
Baru sebentar ia menikmati rajutan kisah cinta bersama Aldo kini semua hancur dan akan menjadi kenangan.
"Keputusan yang diambil saat kita emosi biasanya kurang tepat." ucap Febri setelah di antara mereka tidak ada yang bersuara.
mengapa hubungan Aldo dan Agatha selalu rumit dan berliku mengapa selalu saja ada ujian yang menghadang perjalanan cinta mereka? Pertanyaan itu seolah membukakan fakta apakah Tuhan mengizinkan mereka untuk bersatu? Apakah Agatha memang tercipta untuk Aldo?
"Keputusan gue udah bulat, gue bakal berhenti dari semua tentang Aldo." Agatha dengan tatapan mata yang tegas menatap ke depan. Ia sudah lelah seperti dipermainkan oleh keadaan pikiran Aldo yang tak terbaca, sulit dimengerti, dan akhirnya inilah pilihan Agatha ia harus mengakhiri cerita cinta yang baru saja ia mulai.
"Kau membuatku terbang hingga jauh menembus langit ketujuh. Tetapi semakin aku terbang tinggi di saat bersaman pula semakin kuat kau menarikku ke dasar jurang yang dalam.
Maumu apa? Menyakitiku dengan tingkah manismu, dengan janji palsumu dengan setiap harapan akan masa depan yang kau ucapkan? Selamat kalau begitu kau berhasil melakukannya. Memporak-porandakan hatiku dengan tingkahmu. Kau hebat!"
Alvin sedang duduk di meja belajarnya, tempat dimana ia sangat suka menghafal setiap rumus fisika dan matematika, tempatnya untuk mengasah otak dan kemampuan. Matanya tertuju kepada gitar yang ada di samping meja belajarnya rasanya ia ingin menuangkan perasaan kacaunya saat ini lewat beberapa lagu.
Sudah satu jam Alvin asik dengan dunianya bersama gitar kesayangannya namun hatinya tak kunjung membaik, ia semakin kepikiran perkataan Aldo tadi pagi.
Kata-kata itu terus berputar seperti kaset rusak, Alvin tahu ia salah benar kata Aldo ia pengecut berani berbuat tapi tidak berani bertanggung jawab. Ia tak seberani Aldo, jika ditanya siapa sosok anak Yogi dirgantara yang paling berani itulah Aldo.
Secara otak mungkin Alvin jauh lebih unggul tapi soal menjalani kerasnya hidup dan belajar arti hidup yang sesungguhnya Aldo jauh lebih paham. Ia tahu ia salah karena melakukan hal yang tak sepantasnya ia dan Laras lakukan namun semua sudah terlanjur, sekarang apa yang harus ia perbuat.
Ia sangat mencintai Laras dan juga anak yang sekarang dikandungnya namun ia juga mencintai pendidikan dan menaruh harapan besar pada masa depannya, Alvin hanya butuh waktu untuk memutuskan antara cinta atau masa depannya.
Harusnya keluarganya dan Laras paham akan pilihan tersulit yang akan ia ambil namun nyatanya Aldo ada benarnya ia terlalu banyak berpikir dan menimang semua itu butuh tindakan bukan hanya ucapan.
Malam ini Alvin berjanji dalam minggu ini akan mengambil sebuah keputusan dan ia berharap ini adalah pilihan yang terbaik untuknya dan Laras.
Koridor pagi ini sangat sepi, bahkan hanya suara langkah kaki seseorang yang terdengar pagi itu decitan antara bagian bawah sepatu dengan lantai sekolah. Agatha mengenakan kaos olahraga kebanggaan sekolahnya karena memiliki desain yang menarik namun itu sekarang bukan menjadi fokus Agatha sekarang pikiranya kosong dan hatinya begitu hancur kata orang kita harus mengikuti kata hati namun, jika hati sudah terpecah menjadi seribu bagian, bagian mana yang akan kita ikuti?
Itulah keadaan hati Agatha saat ini, melihat setiap sudut sekolah yang memiliki kenangan akan dirinya dan bad boy sekolahan itu saat melihat ke arah lapangan ia teringat kalau dulu ia dengan bodohnya menawarkan diri untuk membantu Aldo yang sedang dihukum.
Dirinya dan Aldo yang dihukum oleh guru dibawa tiang bendera, dirinya yang selalu memarahi Aldo setiap saat. Kini Agatha sampai di ruang kelasnya masih sangat sepi, tentu ini memang kesengajaan Agatha ia datang 1 jam lebih pagi ke sekolah rasanya ingin mengingat segala kisah romantis yang pernah Aldo torehkan di hatinya mengingat tingkah b*doh Aldo yang membuatnya marah sekarang ia rindu itu semua.
Tawuran. Kata itu berputar di otak Agatha, ia benci yang namanya kekerasan apapun alasannya dan Aldo lah yang melindunginya dulu bahkan rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan bagi Agatha Aldo adalah pahlawan kesiangan yang selalu ia rindukan. Hanya Aldo yang mengajaknya makan bakso kesukaan lelaki itu di pinggir jalanjalan, mengajak seolah memculik lalu saling mengejar padahal kaki Aldo sedang sakit.
Aldo yang memetik bunga di taman padahal sudah ada larangan. Dan Aldo yang selalu berhasil membuat Agatha marah, cemburu, kesal, jengkel, sebal, dan sedih dalam waktu yang bersamaan oh tentu ada yang kurang Aldo yang membuat Agatha selalu tersenyum dengan caranya sendiri.
Agatha merindukan tawa bodoh Aldo , ia merindukan candaan receh Aldo. Mengapa air mata ini terus mengalir deras saat Agatha mengulang setiap memori itu, seperti ada layar lebar dihadapannya yang menampilkan kenang mereka berdua seolah.
Mengingatkan Agatha tentang kisah kasih khas remaja yang sudah mereka lalui tak terprediksi kalau Agatha jatuh hati pada cowok yang selalu saja membuat emosinya tidak stabil, cowok yang mengisi ruang kosong di hatinya, cowok yang menjaganya selalu dalam tingkahnya yang sepertinya cuek dan terlihat tidak perduli namun terus menjaganya, cowok menyebalkan itu... ia rindu.
Riska dan Okky berjalan beriringan di selingi senyum manis Riska karena ulah Okky yang terus menggoda, saat sampai di kelas ia bingung melihat Agatha yang tertidur dengan posisi tangan nya diselimutin jaket menjadi alas kepala.
"Kok tumben banget Agatha tidur di kelas?" tanya Riska terlebih pada dirinya sendiri kemudian menghampiri sahabatnya itu.
"Tha.. lo sakit?" tanya Riska menyentuh pundak Agatha dan reaksinya hanya sebuah isakan.
"Tha, lo kenapa? Jangan buat gue bingung Tha," tanya Riska lagi menguncang tubuh Agatha.
"Gue gapapa." jawab Agatha.
"Kita ke UKS aja yuk!" ajak Riska.
"Gue mesti siapin buat acara classmeeting." Agatha bangun dari posisiposisinyadan terlihatlah wajah sembab Agatha sehabis menangis, kantung matanya tercetak amat jelas ditambah matanya memerah.
"Gue temanin lo!" Riska merangkul AgathaAgatha, andai saja Febri di sini ia juga pasti sama hancurnya dengan Riska yang melihat sahabatnya Seperti tak mempunyai semangat hidup sayangnya Febri harus mengurus tim basketnya.
Di warung seberang sekolah Aldo tidak memakai seragam, ia sudah menghabiskan beberapa batang rokok dan 2 botol minuman keras. Ia menjadi Aldo yang dulu kembali tak punya arah, ia menatap arah gerbang sekolah menjadi dejavu saat mengingat Agatha pernah menangis karena papanya tak bisa menjemput dan Aldo datang memaksa mengantarkannya pulang.
"Bos!" ucap Rangga dan Okky datang bersamaan melihat Aldo dan teman-teman lainya sedang duduk di warung tersebut.
"Gimana keadaan Agatha?" tanya Aldo terkesan dingin namun ia sangat rindu gadisnya.
"Dia abis nangis, keliatannya dia terpuryk banget Do. Sekarang dia lagi urus Classmetin, lo gak mau masuk sekolah aja?" tanya Okky melihat Aldo sama kacaunya dengan Agatha.
"Secepatnya gue bakal putusin Agatha, biar dia gak terus-terusan susah karena cowok brengsek kaya gue." Aldo meneguk minuman keras dihadapannya.
"Gue bakal nikahin Laras, jadi gue gak mau kasih harapan palsu buat Agatha." ucap Aldo singkat.
"Lo serius sama keputusan ini?" tanya Okky.
"Laras cewek yang penting di hidup gue, yang harus gue jaga."
"Kita dukung keputusan lo, asal ini gak buat lo menyesal."Rangga menepuk bahu Aldo.
Kali ini pertandingan kelas Agatha melawan kelas Eza, Febri bingung harus mendukung kelasnya atau pacarnya jadi terkadang ia meneriaki kelasnya juga kelas Eza dan itu membuat Agatha tertawa, sedikit lupa akan beban yang sekarang berada di pundaknya sampai seseorang menepuk bahunya dari belakang.
"Hei!" sapa seseorang itu singkat namun membuat Agatha bingun dan berpikir keras.
"Siapa ya? Anak baru?" tanya Agatha yang bingung namun laki-laki itu sydah menariknya keluar dari kerumunan para siswa.
"Jakson," ucapnya mengulurkan tangan mengajak berjabat tangan dan Agatha terlihat masih berpikir.
"Jakson yang mana ya?" tanyanya lagi tidak membalas uluran tangan lelaki itudanl tentu membuat laki-laki di hadapannya terkekeh dan senyumannya langsung saja menarik perhatian ppara siswi di sekitar mereka ada yang berhenti sejenak melihat pemandangan indah itu.
"Adik kelas yang pernah kamu tolak, si gendut berkacamata, suka bersin, berkeringat, dan menangis tapi pandai menulis puisi khususnya untuk kakak kelas yang ia suka." terangnya membuat Agatha mencerna dengan baik setiap perkataan lelski di hadapannya dan kemudian teringat akan masa SMP.
"Oh Jakson, berubah banget." Agatha kikuk ya memang Jakson yamg sekarang amat taman layaknya cowok-cowok boyband Korea mempunyai tubuh proporsional, wajah putih bersih, hidung mancung, badan atletis, dan tentu saja masih dengan kelucuannya.
"Akhirnya aku diingat, apa kabar kak?" tanya Jakson kikuk.
"Baik, kamu gimana? Sekolah dimana? Kok bisa sampai kesini?" tanya Agatha penasaran.
"Aku baik, sekolah disini rencananya mulai besok aku jadi murid baru. Tolong bimbing aku ya kak Ketos." Jakson terkekeh membuat Agatha juga ikut terkekeh.
"Oh iya masih ingat Riska dan Febri gak? Tunggu ya aku panggil mereka." ucap Agatha dan dibalas anggukan oleh Jakson.
Sekarang Agatha, Jakson, Riska dan Febri sudah berada di kantin sedari tadi membahas masa-masa SMP dan tentu saja Riska sudah meminta maaf akan sikapnya yang dulu suku meledek Jakson.
Dari perbincangan mereka Riska dan Febri dapat mengambil kesimpulan bahwa Jakson masih menyukai Agatha ditambah setelah pulang sekolah Jakson mengajak Agatha pergi bersama.
"Aku jemput di gerbang nanti sore ya."
Jakson melambaikan tangan dan memasuki mobil sport nya, dari dulu memang Jakson orang yang sangat mampu dalam hal materi.
"Lo serius mau jalan sama doi?" tanya Riska.
"Gue kan udah nolak, tapi dia bilang mau membangun hubungan pertemanan ya gue bisa jawab apalagi?" Agatha menghela nafas.
"Gue rasa dia mau ngedeketin lo lagi, kelihatan banget Tha!"ucap Febri.
"Ya jalanin dulu aja, sekalian gue bisa refreshing." Agatha kemudian kembali ke acara classmeeting.
Aldo melihat semuanya dari warung sebrang sekolah bagaimana Agatha tersenyum dan melambaikan tangan pada cowok bertubuh atletis memakai kaos berwarna Hitam tersebut dan api cemburu dihatinya, sesuatu yang menyesakkan dadanya dania berharap dapat terbiasa jika memang bukanlah dirinya yang akan menjaga Agatha lagi.
"Ke Ancol?" tanya Agatha saat Jakson membawanya menuju ke pantai yang ada di Ancol.
"Ini tempat pertama yang pengen aku kunjungi dan aku ingin mengunjunginya sama kakak." ucap Jakson melihat hamparan pasir dan pantai yang luas.
"Jangan pangil kakak, jadi ngerasa tua.terus ngomongnya gue lo biar lebih akrab." pinta Agatha yang mendapat anggukan.
"Tahu gak, kalo lo yang memotivasi gue biar jadi Jakson yang sekarang. Dulu gue bertekad bakal memperbaiki diri supaya bisa balik lagi dan ngedeketin lo." ucap Jakson saat mereka sudah berjalan-jalan di atas hamparan pasir putih dan Jakson menatap Agatha seolah melihat seseorang yang ia amat kagumi.
"Lo suka gue dari mananya?" tanya Agatha terkekeh, sejak dulu hanya sedikit laki-laki yang berani mendekati dirinya mungkin karena ia galak, suka marah-marah dan terkesan kaku juga dingin kepada semua pria dan alasannya adalah karena ia ingin fokus pada pendidikan.
Happy reading guys
Bersambung........