
"Gatha?" tanya Aldo bingung.
"Mau ngomong, di luar aja." ucap Agatha lembut namun tidak dapat menyembunyikan rasa kesalnya dan Aldo hanya pasrah akan kesalahannya.
"Maaf." kata itulah yang pertama kali keluar dari mulut Aldo saat Agatha membelakangi dirinya kini.
"Buat apa minta maaf?" tanya Agatha dengan tangan terlipat didepan dada.
"Gak ikut pelajaran dan malah tidur di gudang." jujur Aldo.
"Lebih dari itu kamu udah bikin aku kecewa, buat apa minta maaf terus ngelakuin lagi dan ngulangin terus siklus itu?" tanya Agatha inilah sosok dirinya yang sangat sensitif nan lembut.
"Maaf ya." kata itu meluncur dari bibir Aldo.
"Kenapa masih ngerokok?" tanya Agatha spontan.
"Sulit lepas"
"Merokok itu dapat memotong usia kita sebanyak 11 menit dan 1 batang rokok mengandung 4.800 bahan kimia dan sebanyak 69 persen diantaranya menyebabkan kanker." jelas Agatha sambil masih membelakangi Aldo.
"Maafin aku Tha."
"Gue gak butuh maaf Do, gue butuh bukti." sekarang Agatha merasa benar-benar kecewa bahkan panggilan aku-kamu sudah dia lupakan.
"Gue gak suka jadi perokok pasif!" ucap Agatha lagi.
"Bantuin aku untuk lepas dari ini semua." ucap Aldo yang sekarang melangkah dan berhenti didepan Agatha lalu menyerahkan 1 bungkus kotak rokok dan korek api ke tangan Agatha.
"Kalo dulu ini adalah pelarian aku, sekarang aku punya kamu tempat untuk aku pulang." ucap Aldo itu sangat menyentuh batin Agatha langsung menggenggam pemberian Aldo dan membuangnya ditempat sampah terdekat.
"Mungkin gak bisa langsung Tha, semua butuh proses dan aku mau kamu ada bareng aku di saat aku ngelewatin proses ini."Aldo menggenggam kedua telapak tangan Agatha lalu mengecup nya.
"Dari 69 persen perokok aktif pengen berhenti merokok tapi cuma 30 persen yang benar-benar berhenti dan aku mau kamu jadi bagian dari 30 persen itu. Semangat Aldo!" ucap Agatha menepuk bahu Aldo sementara Aldo hanya dapat tersenyum melihat ke langit menikmati indahnya sore itu dan pemandangannya jatuh pada gadis disampingnya.
'Aku hanya berpikir betapa beruntungnya aku mengenal dia.' - Aldo.
"Pagi om." salam Aldo kemudian berjabat tangan dengan papa Agatha yang sedang membaca di teras koran.
"Siapa ya?" tanya papa Agatha yang memang belum pernah bertemu dengan Aldo.
"Pacarnya Agatha, pa." jawab Gea membawa secangkir teh untuk sang papa.
"Oh ini yang bikin Agatha suka senyum-senyum sendiri ya belakangan ini." spontan membuat Aldo malu dan Gea hanya terkekeh.
"Ih.. papa, Agatha dengar lho." ucap Agatha yang ternyata sudah siap dengan kaos biru dan celana panjang santai berwarna hitam di temanin ransel mini berwarna biru.
"Memang faktanya begitu kan, papa hanya berkata jujur."ucap papa tersenyum mengingat masa mudanya dulu bersama istrinya yang sekarang berada jauh mereka semua.
"Agatha mau pamit dulu, mau pergi ke makam mama terus jalan sama Aldo." ucap Agatha seperti melaporkan kepada papanya dan kak Gea kegiatan yang akan dilakukan hari ini.
"Yaudah kalian pulangnya jangan malam-malam," ucap Gea.
"Siap bos." ucap Agatha memberi hormat membuat suasana hangat tercipta diselingi tawa.
Kedua sejoli itu bergandengan tangan, merasa lebih yakin bila melangkah bersama.
"Ini tuh salah satu alasan Tuhan menciptakan sela-sela diantara jari kita." ucap Aldo sangat romantis membuat Agatha tersipu malu, untuk Agatha ini adalah pemandangan terindah dimana tangannya dan Aldo saling mengamit dan wajah tampan Aldo terpapar sinar.
Matahari pagi sungguh kombinasi sempurna sekarang ia merasa kebahagiaannya sudah datang ia memohon maaf pada Tuhan karena dulu ia telah mengatakan bahwa takdir begitu jahat dan tega membuat masalah tak pernah berhenti di hidupnya tapi sekarang dia punya sosok pahlawan yang akan menjaga dan melindunginya selalu serta mencurahkan rasa bahagia.
"Senyum-senyum aja nanti kesambet lho!" ucap Aldo menggoda saat mereka sudah sampai di depan sebuah makam milik 'Rani Andara'
Mereka berdua berdoa dan setelah Agatha sudah merasa dirinya lebih baik walaupun tadi sempat terisak karena mengingat mamanya sambil berjalan beriringan Agatha menceritakan kejadian pahit mengungkit segala luka yang berusaha ia tutupi tapi, ia harus melakukan ini Agatha punya prinsip dalam suatu hubungan harus ada kejujuran.
"Jadi itu alasan kamu gak pernah suka balon?" tanya Aldo.
"Tadinya juga benci sama warna pink dan ice cream, alasannya klasik itu yang bikin Mama aku meninggal. Tapi, dulu papa pernah bilang kalau kemantian seseorang itu ada di tangan Tuhan kita gak tau kapan dan kalau itu terjadi kita cuma bisa mengikhlaskan jangan menyalakan apapun." jelas Agatha saat mereka sampai di tempat parkir kemudian Aldo tersenyum lagi bahwa inilah sisi lembut dari seorang ketua OSIS yang menurutnya dulu menyebalkan.
"kok kita lewat sini, Do?" tanya Agatha saat melihat mereka memasuki tol.
"Aku mau bawa kamu jalan-jalan sebelum mikirin UAS, sibuk sama acara perpisahan anak kelas 12," ucap Aldo menggenggam tangan Agatha lalu mengecup punggung tangan gadis di hadapannya ini.
entah mengapa Agatha sedikit terkejut karena perubahan sikap Aldo yang lebih romantis dan manja berbeda dengan dirinya dahulu yang sangat emosian dan suka sekali berkelahi.
"Jadi sok romantis gini sih cowok aku?" tanya Agatha yang sudah tidak canggung.
"Cewek aku ternyata bisa lembut juga ke cowok?" tanya Aldo membalik pertanyaan Agatha yang langsung membuat Agatha cemberut tapi sedetik kemudian bukan Aldo namanya bila tidak bisa membuat lengkungan di bibir Agatha kembali nyata terlihat.
"Kok banyak kupu-kupu?" selalu banyak pertanyaan di kepala Agatha menduga-duga apalagi yang akan Aldo lakukan untuk membuat harinya berwarna.
"Nanti kamu bakal nemuin lagi lebih banyak didalam sana."ucap Aldo, suasana jalan nya seperti kita sedang berada di pedesaan sungguh asri sekelilingnya terdapat rumah warga padat berimpitan satu sama lain menciptakan rasa sosialita yang tinggi.
"Ini tempat beberapa kupu-kupu di kembang biak kan, agar bermetamorfosis lebih sempurna nanti mereka bakal diberikan pilihan untuk hidup bebas setelah umurnya dewasa nanti juga kamu bisa liat taman bunga anggrek di belakang rumah penangkaran ini." Aldo menjelaskan sembari memarkirkan mobilnya di pekarangan yang tidak terlalu luas namun cukup untuk menampung setidaknya tiga mobil.
"Kok bisa kepikiran bawa aku kesini?" tanya Agatha saat mereka berdua masih di mobil.
"Karena menurut aku kamu itu mengajarkanku ketekunan, kalau mau jadi kupu-kupu yang cantik harus mampu menunggu dan berjuang ketika menjadi ulat dan kepompong."ucapnya spontan membuat pipi Agatha semakin merona
"Enak aja!" Aldo membalas dengan mengusap puncak kepala Agatha.
Kesan pertama yang timbul di benak Agatha adalah menarik tempat ini tidak terlalu besar dan tidak nampak menarik dari depan tapi ketika sudah masuk kedalam kita seperti merasakan dunia yang berbeda sangat indah membuat Agatha terus merasa terkejut akan menakjubkannya ciptaan Tuhan yang beraneka jenis ini.
"Tau gak fakta-fakta tentang kupu-kupu?" tanya Agatha mencoba menggoda Aldo yang tengah sibuk memperhatikan sebuah kupu-kupu cantik berwarna biru dengan didominasi warna hitam.
"Gak tau, kasih tau dong!" ucap Aldo lucu.
"Kupu-kupu itu gak bakal bisa terbang kalo kedinginan," ucap Agatha saat tertarik melihat sayap kupu-kupu.
"Tapi kenapa ada lagu kupu-kupu malam? Kan malam-malam dingin?" tanya Aldo dengan bercandaan yang membuat Agatha langsung saja menatap sinis.
"Ih galak banget nih cewek" ucap Aldo menggoda.
"Walaupun kupu-kupu hanya bisa bertahan hidup sekitar 2-4 Minggu tapi dia banyak kasih kesan dan pesan untuk sekelilingnya, aku belajar banyak dari si hewan kecil nan rupawan ini." ucap Agatha saat kembali berjalan lalu menemukan sebuah kupu-kupu berukuran kecil bercorak kuning terang.
"Dia bisa bantu penyerbukan bunga, jadi makanan predator untuk menjaga rantai makanan di bumi ini dan yang terakhir dia bisa memberikan kebahagiaan secara tiba-tiba karena kehadirannya yang membuat orang tersenyum melihat indahnya corak sayap. "
"Yang ia miliki, kadang aku mikir pengen jadi kupu-kupu yang terbang bebas dan bawa dampak positif buat banyak pihak."Agatha mencoba menyentuh sayap kupu-kupu itu namun sang kupu-kupu terbang ke posisi lain
Membuat Agatha hanya tersenyum manis dan segera diabadikan oleh Aldo dengan kameranya, ia sangat suka ketika melihat Agatha bercerita menjadi sosok yang lembut berbeda ketika ia berpidato.
"Susah ya jadi anak IPA, tentang kupu-kupu aja kamu tahu."ucap Aldo saat mereka sudah puas berkeliling melihat berbagai ukuran, jenis,serta corak sayap kupu-kupu dan banyak foto-foto Agatha di kamera Aldo dan juga foto kebersamaan mereka.
"Sekarang kita ke tempat dimana bunga kesukaan kamu tumbuh ditemani bunga lainya." Aldo menggamit tangan Agatha.
"Anggrek putih!" Agatha sedikit menaikkan volume saat tanaman anggrek putih kesukaan ia dan mamanya tumbuh cantik ditaman belakang rumah ini. Mirip seperti yang ada di rumah Aldo namun ini jauh lebih banyak dan beraneka ragam bunganya.
"Kok bunga anggrek nya tumbuh ke arah tanah ya?" tanya Agatha saat memperhatikan dengan seksama bunga anggrek putih itu, Agatha memang selalu penasaran dengan segala macam yang belum ia ketahui.
"Semakin dewasa bunga anggrek dia akan tumbuh ke arah bawah." Ucap Aldo singkat, jika biasanya ia akan malas dengan pelajaran biologi maka belakangan ini ia mencoba mencari tahu fakta tentang kesukaan Agatha.
"Kalo kamu pengen jadi kupu-kupu, aku belajar buat jadi bunga anggrek yang gak sombong selama hidupnya. Semakin dewasa seseorang seharusnya semakin rendah hati, anggrek juga bisa hidup di semua benua yang berarti ia gampang beradaptasi di semua lingkungan," jelas Aldo menatap bunga anggrek dengan serius.
"Sekitar 25.000 spesies anggrek berhasil ditemukan, ada belasan macam bad boy sekolah yang tersebar tapi cuma ada satu bad boy seperti cowok dihadapan aku dan itu udah jadi milik seorang Agatha!" Agatha berkata itu jujur dari dalam hati yang paling dalam.
"Sejak kapan ya cewek aku pintar gombal?" selanjutnya terdengar tawa dari mereka menghiasi siang itu.
Aldo dan Agatha sudah menikmati waktu kebersamaan mereka di penangkaran kupu-kupu, namun Agatha kembali bingung karna Aldo membawanya ke sebuah lapangan terbuka yang dipenuhi rumput hijau dibelakang punggungnya ia sudah mempersiapkan sebuah layangan berukuran sedang dengan gambar kupu-kupu berwarna biru dan kuning.
"Pernah main ini?" tanya Aldo dan di balas gelengan dari Agatha
"Aku jarang main keluar pas kecil, apalagi semenjak kepergian mama. Aku lebih sering mengurung diri dan belajar." ucap Agatha bersedih.
"Udah jangan sedih, aku bawa kamu ke sini buat kamu senang." Aldo langsung memegang layangan lalu memberikan gulungan benang kepada Agatha.
"Nanti aku lari agak jauh terus nerbangin layangannya, kamu siap-siap tarik dan ulur benangnya ya," ucap Aldo, dan Agatha coba memahaminya dengan logika.
Aldo berlari agak jauh, melihat arah angin mendukung dirinya hari ini, kemudian Aldo mencoba melepaskan layangan kupu-kupu itu dan Agatha mencoba memainkannya, saat melihat Agatha tersenyum Aldo juga ikut tersenyum namun keseimbangan layangan mulai goyah membuat Aldo berlari ke arah Agatha untuk membantu menyeimbangkannya.
"Hubungan pacaran kadang juga kayak main layangan Tha, ada tarik ulur nya." ucap Aldo singkat.
Aldo memeluk Agatha dari belakang, tangannya terjulur ke depan untuk meneguhkan pegangan Agatha, mereka saling berpandangan dan tersenyum, Agatha mendekatkan kepalanya ke dada Aldo.
"Kadang kita harus tegas dan tetap memegang prinsip kadang kita harus lembut dan mengalah." lanjut Aldo.
Sikap Aldo memang berubah 180 derajat semenjak berpacaran dengan Agatha, menjadi romantis yang tidak dibuat-buat tetap dengan tingkahnya yang menyebalkan.
Sudah hampir 15 menit mereka bermain layangan yang diiringi candaan khas orang Aldo juga kejadian layangan nyangkut di pohon sehingga dengan kemampuan luar biasa Aldo ia rela memanjat di temani Agatha yang memberi semangat agar Aldo tidak jatuh.
Aldo menjatuhkan bokong nya di tanah lapang itu bersandar pada pohon besar dibelakangnya, ia jadi teringat halaman belakang sekolah.
Suasana disini sangat tenang, walau agak sedikit terik. Agatha masih berdiri menatap seluruh penjuru lapangan, menemukan beberapa anak kecil bermain lompat karet, layangan, dan berlarian, tak jarang melihat warga sekitar yang sedang membawa banyak sayuran dari kebun.
Agatha melihat Aldo sedang memejamkan mata, Agatha merasa ia sangat bersyukur untuk apa yang Aldo buat hari ini, membuat harinya berbeda.
"Do kamu ngantuk ya?" tanya Agatha lalu duduk di samping Aldo.
"Bukan, aku silau melihat bidadari dihadapanku." Aldo tersenyum, kini menatap Agatha.
"Aku ganti julukan kamu jadi si raja gombal."
"Gombalnya cuma ke kamu." lanjut Aldo.
"Semoga." Agatha tersenyum sedangkan Aldo mengangguk.
Mereka berdua kembali terdiam masing-masing secara kebetulan memikirkan hal yang sama yaitu awal mereka bertemu sampai akhirnya memutuskan bersama melalui proses yang amat panjang serta menguras emosi,
Aldo mengambil kamera yang ada di sampingnya kemudian melihat sebagian besar foto yang berada di dalam kamera adalah wajah Agatha, gadis yang memenuhi relung hatinya saat ini sedangkan Agatha menutup mata mengucap syukur sekali lagi pada Tuhan atas Aldo yang boleh hadir di dalam hidupnya.
"Tha foto bareng yuk." ucap Aldo akhirnya mengakhiri kesunyian itu dan langsung dibalas anggukan semangat Agatha.
'Duduklah bersamaku, akan ku ceritakan segala hal kecuali perpisahan.' -- Agatha, Aldo
Bersambung............