Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin

Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin
#24 Konser Musik



"Oh iya waktu itu, lupa." suara Agatha yang terdengar polos membuat tangan Alvin terangkat dan mengelus puncak kepala Agatha membuat yang diperlakukan seperti itu terkejut rasanya udara di dalam ruang.


Musik habis terhisap pesona pria tampan di hadapannya sedang Alvin seperti Dejavu, dahulu mengelus kepala seorang gadis yang teramat dicintainya adalah suatu hal favorit bahkan menjadi hobinya sekarang perasaan itu kembali datang bersama seorang gadis yang berbeda namun memiliki tingkat keras kepala dan kepolosan yang sama dengan gadis dihadapannya saat ini.


"Kak, saya izin balik ke kelas dulu ya." Agatha saat sadar tangan Alvin masih berada dipuncak kepalanya, itu membuat Alvin sedikit gugup namun akhirnya mengangguk dan tersenyum.


To:Eza (waketos)


'Za, tolong pimpin rapat hari ini ya gue harus buru-buru pulang, ada urusan mendadak. Makasih teman tercinta."


Begitulah pesan yang dikirim Agatha, sekarang ia sedang mencari alasan agar dirinya bisa mengundur latihan drama.


"Teman-teman berhubung Tari kan belum selesai buat naskahnya, jadi kita latihannya besok atau lusa aja ya tunggu naskahnya siap." ucap Agatha saat jam pulang sekolah.


"Kenapa harus tunggu naskah kelar? Toh kita bisa latihan untuk bagian awal dan siapin hal di belakang panggung bareng."begitu celetuk Aldo dari pojok kelas.


"Yah tapi lebih baik nunggu naskah selesai baru kita tahu mau ngapain?" tanya Agatha tak mau kalah.


"Katanya ketua OSIS, tapi kalau nunggu mulu gak kelar-kelar deh tuh acara, gak efektif dan efisien." celetuk Aldo lagi yang didukung kedua temannya.


"Udah pada berisik aja, udah waktunya pulang masih debat!"ucap Riska melihat suasana kelas memanas.


"Tahu lo berdua udah tau ayang beb gue mau pulang, yuk."goda Okky.


sedari kelas satu Okky selalu menggoda Riska mereka sering digoda anak-anak kelas bahkan guru kata orang mereka cocok padahal Riska sangat benci kepada Okky karena sikap sok playboy nya itu.


"Apaan sih lo playboy cap teri, siapa juga yang mau pulang bareng lo!" ucap Riska yang bukannya menenangkan suasana justru memperkeruhnya.


"Udah, kita putuskan bersama latihan dimulai besok!" Agatha lalu mengambil tas dan berjalan cepat.


"Agatha!" sebuah suara menginterupsi langkah cepatnya, ia sudah hafal siapa suara yang selalu mengganggunya.


"Kenapa lagi?" tanyanya malas.


"Kapan lo mau ngajarin gue? Malam ini gimana?" tanya Aldo bersemangat.


"Gue gak bisa hari ini sibuk." tegas Agatha.


"Sibuk tidur sama makan makanya gak tinggi malah g3ndut."sindir Aldo tadi membuat Agatha emosi tingkat tinggi.


"Lo tuh kerjaannya hina orang aja, sadar dong lo juga banyak kekurangan!" setelah Agatha membentak Aldo.


ia berjalan cepat masuk kedalam taksi sedangkan Aldo bingung dengan sikap Agatha yang berubah-ubah, ia segera menuju parkiran motor.


Agatha segera masuk kedalam kamar mempersiapkan diri secantik mungkin untuk pertama kalinya, seumur hidupnya ia bisa berjalan dengan seseorang yang teramat ia impikan.


"Agatha, sayang." suara merdu masuk kedalam pendengaran Agatha.


"Iya Oma, masuk."


"Tumben pulang naik taksi, biasanya gak pernah mau?" tanya Oma duduk di ranjang menatap Agatha yang sedang memilih baju.


"Iya Oma, buru-buru banget Gatha." ucapnya masih mencoba mencari baju terbaik.


"Mau kemana?" tanya Oma lagi.


"Pergi sama temen ke konser musik."Ucapnya lagi setelah menemukan kemeja putih dengan celana jeans.


"Aldo?" tanya Oma spontan membuat Agatha mendengus sebal.


"Bukan Oma, tapi kak Alvin dia kakaknya Aldo." ucap Agatha menjelaskan lebih lanjut.


"Jadi ceritanya kemarin sama adiknya sekarang sama kakaknya?" tanya Oma tersenyum.


"Dari awal juga Agatha suka sama kakaknya, Oma." tegas Agatha ketika menemukan sepatu running putih kesayangannya.


"Yauda Oma pesan, hati-hati dan kalau bisa izin sama papa dan Gea." Ucapan Oma yang terakhir membuat seluruh kegiatan Agatha berhenti sejenak.


"Papa ada di rumah?" Tanya Agatha spontan


"Iya sayang, lagi di ruang kerja sama kak Gea." ucap Oma lagi.


"Kalau ingat Agatha pamit deh." ucap Agatha santai mengambil handuk dan bersiap ke kamar mandi.


Oma sangat paham perasaan Agatha yang kecewa dengan papa dan kakaknya seolah mengabaikan keberadaan Agatha, disisi lain ia juga tahu bagaimana papa Agatha berjuang keras demi menghidupi kedua putrinya yang sangat dicintainya.


" Agatha jalani lah hidup karena inilah takdir jangan lari dari kenyataan yang sudah ada didepan mata karena hidup adalah tentang sebuah perjalanan bukan pelarian." kata-kata Oma yang begitu dalam membuat Agatha berhenti sejenak dari kegiatannya.


"Oma hanya ingin melihat kamu bahagia tanpa penyesalan dikemudian hari." Oma menepuk pundak cucunya lalu berjalan keluar kamar.


"Udah siap?" tanya Alvin tanpa mengomentari penampilan Agatha yang begitu cantik malam ini.


"Udah kak." ucap Agatha.


"Yaudah yuk, takut telat." ucap Alvin.


Selama di perjalanan hati Agatha seperti sedang berada di langit ketujuh, ia ingin perjalanan ini tak berujung bahkan sedari tadi ia ingin m3meluk orang yang memunggunginya sekarang ini, ia telah menunggu pria didepannya selama satu tahun tanpa ada kemajuan sedikitpun dan sekarang segala impiannya terwujud, baginya sekarang ia seperti putri yang sudah bertemu dengan pangeran impiannya.


"Agatha, kita udah sampai." ucap Alvin menyadarkan Agatha dari impiannya.


"Oh iya udah sampai ya?" tanya Agatha kikuk sambil turun dari motor.


"Iya, kamu ngelamun mulu. Ngelamunin saya ya?" tanya Alvin menggoda.


dan ini adalah pertama kalinya Alvin menggoda Agatha sungguh suasana ini yang terus ingin Agatha rasakan setiap harinya agar seorang Alvin yang sempurna bisa melengkapi kehidupannya yang kurang kasih dan sayang.


"Kakak sok tahu!" Agatha tersipu malu


sambil berjalan ke sebuah lapangan luas yang terlihat beberapa pasang muda mudi saling berfoto satu dengan yang lain sedang berfoto bersama mengambil moment, Agatha sungguh menikmati pemandangan sore ini.


"Hei Vin, tumben bawa cewek?" tanya sebuah suara ternyata pemilik suara itu adalah seorang laki-laki yang membawa gitar juga diiringi tiga temannya.


"Temen gue di sekolah, Cel." ucap Alvin ramah sambil berpelukan khas laki-laki.


"Akhirnya si Alvin gue liat jalan juga sama cewek" ucap Excel.


"Lo kira gue h*mo apa?" tanya Alvin bercanda, ini adalah pengalaman baru bagi Agatha biasanya Alvin terlihat sangat serius bisa menjadi santai saat bersama temannya.


"Kenalin kali Vin." goda Viko cowok yang ada di belakang Excel.


"Saya Agatha." ucap Agatha mengulurkan tangannya yang di sambut baik.


"Kok gue gak percaya kalian temenan sih? Kalian cocok pake banget." ucap Odi terkekeh.


"Bener tuh, apalagi jadi pasangan duet." sambung Viko.


"Lihat kedepannya aja deh guys." ucap Alvin tersipu malu, apa Alvin salah tingkah jujur hati Agatha sedang berbunga-bunga bagaimana mungkin seorang Alvin baru saja memberikan dia sebuah pengharapan.


Saat konser musik telah usai 15 menit yang lalu, Fideo berinisiatif.


"Yaudah foto dulu yuk, kalian berdua dulu gue fotoin." ucap Fideo yang memang jago dalam hal fotografi dan langsung mendapat anggukan dari Alvin .


sedangkan Agatha sempat terpaku melihat reaksi cepat Alvin, rasanya sekarang ia lebih dekat dengan impiannya bisa bersama pangeran yang sedari dulu ia bawa dalam doanya.


"Satu...dua...tiga!" ucap Fideo lalu mengulanginya beberapa kali sampai.


"Aduh kalian kurang romantis," ucap Excel meletakkan posisi tangan Alvin merangkul Agatha dan itu membuat semua yang ada disitu terkekeh.


dengan kelakuan temannya itu sedangkan mereka tidak tahu yang terjadi pada jantung Agatha yang seperti lari maraton sangat berdebar cepat sehingga ia tampak gugup ketika di kamera.


"Agatha mukanya jangan tegang dong, Alvin jinak kok gak gigit." teriak Fideo membuat Alvin langsung menatap Agatha yang memang sudah keringat dingin.


"Bener kata Fideo, saya itu gak gigit.Jadi coba senyum ya biar hasil fotonya bagus." ucap Alvin mengarahkan tangannya menyentuh kedua pipi Agatha membuat sensasi aneh di hati Agatha tapi ia teramat senang dengan sentuhan itu rasanya ia ingin ini lebih.


"Vin, lo serius sama tuh cewek?" tanya Odi.


"Gue juga belum kenal lama, baru sebatas junior tapi dia punya banyak kemiripan sama Laras." ucap Alvin menerawang.


"Lo masih berharap sama dia yang udah ninggalin lo?" tanya Odi yang memang tahu tentang sejarah percintaan Alvin.


"Dia tuh punya alasan, gue yakin cuman belom bisa di kasih tahu ke gue." ucap Alvin mantap.


"Maka dari itu setelah lulus lo mau nyusul dia ke China? Lo udah dapet Agatha, gue liat dia lebih baik dan cocok buat mendampingi lo." Ucap Odi lagi.


"Kan yang jalanin gue, tempat di hati gue masih di isi sama orang yang sama." tegas Alvin menutup mata.


"Laras dan selalu Laras, move on bro." Odi menepuk pundak temannya itu, sedangkan di sudut lain ada seorang perempuan yang telah mendengarkan percakapan mereka.


"Laras? Dia siapa?" tanya Agatha pada dirinya sendiri, bingung namun ia tidak mau pikiran buruknya mengacaukan suasana indah yang sudah terbangun jadi ia menghampiri Alvin dan teman-temannya.


"Agatha, saya mau bilang terimakasih karena sudah nemanin saya sampai malam gini." ucap Alvin merasa bersalah.


"Gapapa kak, lagian pengalaman baru." Agatha tersenyum manis.


"Yaudah masuk, langsung istirahat."


"Kakak?" tanya Agatha melihat Alvin belum melangkah kaki.


"Saya nungguin kamu sampai masuk ke dalam rumah dengan selamat." berulang kali kata-kata romantis Alvin mampu membuat Agatha tersipu malu dan pipinya langsung merah.


"Makasih ya kak." Agatha berjalan masuk namun ia membalikkan badan.


"Good night and take care." Agatha tersipu malu melambaikan tangan lalu dengan langkah cepat berjalan masuk.


Saat ia masuk ke rumah, Agatha langsung disambut sang papa yang telah menonton televisi ditemani sang kakak.


"Abis dari mana Gatha?" tanya sang papa namun tak mendapat jawaban.


"Kalau orang tanya itu dijawab, dek." ucap Gea melirik ke arah Agatha yang terus berjalan.


"Emang Agatha masih dianggap ada? Masih peduli Agatha ngapain? Gatha pikir kalian udah lupa, sampai papa lupa kabarin Agatha kalau gak bisa jemput." ucap Agatha lalu segera masuk ke dalam kamar.


"Maafin papa Gatha, waktu itu papa meeting mendadak jadi gak sempet ngabarin." ucap papanya didepan pintu kamar Agatha.


"Jangan buat diri papa jadi banyak dosa, udah cukup Agatha dengar alasan palsu kayak gini." teriak Agatha dari dalam kamar.


"Papa minta maag Gatha, yang harus kamu tahu papa sayang kamu dari dulu sekarang dan selamanya tidak ada yang berubah."


Agatha sedih membayangkan betapa tidak nyaman berada di rumah mewah dengan keluarga yang egois seperti ini.


Hanya Oma yang ia punya untuk berbagi kisah dan pengalaman sedangkan papanya dan Gea terlalu sibuk mengurusi perusahaan sang papa.


sedari dulu Gea dipersiapkan untuk menjadi penerus kepemimpinan di perusahaan keluarga maka dari itu ia belajar dengan keras dan disiplin, ajaran itu juga yang di terima Agatha.


"Gatha juga sayang papa, tapi maaf ini sudah kesekian kalinya papa ingkar janji dan buat Gatha kecewa." Agatha menangis didepan cermin merenung nasib keluarga yang antara ada dan tiada ini sampai ia melihat sebuah foto yang baru saja dicetak disitu terdapat sepasang sejoli dimana tangan sang cowok merangkul si cewek dengan amat romantis mereka saling bertatapan.


"Tuhan, ini kayak mimpi banget." ucap Agatha tersenyum sendiri membayangkan indahnya hari ini.


ia ingin segera meng-upload foto itu ke Instagram jadi ia mencari dimana ponselnya lalu mulai membuka namun ada yang aneh banyak notifikasi yang ada di dalamnya.


From:Eza


"Lo kemana? Tumben ada urusan yang lebih penting dari OSIS?'


From:Eza


"Kita butuh lo buat mutusin Tha, kapan lagi kita bisa rapat?"


Line: Group "OSIS Bima Garuda." Pensi XI IPA 1"


From: Riska


"Kemana aja lo? Main ninggalin kelas, padahal masih banyak yang mau dibahas buat pensi."


From: Febri


"Check group pensi, Tha."


Begitulah kira-kira pesan yang muncul di ponsel Agatha, ia ingin sekali melihat semua pesan itu namun rasanya ia tidak ingin merusak suasana hatinya yang teramat bahagia jadi ia segera menghapus setiap notifikasinya itu dan membuka aplikasi kamera mencari sudut kamar yang pas untuk dijadikan background lalu segera mengambil gambar setelah beberapa kali akhirnya ia mendapatkan hasil yang diinginkan lalu segera ia membuka aplikasi Instagram meng-upload-nya dengan caption.


"Bahagia...tak terlupakan."


Itulah caption yang Agatha pilih setelah berkali-kali mencari caption yang sesuai, ia hanya ingin membagikan kebahagiannya itu saja.


Agatha memilih memejamkan tubuh dengan mandi. Setelah Agatha mandi, ponsel Agatha terus bergetar menandakan banyak sekali notifikasi yang masuk, ia segera mengeceknya.


Bersambung.......