
"Sekarang nih? Ah males gue dia tuh sok jutek." Agatha mulai patah semangat dalam menjalankan misi mendapatkan Alvin tapi, saat ia melihat ke tangga ada sosok penyemangat hidupnya yang seperti menaikan moodnya 100% ya itu kak Alvin yang sedang membaca buku pelajaran ia menuju ke lantai tiga mengapa semakin hari wajahnya sangat tampan, mata Agatha berbinar seperti menemukan titik terang.
"Gue ke lapangan sekarang ya." Agatha memantapkan hatinya dan semangat melangkah turun ke bawah.
"Dia kesambet?" tanya Febri dan di balas Riska dengan mengangkat kedua bahu.
Agatha sudah membawa handuk berwarna pink juga sebotol air mineral dingin serta keberanian yang sedang ia kumpulkan di tiap langkah, ia memantapkan langkahnya untuk kembali mencoba mendekati ketakutannya sendiri.
"Sorry ya gara-gara gue lo jadi gini dan gu-.." Agatha sedang mencoba tidak menatap mata Aldo agar keberanian yang sudah ia kumpulkan itu tidak terbuang sia-sia.
"Lo bawel banget sih, pergi deh!" Aldo berbicara di bawah teriknya sinar matahari.
"Gak, gue gak akan pergi sebelum lo maafin gue dan terima ini." Agatha memberikan semua yang ia bawa.
"Pertama ya gue gak ngerasa lo ngelakuin hal salah dan yang kedua gue punya duit bisa beli semua itu sendiri oke? Urusan kita selesai, lo boleh pergi." Aldo membalikan tubuh Agatha tapi memang dasarnya Agatha keras kepala jadilah ia membalik tubuhnya menghadap Aldo membuat pria di depannya mendengus panjang dan memijat dahi.
"Gue masih banyak kerjaan, jangan buat gue tambah ribet dengan kehadiran lo." Aldo kesal.
"Gue cuma mau minta maaf dan kasih ini aja." Agatha memelas.
"Pertama gue cowok maco gue gak suka tuh warna pink dan yang kedua lo mau gue sakit ya lagi panas-panas gini gue di kasih minuman dingin?" Aldo sangat ketus dan lawan bicaranya hanya menunduk, hanya dia yang membuat Agatha tak berani menatap seseorang dengan rasa percaya diri.
"Yauda kalau gitu gue bantuin lo aja deh, ngerjain ini semua." ucap Agatha menaruh semuanya bawaanya dipinggir lapangan, Aldo kaget di tengah teriknya matahari seorang Agatha mau membantunya baik kalau begitu mari kita lihat.
"Boleh juga ide lo, gue tunggu di pinggir ya dan inget lo cuma ada waktu 7 menit sebelum bel masuk." Aldo menyeringai jahil, ia sangat tau celah untuk mengerjai Agatha dan sekarang tepat pada sasaran.
Muka Agatha sudah memerah menandakan kekesalan teramat," kan dia yang di hukum kok gue yang ngerjain? Astaga gue uda gak kuat deh pake rencana ini mending gue deketin kak Alvin langsung." Agatha dengan gerakan cepat sambil memberikan suara kekesalan hatinya yang teramat pada Aldo.
Aldo sedang memperhatikan
Agatha yang terlihat bercucuran keringat di bawah matahari dengan muka cemberut dan gerutu kecil yang keluar dari bibir mungilnya, Aldo suka pemandangan ini sinar matahari terik, lapangan sekolah yang menyalurkan hobi, cewek yang dari dulu hingga sekarang selalu membuat senyumannya mengembang, ditambah sekarang cewek itu sedang berkorban untuk membantunya.
"Hai cowok sendirian aja nih?" Okky mencolek dagu Aldo dan diikuti tawa Rangga.
"Idih j*j*k gue ky, masih normal gue." ucap Aldo ngeri menatap sahabatnya ini.
"Lagian lo malah enak-enakan makan bakso, bukannya lo dihukum Pak Satya ya?" tanya Okky sambil mengambil mangkok bakso Aldo.
"Tuh ada yang mau sok-sok an gantiin gue." Aldo mengarahkan matanya ke tengah lapangan.
"Wow si cewek judes perfeksionis itu? Gila mamen ada angin apa nih si bad boy kita bisa dekat sama musuh bebuyutan?"tanya Rangga, Aldo sedang berkonsentrasi meminum air mineral Rangga.
"Dia yang minta, gue mah kalau ada rezeki masa ditolak?" ucap Aldo pada akhinya.
"Gue denger tadi ada adegan h*t lu sama Agatha di kelas, wah ngapain lo? Aldo ya uda gede." Okky menepuk bahu sahabatnya.
"Gak sengaja, gini-gini gue masih waras gak mau ngerusak anak orang apalagi yang modelnya polos begitu." Aldo menunjuk Agatha yang sedang berjalan mendekatinya.
"Satu menit lagi bel, lo tinggal
Selesaiin sisanya." Agatha sudah mandi keringat seragamnya bahkan basah kuyup seperti orang yang di guyur air.
Keringatnya masih deras membanjiri wajahnya, kulit putihnya sekarang memerah, rambutnya sudah lepek tak karuan, ia langsung berjalan cepat karena bel sudah berbunyi.
"Kita juga naik deh, duluan bro." ucap Rangga menepuk bahu Aldo.
"Ky, gue minta tolong lo kasih jaket gue ke Agatha sama beliin dia tissue." Aldo melihat seragam Agatha tembus pandang walaupun ia memakai kaos dalam tapi tetap saja tak enak di pandang oleh Aldo.
"Pake duit lo dulu deh." Aldo nyengir, dan di balas dengusan Okky saat mulai jauh jarak mereka.
"Lunas ya, bakso gue lo abisin." Teriak Aldo kesal menyadari baksonya habis.
"Aduh seragam gue basah banget lagi, mana bisa gue ikut ulangan Pak Rama." Agatha sekarang berada ditoilet dan berkaca melihat wajahnya seperti kepiting rebus yang di guyur air.
Diluar toilet cewek terdengar pedebatan dua orang sahabat. "Udah lo aja yang masuk" ucap Okky.
"Kan lo yang disuruh Aldo kenapa jadi gue?" ucap Rangga mendorong Okky.
"Yah kan kita sohib." Okky kembali mendorong Rangga.
"Udah lo aja deh." Rangga sekarang mendorong Okky hanya lebih kencang dan akhirnya mereka masuk bersama dan terjatuh di samping Agatha, itu membuat Agatha kaget dan sekaligus panik jadi ia berteriak kencang.
"π°π°π°....!!!!" ππππππππ’π.
"π΄ππ ππ ππππππ ππππππ, ππππ ππ ππππ πΏππ Rama ππππ." ππππππ ππππππππ πππππππ πππππ π°πππππ.
"π»π ππππππ πππππππ? πΌππ πππππππππ πππ ππ π’π?" π°πππππ ππππππππ πππππππ ππππππ ππππ πππππ πππππ πππππ πππππ.
"Astaga Tha, dosa lo fitnah anak baik dan ganteng kayak kita." ucap Okky sedih.
"Buruan woy, nanti kita gak bisa ikut ulangan." Rangga mengingatkan.
"Oh iya, nih buat lo dari Aldo." setelah itu Okky pergi begitu saja bersama Rangga.
"Dari Aldo?" tanyanya
"Kamu tau kan peraturan di kelas saya? Tidak boleh ada yang terlambat! Sekarang saya lihat kamu mulai tidak taat aturan padahal kamu ini ketua OSIS, bagaimana anak buah benar jika pemimpinnya saja melanggar aturan sudah gitu pake jaket lagi?" Baru saja Agatha terlambat sekian detik tapi sudah kena semprot panjang kali lebar.
"Maaf pak, saya mohon kali ini maafkan saya. Saya tidam akan mengulanginya lagi." Agatha menuduk sedih bahkan ia ingin menangis.
"Dia lagi sakit pak makanya pake jaket." ucap sebuah suara dari belakang.
"Kamu ini anak nakal iku-ikutan saja, dari mana kamu?!" tanya Pak Rama menyelidiki.
"Maaf pak saya lancang, saya habis di hukum Pak Satya dan Agatha memang sakit, dia tadinya mau pulang tapi, karena mengingat ulangan dia tidak jadi coba di pertimbangkan Pak." Aldo dengan berani dan percaya diri membela Agatha membuat satu kelas terperangah kaget.
"Baik kalau begitu, saya kasih
kesempatan setelah pulang sekolah temui saya di ruang guru kamu akan ikut ulangan susulan dan Aldo saya hargai keberanian kamu membela yang benar kamu boleh ikut ulangan saya nanti bersama Agatha."
Keputusan pak Rama membuat hati Agatha lega, memang Pak Rama sangat menghargai murid yang mengutamakan pelajaran khusunya ulangan bilah hanya sakit sedikit, ia paling tidak suka murid yang alasanya sakit agar bisa menunda ulangan.
"Sekarang kalian keluar, saya akan mulai ulangan." Pak Rama mengambil tumpukan kertas ulangan.
"Baik pak, terimakasih." ucap Aldo berjalan keluar dari kelas diikuti Agatha yang masih menunduk setelah mengucapkan terimakasih pada Pak Rama.
"Thanks ya Do." hanya kalimat pendek ini yang bisa Agatha sampaikan, ia sedang di landa kecemasan juga kelegaan sekaligus masalahnya ini menyangkut nilai dan prestasinya serta jabatan penting yang ia emban. Agatha sekarang bingung karna Aldo hanya diam saja menutup matanya sambil duduk bersandar di tembok.
Jauh didalam lubuk hatinya ia ingin memarahi Aldo mungkin sekarang ia ada di kelas dan mengerjakan ulangan matematika dengan baik tanpa harus berkeringat dan telat pulang sekolah.
"Emang salah gue ngebiarin lo bantuin gue." Aldo masih dengan mata terpejam.