau Steffy ngambekan atau seperti anak kecil tapi, sebenarnya dia anak yang baik." Kali ini Tante Yunita yang berbicara dan di balas senyuman oleh Aldo.
"Walaupun suatu saat nanti rasa cinta kamu untuk Steffy hilang karena ketidakcocokan tolong, tetap sayangi dia sebagai kakakmu. Om titip Steffy." suara Om Danu langsung terngiang dan teringat di kepala Aldo.
Dia berjanji akan terus menyayangi Steffy seperti kakaknya sendiri. Itu janjinya, Om Danu dan Tante Yunita harus pergi ke Sydney untuk melanjutkan pekerjaan mereka tapi, mereka tenang sudah menitipkan Steffy pada orang yang tepat.
Flashback off
Hari ini cowok bad g1la dan stres itu membuat imagenya hancur untuk yang kedua kalinya, mengapa hidupnya yang dulu tenang sekarang mulai hancur perlahan dengan kehadiran cowok labil itu?
Ia terus mengusap wajahnya kasar.
" maaf." Kata itu tiba-tiba dia dengar, sepertinya tanpa ia mendongakkan kepalanya ia tahu siapa pemilik suara itu.
Keheningan yang menyelimuti dua insan itu di dalam ruangan OSIS saat ini setelah kata maaf terucap tak ada yang mengeluarkan suara.
Sibuk dengan pikirannya masing-masing seperti Agatha yang sekarang dibuat pusing dengan segala reputasi dan jabatannya juga Aldo yang tahu gadisnya ini terluka karna apa yang ia perbuat jadi ia hanya menatap gadis itu yang tampak gelisah.
Sampai ada seseorang yang masuk keruangan OSIS ya dia Mila gadis yang selalu ditolong Agatha.
Tidak terkecuali Agatha yang sering menjadi bulan-bulanan Aldo tapi, itu dulu sejak saat dimana Agatha menampar pipi Aldo di titik itu Aldo menjauhi Agatha.
Aldo tetaplah Aldo yang iseng, konyol, g1la terhadap semua orang kecuali Agatha ya cewek ini sebenarnya tidak di benci Aldo justru ia mempunyai rasa kepada ketua OSIS itu. Mila segera pergi, disusul Agatha yang tak pernah ingin menatap wajah Aldo.
Agatha merasa hari ini kes1alannya semakin meradang karena ia kembali masuk kedalam daerah terlarang Aldo, ia kembali ke daerah yang tidak ingin ia masukin kedua kalinya kenapa cowok itu selalu membuat darahnya mendidih dari dulu ia tidak suka karena Aldo adalah bad boy sekolah yang kerjaannya hanya mengacau dan membuat ulah tapi, dia menyukai kakaknya yang sangat sempurna.
"Oh iya gue belum liat kak Alvin deh."Ucap Agatha mencari sosok yang ia rindu.
"Dor!" suara kencang yang membuat Agatha mendengus kesal.
"Lo kira lagi main petak umpet?"Tanya Agatha masih mencari kesana dan kemari melihat ke segala arah.
"Nyariin kak Alvin ya?" tanya Riska mencolek dagu Agatha.
"Iya nih, kalian liat gak sih dia kemana?" tanya Agatha.
"Setau gue dia gak masuk soalnya
Gue tadi disuruh catat di buku pelanggaran siapa aja yang gak masuk." ucap Febri yang memang paling disayang oleh guru-guru karena rajin membantu.
"Apa?! Dia gak masuk? Dalam sejarah nih, dia gak pernah gak masuk. Sakit? Izin?" tanya Agatha panik.
"Dia alpha." dua kata itu membuat jantung Agatha mencelos pasalnya selama ia bersekolah disini tidak sekalipun mendengar bahwa Alvin tidak sekalipun Alvin tidak masuk bahkan waktu itu saat Alvin sakit ia tetap masuk berbeda dengan Aldo yang sering bolos lagi-lagi cowok bad itu muncul di pikiran Agatha.
"Dia kenapa ya?" tanya Agatha sedih.
"Lebay deh, dia mau bolos belasan kali juga pasti lulus kan dia cucu pemilik sekolah." ucap Riska santai.
"Adu Ris, lo gak paham dia tuh beda dari si bad boy itu dia itu tanggung jawab dan gak gunain keistimewaannya itu jadi tameng buat dia ngelakuin pelanggaran." Agatha tersenyum mukanya memerah membayangkan wajah Alvin saat tersenyum.
"Bodoh deh Tha, masuk yuk." Riska menarik kedua sahabatnya itu menuju kelas.
"Tha, lo naik apa pulangnya? Tanya Febri saat mereka sudah sampai di gerbang.
"Gak tau nih, palingan sih naik bus."Ucap Agatha melirik kesana kemari.
"Kaki lo masih sakit?" tanya Riska.
"Lebay deh." Agatha tertawa.
"Yang gue bingung kaki sama lutut lo luka dan barengan sama sikunya Aldo yang luka dan kakinya pincang?" Febri menatap Aldo yang memang hari ini dulu berjalan sekarang dia sedang berjalan menuju motor sportnya.
"Jodoh!" cetus Riska cepat sedangkan aku yang mendengar langsung mencubitnya.
"Galak amat sih, gue kan bilang fakta."Iya gue jodoh sama kak Alvin." ucap Agatha.
"Lo pada belum mau pulang apa?" tanya Agatha pada kedua sahabatnya itu.
"Lo ngusir?" tanya Riska.
"Bukan gitu maksud gue, biasa kan kalian dengar bel langsung ngibrit."Ucap Agatha terkekeh.
"Gue sih mau nungguin lo, siapa tau kak Alvin jemput lo dan ngajak pulang bareng." ucap Febri tersenyum dan tentu saja Agatha berharap begitu.
"Eh Tha, lo jadi gak mau deketin Aldo lagi?" tanya Riska saat Aldo lewat di depan mereka begitu saja.
"Gak deh gue kapok." ucap Agatha kesal melihat kes1alan beruntun di hidupnya.
"Terus lo gak mau usah apa-apa?" tanya Riska lagi.
Bersambung...........