Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin

Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin
#48 Laras hamil



"Hai, maaf ya malem-malem ke rumah." Eza tersenyum.


Eza bukanlah orang yang tampan sekali, juga bukan seorang bad boy apalagi seorang yang tajir ayah dan ibunya memiliki cafe kecil-kecilan saja namun di balik itu semua ia adalah sosok pekerja keras yang amat sangat mencintai seluruh hasil jerih payahnya dari apa yang bisa di kerjakan di samping mengejar pendidikan itulah yang memotivasi seorang Febri menjadi pribadi yang lebih baik dan khususnya menghargai hidup.


Febri adalah cinta pertama Eza dan begitu pula sebaliknya.


"Kamu gak jadi ngumpul sama anak OSIS?" tanya Febri kaget.


"Enggak Feb. Maaf ya, aku baru sadar kalo jarang banget ngasih waktu untuk kita berdua." Eza menggenggam kedua tangan Febri, ia memang bukan cowok romantis seperti di drama namun ia menjadi cowok yang selalu membuat Febri tersenyum.


"Aku gapapa kok Za, aku ngerti sama kesibukan kamun mungkin awalnya aku marah tapi perlahan aku belajar paham."Febri tersenyum.


"Jangan kebanyakan gapapa, kita makan yuk, aku lapar." Eza yang sudah merasakan cacing di perutnya berdemo anarkis mendapatkan anggukan pelan dari Febri.


Setelah izin dengan ayah dan ibunya Febri mengunakan jaket abu-abu menaiki motor Eza, menikmati suasana malam di permukiman yang tidak terlalu ramai bukan kompleks ya hanya rumah-rumah penduduk yang padat namun sangat eratnya hubungan sosialnya.


"Satenya 2 ya pak, sama es teh hangatnya juga 2." Eza memesan sate ayam, dan kemudian menghampiri Febri yang sedang duduk beralaskan tikar anyaman.


"Untuk pertama kalinya selama pacaran kita kencan ya?" tanya Eza karena melihat Febri hanya termenung melihat bintang yang menghiasi langit malam itu.


"Ngeliatin apa sih? Sampe aku nya di cuekin?" tanya Eza mengacak rambut Febri.


"Aku lagi menikmati suasana malam, ada bintang yang paling terang dan ada bintang yang redup. Suka aja aku ngeliatin nya." ucap Febri tersenyum sendiri.


Kemudian terdengarlah sebuah suara yang tidak begitu merdu namun menggugah hati ternyata dua orang bocah laki-laki yang kira-kira berumur 7 tahun memainkan ukulele dan diujung gitarnya terdapat kantong bekas permen, Eza tersenyum dan mengeluarkan uang Rp 10.000 dari kantong bajunya kemudian memasukkan kedalam bungkusan permen itu kemudian dibalas dengan senyuman tulus dari kedua anak itu terkesan malu-malu namun dapat membuat Eza mengulurkan tangan untuk mengacak rambut kedua bocah itu.


"Anak-anak pintar." puji Eza sedang Febri yang ada disampingnya tersenyum melihat jiwa keperdulian Eza yang amat tinggi.


"Kalian udah makan belum?" tanya Febri yang juga tak kalah terenyuh melihat kedua bocah itu, malu-malu mereka menggelengkan kepala.


"Makan bareng kita aja yuk." tawar Febri.


"Maaf, tapi ayah kita menunggu di rumah." jawab salah seorang anak laki-laki itu.


"Yaudah kalian tunggu sebentar ya." Febri kemudian menghampiri penjual sate dan memesan sate lagi.


Setelah menunggu beberapa menit 3 porsi sate ayam yang sudah dibungkus sekarang berada ditangan kedua anak kecil itu.


"Makasih ya kakak, kamu doakan sukses dan bahagia." ucap salah seorang dan disetujui oleh seorang lainnya kepada Eza dan Febri sambil menc1um tangan pertanda mereka sangat bersyukur karena mendapat berkah yang berlimpah hari itu.


"Senang ya bisa sedikit berbagi." ucap Febri masih melihat punggung kedua bocah itu perlahan menjauh.


"Kita yang jauh lebih beruntung dari mereka hanya bisa jadi bintang yang terang dan menerangi siapa saja yang sinarnya redup." ucapan terakhir Eza yang singkat namun bermakna itu selalu Febri ingat, seseorang yang mengajarinya melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda itulah seorang Eza di mata Febri.


Mila sedang melantunkan lagu love yourself milik Justin Bieber dengan suaranya yang amat merdu ditemani alunan piano.


Mata Mila tertuju pada seorang cowok yang mengenakan kemeja hitam dan celana jeans yang duduk di sudut cafe sambil minum secangkir kopi dan setelah selesai dengan penampilannya Mila mendapatkan apresiasi dari para pengunjung cafe dan tepuk tangan yang meriah.


Rangga laki-laki itu sedang menemani Mila melakukan pekerjaannya jika hari Sabtu dan Minggu yaitu menjadi penyanyi disebuah cafe yang terkenal.


"Penampilan kamu hari ini bagus, suara kamu makin oke." puji Rangga setelah Mila telah duduk dihadapannya.


"Kamu selalu bilang gitu." Mila tersipu malu dan matanya tidak mampu menatap lama pada mata Rangga karena itu menyebabkan dirinya berolahraga jantung.


"Jangan tegang gitu Mil, kita ini udah pacaran lho!" ucap Rangga membetulkan kacamata Mila.


"Aku canggung aja sama kamu," ucap Mila.


"Kamu tuh hebat Mil, secara gak sadar bisa merubah aku jadi pribadi yang lebih baik saat sama kamu." ucap Rangga menyadari dirinya sekarang menghabiskan waktu untuk hal positif walaupun ia masih suka merokok dan nongkrong bareng geng-nya.


"Kamu juga hebat, bisa buat aku jadi lebih percaya diri." Mila yang kaku memanglah seperti itu menjawab bila di tanya dan akan diam membisu bila tak ada yang mengajaknya berbicara, canggung bila berdekatan dengan cowok dan Rangga amat mengerti sifat gadisnya itu.


"Kita berdua itu hebat, kamu dengan cara kamu sendiri dan aku pun begitu. Janji ya tetap jadi Mila yang seperti ini, Mila yang bisa melengkapi Rangga." ucap Rangga kemudian menc1um punggung tangan Mila. Lalu Rangga memberikan paper bag.


"Buat aku?" tanya Mila dan Rangga mengangguk.


"Buka deh." setelah Rangga berkata demikian, Mila membuka paper bag tersebut, setelahnya ia tersenyum malu.


"Speaker?" tanya Mila sambil menggenggam speaker berbentuk beruang lucu.


"Supaya kamu lebih semangat mengembangkan bakat kamu, jangan pernah menyerah ya, i love you." Rangga dihadiahi pellukan erat dari Mila sebagai ucapan terima kasihnya kepada penyemangat nya di garis terdepan.


"Duh Minggu depan udah UAS aja, padahal baru kemarin gue naik kelas 11." ucap Okky kesal.


"Ah emang dasarnya lo males belajar kan?" Rangga menyahut


"Sorry ya gue udah gak males, kan sekarang udah ada penyemangat hidup gue, ayang beb Riska." Okky mengandeng tangan Riska mendapatkan siulan serta ejek-ejekan dari teman-temannya.


"Ih jadi cowok alay banget sih, j1j1k gue Ky!" ucap Riska langsung menjaga jarak.


"Kemarin aja peluk-peluk gak jijik?" tanya Okky spontan membuat Riska melotot dengan perkataan yang baru saja meluncur mulus dari bibi Okky.


"Oh sekarang mainnya udah p3luk-p3luk?" tanya Agatha menggoda.


"Ih apaan coba, geli gue!" ucap Riska masih membantah.


"Cowok alay dan cewek lebay?" ucap Febri spontan menjulurkan layar handphonenya kepada Riska dan juga teman-temannya.


"Cieee...!!!" langsung saja koor membahana terjadi di koridor saat itu.


"Kalian semua nyebelin!" ucap Riska kemudian memilih masuk ke dalam kelas dan bersumpah tidak akan mengulangi hal bodoh dengan memberikan caption seperti itu lagi di Instagram.


Laras sedang duduk di taman depan sekolah beruntungnya setelah dari Jogja kemarin ia sudah bisa berjalan tanpa bantuan kursi roda lagi, kakinya sudah cukup kuat asal tidak terlalu lelah, sekarang pukul 15.00 sedang menunggu seseorang sambil tertunduk memikirkan masa depan yang seperti menantangnya.


"Laras?" tanya Aldo saat melihat seseorang dengan dress simpel selutut berwarna merah muda.


ia langsung saja memeluk Aldo dan menangis sejadinya dibahu Aldo dan tentu saja Aldo kaget dengan sikap Laras yang seperti ini mengapa Laras menangis.


"Hei, kamu kenapa? Kita duduk dulu yuk," ucap Aldo merangkul Laras penuh kasih sayang tapi Laras semakin terisak jadi Aldo memilih diam sambil terus mengusap pundak Laras yang naik turun karena isakannya setelah beberapa menit berlalu Laras mulai tenang.


"Aku hamil, Do." begitulah ucapan Laras bak petir menyambar tepat mengenai sasaran jantung Aldo seperti berhenti berdetak dan nafasnya mulai memburu.


"Siapa yang ngelakuin ini?" tanya Aldo dingin menahan luapan emosinya.


"Kakak kamu." ucap Laras singkat namun memberikan efek luar biasa pada diri Aldo.


"Brengsek!" umpatnya mengepalkan kedua tangan.


"Do, aku takut. Bantu aku." ucap Laras memeluk Aldo dan kembali terisak.


"Aku antar kamu pulang dulu ya, nanti kita bicarakan di rumah." Aldo merangkul Laras dan membawanya ke arah motornya beberapa menit kemudian motor Aldo sudah menyusuri jalan raya sore itu.


Agatha hanya bisa termenung melihat kejadian yang baru saja terjadi dihadapannya, melihat kekasihnya berpelukan dengan wanita lain meskipun ia tahu wanita itu adalah sahabat sang kekasih dan teman dekatnya namun mengapa ada luka yang tak kasat mata timbul di hatinya sangat perih dan menguras air mata tanpa sadar tetesan bening meluncur mulus di pipinya.


Laras memang penting untuk Aldo dan Agatha hanyalah seseorang yang baru saja mengisi hidup Aldo jadi Agatha berpikir ia bukan siapa-siapa bagi Aldo dengan kata lain Agatha tidak berarti dalam hidup Aldo, Agatha memutuskan segera memesan ojek online dan ingin sampai ke rumah memeluk papanya atau Gea atau Oma atau siapa saja yang membuatnya merasa lebih baik sekarang.


"Lo bakal hancur dengan sendirinya, Agatha!" ucap seseorang yang tersenyum melihat Agatha saat ini menangis dalam diam.


"Adem kenapa?" tanya Gea saat melihat wajah adiknya lesu dan mata memerah.


"Agatha mau cerita sama kakak," ucapnya meneteskan air mata selama di perjalanan ia berusaha menahan luapan emosi itu sampai pengendara ojek online hanya bisa meratapi kasihan pada dirinya.


"Yuk ke kamar kamu aja." Gea merangkul sang adik, sebenarnya ia harus bertemu dengan temannya saat ini tapi untuknya adik kecilnya inilah yang terpenting.


"Jadi masalah apa?" tanya Gea duduk di pinggir ranjang Agatha, dan Agatha meletakkan tas ranselnya kemudian mengambil boneka beruang kesayangannya dan menatap lurus ke depan.


"Aku liat Aldo pelukan sama cewek lain Agatha berbicara tanpa ekspresi ya amat datar.


"Ceweknya aku kenal, dia sahabat baiknya Aldo Deket banget dan dulu Aldo sangat mencintainya cewek itu. Sekarang cewek itu bersama Alvin, mereka menjalin hubungan yang serius tapi, aku gak tau kenapa tadi dia peluk Aldo dan Aldo ngebalesnya."jelas Agatha masih dengan datar.


tatapan matanya sayu namun mantap menatap ke depan seperti mengulang memori di mana ia melihat Laras berpelukan dengan Aldo dan ini sangat menyakitkan.


"Kan kamu tau mereka sahabat, mungkin pelukan yang tadi kamu liat tanda persahabatan mereka?" tanya Gea mencoba memahami masalah Agatha.


"Ya mungkin aku aja yang berlebihan, anehnya sampai sekarang Aldo belum ngabarin aku. Rencananya aku dan dia mau pulang bareng, dia minta aku tunggu di gerbang dan karena lama banget dia gak muncul aku coba cari di parkiran dan akhirnya pemandangan itu yang aku dapetin." Agatha menghela nafas.


"Mau tau definisi singkat kakak tentang cinta?" Gea tersenyum mencoba membangkitkan suasana hati Agatha dan dibalas anggukan pelan Agatha.


"Menurut kakak cinta itu dinamis, kamu harus siap dengan kebahagiaan yang meluap namun kamu juga harus siap untuk jatuh sejatuh-jatuhnya." Gea menggenggam tangan adiknya dan merangkul, Agatha masih tak mengerti dengan maksud Gea.


Bersambung...........