Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin

Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin
#02 Hukuman



πš‚πšŽπš”πšŠπš›πšŠπš—πš πšœπšŽπš–πšžπšŠ πš–πšžπš›πš’πš πš”πšŽπš•πšŠπšœ XI π™Έπš™πšŠ 1 πšœπšŽπšπšŠπš—πš πš–πšŽπš—πšŒπšŠπšπšŠπš πš–πšŠπšπšŽπš›πš’ πšπšŽπš—πšπšŠπš—πš "π™Ώπ™΄π™»πš„π™°π™½π™Ά" πš’πšŠπš—πš πšπš’πš‹πšŽπš›πš’πš”πšŠπš— πš˜πš•πšŽπš‘ πš™πšŠπš” πšπšŠπš–πšŠ, πš‹πšŽπš›πš‹πšŠπš—πšπš’πš—πš dengan Agatha yang sekarang sedang berpikir keras bagaimana caranya mendekati Aldo bagaimana cara menemukan peluang agar ia bisa mendapatkan hati pujaannya secepat yang ia bisa.


"Mikir keras banget, padahal ini gampang lho." Sengol Ratih teman sebangku Agatha dan di balas senyuman oleh Agatha, sungguh sekarang pikirannya sedang berkerja sangat keras mencari peluang yang ada.


Agatha menoleh ke belakang dan menemukan buku dengan posisi menutupi wajah Aldo tandanya ia sedang tidur nyenyak, dulu Agatha pernah bertanya mengapa anak malas dan tidak berprestasi seperti Aldo bisa masuk kelas unggulan tapi tidak ada yang aneh Aldo salah satu cucu dari pemilik sekolah ini pantas dia di beri hak khusus.


Bel pulang sekolah berbunyi semua


anak langsung bersiap merapikan buku tulis, sementara Aldo baru bangun dari mimpinya yang membawa ia ke langit ke tujuh.


Ada sesuatu yang membuat seorang Aldo kaget dan menggosok matanya untuk memastikan semua pengelihatannya nyata.


"Apaan nih?" tanya Aldo saat melihat buku bersampul coklat dan plastik rapih terpampang di depan matanya.


"Tadi gue liat lo belom nyatet, itu bahan buat besok ulangan."ucap Agatha dengan sedikit bergetar.


"Kalau gue ambil nih buku, lo gak bisa belajar?" Aldo yang masih bingung namun berusaha menutupinya.


"Salin sekarang aja, gue tungguin."Hampir saja Agatha terkena skatmat.


"Lo mau nungguin?" tanya Aldo menyatukan kedua alisnya dan di balas anggukan oleh Agatha.


"Sejak kapan si angkuh ini sok care sama gue?" tanya Aldo mengejek.


"Gue ketua kelas." ucap Agatha dan Aldo yang langsung mengerti pun tertawa cukup keras.


"Terus? Lo kan emang selalu jadi ketua kelas, tapi baru kali ini lo care lagi sama gue." ucap Aldo menatap ke arah Agatha sedangkan yang di tatap berusaha mengalihkan pandangan dan hatinya sedikit tertegun dengan ucapan care lagi sama gue.


"Intinya lo mau atau engga?" tanya Agatha mulai kehabisan kata.


"Engga." ucap Aldo santai sambil menenteng tasnya keluar kelas.


Agatha harus menetralkan suasana hatinya dan juga ekspresi wajahnya.


"Ehem, ada yang cuma berduaan sama adek ipar." Riska sedang mengeringkan rambutnya sambil skype dengan ke dua sahabatnya.


"Apaan sih lo gak asik tau gak, pantes dia cuma punya dua temen." ucap Agatha kesal sambil merapikan bukunya.


"Yah lo kebanyakan di ruang Osis sih, dia tuh punya banyak temen kali mungkin lebih banyam dari lo, Tha." ucap Febri santai sambim meneguk sebotol air mineral.


"Terserah deh, intinya gue kapok sama tuh cowok!" ucap Agatha yakin.


"Kak Alvin?" Riska dan Febri bertanya bersamaan.


"Kenapa sih adiknya Alvin mesti Aldo, kalau adiknya dia Gio sih masih bisa deh gue deketin." Agatha memasang muka paling jutek, Gio adalah murid yang paling pendiam namun menjadi saingan terberat Agatha di kelas dalam hal pelajaran.


"Justru ini tantangan buat lo, Tha!" Febri mencoba mengambil segi positifnya.


"Caelah si anak basket sok bijak deh." Riska mulai meledek dan di ikuti tawa Agatha.


'Terimakasih sahabatku kalian membuatku lupa tentang apa yang sedang ku alami.'


"Tumben datang pagi?" masih sepagi ini dan Agatha sudah langsung tancap duduk di samping Aldo yang sedang mendengarkan musik.


Hari ini ada yang sedikit berbeda karena dalam sejarah seorang Aldo tidak akan datang sebelum bel berbunyi tapi sekarang masih menujukkan pukul 06:10 dan Aldo sudah duduk manis di kelas ini hal yang langka.


"Kepo banget sih lo!" Aldo dengan muka super jengkel menatap Agatha yang sudah menciut. Aldo sebenarnya sudah cukup peka Agatha mendekatinya dari kemarin dan tentunya ini hal yang tidak baik untuk jantung Aldo, walaupun wajahnya sangar tapi hatinya akan luluh melihat perempuan berusaha mendapatkan perhatianya.


"Jangan terlalu PD, Aldo ucapnya dalam hati sedangkan di hati yang lain sedang menahan ledakan emosi, dia mendapatkan sikap ketus dari seorang bad boy sungguh ini penghinaan tapi ia mengingat wajah Alvin setiap melihat Aldo, sabar Agatha.


"Gue kan tanya doang, biar kita lebih akrab gitu." Agatha mencoba lebih nyaman saat berbicara dengan dengan Aldo walaupun sekarang kegondokan menguasai relung hatinya.


"Jangan pergi dulu dong." Agatha berusaha menahannya dengan tidak memberikan Aldo akses keluar sekarang keluarlah sifat asli Agatha yaitu keras kepala tetapi, Aldo tidak mau kalah ia berusaha melewati pertahanan Agatha mereka sempat dorong-dorongan sampai Aldo hampir terjatuh menimpa Agatha untung tangannya sempat menopang tubuhnya, sedangkan gadis dihadapannya ini hanya memejamkan mata, mengapa mereka bisa sedekat ini.


"kalian ini masih pagi sudah pacaran, ikut saya ke ruang guru." Pak Satya guru killer yang tingkat disiplinnya diatas rata-rata melihat kejadian tak sengaja Aldo dan Agatha yang berujung bencana.


Agatha dan Aldo berjalan


berdampingan dan didepan mereka ada Pak Satya yang sedang melihat ke sekeliling kelas siapa tahu ada kejanggalan yang terjadi di pagi hari.


Ini baru pertama kali seorang yang sangat teladan seperti Agatha berjalan menuju ruang guru karena ketakutan teramat karena hukuman biasanya dia akan dengan percaya diri menuju ruang guru untuk mendengarkan tentang deretan prestasinya saat ia sedang tertunduk ia melihat sebuah bayangan tak asing yang ada disampingnya seseorang yang tak ingin melihatnya saat ini.


"kak Alvin!" suara Agatha memang cukup keras tapi untunglah tidak ada siapa-siapa dan lebih beruntungnya lagi orang yang disebutkannya tadi memakai headset.


"Lebay lo!" ketus Aldo yang memang mendengar jelas kekagetan Agatha, kemudian berjalan memasuki ruang guru lebih dulu.


"Coba jelaskan mengapa kalian berduaan di kelas dan ada adegan sinetron yang saya tonton tadi?" tanya Pak Satya dengan mata bak elang yang melihat mangsa, awalnya Agatha dan Aldo hanya diam saja tapi Agatha tidak ingin namanya di cap jelek jadila ia menceritakan kejadian tadi pagi.


"Jadi gini pak ..." baru Agatha ingin menjelaskan kejadian yang sesungguhnya


"Tumben kamu masuk ruang guru?,Agatha dapet prestasi apalagi pak?" Tanya Bu Nina yang memang selalu menemani Agatha saat lomba.


"Dia kena kasus bu sama Aldo, ini saya lagi mau tangani." Bu Nina seperti syok dan tak percaya perubahan air mukanya sangat nampak, tapi ia guru terbaik yang Agatha punya jadi ia tak mau memperkeruh suasana, ia tersenyum.


"Selesaikan nak." ucap Bu Nina lalu pergi.


"Jadi gini pak, Agatha mau ajarin saya materi ulangan nah saya nya gak mau tapi, dia berusah ngebujuk saya makanya tadi saya hampir jatuh ke atas Agatha gara-gara ada bapak saya gak jadi menang banyak deh."


Aldo menjelaskan dengan muka paling santai seperti tidak berbuat kesalahan itu membuat Agatha kaget dan pusing tiba-tiba kepalanya pening ia tidak menyangka akan jawaban Aldo yang diluar logika.


"Kamu ini makin ngelunjak aja,


Sekarang saya tau Agatha gak salah kamu boleh kembali ke kelas dan kamu Aldo sapu lapangan sampai bersih, ingat saya tidak mau ada satu sampah yang tertinggal." kali ini mata Pak Satya lebih menajam ke arah Aldo.


"Iya pak, jadi OB lagi deh saya." Aldo langsung beranjak pergi meninggalkan ruangan guru, kali ini membuat Agatha membuka kedua mulutnya juga melebarkan mata ia kaget dengan sikap bad boy Aldo yang ia lihat dengan mata kepala sendiri.


"Saya permisi Pak." ucap Agatha menetralkan perasaannya.


Agatha sedang memperhatikan Aldo, ia sedang menyapu halaman padahal ini sudah jam istirahat.


" Aldo kenapa lagi tuh?" tanya Febri di samping Agatha, sekarang mereka sedang memperhatikan Aldo dari koridor lantai dua sekolah.


"Gara-gara gue." Agatha terdengar lesu.


"Serius lo? Lo apain dia?" tanya Riska kaget.


"Dia ngebelain gue, semacam ngorbanin dirinya gitu." Agatha tidak melepaskan pandangannya dari Aldo.


"Ceritain yang jelas dong Tha, jangan sepotong-potong." Riska geram dengan temannya satu ini


"Tadi pagi gue ajak dia ngobrol nah dia mau menghindar dari gue ya gue coba halangin malah dia hampir mau jatuh diatas gue pas itu Pak Satya lagi patroli pagi." Agatha menjelaskan dan diakhiri dengusan panjang.


"Gue sama Aldo di bawa ke ruang guru, dia bilang dia yang salah intinya gitu deh." Agatha masih tidak melepaskan matany dari Aldo yang tengah mengelap dahinya.


"Dan lo sekarang diam aja? Disini?" tanya Febri yang memperhatikan sahabatnya seperti tidak ada gair*h hidup.


"Terus gue mesti gimana?" tanya Agatha membalikan badanya.


"Ini kesempatan lo, lo minta maaf dan kasih perhatian ke dia gue yakin dia luluh deh." ucap Riska yang di dukung anggukan kepala Febri.