Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin

Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin
#36 Agatha Tidak Salah



"Kalau boleh jujur, aku sudah menyukai kak Alvin sejak pertama kali bertemu di perpustakaan sekolah saat 1 tahun lalu." Agatha mengingat masa lalu, memang merasa ia harus jujur, ia punya prinsip bila ingin melupakan seseorang ia harus jujur akan perasaannya.


"Alvin beruntung dicintai oleh perempuan yang baik dan kuat, aku dengar kamu juga ketua OSIS terbaik ya?" tanya Laras menggoda.


"Tidak itu hanya anggapan orang saja, aku ini biasa saja." ucap Agatha merendah.


"Aku tidak enak bila sepertinya aku merebut Alvin dari kamu."ucap Laras pelan.


"Tidak...tidak aku gak ngerasa kamu ngerebut kak Alvin, dia tetap milik kamu sedari awal justru aku yang seolah tidak tahu malu mendekati kak Alvin padahal jauh sebelum aku bertemu dengannya kalian punya hubungan serius." ucap Agatha tidak enak.


"Sudahlah kita lupakan itu, sekarang aku tidak yakin kamu menyukai Alvin selama ini dan saat ini. Apa dugaanku benar?"Laras menggoda.


"Apa maksud kamu?" tanya Agatha bingung.


"Mengagumi dan menyukai berbeda tipis, mengagumi ada di tahap awal sedangkan menyukai ada di tahap selanjutnya. Terkadang kita terlalu fokus pada apa yang kita sukai padahal di sisi lain ada seseorang yang sudah memberikan seluruh perasaannya pada kita." Laras berucap itu dengan lancar, Agatha tertegun.


"Kita ke sudut sana yuk, aku mau nunjukin sesuatu." ucap Laras menunjuk arah sudut taman.


"Bunga anggrek putih?" tanya Agatha bingung mengapa bunga kesukaannya tertanam dan tertata apik ditaman rumah ini mungkin ini juga bunga kesukaan Laras pikirnya.


"Waktu aku datang lagi kesini, aku bingung kenapa ada bunga ini yang bikin aku suka alergi kalau bersentuhan sama kelopaknya." ucap Laras membuat Agatha kaget bila Laras tidak menyukainya untuk apa bunga ini di tanam.


"Aku tanya bibi dan katanya Aldo yang mau bunga itu ditanam disini, akhirnya aku mutusin untuk buang ke lima pot ini. Aldo tiba-tiba aja datang dan bilang kalau bunga ini gak boleh di ganggu.


Dia bahkan kasih peringatan keras ke aku gak biasanya dia ngomong dengan suara dingin. Aku penasaran dan tanya alasannya dia cuma ngomong ini bunga kesukaannya padahal yang aku tahu Aldo alergi sama bunga asli."


"Aku perhatiin setiap hari dia rawat dengan telaten tanpa mengeluh biasanya dia malas mengerjakan pekerjaan apapun dan lebih baik menyuruh tukang kebun tapi kali ini ada yang berbeda.


Dia mengerjakan semuanya sendiri dengan tangannya. Aku tahu ada sesuatu sama bunga ini setiap malam bahkan ia sering melamun disini sendirian tanpa mau di ganggu,sekarang aku tahu alasannya." ucap Laras


setelah bercerita panjang lebar sedangkan Agatha hanya bisa menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca selama ini ia terlalu mengejar Alvin bahkan tidak peduli dengan Aldo yang begitu mencintainya tapi, apakah benar Aldo mencintainya? Ia ragu.


"Kamu alasan Aldo merawat bunga ini, ini bunga kesukaan kamu kan?" tanya Laras menggenggam tangan Agatha selayaknya sahabat, air mata ini sudah tidak tertahankan.


"I....ya..." jawab Agatha bergetar.


"Akhir-akhir ini Aldo lebih sering menyendiri menatap bunga itu, kalian ada masalah?" tanya Laras mencoba agar Aldo dan Agatha baikan.


"Aku bodoh ngejar sesuatu yang gak pasti padahal didepan mata aku ada dia yang setia dan selalu ada buat aku." ucap Agatha.


"Terkadang kita memang begitu, suka menyalahkan laki-laki tanpa sadar kita bahkan lebih tidak punya hati." ucap Laras tersenyum getir, Agatha merasa kata-kata itu tepat untuknya.


"Aldo dulu gak bisa terima aku lebih milih Alvin, dia terpuruk hebat, sampai sekarang ia bahkan masih belum terima. Aku harap kamu bisa sembuhin luka hatinya." Laras memberikan semangat.


"Aku akan berusaha, tapi sekarang aku gak bisa dekatin dia dulu. Dia pasti marah dan kecewa banget sama sikap aku." Agatha kembali meneteskan air matanya menyadari betapa bodohnya dirinya.


"Yaudah kamu cuci muka dulu ya, aku tunggu sini, liat tuh mata kamu kayak panda." Laras membuat suasana yang tadinya sedih menjadi ceria.


dalam hati Agatha tahu mengapa Tuhan tidak menjodohkannya dengan Alvin tentu yang pertama adalah karena Laras lebih membutuhkan Alvin daripada dirinya.


Dulu ia merasa dirinyalah wanita paling tidak bahagia, wanita yang paling mengalami takdir buruk tapi pandangan itu berubah ketika ia bertemu dengan Laras yang pantang semangat menghadapi penyakit yang menderanya ditambah kedua orangtuanya telah wafat sekarang ia hanya punya bibi dan paman, mereka pun sibuk mengurusi sepupunya yang masih berkuliah di China.


Alasan kedua adalah karena hatinya sesungguhnya memang bukan untuk Alvin melainkan Aldo.


Aldo sedang berlatih olahraga di kamarnya, ada sebuah samsak hitam menggantung sengaja ia taruh dekat kamar selain untuk berolahraga melatih otot-ototnya itu juga berguna untuk melampiaskan emosinya ketika memuncak seperti sekarang ini ia sangat kesal melihat kedekatan Alvin dan Laras.


Anehnya Alvin juga dekat dengan Agatha di sekolah sungguh kakaknya amat rakus ingin memiliki kedua wanita itu.


"Lo maruk! Lo rakus! Kenapa sih Tuhan takdirin lo jadi kakak gue! Gue benci lo! Gue benci lo Alvin!" ucap Aldo sambil terus memukul samsak seakan itu adalah wajah kakaknya.


Ia benci ketika dulu Alvin menang darinya, ia kalah telak dengan tegas Laras memilih Alvin dan menolak dirinya sekarang itu terulang kembali Agatha lebih memilih Alvin dan mungkin membenci dirinya.


"Gue gak akan pernah bisa jadi Alvin! Kenapa gak ada yang bisa ngerti itu!" ucap Aldo semakin kesal emosinya memuncak.


ia tak mau mengalah lagi cukup Laras yang ia relakan untuk Alvin tidak dengan Agatha, gadis yang sejak MOS selalu ia perhatikan karena tingkah galaknya.


"Udah gue bilang Do, cuma gue yang ngertiin lo dan lo itu cuma milik gue bukan si ketos lebay itu." sinis Steffi tiba-tiba sudah masuk ke kamar Aldo memenangkannya dengan menyentuh bahunya


"Lo kok bisa disini?" tanya Aldo dengan nafas tersengal.


"Lo itu harus lupain Agatha, dia tuh gak baik. Sekarang liat dia dekatin lo cuma buat depatin kak Alvin itu cara terlicik!" ucap Steffi menyeringai, ia senang saat ini, otak Aldo akan muda dia racuni.


"LARAS!...." pekik seseorang dari arah bawah sepertinya suara Alvin, jadi segera Aldo berlari menuruni tangga.


Aldo yang melihat Alvin sedang mengguncangkan tubuh Laras yang terkapar di rumput taman


"Laras?!" sebuah suara datang dari arah belakang.


"Dia kenapa Tha, tadi kan dia sama kamu?" tanya Alvin sudah berlinang air mata.


"Aku tadi tinggal dia sebentar untuk ke toilet terus aku gatau datang-datang kalian udah berkerumun." jujur Agatha.


"Bohong, lo pasti niat celakain Laras supaya bisa dapetin Alvin kan? Ngaku lo cewek munafik!" Steffi mendorong Agatha, jika ia sedang tidak dalam keadaan hancur mungkin ia akan membalas mencakar muka Steffi yang telah berkata sembarangan terhadap dirinya.


"Urusan lo sama gue belum selesai!" geram Aldo kini telah menggendong Laras dengan menyanggah pundak dan paha Laras di lengannya, ia menatap sinis Agatha seolah tersirat kebencian hebat.


Aldo segera berlari menaruh Laras dibagian belakang mobil dengan Alvin yang menemaninya sedangkan ia berlari ke arah kursi pengendara dan Steffi yang duduk di bagian kursi penumpang disamping Aldo.


Bersambung..........