Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin

Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin
#18 Bersama Aldo



"Uh seram, ganas, lo cewek apa tukang pukul?" tanya Aldo tertawa dan seolah-olah takut.


"Udah deh pergi lo, jauh-jauh dari hidup gue!" sentak Agatha lagi membuat Aldo lagi-lagi tertawa.


"Bye Bu Ketos galak, jangan kangen ya." ucap Aldo melambaikan tangan.


Agatha kesal dengan perilaku Aldo kepada dirinya yang semakin hari semakin membuat amarahnya naik secara tiba-tiba di tambah satu sekolah sudah tersebar gosip murahan tentang dirinya, hidupnya semakin menyebalkan saja.


"Agatha?" suara dingin itu lagi-lagi masuk ke dalam pendengarannya dan membuat seluruh bulu kuduknya merinding dan ia segera membalikan badan lalu nyengir.


"Eh kak Alvin," ucapnya bingung harus berkata apa.


"Kamu ngapain disini?" tanya kak Alvin yang kali ini jauh lebih ramah, ini langkah yang sangat baik untuk dirinya mengenal lebih jauh dengan pangeran esnya.


"Oh iya, saya mau ngambil berkas-berkas untuk lomba musik."ucap Agatha masih salah tingkah dan hanya di balas dengan anggukan.


Suasana tak enak segera di hiraukan oleh Agatha dan ia langsung masuk mencari lemari biru tempat di mana berkas itu diletakkan.


"Makasih ya sekali lagi, sejak kamu jadi ketua OSIS rasanya ekskul musik kembali hidup, lebih tepatnya semua ekskul."Alvin kembali menatap Agatha yang sibuk mencari berkas.


namun kegiatannya terhenti saat mendengar pujian beruntun dari seseorang yang selalu ada di pikirannya.


mungkin ia sering mendengar pujian dari guru dan teman-temannya namun ini berbeda ia dipuji oleh orang yang sangat disukainya.seseorang yang begitu berbakat dalam segala bidang Agatha tersenyum.


" sama-sama kak, saya senang kalau kakak merasa begitu."ucap Agatha sopan.


"Bisa nyanyi?" tanya nya masih dingin.


"Gak bisa kak, ketawa aja saya fals." Agatha terkekeh dan segera membalik badan saat sudah menemukan berkas-berkas yang ia cari, ia tersenyum saat melihat kak Alvin tersenyum cukup lebar atau lebih tepatnya sedikit mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Kalau alat musik?" ia mengangkat salah satu alisnya, Agatha yang melihat segala ekspresi Alvin sedekah ini merasa jantungnya tidak terkontrol.


"Apalagi itu kak, saya gak bidang di seni musik." ucapku tersipu malu.


memang Agatha yang di kenal sangat pandai dalam segala bidang contohnya dalam memimpin sebuah organisasi, dalam hal pelajaran, membuat tulisan-tulisan bermakna, dia juga tidak kalah cantik dengan cewek-cewek populer di sekolahnya seperti Steffy dan gengnya.


"Tapi kamu tertarik soal musik?" tanya Alvin lagi, setidaknya Alvin telah bisa berbicara sedekat ini dengan makhluk berjenis kelamin wanita setelah sekian lama ia menutup diri bahkan membentangi diri dengan tembok teramat tinggi dan tebal yang sulit di tembus oleh kaum hawa.


"Saya sih tertarik kak, cuman belum ada media buat belajarnya." ucap Agatha lagi masih berdiri ditempatnya.


"Kenapa gak ikut ekskul musik?" tanya kak Alvin.


"Waktunya bentrok sama OSIS dan ekskul teater wajib." ucap Agatha lagi, sedari dulu ia masuk pertama kali ke sekolah ini sebenarnya ia ingin masuk ke ekskul musik hanya saja itu menjadi pilihan terakhir.


"Tiap orang punya minat dan bakat yang berbeda, jadi saya maklumi kalau hati kamu gak ada di ekskul musik ini. Tapi, setiap orang bisa belajar banyak hal. Gak harus ahli, setidaknya kamu paham dan tahu dasarnya." ucap Alvin bijak


langsung saja masuk menancap di hati Agatha. Dia menjadi senyum-senyum sendiri mendengar kata-kata bijak milik Alvin.


"Sini duduk, berdiri aja disitu." goda Alvin dan Agatha langsung tersadar duduk di bangku yang berada di dekat Alvin.


"Saya bisa ajarin kamu tentang dasar-dasar musik, anggap ini ucapan terimakasih saya karena kamu ekskul ini banyak peminatnya." Alvin menatap Agatha dengan intens


sedangkan yang diperhatikan tidak berani menatap lawan bicaranya, sungguh situasi ini membuat Agatha gugup.


Memang ekskul musik banyak sekali peminatnya selama masa kepemimpinan Agatha sebagai ketua OSIS karena ia sering mengadakan event untuk ekskul-ekskul yang kurang peminatnya, Karena melihat tidak ada reaksi dari Agatha.


"Kamu mau belajar alat musik apa?" tanya Alvin, ketika pertanyaan itu keluar dari Agatha seperti mendapat dorongan semangat penuh.


"Gitar" jawab Agatha cepat dengan semangat 45 dan reaksi itu membuat Alvin lagi-lagi terkekeh, Agatha menjadi malu karena di tertawakan Alvin.


"Oke, saya ajarin basicnya dulu aja ya. Saya senang kalau ada orang yang mau belajar dengan semangat tinggi." ucapnya memuji Agatha.


Di ruang musik terdapat dua insan yang sedang serius memainkan alat musik gitar.


Alvin memperkenalkan bagian-bagian gitar lalu mulai mengenalkan Agatha pada kunci-kunci yang ada pada gitar.


dan selanjutnya suasana yang hening diselingi candaan kecil, Alvin terkadang terkekeh melihat Agatha yang salah dalam menekan senar.


"Kak makasih ya sudah mau ajarin saya banyak hal tentang gitar." ucap Agatha saat mereka sampai di halaman parkir sekolah.


"Sama-sama, kamu cukup cepat menangkap semua yang saya ajarkan. Kalau saya udah lulus kamu bisa gantiin saya sebagai coach di ekskul musik ya?" tanya Alvin terkekeh.


"Kakak bercanda ya? Saya gantiin kakak? Ilmu saya mah masih cetek kak belum sehebat kakak." ucap Agatha.


ia merasa sangat nyaman entah kenapa ia bersyukur pada takdir yang membawanya sampai pada hari ini. Dimana ia bisa sedekat ini dengan pangeran es yang sedari dulu selalu menutup diri, ia merasa dunianya lebih berwarna yang dulunya abu-abu kini lebih mengenal warna-warni.


"Ketika dia membuatku nyaman, aku hanya takut jatuh cinta sendirian."


"Gatha, lo gue antar pulang." saat Agatha masih sibuk membahas hal lainnya tentang gitar dengan pangeran impiannya ia.


telinganya mendengar suara yang tak pernah ia harapkan, mendengar suara yang membuat harinya yang berwarna kembali hitam.


"Lo g1la ya?! Gue masih pake seragam dan lo ngajak gue malam-malam buat nongkrong di taman? Apa kata orang? Nanti gue dipikir siswi yang gak bener karena belum pulang ke rumah jam segini?" Agatha mengoceh panjang lebar membuat dirinya dan Aldo menjadi pusat perhatian.


semua orang yang ada di taman sedangkan Aldo hanya menutup kedua telinganya mendengar suara Agatha yang seperti rel kereta api tanpa ada batasan dengan d4d4 memburu karena emosi Agatha mulai tenang.


"Lo tuh berisik banget! Bawel! Gue cuma ngajak lo makan doang." Ucap Aldo


Aldo akhirnya menarik tangan Agatha menuju salah satu tukang bakso yang ada di pintu masuk taman dan adegan itu membuat Agatha lagi-lagi terdiam melihat reaksi Aldo yang tidak memarahinya balik, Aldo mengajak Agatha makan? Apa maksud Aldo mendekati Agatha, pertanyaan itu menghantui Agatha.


"Bang pesen baksonya dua porsi ya sama es teh manisnya juga dua." ucap Aldo tersenyum.


"Siap bang Aldo." ucap si Abang tukang bakso, sepertinya Aldo sudah lama berlangganan di tempat itu.


Dalam suasana hening antara Aldo dan Agatha masing-masing kembali sibuk menatap lalu lalang orang kesana dan kemari yang di dominasi pasangan muda mudi sampai Aldo tidak tahan akan keheningan yang ada di antara mereka.


"Gue minta maaf bawa lo kesini tanpa izin." ucapnya mengakui ini memang kesalahannya dan dibalas anggukan pelan oleh Agatha yang masih sibuk menghabiskan baksonya.


"Habis ini kalau lo gak keberatan, kita jalan bentar ke dalam taman." Aldo menawarkan.


"Yaudah." jawab Agatha singkat.


"Yaudah apanya nih?" tanya Aldo menggoda.


"Bodoh amat!" Ketus Agatha.


Lagi-lagi suasana hening ada di antara mereka, kali ini Agatha yang tidak tahan dengan suasana yang sudah tercipta.


"Kaki lo udah sembuh?" tanya Agatha mengingat beberapa hari yang lalu Aldo berjalan dengan terseok.


"Udah kok, cuman masih nyeri kalo jalan." jawab Aldo menyeruput es teh manisnya.


"Yaudah kalau masih sakit kita langsung pulang aja." saran Agatha kaget mendapat gelengan cepat dari Aldo.


"Jangan!" hentaknya dan reaksi Aldo menimbulkan pertanyaan di wajah Agatha.


"Kenapa?"


"Lagian kaki gue udah gapapa, cowok itu gak boleh manja."Aldo memegahkan diri dan di detik berikutnya.


"Aw...aw...!!!!" pekik Aldo mengangetkan pembeli lainnya.


"Cowok gak boleh manja kan? Di injek kok teriak teriak?" tawa Agatha pecah didetik itu juga.


dia sangat tertawa lepas melihat muka Aldo, ia teramat bahagia bahkan ia sampai lupa kapan ia tertawa selepas ini.


"Dasar cewek galak!" ucap Aldo lagi.


"Eh enak aja lo ngatain gue galak!" Agatha langsung merubah ekspresi wajahnya saat ia dikatakan galak.


"Pantas aja deh anak-anak manggil lo nenek lampir, julukannya pas dan sesuai." ucap Aldo meremehkan.


"Lo pilih rumah sakit atau kuburan?" Agatha mengepalkan kedua tangannya menempatkan Aldo pada sebuah pilihan.


"Hmm... gue pilih buat gak dekat-dekat sama Mak lampir!"Aldo terkekeh bersiap kabur.


"ALDO!!..." Teriak Agatha untuk yang sekian kali membuat mereka menjadi pusat perhatian, Aldo sudah berlari.


"Bang baksonya ngutang dulu....!!!" teriak Aldo membuat si Abang bakso menggeleng-gelengkan kepala melihat dua insan itu saling berkejaran.


Entah berapa lama sudah Agatha mengejar Aldo, ia pun telah lelah bagaimana mungkin Aldo dengan keadaan kaki seperti itu tidak terkejar olehnya mungkin ini karena dia malas mengikuti ekskul renang membuat nafasnya pendek dan mudah lelah.


"Capek ya ngejar cowok ganteng?" suara dari belakang membuat Agatha geram jadi ia segera berbalik bersiap menonjok muka Aldo jika saja satu gerakan singkat tak di lakukan Aldo.


"Buat lo." ucapnya memberikan setangkai bunga anggrek putih, Agatha tertegun.


"Romantis ya? Sampe blushing gitu?" goda Aldo membangunkan macam betina.


"Sok romantis!" Agatha menepis bunga dari Aldo, sejujurnya bunga itu kesukaan Agatha dan mamanya bahkan dulu halaman rumah mereka di dominasi tanaman anggrek putih.


"Jangan gengsi, terutama aja!" Aldo mengambil tangan Agatha dan meletakkannya di telapak tangan Agatha.


"Makasih ya." Agatha berucap singkat saat sudah sampai di gerbang rumah Agatha yang bercat coklat, perkataan Agatha di balas dengan senyum termanis oleh Aldo.


"Agatha!" sebuah suara tegas muncul dari arah belakang membuat Agatha menghela nafas panjang.


"Kenapa baru pulang jam segini? Pulang sekolah harusnya langsung pulang!" Penegasan itu membuat Agatha memutar kedua bola matanya jengah.


Maaf Kalo gk nyambung y


Bersambung.......