
Melihat kak Alvin yang memang sangat lihai dalam hal musik sedang memainkan gitar.
"Kalau konfirmasi ke kak kak Alvin dulu buat siap-siap demo ekskul gimana ya?" tanya Agatha bimbang karena ia sebenarnya cukup takut memulai percakapan dengan si pangeran es itu.
"Coba aja deh, lagian ini kan buat kepentingan sekolah juga."Agatha dengan memantapkan hati melangkahkan kaki menuju ke arah Alvin.
"Kak Alvin." sapa Agatha sopan, kak Alvin yang tadinya menutup mata dan sedang menikmati petikan gitarnya perlahan membuka mata dan melihat ke arah Agatha.
"Iya?" tanyanya singkat.
"Saya cuma mau mengingatkan kalau kakak sekarang boleh siap-siap untuk demo ekskul bareng sama anak-anak ekskul musik lainnya." ucap Agatha dengan manis.
"Oh iya, yauda kalau gitu saya panggil anak-anak yang lain dulu." ucapnya lagi dengan tetap dingin.
"Baik kak, saya permisi." Agatha membalikkan badan dengan senyum mengembang, tidak ada yang spesial dari pembicaraannya tadi dengan kak Alvin namun dengan melihat wajahnya saya membuat hati Agatha bergetar.
"Agatha." panggil suara dingin itu lagi membuat langkah Agatha terhenti.
rasanya ketika namanya di panggil oleh siapapun tidak akan terasa seperti ini namun mengapa saat sang pangeran es nya itu memanggil namanya membuat sebuah keheningan hebat seperti dunia Agatha berhenti saat itu juga namun ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk menolehkan wajahnya.
"Makasih ya sudah kasih kesempatan ekskul musik untuk menunjukkan kebolehan." ucap Alvin dingin
namun kembali membuat desiran darah Agatha kembali dengan debit sangat cepat dan karena kata-kata itu pula Agatha tidak sanggup berkata apa-apa dan hanya mampu mengangguk dan tersenyum lalu berjalan dengan kaki yang melemah.
Tepat pukul 14.00 bel sekolah berbunyi tanda bahwa seluruh kegiatan sekolah telah selesai pada hari ini begitu juga dengan MOS yang telah ditutup oleh ucapan terimakasih Agatha atas kerjasama demi terselenggaranya acara itu serta ucapan selamat datang kepada siswa dan siswi baru yang esok telah resmi menjadi murid SMA Bima Garuda dan sudah boleh mengenakan seragam.
"Makasih sekali lagi kepada semua panitia untuk MOS tahun ini, gue harap laporan evaluasi dapat segera di kirim ke email gue." ucap Agatha memimpin.
"Permisi." ucap sebuah suara menginterupsi.
"Iya Mila, masuk aja." ucap Agatha.
"Maaf telat, oh iya Agatha ini punya kamu kan?" tanya Mila memberikan cardigan coklat.
"Astaga iya bener, untung aja kamu ambilin. Makasih ya." ucap Agatha.
"Eh...iya. .. sama-sama." dengan sedikit gugup Mila tersenyum dan duduk di dalam ruangan rapat.
"Tha gue ke toilet bentar ya." ucap Dio
"Bu Ketos kita harus segera bikin program nih buat setahun kedepan selama masa ke depan selama masa kepemimpinan kita." ucap Eza saat rapat evaluasi selesai.
"Gue sih rencana bikin pensi dan bazar saat ulang tahun sekolah." Ucap Agatha saat obrolan santai di ruang rapat.
"Gue usul kita jalan keluar dong, kan udah lama banget sekolah ini cuman bikin acara disini-sini doang." ucap Gilang mengusulkan.
"Gue setuju tuh, gimana kalau ke Ancol? Bagus tuh gue rasa."Dio menyetujui, setelah kembali dari toilet.
"Tha, kayaknya dari tadi udah di jemput deh?" tanya Dio membuat kening Agatha mengkerut.
"Dijemput? Ngaco deh lo, sama siapa?" Agatha terkekeh.
"Sama Aldo, tadi pas gue ke toilet, dia nungguin di depan pintu sambil ngerokok." Ucap Dio tanpa berjeda dan langsung membuat Agatha terdiam serta seisi ruangan bingung.
"Jadi gosip itu beneran ya Tha?" tanya Putri pertama kali mengeluarkan suara.
"Curhat-curhat dong Tha." ucap Gilang menggoda, pertanyaan-pertanyaan itu membuat kepala Agatha pusing.
"Udah jangan bahas hal-hal diluar kepentingan sekolah."akhirnya Agatha dengan tegas berkata seperti itu.
"Kita kan cuma nanya." Putri dan yang lainnya tahu bahwa gosip-gosip belakangan ini bahwa dua musuh bebuyutan itu memiliki kedekatan khusus.
"Semua itu berawal dari teman-temannya Aldo yang ngomong Tha, mereka bilang Aldo nolongin lo gitu adegannya romantis."ucap Tia lagi dengan gaya centilnya.
"Itu kan kata orang, lo percaya aja sama gosip receh kayak gitu." Agatha masih malas mendengar ocehan teman-temannya.
"Si Juki anak kelas 11 IPS 2 liat lo sama Aldo di toko buku katanya pulang pergi lo di anter Aldo, aduh gimana ya rasanya dibonceng bad boy?" tanya Irga mengejek membuat satu ruangan tertawa.
Agatha langsung saja merasa dunianya lagi-lagi terhenti mengapa belakangan ini dunianya seperti berhenti berputar seketika saat berhubungan dengan kakak adik itu.
"Kalau gak ada lagi yang mau di bahas gue balik duluan ya."Agatha segera membereskan beberapa tumpukan file dan memasukkannya ke dalam tas.
wajahnya yang teramat dingin membuat satu ruangan hening dan selanjutnya hanya decitan pintu yang terdengar.
"Ah iya gue kan mau ngambil berkas-berkas untuk lomba musik." ucap Agatha saat ia telah sampai di parkiran, dengan langkah gontai ia menuju ruang musik.
Kalau saja berkas itu tidak diminta Bu Alda, ia akan mengambilnya kapan-kapan dan berhubung kunci ruangan musik ada padanya.
"Loh kok gak kekunci ya?" tanya Agatha saat dengan gampang membuka pintu, tiba-tiba suasana menjadi dingin seluruh bulu kuduknya merinding dengan seluruh keberanian yang ia miliki.
"Agatha." sebuah suara dingin menelusup masuk ke pendengaran gadis itu membuatnya terlonjak kaget dan mundur sampai ke pintu dan kemudian ia merasakan badannya menabrak seseorang, mereka jatuh bersama di atas lantai.
"Sadar dong lo tuh berat." ucap suara dingin itu membuat Agatha segera bangun dan berbalik badan untuk melihat siapa yang mengatai badannya berat.
"Elo?!" sentak Agatha kesal melihat Aldo yang sedang berusaha bangun.
"Iya gue, kenapa? Kangen?" tanya Aldo menantang.
"Iya kangen, kangen pengen nonjok!" ucap Agatha mengepalkan tangan di depan wajah Aldo.
Bersambung........