
Agatha kemudian berpikir akibat ucapan Aldo, memang ia dan Aldo sudah resmi? Tapi kapan?
"Enak aja lo bos, nih gue juga bisa sama ayang beb Riska!"Okky langsung merangkul Riska dan mengacak pelan rambutnya namun Riska justru marah.
" Okky ...!! Lo tuh bisa gak sih gak ganggu hidup gue?! Liat nih gara-gara lo model rambut gue gak kayak Korea lagi!" bentak Riska lalu berjalan menuju mejanya sedangkan yang lain hanya bisa menahan tawa.
"Aldo, kapan kita bisa latihan buat drama perpisahan kelas XII?" tanya Agatha saat mereka sedang berjalan menuju parkiran motor.
"Terserah lo bisanya kapan? Gue sih bisa kapan aja." ucap Aldo dengan santai mengandeng Agatha.
"Nanti gue chat Tari supaya selesaiin naskahnya secepatnya deh, supaya gak mepet." Agatha terus berpikir pasalnya ia memiliki tugas yang cukup banyak.
"Lo bakal sibuk dong nanti di OSIS, bakal jadi panitia perpisahan?" tanya Aldo sedih saat sudah sampai di depan motor sportnya.
"Ya gitu deh, kayak biasanya." Agatha tak menyadari ada raut wajah kesedihan diwajah Aldo.
"Kita akan jarang ketemuan deh, gue bakal kangen lo nih."Aldo memelas.
"Lebay deh, kan kita satu kelas, pasti ketemu." ucap Agatha tersenyum.
"Iya deh, kalau gitu sekarang temanin gue makan di tukang bakso dekat taman, gimana?" tanya Aldo penuh harap.
"Siap Romeo nya Juliet." tiba-tiba kalimat spontan itu membuat Aldo membeku dan tersenyum, ini adalah kali pertama Agatha merayu dirinya dengan spontan.
"Cie bulshing!" sekarang Agatha mencubit pipi Aldo, ada kupu-kupu yang berterbangan di perut mereka masing-masing hanya satu harapan mereka yaitu terus bersama di lengkapi rasa cinta yang terus ada.
Angin sore berhembus menerpa wajah dan rambut Agatha, sesampainya di taman ia tersenyum lebar, mengingat dulu ia dibawa Aldo kesini. Jika dulu ia akan berteriak karena Aldo memaksanya untuk pergi bersama ke taman maka sekarang hal ini lah yang teramat dinantikan Agatha, ia berharap akan terus bersama Romeo nya.
"Ngelamunin apa sih neng?" kini mereka telah sampai di depan gerobak bakso berwarna biru muda.
"Ngelamunin Abang tukang bakso." ucap Agatha asal.
"Emang gantengan Abang tukang bakso daripada gue?" Aldo cemberut dan obrolan mereka menjadi pemandangan yang seru dari Abang tukang bakso yang mulai salah tingkah dan semua pembeli bakso.
"Iya! Udah deh, laper gue! Lo kebanyakan drama!" ketus Agatha ketus membuat Aldo semakin cemberut.
"Bang baksonya dua ya, yang satu pake sambal yang satu gak usah terus es teh manisnya dua satu gulanya sedikit aja."pesan Agatha sangat hafal bila Aldo sangat tidak suka pedas juga minum manis.
"Aduh calon istri idaman gini bang, tau banget mau nya saya."Aldo berbicara kepada Abang tukang bakso dan langsung mendapat siulan dari beberapa penikmat bakso di situ.
muka Agatha kembali memerah mendengar perkataan Aldo ini sudah kesekian kalinya Agatha digoda dan mengapa rasa aneh itu tetap menjalar di perutnya seperti ratusan kupu-kupu berterbangan dan kehilangan arah.
"Ini baksonya spesial buat neng sama mas Aldo yang lagi kasmaran." Abang bakso tersenyum.
"Makasih bang." ucap Agatha singkat masih terngiang perkataan Aldo.
"Saya yang harusnya makasih, karena eneng mikirin saya terus, makasih juga dibilang ganteng. Istri di rumah aja belum tentu." kata Abang tukang bakso berusaha melucu.
"Yeh Abang entar saya bilangin bininya loh kalau godain cewek saya terus!" ucap Aldo sinis.
"Eh iya mas maaf ya." Abang bakso tak ingin memperpanjang masalah ini jadi ia segera kembali ketempat nya.
"Do, kok gue gak liat kak Alvin sama Laras sih? Mereka kemana?" tanya Agatha.
"Mereka lagi ke Jogja, sorry ya gue lupa ceritain sama lo."jawab Aldo masih tetap fokus dengan bakso di hadapannya.
"Ngapain?" tanya Agatha bingung.
"Honeymoon." jawab Aldo singkat dan selanjutnya hanya jitakan yang ia dapat dari cewek dihadapannya.
"Kok gue di jitak sih?" tanya Aldo mengelus kepalanya.
"Lagian ngomongnya sembarangan!" Agatha terlihat kesal.
"Mereka tuh lagi cari ramuan gitu buat Laras, supaya kanker nya gak tumbuh lagi." Aldo akhirnya serius.
"Dari kapan mereka pergi?" tanya Agatha bingung bukannya Alvin harus menjalani beberapa try out.
"Tiga hari yang lalu, kenapa sih nanyain mereka? Kangen Alvin?" suasana mulai canggung setelah Aldo bertanya seperti itu.
"Bukannya gitu, ya kan gue kepo aja." ucap Agatha pelan, ia tak ingin hubungannya dengan Aldo yang sudah di bangun dengan baik hancur karena ia memikirkan Alvin.
"Yaudah cepat habisin baksonya, abis itu kita jalan ke dalam taman." Aldo mengelus puncak kepala Agatha, ia tahu Agatha takut dirinya salah paham kalau gadisnya itu masih memikirkan Alvin. Ia tahu sekarang hati Agatha hanya untuknya dan ia berharap tak ada satupun yang dapat memisahkan selain kehendak Tuhan.
Malam ini di taman tak banyak pengunjung yang datang mungkin karena ini bukan hari libur, beberapa orang disana hanyalah anak muda yang sedang menikmati indahnya romansa cinta dan beberapa penjual makanan ringan.
Suasana ini membuat Agatha terdiam menikmati keindahan taman ditemani seseorang yang telah mengisi hari-harinya selama ini, sosok yang membuat dirinya terlibat banyak konflik sampai ia tersadar jika takdir tak sejahat yang ia pikirkan.
"Masih ngelamunin Abang bakso ya?" tanya Aldo saat melihat tatapan Agatha kosong.
"Apa sih, bercandaan lo receh tau!" ucap Agatha kesal.
"Habisnya diem aja, gue ngajak cewek jalan atau patung sih?"tanya Aldo.
"Yaudah lo mau gue ngomong apa?" tanya Agatha bingung mengapa Aldo menjadi manja.
"Aku cinta kamu atau aku sayang kamu oh atau mau gak lo jadi cowok gue?" spontan Agatha melotot dan mencubit pinggang Aldo.
"Aw... sakit, lo tuh ya gue laporin dengan tuduhan kdrt!" Aldo kesakitan.
"Habisnya lo, masa gue ngomong kaya gitu?" tanya Agatha kesal membuat pipinya memerah, tidak mungkin ia menyatakan perasaannya pada Aldo duluan.
"Tau ah bete!" ucap Agatha ketus membuat Aldo bingung mengapa Agatha langsung bete, biasanya ia akan berdebat dan mengupayakan banding.
"Gue beli minuman dulu deh." Aldo terpikirkan cara untuk membuat suasana kembali romantis, ia tak ingin merusak kencan pertamanya. Seorang perempuan yang masih mengenakan seragam sekolah duduk di kursi taman sambil melihat indahnya.
Taman ini pada malam hari banyak lampu dan origami yang tergantung di pepohonan, ia berterimakasih kepada si pembuat konsep taman ini dan yang paling ia sukai adalah banyak bunga yang tumbuh membuat kesan romantis bertambah.
Beberapa pasang mata menatap Agatha dengan aneh saat melihat Agatha masih mengenakan seragam, awalnya Agatha malu kemudian ia hanya bisa tersenyum siapa laki-laki yang membuatnya seperti ini, membuat ia lupa akan semua aturan.
Menembus benteng berlapis yang ia buat agar tetap pada jalurnya yaitu memiliki aturan dalam hidup, siapa sangka sekarang ia menaruh hatinya pada bad boy sekolah yang sama sekali tidak memiliki aturan dalam hidup, ia bingung mengapa takdir selucu itu dengan membuat Aldo datang dan menghiasi dunianya yang penuh ke abu-abuan.
"Agatha!" panggil Aldo dan menyerahkan beberapa tangkai bunga anggrek putih dihadapan Agatha, ia segera tersentak sedari tadi pikirannya melayang membayangkan bagaimana kisah romansa dirinya dengan Aldo yang diawali dengan permusuhan.
"Buat gue?" tanya Agatha bingung karena tadi Aldo izin untuk membeli minum.
"Iya dong!" Aldo menyengir.
"Dapet dari mana?" tanya Agatha curiga.
"Tuh!" ia menunjuk tanaman dibawah pohon besar 'DILARANG MEMETIK BUNGA DI TAMAN INI'
Di atas tanaman tersebut terpampang papan tulisan dengan jelas sejurus kemudian Agatha menatap Aldo tajam dan yang ditatap malah menyengir.
"Aldo, lo gak liat ada larangannya?" tanya Agatha geram.
"Kata orang cinta kan buta, nah mungkin gue alami sekarang?" tanya Aldo masih terkekeh.
"Kalian! Memetik bunga dari sini ya?!" Seorang satpam penjaga taman melihat bunga yang sudah digenggam Agatha, satpam itu pun mendekat. Agatha baru saja akan berdiri dan minta maaf serta menjelaskan alasannya tapi.
"Ayo Tha kabur...!!" pekik Aldo segera menarik tangan Agatha dan berlari, yang di tarik hanya mengikuti dengan pikiran melayang bagaimana mungkin ia mengikuti jejak Aldo yang kabur dari masalah sudahlah yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana kabur dari satpam itu sudah kepalang tanggung.
Aldo masih mencari arah kesana dan kemari.
"Belum pernah kan kayak gini sebelumnya? Senyum dong Tha!" mereka masih terus berlari.
Aldo sadar Agatha kesal dengannya namun Aldo ingin Agatha menjadi cewek yang lebih rileks dan mengenal sedikit saja dunianya yang tidak memiliki aturan itu.
"Lo gila deh, gue capek tau!" dengan nafas tersengal Agatha terlihat kesal.
"Hei kalian! Jangan kabur!" bentak satpam bertubuh gembul itu, sepertinya ia sudah kehabisan nafas sekarang mengejar dua muda yang tenaganya jauh lebih tinggi.
"Kalau mau marah nanti aja ya Tha!" Aldo tiba-tiba saja membopong tubuh Agatha ala pengantin yang baru saja mengucapkan janji suci tentu itu membuat Agatha kaget setengah mati dan karena gerakan spontan itu,
Ia hanya bisa mengalungkan tangannya pada leher Aldo kuat-kuat selanjutnya Aldo berlari sekencang mungkin sambil sesekali berputar menciptakan tawa, ia merasa sangat bahagia karena gadisnya pun ikut tertawa lepas.
Baru pertama kali ia melihat Agatha sedang melanggar aturan tapi tertawa lepas, membuatnya jadi ikut tersenyum senang rasanya ia tidak ingin hari ini berakhir mungkin rasa lelah pun tidak dirasa benar kata orang cinta itu buta dan mungkin
Membuat badannya pun menjadi tidak normal mengangkat Agatha yang tubuhnya memang tidak terlalu berat namun sambil berlari tidak juga membuat ia merasa lelah justru Aldo semakin berlari kencang dan suara tawa Agatha menjadi pacuan semangat Aldo tidak memperdulikan orang-orang di sekitar mereka yang sudah menganggap mereka g1la.
"Do.. udah turunin gue!" ucap Agatha merajuk dan akhirnya Aldo pun menurunkan Agatha perlahan.
"Gila kita udah lari sejauh apa nih? Gue gak kenal daerah sini?" ucap Agatha melihat sekeliling.
"Tenang lo kan lagi bareng bocah petualang, gue tau kok kemana jalan pulang." balas Aldo sambil tersenyum sombong.
"Lama-lama gue gak bener nih deket sama lo, seorang Agatha kabur dari kesalahan?" tanya Agatha seolah-olah tidak mengenal dirinya lagi.
"Tapi gue liat lo senang-senang aja tuh pas gue gendong, malah ketagihan kayaknya," ucap Aldo membuat pipi Agatha menjadi merah muda.
"Geli Do, jijik gue, amit-amit. Gue kasih tau ya hidup tuh butuh aturan kalau lo nyaman dengan hidup lo yang sekarang gak punya aturan gimana sama masa depan lo nanti?" tanya Agatha menepuk pundak Aldo, tangan Agatha langsung saja digenggam oleh Aldo.
"Aturan ada buat di langgar kan?" ia tersenyum manis, membuat Agatha bergeming ditempatnya tak sanggup beralih dari ciptaan Tuhan yang terindah.
"Lo udah janji kan sama gue buat hadapi masa depan bersama? Dan gue yakin lo akan jadi masa depan gue," ucap Aldo mantap menatap mata Agatha dalam beberapa detik mereka menikmati indahnya malam ini ditemani lampu penerangan jalan dan hembusan angin malam yang menerpa wajah.
"Masa sih? Yakin banget?" tanya Agatha menggoda sambil terkekeh dan langsung membuat Aldo cemberut.
"Lo tuh ngerusak suasana romantis aja." Aldo kesal dengan sikap Agatha dan menurunkan kedua tangan Agatha yang tadi di pegangnya dan membalikkan badan bersiap untuk berjalan tapi.
" harusnya lo jawab pertanyaan gue dengan yakin, bukan nyerah."
Agatha memegang lengan Aldo dan tangan lainnya menggenggam tangan Aldo seketika ada energi yang asing menjalar di seluruh tubuh Aldo, sekarang ia menatap gadisnya dengan tatapan yang sulit di mengerti.
"Gue sayang lo, Tha." ucap Aldo singkat kemudian mengecup puncak kepala Agatha penuh kasih sayang.
Malam itu sepasang muda mudi menikmati waktu indah mereka berdua dalam tawa, menguraikan bagaimana sesungguhnya isi hati, menceritakan alasan cinta itu tumbuh dan membuat tembok peperangan di antara mereka yang dulu telah berdiri tegak sekarang hancur berkeping-keping karena kekuatan cinta.
"Motor lo gimana dong?" tanya Agatha saat menyadari motor Aldo masih ada di taman.
"Kita kayaknya harus balik lagi deh." Aldo terkekeh, menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena tidak enak.
Agatha tersenyum, kemudian merangkul Aldo yang lebih tinggi darinya.
"Yaudah yuk!" Agatha tidak mengeluh sama sekali karena baginya ini adalah momen terbaik, jadi ia tak ingin merusaknya.
"Do, lo nganternya sampe sini aja ya." ucap Agatha saat melihat bahwa tiga rumah lagi rumahnya sudah nampak, ia tidak ingin menambah masalah dengan kak Gea saat ini hatinya bahagia melihat suasana rumah kembali seperti sedia kala.
"Kenapa? Kak Gea?" tanya Aldo bingung dan mendapat anggukan kepala Agatha.
Bersambung........