Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin

Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin
#37 Bestfriend Forever



Agatha hanya bisa terduduk lemas menatap pria yang mulai ia cinta, baru saja ia sadar akan perasaannya kini membencinya menatapnya seolah ia berbuat kejahatan padahal ia tidak menyakiti siapapun.


"Non, Ayo kita ke ruang tamu." bibi tidak tega melihat Agatha,


bibi tahu Agatha gadis baik jadi ia menopang tubuh Agatha sedangkan pandangan Agatha kosong ia terlalu hancur hatinya sudah ditikam ribuan panah mendengar ancaman Aldo.


"Aku gak nyakitin siapapun bi." lirih Agatha, air matanya tak berhenti turun.


"Kalau non nangis dan terus diam begini, den Aldo dan semuanya akan terus beranggapan non salah, jadi sekarang non harus kuat dan kasih tau ke mereka bahwa non gadis baik bukan seperti yang dituduhkan neng Steffi."


Bibi memberi semangat sambil memegang pundak Agatha, nasihat itu membuat Agatha seperti tersadar ia tak mau lemah ya ia tak mau lagi dikalahkan takdir. Ia akan berjuang untuk cintanya untuk Aldo bad boy kesayangannya, ia tak mau Steffi menang kali ini.


"Bi aku mereka makasih nasihatnya." Agatha memeluk bibi dan segera berlari menuju ke arah pintu.


Agatha telah sampai di rumah sakit swasta yang besar, beberapa kali Agatha menghela nafasnya kemudian menghirupnya kembali ia berharap mendapat kekuatan untuk melangkah masuk bersiap mendapat c4c1an bahkan omelan dari pria yang saat ini memenuhi seluruh relung hatinya, beruntunglah Alvin masih sempat membalas untuk memberitahu alamat rumah sakit ini.


"Kalo lo diam aja artinya lo kalah dari dia Tha!" Agatha menyemangati dirinya sendiri dan akhirnya ia melangkahkan kaki masuk.


"Dasar cewek gak tahu diri masih berani-beraninya lo nampakin muka disini?" Steffi lah yang pertama kali menyambutnya.


"Gue gak ada urusan sama lo!" bentak Agatha dengan setengah suara.


"Kak, gimana keadaan Laras?" tanya Agatha pada Alvin yang sedang duduk namun dari raut wajahnya ia amat gelisah.


"Tadi dokter bilang ia jatuh kena benturan yang cukup keras tapi sekarang udah baikan tinggal tunggu dia sadar." ucap Alvin menerangkan.


"Lo gak perlu tau keadaan dia dan siapa yang ngijinin lo kesini?" tanya sebuah suara dingin di belakang Agatha, tanpa berbalik ia sudah hafal pemiliknya.


"Lo pulang dan jangan pernah muncul di hadapan gue lagi!"Aldo berbicara dengan ketus dan dingin, ucapannya membuat Agatha teramat sakit rasanya lututnya lemas jika saja Alvin tidak menangkapnya, bokongnya sudah menyentuh lantai.


"Ratu drama!" nyinyir Steffi menatap Agatha lemah.


"Do, lo gak boleh kasar sama cewek." tegur Alvin membantu Agatha duduk.


"Terus aja lo belain dia, dia tuh udah bikin Laras pingsan dan kita gak tau kapan sadarnya. Dia tuh cuma pengganggu! Lo berdua cocok sama-sama pengganggu gue dan Laras!" ketus Aldo kasar sedikit meninggikan suara lalu dia memilih masuk ke dalam ruangan Laras daripada melihat wajah Agatha dan Alvin


"Saya antar kamu pulang ya." tawar Alvin melihat tangis Agatha dalam diam, ia melihat kesakitan teramat dalam pandangan Agatha kosong ucapan Aldo berdengung berulang di telinganya bahkan sekarang ia tidak mendengar ucapan Alvin.


"Agatha, ayo." Alvin menarik tangan Agatha lembut.


"Makasih ya kak, saya bisa pulang sendiri kabari saya kalau Laras sadar." hanya itu pesan Agatha, ia berjalan dengan memeluk tubuhnya sendiri, tatapan hina dari Steffi tergambar jelas ia tak mau memperpanjang masalah jadi ia hanya menunduk dan terus berjalan.


Agatha melangkah dengan tubuh bergetar hebat, dunianya runtuh saat mendengar Aldo membentaknya menyuruh dirinya pergi dari hidup Aldo.


Bahkan ia tak mau melihat muka Agatha lagi sebenarnya apa salah dan dosanya sehingga Tuhan menghukumnya dengan sedemikian rupa seperti tak ada kebahagiaan di hidupnya baru saja ia mengucap syukur tapi sekarang badai hidup kembali menderanya jika dulu bila


bertengkar dengan temannya, ia akan melapor kepada mamanya dan memberi pengertian maka sekarang ia merasa sendirian tak ada yang menjadi sandaran hidupnya tidak ada tempat ia menuangkan isi hatinya.


Agatha masih berjalan sendirian di atas trotoar matanya menatap lurus kedepan namun kosong, Aldo berhasil memporak porandakan hati dan pikirannya bahkan sekarang jiwa Agatha begitu kosong.


Sore ini rintikan hujan turun mengganggu waktu liburan banyak orang karena ini adalah hari Minggu, semua orang mencari tempat berteduh sedangkan gadis berbaju hitam itu terus berjalan tak memperdulikan rintikan hujan yang semakin deras turun menghantam tubuhnya.


Ia seperti kehilangan arah dan tujuan dan akhirnya hujan deras menabrak diri dengan tubuh Agatha yang hanya berbalut kemeja dan celana jeans panjang, tak ada lagi yang melindungi kini tubuhnya basah kuyup.


"Al... ddo..." lirih Agatha ditengah hujan deras, ia sudah tak sanggup rasanya ia ingin berteriak meluapkan segala kekesalannya akan kebodohannya sekarang orang yang ia cintai justru membencinya, itu yang dulu Aldo rasakan hancur melihat orang yang kita suka lebih mementingkan orang lain.


Agatha tahu ini karma, ia tidak peduli orang-orang yang berteduh melihat dirinya dengan tatapan aneh atau bahkan kasihan mengganggapnya cewek malang.


"Agatha!" jeritan suara perempuan cempreng berburu dengan suara derasnya hujan yang menghantam jalan beraspal, teriakan itu tidak menyadarkan Agatha.


"Lo kenapa?!" jeritan suara itu sekarang berganti pemilik, mereka mengguncangkan tubuh Agatha.


"Tha, sadar Tha... Ini gue Riska sama Febri!" jeritan Riska lagi


Agatha masih tak bergeming tatapannya semakin kosong.


"Bawa ke mobil aja deh Ris, kacau banget keadaannya." ucap Febri, mereka berdua pun memapah sahabat yang mereka rindukan itu.


Saat ini Riska dan Febri memilih membawa Agatha ke rumah Riska.


"Tha lo kenapa? Kalo ada masalah cerita dong biar kita tahu."ucap Febri sambil memberikan Agatha handuk


"Tha, lo mah gak asik masa diem aja?" Riska memeluk Agatha disusul Febri.


"Gue emang cewek bego." lirih Agatha membuat kedua sahabatnya juga nangis.


"Ih lo ngomong apaan sih?" tanya Riska.


"Gue udah ngelakuin kebodohan besar di hidup gue, gue emang bego." Agatha mulai memukul dadanya sendiri.


"Thaaa..." lirih Febri menahan Agatha yang menyakiti dirinya sendiri.


"Lo tuh gak boleh kayak gini, lo gak boleh lemah, Agatha yang gue kenal itu galak dan bawel bukan cengeng! Lo gak bego! Dan apapun yang terjadi gue dan Febri tetap di samping lo!" Riska membentak Agatha dengan suara tinggi.


"Buat apa sih kalian baik lagi sama gue, gue tuh jahat udah lupain kalian demi ambisi Gue dapetin kak Alvin." ucap Agatha menangis.


"Biarin itu jadi masa lalu, gue dan Febri memilih tetap disamping lo sampai kapanpun, dalam kamus persahabatan gak ada yang namanya mantan sahabat!" Riska memeluk Agatha lagi dan itu membuat tangis Agatha semakin kencang.


"Gue bahkan gak sadar punya sahabat sehebat kalian, gue sayang kalian!" Agatha kini mengeratkan pelukan mereka dan membuat larut suasana haru malam itu.


"Tha lo bau hujan, mandi gih!" kata-kata spontan Febri itu membuat Agatha terkekeh dan Riska tertawa.


'persahabatan itu seperti hubungan antara tangan dan mata, ketika tangan terluka mata menangis. Dan ketika mata menangis tangan mengusap air mata'


"Tha, lo kenapa sih sampe bisa kayak tadi?" Febri bertanya saat Agatha sudah berganti pakaian dan duduk diantara Riska dan Febri.


"Ceritanya panjang, gue terlalu takut buat nginget semua kebodohan gue ke Aldo." lirih Agatha saat mengingat perkataan Aldo yang terakhir kalinya.


"Cerita kalo lo udah siap." ucap Riska membuat Agatha menatap dan tersenyum dan ketika melihat Febri ia pun mengangguk.


"Berawal dari..." Agatha mulai bercerita bagaimana sejak ia melihat Alvin dan Mila bersama, ia yang tak pernah peduli akan perasaan Aldo, kedatangan Laras, sampai Laras masuk rumah sakit.


"Jadi yang si Okky ceritain itu bener ya, gue kira dia bohong!"seru Riska.


"Emang dia cerita apaan?" tanya Agatha bingung.


"Ya ceritain soal lo sama Aldo terus tentang Laras, ternyata dia itu pacarnya kak Alvin ya?" tanya Riska.


"Ya gitu, tapi gue udah biasa aja malahan gue udah anggep Laras kayak kakak gue." ucap Agatha merasa bersalah jika mengingat alasan masuknya Laras ke rumah sakit adalah dirinya.


"Iya tau deh udah gak cemburu, kan sekarang sukanya sama adiknya kak Alvin." goda Febri.


"Dulunya bilang gak suka, mana mungkin suka sama bad boy sekarang kena batunya kan?" Riska juga ikut menggoda Agatha.


"Terus lo sama Okky gimana?" tanya Agatha dan setelah itu Riska cemberut dan kesal.


"Cie Riska Okky, lo belum tau aja selama lo pergi ke tempat antah berantah sama kak Alvin, si Riska tuh pdkt sama Okky dan mungkin coming soon jadian." goda Febri dengan tatapan mengejek pada Riska.


"Fitnah lo ah males gue, lo tuh gimana sama si Eza, gue suka di tinggal sendirian kayak jomblo ngenes." ucap Riska kesal.


"Yah emang lo jomblo ngenes!" ucap Agatha dan Febri bersamaan setelah itu hanya gelak tawa yang menghiasi malam itu.


Di rumah Agatha


"Makasih ya udah anterin gue sampe rumah, makasih juga udah buat gue jadi lebih baik." ucap Agatha mem3luk kedua sahabatnya.


"Iya sama-sama Bu Ketos galak, jangan nangis-nangis mulu ya gara-gara bad boy sekolah." Riska menyindir.


"Lo tuh sama Okky buruan jadian!" balas Agatha.


"Sekarang bukan waktunya lo diem aja Tha, kalo dulu lo pernah sia-sia in Aldo sekarang lo harus kejar dan dapatkan dia!" ucap Febri menyemangati.


"Siap Bu Eza." Agatha kembali menggoda Febri padahal ia sudah tampak serius.


"Dek, kok baru pulang kemana aja?" tanya Gea yang muncul membukakan pintu


"Kakak..." sapa Riska dan Febri tersenyum.


"Abis pergi sama Riska dan Febri ternyata, perasaan tadi dianternya ke rumah Alvin deh?" tanya Gea tersenyum jahil.


"Ih udah ah kak aku capek, jangan bahas cowok bikin pusing."Agatha kembali teringat permasalahannya.


"Kita pulang dulu ya kak, Tha." Riska dan Febri pun pamit.


Hawa dingin menyusup ke dalam kamar yang sedang ditempati seorang gadis, ia melihat di atas ranjangnya terdapat novel dan sebuah bunga anggrek putih yang sudah mulai layu.


"Aldo..." lirih Agatha ketika mengingat itu pemberian siapa, bodohnya ia menyia-nyiakan pria itu sekarang ia menyesal.


Ia tidak mau larut dalam kegelisahannya jadi ia memutuskan untuk berjalan matematika setidaknya ini bisa mengurangi rasa nyeri dihati, belajar adalah salah satu hobi Agatha.


Sekarang ia sedang membuka halaman yang membahas tentang rumus matematika lalu ia teringat dulu pernah mengajari Aldo tentang ini tapi, ia malah milih mundur dari posisi itu.


Agatha menghela nafas mengapa di kepalanya hanya tentang Aldo dan perasaan yang ada di dalam hatinya juga hanya tentang cowok itu.


'Bagaimana pun rumus dan hitung-hitungannya jatuh cinta hasilnya tetaplah terluka.


Happy reading


Bersambung.........