Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin

Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin
#07 Calon Pacar



Tolong sadarkan Agatha bila ia dalam mimpi karena sekarang ia seperti orang gila yang tersenyum sepanjang jalan dan mengucap syukur tanpa henti dan harapannya agar jalanan yang ia lewati tak berujung tapi rasanya itu mustahil jadi harapannya hanya agar jalanan macet dan ia bisa lebih lama bersama pangeran dihadapannya ini dengan menatap punggungnya saja bisa membuat efek bahagia bagaimana wajahnya pasti Agatha bisa stroke mendadak.


"Sorry, tadi nomor rumah kamu berapa ya?" tanya Alvin saat sudah sedang menyusuri komplek yang mewah.


" Nomor 17." ucap Agatha lagi dan tidak ada jawaban apa-apa setelah itu.


"Makasih ya kak, maaf ngerepotin." ucap Agatha saat ia sudah sampai didepan rumah, ia terlihat sulit turun dari motor, jadi Alvin segera membantunya dengan menggendongnya.


"Iya sama-sama anggap aja itu sebagai balasan karna kamu sudah nemuin dompet saya." ucap Alvin masih dengan ekspresi datar.


Tapi lain dengan Agatha yang tak pernah menghentikan senyumannya, ia digendong oleh Alvin? Sejarah baru telah dicetaknya hari ini.


"Hati-hati ya kak." Agatha melambai-lambaikan tangannya melihat kepergian Alvin, kemudian dia menepuk kedua pipinya memastikan bahwa ini bukan mimpi dan kalau ini mimpi ia tidak ingin terbangun saat ini.


Agatha segera berlari masuk ke rumah." siapa dek?" tanya Gea melihat Agatha pulang diantar seorang cowok, dia selalu saja ingin tahu.


"Calon pacar!" ucap Agatha dengan cepat lalu masuk kedalam rumah.


"Pacar? Kamu masih sekolah kok Uda kenal kata pacaran?"ucap kak Gea menggelengkan kepala.


"Aku gak mau kayak kakak, udah tua tapi gak nikah-nikah."Agatha terlihat bete saat ini.


"Kamu kira nemuin orang yang pas dan di ajak hidup bersama itu gampang?" tanya kak Gea mengikuti langkah Agatha.


"Nah ini Gatha lagi cari orang yang pas itu." ucap Agatha mengambil minum dan bersiap menuju kamarnya.


"Semua ada batasannya dek." ucap Gea berhenti di tangga, dan perkataan terakhirnya tampak tidak digubris sama sekali.


"Bertengkar lagi?" tanya seorang nenek muncul dari belakang Gea.


"Engga Oma, Gea cuman Agatha kenapa-kenapa."


"Oma tau seorang kakak akan selalu melindungi adiknya apapun yang terjadi tapi, sadarkan kamu bahwa sekarang Agatha sudah besar dia bukan lagi anak umur 5 tahun yang dapat kamu ikuti kemanapun ia pergi." Ucap Oma Riana sambil mengelus kepala cucunya itu.


"Aku tahu, apapun yang terjadi dia akan selalu menjadi Agatha kecil yang membutuhkan Gea disampingnya." ucap Gea tersenyum dan memeluk Omanya.


Sementara Agatha di dalam kamarnya tersenyum bahagia." hari ini semua kes*lan di hidup gue dapat digantikan oleh sebuah kebahagiaan, terimakasih tuhan." Agatha berbaring di ranjangnya.


Dia sekarang tersenyum menatap langit-langit kamarnya sungguh dia layaknya seorang Putri yang sedang jatuh cinta pada pangeran memang seperti itu adanya.


Tapi tiba-tiba seorang penjahat datang ya itu Aldo si bad boy pembawa kes*alan di hidup Agatha.


"Astaga, gue mesti buat bahan presentasi." ia menepuk jidatnya tiba-tiba Agatha teringat kalau dia harus mengerjakan tugasnya dia langsung membuka laptop tapi HP-nya berdering.


"Halo, Tha presentasinya uda gue kirim ke email lo ya coba cek deh." ucap seseorang di ujung sambungan telepon.


"Hah?! Kapan gue suruh lo buat?" tanya Agatha bingung, lalu ia segera duduk.


"Tadi sore lo SMS gue, katanya lo sakit makanya gak bisa buat." Putri berterus-terang seriusan? Pasti ada yang bajak HP gue, oh iya makasih Put. Gue emang lagi mumet." ucap Agatha tersenyum ternyata ada satu kebahagiaan lagi dihari ini.


"Oke Tha, gak masalah." Putri menutup sambungan teleponnya.


"Gue yakin pasti si Aldo sengaja buat gue luka-luka gini biar dia bisa kabur dari hukuman, s*al banget si gue sekelas sama tuh orang." Agatha mengusap wajahnya kasar ketika mengingat banyak kes1alan pada hari ini.


"Tapi, tuhan baik banget ya dibalik semua kes1alan yang di buat sama bad boy g1la itu gue masih bisa bahagia bareng kak Alvin aduh kapan lagi sih kak Alvin yang super duper cool setau gue dia kan gak pernah bonceng cewek berarti gue cewek pertama dong?" Agatha tersenyum sendiri mengingatnya.


"Tapi anehnya lagi hari semua serba kebetulan ya? Masalah OSIS? Masalah kak Alvin? Bodoh deh yang penting hari ini dibonceng kakak senior ganteng." Agatha tersenyum dan tertidur setelah memikirkan Alvin.


Alvin telah memarkirkan motornya setelah selesai mengantar juniornya, ia langsung memasuki rumah megah bernuansa hitam putih. Rumah ini bagai tak bernyawa, bagai tidak ada yang tinggal di dalamnya, rumah yang dk berikan oleh sang papa untuk Alvin dan Aldo agar mereka nyaman namun tidak pada kenyataannya setiap kali kedua anak laki-laki itu pulang hanya ada suasana sepi nan hening hanya ada 3 pekerja rumah tangga untuk menjaga rumah tetap bersih dan rapi.


"Bik, Aldo belum pulang?" pertanyaan itu selalu Alvin tanyakan ketika melihat motor sport adik satu-satunya itu tidak ada di halaman. Belum den." ucap Bik Aisyah bersedih hampir tiap pertanyaan itu keluar dari putra sulung dari Tuan Dirgantara dan Ny. Farah.


Dulu keluarga ini adalah keluarga idaman dimana semuanya terasa lengkap sampai terdengar kabar bahwa Tuan Dirgantara selingkuh dan memilih menceraikan Ny. Farah kejadian itu membuat luka menganga di hat Alvin maupun Aldo.


Ketika dulu keduanya memang saling berjuang untuk menjadi juara sekarang tinggal Alvin lah yang memperjuangkan itu sedangkan Aldo terpuruk hebat dan merubah dirinya menjadi bocah laki-laki nakal dengan segudang tindakan yang tak patut dicontoh.


Alvi sadar ia belum bisa jadi kakak yang baik terlalu tinggi dan tebal tembok yang Aldo bangun sehingga Alvi sulit menembusnya, dilubuk hati yang paling dalam ia merindukan masa-masa bercanda bersama dan saling bertengkar hanya demi sebuah mainan.


"Makasih bik, saya ke kamar dulu," ucap Alvin lalu naik menuju kamarnya di lantai dua.


Jujur ia teramat merindukan adiknya itu. Ia berusaha selalu menjaga adiknya walaupun seringkali itu diabaikan oleh Aldo seperti tadi.


Aldo terlihat berjalan dengan santai dengan rokok yang ia selipkan di mulut, Alvin tahu bahwa Aldo ingin kabur dari ulangan susulan, Zaki yang memberikan informasi itu segera Alvin membuat kedua ban motor Aldo kempes.


"****! Siapa yang berani-beraninya ngempesin ban motor gue?!" teriak Aldo kesal memandang ke sekeliling lapangan.


"Pasti si ketos keras kepala itu!"Pekiknya lagi sambil menendang bang motornya kemudian masuk kembali ke sekolah sedangkan Alvin tersenyum di balik pilar, hanya itu yang ia dapat perbuat demi saudara satu-satunya yang ia punya.


Bersambung.......