Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin

Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin
#23 Berbohong



"Selamat siang semua." ucap Bu Puji selaku guru bahasa Indonesia.


"Selamat siang Bu." koor anak-anak kelas XI IPA 1 membahana.


mata Bu Puji langsung menyorot kepada 3 bangku paling belakang yang letaknya di pojok kelas biasa dihuni oleh anak-anak yang ingin tidur, mengobrol atau mencuri waktu untuk bermain HP.


"Aldo, Rangga, dan Okky dimana ya?" tanya Bu Puji bingung.


"Kita disini Bu." Aldo dan kedua temannya santai baru datang, padahal bel istirahat sudah berbunyi dari 15 menit yang lalu.


"Kalian dari mana?" tanya Bu Puji.


"Dari kantin Bu, abis isi tenaga." ucap Aldo santai.


"Kenapa baru masuk jam segini? Kalian tahu kan kalau jam masuk pelajaran jam berapa?" tanya Bu Puji lagi kesal.


"Tahu Bu, cuma masalahnya si Rangga kalau laper gak bisa mikir entar pelajaran ibu malah di anggap angin lalu, saya kasian sama ibu sudah capek-capek ngajarin malah digituin."Aldo seolah-olah terlihat berduka sedangkan Rangga yang namanya dipakai tanpa izin hanya bisa pasrah dengan kelakuan bosnya itu.


"Kamu ini, malah ngurusin temen kamu. Memang diri kamu sendiri sudah bener?" tanya Bu Puji, kali ini amarahnya sudah sampai puncak.


"Ya belum sih Bu, kata nenek saya manusia itu gak ada yang sempurna. Kesempurnaan hanyalah milik Tuhan." ucapnya lagi membuat satu kelas sedari tadi menahan tawa dengan tingkah laku Aldo.


"Aldo kamu ini ya kok semakin kesini semakin kurang ajar, sekarang kalian bertiga duduk dan tidak ada yang membuka suara!" perintah Bu Puji karena ia sudah habis kata untuk menghadapi cucu dari pemilik sekolah ini.


Bu Puji mulai mengajar setelah suasana kondusif, dan dua jam berlalu setelahnya.


"Baik anak-anak, pelajaran tentang drama cukup sampai disini dulu. Sekarang setelah teori kita coba kepada praktek, berhubung dalam waktu dekat sekolah akan berulang tahun dan akan diadakan pensi oleh OSIS."


"Ibu ingin kalian menampilkan drama, dalam satu kelas dapat terlihat 7-10 orang untuk tokoh dan sisanya membantu hal-hal di belakang panggung." lanjutnya


Bu Puji memberikan tugas yang langsung membuat anak-anak sebagian besar menyukai drama akan senang dan kebalikannya akan merasakan mimpi buruk termasuk Agatha.


walaupun ia mengikuti ekstrakurikuler teater namun ia tidak sepenuhnya menyukai sesuatu di depan layar, jadi ia berharap agar bisa menjadi pengarah gerakan saja, atau apapun yg penting di belakang layar.


"Yah... Kenapa harus drama sih?" tanya Agatha pada Tari.


"Drama tuh menarik Tha, terus menantang juga. Bu Puji terbaik deh." Tari yang memang suka membuat naskah drama sedangkan Agatha terlihat tidak bersemangat langsung menghadap kepada kedua sahabatnya di belakang.


"Jangan bilang lo berdua sama semangat kayak si Tari?" tanya Agatha


"Gue sih oke aja, Febri juga. Lo mesti belajar suka drama Tha, biar hidup lo gak penuh drama." tawa Riska pecah setelah pembicaraan itu sedangkan Agatha terlihat kesal.


"Ibu sudah menentukan tema drama yang akan kelas ini mainkan, karena ini adalah kelas terakhir yang ibu beri pengumuman maka hanya tersisa drama musikal romantis, untuk pembagian naskah siapa yang akan membuat?" tanya Bu Puji.


"Tari Bu, dia jago banget kalo masalah ini." ucap Zaki di iringi teman-teman lain yang menyetujuinya.


"Tari, kalau sekarang kira-kira cerita apa yang pertama kali terlintas dipikiran kamu?" tanya Bu Puji, karena memang mengetahui kemampuan Tari yang sangat handal dalam membuat naskah drama.


"Romeo and Juliet Bu, banyak nilai moralnya tentang kesetiaan cinta." ucap Tari spontan karena beberapa hari ini ia sedang mengikuti kisah Romeo and Juliet baik di film maupun di novel.


"Boleh, ibu setuju rasanya kalau di tambah musikalisasi akan semakin baik, satu ibu ingin pemeran Romeonya adalah Aldo."ucap Bu Puji menekankan dan melirik ke arah Aldo dan teman-temannya yang sedang asik memainkan hp secara sembunyi-sembunyi,


Aldo yang mendengar namanya di sebut pun mengangkat kepalanya.


" ibu gak salah milih saya? Aduh Bu saya gak paham sama yang kayak gitu-gitu." ucap Aldo.


"Ya karena itu saya ingin kamu belajar, lagipula teman-teman lainnya akan mendukung, kalian setuju kan?" tanya Bu Puji.


"Setuju Bu!" koor membahana dari kelas.


"Julietnya harus cantik dong Bu, kalo Agatha saya mau deh Bu." ucap Aldo spontan membuat Agatha yang membolak-balik halaman buku bahasa Indonesia.


ia berusaha tidak larut dalam diskusi itu, ia tak ingin namanya disebutkan menjadi pemeran, bahkan ia tidak mengikuti diskusi tersebut dari awal, ia justru fokus pada bukunya, sampai namanya di sebut, ia menegang seperti ada pernyataan yang mengganjal di hati.


"Iya Bu, saya juga setuju peran Juliet di perankan oleh Agatha."ucap tari semakin memperjelas bencana yang akan melanda hidup Agatha.


"Maaf Bu, bukannya saya menolak tapi kebetulan saya juga harus mempersiapkan acara bersama anggota OSIS lain dan takut tidak sempat untuk latihan lagipula masih banyak cewek di kelas ini." ucap Agatha mengelak.


"Alasan aja itu mah Bu,masa ketua OSIS yang super disiplin gak bisa bagi waktu?" celetuk Aldo yang didukung oleh Okky dan Rangga.


"Sudah, kembali ke keputusan awal. Ibu yakin Aldo dan Agatha akan jadi perwakilan terbaik kelas ini, pelajaran hari ini cukup sampai disini terimakasih." ucap ibu Puji keluar ruangan dan Agatha menghela nafas bingung dengan takdir yang seolah membuat dia terus dekat dengan Aldo.


Bukanya ini yang dia inginkan? Mendekati Aldo agar bisa mengenal Alvin lebih dekat? Tapi mengapa jadi seperti ini?


"Cie yang Julietnya ayang Romeo alias Aldo." tawa Riska pecah seketika.


"Lo sama Febri tuh mestinya bantuin gue!" ucap Agatha lagi saat mereka sedang berada di pinggir lapangan melihat Febri sahabat mereka sedang melatih tim basket untuk tampil di acara pensi.


"Tha, jangan-jangan jodoh lo Aldo, bukan kak Alvin?" tawa Riska lagi membuat Agatha geram.


"B*doh amat, gue sebal ah sama lo" ucap Agatha benar-benar kesal, setelah itu hanya terdengar Riska yang terus menggoda Agatha sampai sebuah suara.


"Agatha, bisa saya ngomong sebentar?" tanya suara bariton nan merdu membuat Agatha dan Riska terkejut.


"Bisa kak, ada apa ya?"


"Kita ngobrol di ruang musik aja." balasnya dan di balas anggukan oleh Agatha sedangkan Riska masih belum tersadar dari keterkejutnya, mereka pun segera meninggalkan Riska.


"Tuh si Gatha cepat juga geraknya, udah sedekat itu sama kak Alvin." ucap Febri saat ia telah selesai dengan tim basketnya


"Gatau deh, jangan-jangan si Gatha frustasi terus pake pelet."Riska terkekeh membuat Febri tertawa dan berujung Riska ikut tertawa dengan ucapannya barusan.


"Jadi saya pengen ajak kamu ke konser musik sore ini, setelah pulang sekolah." tawar Alvin menunjukkan sebuah poster di ruang musik.


"Konser musik jazz?" tanya Agatha sambil melihat setiap keterangan detail di poster itu.


"Tapi ini jam setengah 4 sore, mepet banget sama jam pulang sekolah." jelas Alvin.


"Sore ini ya kak?" Agatha sedang mengingat kegiatan apa saja yang harus dia lakukan hari ini, sebetulnya ada ia ada jadwal untuk memimpin rapat tapi itu bisa di gantikan Eza.


lalu ada latihan drama itu juga masih bisa diundur, satu lagi jadwal Agatha yang paling membuat dirinya berpikir ulang yaitu mengajari Aldo agar setidaknya ia mengerti matematika dan fisika.


"Kalau gak bisa gapapa, saya gak suka maksa orangnya."kekeh Alvin melihat lamanya Agatha berpikir.


"Ehh...bisa kok kak, kebetulan saya gak ada acara." ucap Agatha tersenyum.


"Yaudah saya jemput nanti sore." Alvin tersenyum, dan ini membuat hati Agatha luluh bagaimana mungkin seorang Alvin dingin tidak sama sekali ingin dekat dengan wanita manapun sore ini mengajaknya jalan berdua?


Astaga ini suatu pencapaian besar Agatha tapi,


" kakak tahu rumah saya?" tanya Agatha polos membuat Alvin terkekeh.


"Saya pernah nganter kamu pulang sekali." ucap Alvin membuat Agatha tampak berpikir keras, wajahnya yang seperti itu membuat tawa Alvin semakin merdu jujur hati Agatha saat ini sangat bahagia melihat senyuman orang yang di tunggunya selama setahun dengan perasaan terpendam.


"Waktu kamu nemuin dompet saya." ucapnya lagi setelah puas melihat Agatha yang kebingungan.


Bersambung.........