Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin

Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin
#29 Cemburu



Gemuruh tepuk tangan bergema di ruang teater SMA Bima Garuda karena pertunjukan drama musikal Romeo and Juliet. Aldo dan Agatha sukses memerankannya dan itu memukau ratusan pasang mata. Setiap orang yang terlibat dalam drama pun naik ke atas panggung dan membungkuk memberikan hormat, tepuk tangan semakin bergemuruh.


"Gila tadi lo berdua keren banget, mana gue sampe nangis."ucap Tari yang juga merasakan romansa cerita cinta Romeo dan Juliet ala Agatha dan Aldo sekaligus ia lah yang menulis ceritanya, beberapa orang tua memang diperbolehkan hadir terutama jika memiliki undangan khusus seperti mama Tari.


"Kan lo yang buat naskahnya." ucap Agatha juga tersenyum bangga.


"Cewek lebay deh." ketus Aldo lalu pergi entah kemana membuat Agatha mencibir sikap cowok itu.


dalam hati Aldo ia senang bisa sedekat itu dengan Agatha walaupun hanya di atas panggung, ia pun larut dalam kisah cinta Romeo dan Juliet, ia berdoa kisah cintanya tidak tragis seperti itu.


"Kejar dong Romeonya!" celetuk Eza.


"Kampret lo, lo aja belum dapetin Febri sok-sokan nyuruh gue!"Agatha kesal dengan sikap Eza.


"Kata siapa gue gak bisa dapetin Febri?" ia langsung merangkul Febri yang mencopot gaun bagian properti.


"Please kasih gue penjelasan!" ucap Agatha kesal.


"Yeelah cinta tuh gak butuh penjelasan." ucap Eza masih dengan posisi yang sama.


"Za, gue lagi ribet jangan bikin tambah ribet deh!" gerutu Febri yang di batasi ruang geraknya oleh Eza.


"Eh iya sayang maaf." Eza segera melepaskan rangkulannya.


"Lo sih sama kak Alvin mulu, mereka udah jadian dari tiga hari yang lalu." ucap Riska.


"Dan gue orang yang sekian yang tahu ini?" Agatha cemberut.


"Makanya jangan pacaran mulu!" ucap Eza menjewer telinga Agatha.


"Rese lo, baru jadian aja sombong!" ucap Agatha kesal.


"Tuh pangeran udah jemput, "Riska mengarahkan matanya ke arah belakang Agatha dan dengan segera Agatha membalik badan lalu ia langsung bertemu dengan Alvin yang masih memakai kursi roda.


"Kak, ngapain datang?" tanya Agatha bingung.


"Memangnya ada larangan buat saya? Kan saya masih siswa disini." Kekeh Alvin melihat wajah Agatha yang khawatir.


"Bukan gitu, kan kakak masih sakit." ucap Agatha lagi.


"Kalau sakit jangan dirasakan nanti makin sakit." Alvin tersenyum membuat mengembang di wajah Agatha.


"Penampilan kamu bagus, cocok kalau jadi artis." Alvin dan Agatha sedang duduk tidak jauh dari bazzar.


sekarang acara akan ditutup oleh suara merdu Mila yang diiringi oleh band sekolah.


"jangan di puji berlebihan kak, di sana ada yang lebih hebat. Aku gak nyangka kalau Mila yang pendiam punya suara emas." Agatha terkagum dengan suara Mila yang sedang menyanyikan lagu 'Thinking Out Loud'


"Makasih ya kak untuk aransemen lagunya, bagus banget."Agatha menatap Alvin berseri dan dibalas anggukan dari Alvin masih tidak bisa melepaskan matanya dari Mila


"Saya udah liat bakat dia dari dulu jadi gak kaget, memang dia punya potensi buat jadi penyanyi." ucap Alvin menatap Mila yang juga menatap dirinya. Agatha sadar akan hal itu sepertinya tatap Mila sangat berbeda.


"Kak saya ngecek anak OSIS yang lain ya." Agatha pamit karena hatinya entah mengapa terbakar cemburu.


ia tahu ini seperti anak kecil orang lain akan menganggapnya terlalu berlebihan pasalnya Alvin belum resmi menjadi kekasihnya.


"Yaudah, jangan lama-lama ya." Alvin tersenyum seperti ada sebuah penantian didalamnya.


"Udah ditungguin tuh sama Romeo." Riska menimpali sedangkan Aldo hanya terdiam sambil serius merokok.


"Gue mau makasih, karena kalian semua sudah melakukan yang terbaik untuk penampilan kali ini. Gue harap rasa persaudaraan kita akan terus berlanjut sampai kapanpun."Agatha membuat suasana mengharukan.


Setelah perbincangan dengan anak-anak kelas Agatha ingin kembali ke tempat Alvin tapi ada sebuah tangan yang mencekalnya.


"Tha.."ucap sebuah suara.


"Ngapain sih? Lepasin gak?" ucap Agatha dengan intonasi tinggi hanya dengan melihat wajahnya saja bisa membuat darah Agatha mendidih.


"Gue suka bingung, lo itu kan siswi terpintar ya tapi nyatanya lo gak pintar!" ucap suara itu lagi mengejek.


"Maksud lo ?!" Agatha kembali menaikkan intonasinya.


"Lo bahkan gak tahu orang yang selama ini lo bela adalah musuh dalam selimut!" sindir Steffy semakin berusaha mempengaruhi Agatha.


"Lo makin gak jelas, mending lo pulang!" Agatha berjalan meninggalkan Steffi.


"Mila suka sama Alvin, surat yang waktu itu gue sobek ya buat Alvin. Lo harus peka akan kebodohan lo!" setelah Steffi berbicara seperti itu ia pun pergi meninggalkan Agatha.


ia yakin Agatha akan terpengaruh dengan apa yang dia katakan.Saat menemui Alvin, Agatha masih memikirkan perkataan Steffi.


" Tha, saya pulang dulu ya. Pak Hilman sudah jemput." ucap Alvin saat melihat mobil jemputannya sudah datang.


"Iya kak hati-hati maaf gak bisa nemanin." Agatha tersenyum manis membuat siapa saja yang melihat akan jatuh hati.


"Gapapa, jangan khawatir. Saya bangga hari ini kerja keras kamu sukses, selamat ya!" Alvin menjabat tangan Agatha sedangkan Agatha kikuk.


"Makasih kak." Agatha melambaikan tangan ketika mobil itu berjalan pergi.


'Karena semenjak kamu hadir dan membuatku nyaman, aku tak pernah tertarik dengan siapapun selain kamu'


Agatha menatap jalanan malam yang kosong, dulu ini adalah mimpinya, dulu ia selalu berdoa dan hal ini adalah perbincangan dengan Tuhan, dulu ini adalah harapan terbesarnya dan sekarang lebih dekat dengan Alvin.


Agatha sudah sampai di sekolah pagi ini dengan wajah yang amat sumringah, ia mendapat banyak pujian karena keberhasilannya di acara ulang tahun sekolah kemarin banyak yang terkesan dengan semua acaranya.


"Tha sore ke mall yuk beli baju!" ajak Riska.


"Minggu kemarin emang kalian gak jadi?" tanya Agatha saat sudah sampai di kelas.


"Kalau formasi kita gak lengkap gue males." ucap Febri yang di setujui oleh Riska.


"Sweet banget sih kalian, tapi gue mesti minta maaf karena hari ini gue masih harus jagain kak Alvin." Agatha terus membaca deretan rumus matematika.


"Kak Alvin lagi? Please deh dia tuh udah gede gak perlu lo jagain." Riska menahan kesal karena setiap kali ia ingin berkumpul bersama kedua sahabatnya Agatha selalu menolak dengan alasan ia ingin menjaga Alvin.


"Inget loh Tha, kak Alvin memang impian lo tapi, dia bukan segalanya." ucap Febri sedang memakan permen karetnya.


"Iya gue juga ngerti, tapi untuk sekarang gue minta pengertian kalian kalau Eza sakit gue rasa lo akan ngelakuin hal yang sama kan?" Agatha menatap Febri.


"Kok lo malah bahas Eza, out of the topic." ucap Febri kesal lalu meninggalkan kelas.


"Gue kecewa sama lo Tha." Riska pun menyusul Febri, Agatha bingung apa perkataannya salah namun ini memang sebuah kenyataan.


Bersambung.......