Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin

Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin
#40 Kisah Aldo



"Dan gue gak akan pernah takut sama ancaman lo!" bentak Kevin tak mau kalah.


Aldo melangkahkan kaki khas dengan gayanya yang mengenakan jaket kulit berwarna hitam menatap mata Kevin tajam bak ingin membunuh mangsanya, ia tidak ingin membuat keributan disini. Aldo ingin beranjak pergi, sebenarnya ia ingin sekali membunuh Kevin sekarang juga karena telah berani menyentuh Agatha.


"Lo selangkah lagi maju gue akan tusuk Agatha." Kevin menahan tangan Agatha dan menariknya.


"B4nci lo! Ini gak ada urusannya sama dia!" teriak Aldo kencang sampai membuat tubuh Agatha bergetar hebat, ia takut dengan suasana ini.


"Tapi lo cinta dia, dan gue akan ngerebut apa yang lo cinta oh ya kalau lo tadi gak dateng mungkin gue udah menikmati Agatha, cewek lo yang murahan!" Kevin menyeringai dan menekankan pada setiap kalimatnya.


"Brengsek! BAJINGAN!" Aldo berteriak kali ini sangat kencang ia tak perduli walau Kevin memegang pisau, karena Kevin yang sedikit lengah akibat teriakan Aldo, Aldo segera menarik Agatha ke belakang.


Ia memelintir tangan Kevin yang sedang memegang pisau disana terjadi pergulatan hebat Kevin tak mau kalah ia mencoba membalas pukulan Aldo, namun bad boy SMA Bima Garuda itu sudah sangat liar tidak lagi dapat di kontrol dan dicegah ia sudah kalap dan terus-terusan menghajar Kevin tanpa henti menangkis setiap serangan Kevin dan membalas dengan berkali kali lipat,kevin bisa mati saat ini juga tapi.


" Do, udah cukup." Agatha memberanikan diri dengan maju ke arena pertarungan hidup dan mati itu, dengan getaran hebat di seluruh tubuh ia memberikan sentuhan yang membuat Aldo sedikit melunak dengan nafas tersengal dan degup jantung yang tak beraturan Aldo menatap wajah Agatha, ia tahu gadisnya khawatir dan takut.


"Ambil tuh cewek murahan lo, maruk karena mau sama lo dan kakak lo!" kekeh Kevin, Aldo yang sedang menatap wajah Agatha menjadi emosi, Aldo yang tadinya sedikit mereda kembali berkobar lebih hebat karena perkataan Kevin yang membuat Aldo ingin membunuhnya detik ini juga.


"Mulut lo bakal gue robek sama pisau ini, brengsek!" teriak Aldo ingin mengambil pisau namun kembali Agatha mencegahnya dengan tangisan lebih deras kali ini ia lebih sungguh dan tubuhnya bergetar lebih hebat ia benar-benar takut jika Aldo melakukan hal diluar batas.


"Ayo bunuh gue, gue gak takut!" tantang Kevin.


"Buat apa gue hidup? Steffi sudah milih lo! Semua udah lo ambil!" bentak Kevin dengan suara yang terbata-bata, Aldo kembali memukul Kevin berkali kali, sampai ia membahas tentang Steffi dan ia paham mengapa Kevin membencinya.


"Lo masih dendam? Harusnya lo tanya sama Steffi nya langsung!" teriak Aldo lagi.


'bugh


"Ini buat lo yang udah nyentuh Agatha!"


'Bugh'


"Ini buat lo yang udah pernah perm4luin Agatha di depan umum!"


'Bugh'


"Dan ini karena lo berani ngatain Agatha murahan, otak lo dangkal!" Aldo belum puas ia ingin menuntaskannya tapi ia teringat sentuhan Agatha yang membuat ia mengurungkan niat itu, ia membiarkan Kevin tergeletak begitu saja dengan luka yang parah di sekujur wajah dan segera ia menggandeng Agatha keluar gudang diluar teman-teman Kevin terdiam melihat kekalahan bos mereka.


"Bawa dia ke rumah sakit ya, tolong." ucap Agatha saat berpapasan dengan seorang teman Kevin yang segera diberi anggukan.


Saat sampai ditempat parkir Aldo yang merasakan tangan Agatha yang bergetar menghentikan langkahnya sedari tadi memang Aldo sudah merasakan itu jadi ia mengeratkan genggamannya, Aldo berbalik badan menatap mata Agatha lekat dengan jutaan perasaan rindu yang ia ingin luapkan rasanya Aldo ingin memeluk Agatha tapi, ia takut Agatha akan salah paham.


"Gue kangen lo!" Agatha langsung menghambur ke pelukan Aldo dengan air mata yang tak terbendung dan Aldo masih tak percaya dengan yang dilihatnya sekarang, cewek yang selalu menolak kehadirannya, cewek yang selalu saja bertengkar dan benci dengannya mengucapkan kata rindu ia masih belum membalas pelukan itu.


"Please, jangan pergi!" Agatha kembali berucap mengerakkan pelukan nya dan Aldo tersenyum mendengar kata-kata itu sekarang ia sudah bisa mencerna semuanya.


"Kalau lo liat gue keliatan baik-baik aja tanpa lo, percaya deh Tha itu sandiwara terbaik gue." Aldo kemudian membalas pelukan Agatha dan mengecup puncak kepala gadis yang lebih pendek darinya itu, perlakuan itu membuat senyum mengembang dihati Agatha.


"Do, kita kerumah lo dulu aja, gak enak baju lo banyak noda ehm.." ucapan Agatha terhenti dan mengarah pada noda baju Aldo.


"Siap tuan putri." ucap Aldo seketika membuat hati Agatha kembali bahagia, sudah lama ia tak diganggu Aldo ia rindu dengan candaan Aldo.


'Selama ini kita adalah dua orang yang sangat keras kepala, memilih diam seribu bahasa hanya untuk menunggu salah dari kita berinisiatif memulai percakapan duluan.'


"Den, non." sapa bibi tersenyum menyambut Aldo dan Agatha.


"Senang liat non main kesini lagi bareng den Aldo." Bibi tersenyum rindu.


"Iya Bi, aku juga kangen main kesini lagi." Agatha membalasnya juga dengan senyuman tulus.


"Bi, ini papa dan mama nya kak Alvin sama Aldo ya?" tanya Agatha ketika melihat sebuah foto keluarga dengan empat orang didalamnya.


"Iya non, mereka keluarga bahagia banget ya. Saya aja kadang iri, tapi ya gitu semua orang bisa berubah jadi baik ataupun buruk sehingga kadang dampaknya bisa kemana aja." ucap Bibi menerawang ketika melihat foto itu.


"Maksudnya gimana Bi?" tanya Agatha namun tak sadar, Aldo sudah ada di belakangnya.


"Biar gue yang langsung jelasin ke lo."Aldo menggenggam tangan Agatha dan membawanya ke sebuah ruangan di lantai dua rumahnya.


Awalnya Agatha ragu dan bimbang mengapa ruangan itu sangat gelap tapi ketika lampu di nyalakan di sana terdapat foto-foto keluarga juga beberapa foto anak kecil, dan ada foto Alvin juga Aldo.


"Gak ada yang perlu gue tutupin lagi dari lo, jadi gue bakal cerita semua tentang hidup gue." ucap Aldo semakin erat menggenggam tangan Agatha dan membawanya menelusuri ruangan itu.


"Gue dan Alvin dulunya adalah saudara yang sangat dekat layaknya seorang kakak cowok dan adik cowok, papa dan mama selalu menyayangi kami dengan sepenuh hati semua terlihat baik, memang sejak dulu Alvin selalu dipuji karena prestasi dan sikapnya sedangkan gue gak berprestasi tapi, selalu gue coba buat nunjukin sikap yang baik.;


"Kalau dulu Alvin gak pernah gue anggap sebagai saingan malah dia yang support dan ngajarin gue banyak hal. Benar kata Bibi semua orang bisa berubah ada yang jadi lebih baik ataupun buruk, dan keluarga gue hancur sejak empat tahun yang lalu karena papa selingkuh dengan sekretarisnya, mama stres dan akhirnya mereka cerai disitu gue hancur Tha."


Aldo mulai meneteskan air mata dan berhenti pada sebuah foto yang hanya menampakkan fotonya sendiri dengan gaya bad, Agatha tahu luka Aldo kembali terbuka karena mengingat masa-masa itu jadi segera ia mengelus lengan Aldo.


"Gue berubah, gue jadi buruk teramat buruk seperti yang lo tahu padahal itu bukan kemauan gue, bukan gue yang mau kayak gini tapi takdir yang bikin gue hancur, gak ada yang peduli sama gue? Jadi buat apa gue jadi anak baik toh Papa sama Mama punya kehidupan masing-masing dengan keluarga baru mereka."


"Gue gak butuh harta mereka, gue cuman pengen di sayang kayak dulu. Mereka selalu nuntut gue jadi kayak Alvin karena bisa dewasa hadapi ini semua tapi gue bukan Alvin dan selamanya gue gak bisa kayak Alvin, gue gak suka di samakan, gue adalah Aldo bukan Alvin bukan boneka yang mereka bisa atur seenak hati bukan boneka yang gak punya perasaan.Jadi gue milih cari jati diri gue sendiri dan hidup bebas." Aldo kembali menghapus air matanya yang menetes.


sedangkan Agatha sudah berlinang air mata, rasanya ia tahu bila tak memiliki keluarga yang utuh ia pernah merasakan itu dulu mungkin sekarang keadaannya jauh lebih baik sedangkan Aldo ia tak bisa berharap banyak pada keluarganya.


"Dulunya hanya Laras yang menjadi alasan gue untuk hidup, karena dia gue bisa ngelewatin semuanya, gue berjanji bakal jadiin dia pasangan hidup gue berjanji sehidup semati namun semuanya kembali hancur ia memilih Alvin, lagi-lagi kakak gue pemenangnya dan gue tinggal menikmati penderitaan yang takdir buat." kali ini matanya tajam menatap foto Alvin tampak sopan dengan kemeja di foto itu ada perasaan mengganjal saat Aldo membahas Laras Agatha tidak suka, apa ia cemburu?


"Gue pikir dia beda dari cewek lainnya, dia bisa terima gue apa adanya tapi nyatanya dia juga pilih Alvin yang emang lebih dari gue." Aldo terlihat kesal.


"Akhirnya gue ketemu sama lo di sekolah pas MOS, cewek paling galak yang pernah ngomelin kakak kelas gara-gara suka bully adik kelas, cewek pertama yang berani nampar gue, dan cewek pertama yang buat gue galau tiap malam, kali ini gue gak bakal ngalah dari Alvin atau siapapun." Aldo menatap Agatha dari samping meneteskan air mata, untuk Agatha ini adalah kata teromantis dari Aldo untuknya.


"Gue takut menatap masa depan, tanpa ada yang menolong gue untuk menggapai itu bersama." sekarang Aldo membawa Agatha ke jendela melihat langit malam.


"Mungkin bukan masa depan yang kita takuti, mungkin itu masa lalu yang gak benar-benar kita tinggalkan." ucap Agatha spontan, tangan mereka masih mengandeng satu sama lain.


"Tolong buat gue percaya gak semua cewek itu sama, melihat yang tampak dari luar tapi belum mampir ke dalam hatinya."Aldo sekarang menatap Agatha dalam, ia menemukan kembali semangat hidupnya dalam gadis di hadapannya itu.


"Kita jalanin semuanya bareng-bareng ya." ucap Agatha yang kini juga sudah menatap Aldo, dan dibalas Aldo dengan pelukan hangat.


Dua orang sejoli hari ini menaiki sebuah motor sport membelah jalanan pagi hari, mereka tak bicara apapun selama perjalanan ya ini seperti kebiasaan mereka dulu namun ada yang berbeda wajah mereka tampak berseri sepertinya tadi malam peri cinta menancapkan panah cintanya untuk mereka.


"Tha, diem aja." goda Aldo


"Terus mau ngomong apa?" tanya Agatha masih ketus.


"Jangan galak-galak dong, nanti kangen."


"Bodoh, gue gak perduli!" sejujurnya Agatha sengaja membuat Aldo ngambek, ia senang ketika Aldo yang biasanya cool akan merengek manja.


Bersambung........