
"Coba deh kamu jangan langsung ambil keputusan sendiri dari sudut pandang kamu, belajar mengerti Aldo." Gea tersenyum lembut dan yang sekarang Agatha bisa lakukan hanyalah terdiam meratapi nasibnya percintaannya yang baru seumur jagung.
Novel bertema bad boy yang sekarang berjejer apik dengan novel pemberian Aldo menjadi teman Agatha sore ini, tidak lupa alam semesta turut mengambil bagian dalam mendukung suasana hati Agatha yang kacau balau.
Hujan tak henti-hentinya mengguyur membasahi apa saja dan ini cukup membantu Agatha menenangkan pikiran, sekarang ia hanya melamun tak memiliki pekerjaan apapun untuk dilakukan sambil menunggu ponselnya berdering menandakan notifikasi masuk jadi ia memutuskan untuk menuliskan sebuah kata-kata yang cukup mewakili perasaannya saat ini, kalimat ini ia dapatkan saat membuka sebuah aplikasi yang menampilkan puisi secara digital.
'Terperangkap aku dalam penantian panjang nan melelahkan, Membeku dalam ketidakpastian.
Sedangkan kau sibuk dalam ketidakpedulian, sadarkah kamu akan ini semua?
Agatha menuliskan itu pada buku kesayangan, berisi kumpulan kalimat sajak atau puisi mewakili perasaannya dan juga wanita-wanita di luar sana. Sebuah notifikasi masuk ke dalam handphone Agatha membuat si pemilik langsung membukanya dan ternyata benar saja itu dari Aldo.
"Besok aku gak masuk ya, sorry love you!"
Begitulah pesan yang masuk, di kirim dari seseorang yang sedang memporak-porandakan hati Agatha.
" Kenapa dia gak masuk?" tanya Agatha terlebih pada dirinya sendiri.
"Laras?" tanya Agatha menebak.
Rasanya ingin detik ini juga Agatha menelpon Aldo namun gengsinya yang terlalu besar serta rasa kecewanya akan kejadian tadi membuat ia mengurungkan niatnya.
" Buat apa peduli sama orang yang udah gak perduli sama kita?" ucap Agatha ketus, sisi lain dari seorang Agatha yang memang keras kepala dan apalagi bila tentang cinta dia terkadang menjadi Agatha yang egois.
Waktu menunjukkan pukul 19.00 dan Aldo masih sibuk menantikan Alvin yang belum pulang dari tadi, ia ingin menanyakan dimana tanggung jawabnya sebagai laki-laki setelah apa yang di ceritakan Laras tadi sore. Aldo menatap kasihan ke arah Laras, mengapa gadis yang dulu amat dicintainya bisa mengalami kejadian pahit bersama kakaknya? Takdir Tuhan, itu pikir Aldo. Sambil Aldo menunggu kedatangan sang kakak, ia sedang menunggu balasan pesannya dari Agatha.
"Kenapa belum di balas ya? Apa mungkin dia lagi fokus belajar buat UAS, memang sebaiknya gue gak ganggu dia dulu dan selesaikan masalah ini secepatnya." Aldo melihat ke tidak ada notifikasi masuk di hp nya.
Alvin pulang dengan wajah seperti seorang frustasi, rambutnya acak-acakan dan seragamnya berantakan kemudian ia melihat Aldo sudah menunggunya di ruang tamu.
"Lo bisa jelasin apa ke gue?" tanya Aldo ketus dengan menatap Alvin tajam.
"Apa yang perlu gue jelasin?" ucap Alvin menentang.
"Lo jangan pura-pura bego, gue gak perduli lo kakak gue. Siapapun yang berani nyentuh Laras gak segan-segan gue habisin!" ucap Aldo dengan mengepalkan tangannya.
"Gue masih gak percaya aja sama takdir ini!" ucap Alvin menghela nafas.
memang pandangan orang tidak selamanya benar Alvin bukanlah pria yang sempurna ia terlalu takut apalagi sekarang ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Namanya lo brengsek, berani berbuat tapi gak berani bertanggung jawab. Banci!" bentak Aldo membuat amarah Alvin pun tersulut.
"Kalo lo mau tanggung jawab, lo aja yang nikahi Laras!" begitu ucap Alvin dan langsung membuat Aldo bangkit berdiri memberikan satu tonjokan tepat di pipi kanan Alvin dan ia pun tersungkur.
"Lo ngomong apa barusan?! Gue emang bego secara otak tapi gue gak pernah dididik untuk lari dari tanggung jawab!" Aldo berteriak sampai membuat bibinya hanya dapat mengelus dada, ya bibi sudah tau kejadian ini dan hanya bisa menguatkan Laras.
"Gue butuh waktu buat terima semua kenyataan yang dihadapkan sama gue!" bentak Alvin bukannya membuat amarah Aldo turun tapi membangkitkan atmosfer pertengkaran yang lebih besar lagi.
"Waktu? Lo pikir dengan lo lari itu bisa nyelesain masalah? Yang lo butuh adalah bertindak!" kini nafas Aldo memburu, mengapa kakaknya sangat pintar dalam pelajaran ini sungguh tidak punya etika dan moral.
"Lagian belum tentu anak itu, anak gue kan?" ucap Alvin yang seperti melantur itu membuat amarah Aldo telah mencapai tingkat tertinggi, sekarang ia menghina orang yang penting untuk Aldo.
"SiaLaN!" umpatnya lalu menghajar Alvin habis-habisan.
"Aldo cukup!" bentak sebuah suara kemudian memegang lengan Aldo tapi itu tidak langsung membuat Aldo berhenti.
"Aldo!" kali ini teriaknya lebih kencang dan mampu membuat Aldo berhenti.
"Udah.... aku mohon!" ucap Laras terisak dan tentu itu membuat Aldo tak bisa berkutik.
"Kalau aja dulu kamu gak milih bajingan ini kayak dia! Kamu gak bakal kayak gini, harusnya kamu pilih aku!" ucap Aldo kemudian bangkit berdiri dan membawa Laras ke arah kamarnya.
Agatha bangun dengan malas, rasanya ia ingin tidak masuk sekolah hari ini namun ketika mengingat Minggu depan adalah UAS maka dengan dorongan cukup kuat membuatnya melangkah kaki ke kamar mandi.
Bersambung.........