Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin

Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin
#32 Sahabat Atau Gebetan



Flashback on


"Tha, aku suka sama Dito itu lho anaknya Bu Anita." ucap Riska dengan muka memerah.


"Rupanya ada yang kesemsem abis di tolongin pas jatuh dari tangga?" tanya Agatha menggoda.


"Bukan itu juga, dia tuh benar-benar sempurna tau." Riska yang sudah duduk di bangku kelas 3 SMP memang tidak diragukan dalam hal percintaan, ia yang paling unggul diantara kedua sahabatnya.


"Pokoknya kalau aku jadian, nanti kamu sama Febri aku traktir bakso di kantin deh." Riska sudah senyum-senyum sendiri membayangkan dirinya berpacaran dengan cowok populer bernama Dito.


"Yaudah apalah daya aku yang jomblo ini, cuma bisa berlapang dada." ucap Agatha memelas.


"Tha, jangan melas gitu deh, nih ada yang mau nyatain sesuatu." ucap Febri tiba-tiba namun ia tidak sendiri, ia datang bersama dengan Jakson adik kelas mereka.


"Ngomong dong Son, tadi lo bisa lancar ngomong di depan teman-teman lo!" goda Febri, Jakson yang memiliki penampilan gemuk, berkacamata, juga suka bersin-bersin, ia juga gampang nangis dan tertawa, dirinya sangat pandai berpuisi.


"Jaa...di gi...ni... Kak A...ga...Tha...." ucapnya terbata-bata karena gugup bahkan dahi dan bajunya sudah basah karena keringat.


"Aa..kuu," lanjutnya.


"Lo ngomongnya kelamaan si Agatha nya keburu balik ke kelas nanti." Febri kembali menggoda dengan gayanya yang tomboy.


"Suka kakak dari pandangan pertama." setelah dirinya di tepuk cukup kencang ucapannya menjadi sangat lancar dan Riska serta Febri yang mendengar itu hanya tertawa kencang sekali sedangkan Agatha hanya bingung.


"Wah kalian ternyata kalian berdua ngerjai aku ya? Jangan bawa-bawa anak orang dong." kata Agatha sebal.


"Apaan sih Tha, dia sendiri yang mau nyatain perasaan cintanya ke lo." ucap Febri.


"Jakson, gini ya bukannya aku gak mau cuma emang aku gak boleh pacaran terus kan kita masih kecil harusnya tugas utama kita belajar bukan pacaran." Agatha berceramah sambil melirik sinis ke arah Riska dan Febri.


"Mamaa... Jakson di tolak...!!" tiba-tiba suara tangisan itu terdengar kencang di seluruh koridor membuat anak-anak lain melihat aneh ke arah Jakson sedangkan tiga sahabat itu sama-sama melongo bingung berlari kencang membuat Riska langsung tertawa terbahak-bahak di lanjutkan Febri dan Agatha.


Flashback off


Agatha yang mengingat kejadian itu hanya bisa tertawa sambil menangis keduanya terjadi bersamaan membuat hatinya semakin pedih. Tak lama Riska dan Febri keluar dari gerbang muncul adegan yang menganggu pengelihatan Agatha seorang cowok sedang merangkul cewek berbando pink.


"Aldo?" nama itu tiba-tiba terucap di bibir Agatha, mengapa ada perasaan tidak suka melihat kedua sejoli itu bersama sekarang mereka telah naik motor berdua dengan Steffi yang memeluk Aldo.


Agatha mengingat dulu ia lah yang sering duduk disitu namun sekarang posisinya sudah tergantikan.


" gue kan bukan siapa-siapanya Aldo, lagian gue bukan cewek pertama yang duduk disitu."


Bukannya Aldo tidak melihat Agatha, ia melihat jelas bagaimana Agatha sedang menangis rasanya detik ini juga ia ingin menghampiri Agatha memeluk, mengelus puncak kepala gadis itu.


Saat melihat Agatha menangis hatinya juga ikut bersedih, ia ingin mengubah tangisan menjadi tawa mengukir sejuta kebahagiaan diwajah gadis itu namun apalah daya Aldo.


Ia tak pernah dianggap bahkan dia bukan perioritas Agatha hanya sejak awal Aldo tahu Alvin akan selalu menang darinya Alvin si jenius itu akan selalu disayang papa dan mamanya Juga gadisnya. Jadi Aldo memilih mundur.


'setelah saat ini semua tentang mu bukan lagi khawatiranku.


Sudah cukup Agatha menangis, ia harus bangkit apalagi ketika mengingat mendingan sang mama yang mendidiknya menjadi gadis kuat kemudian ia melihat kearah tiket yang ia pegang ditangannya, lebih baik ia menyimpannya siapa tahu besok Alvin masuk sehingga ia dapat memberikannya.


Dua hari berlalu dan Agatha merasa ada yang aneh mengapa Alvin belum masuk sekolah apa mungkin ia sakit? Ia jadi teringat buku yang pernah Alvin baca apa mungkin? Ah dia tidak mau kejadian yang ada di film dan novel romantis yang ia baca menjadi kenyataan di kehidupan percintaannya.


"Pokoknya pulang sekolah gue mesti ke rumah kak Alvin." janji Agatha


Waktu pulang sekolah pun tiba sehingga Agatha dengan gerakan cepat berlari menuju gerbang karena ojek online pesanannya sudah tiba sedari tadi. Dalam setiap langkahnya sebenarnya ia juga memikirkan Aldo juga tidak masuk sejak hari dimana ia melihat Aldo dan Steffi pulang bersama.


"Dia udah beda banget ya Ris." ucap Febri tersenyum pilu melihat Agatha sudah seperti orang yang tidak dikenalnya.


"Iya sekarang semua serba kak Alvin, gue nyesel dukung dia kejar kak Alvin." lanjut Riska sambil membereskan buku.


"Gue gak terlalu suka janji tapi lebih ke bukti ya Ris." Febri merangkul Riska penuh kasih sayang.


"Tenang aja ayang beb Riska kan ada Abang Okky yang bakal nemanin kamu disaat Febri pacaran." ucap Okky tiba-tiba sudah berada di samping Riska.


"Ih apaan lagi sih lo? Kayak s3t4n aja tau-tau udah muncul, jangan-jangan lo keturunan tuyul?" tanya Riska mendorong Okky.


"Kok kamu tau, makanya aku telah mencuri hati kamu." ucap Okky membuat satu kelas tertawa hebat, memang bukan rahasia umum lagi bahwa Okky memang menyukai Febri dan berusaha mendekatinya namun Riska selalu menolak karena Okky memang cowok lebay yang menj1j1kan.


"Pantes duit anak kelas sering hilang, ternyata ada tuyul!" ucap Rangga tertawa.


"Udah deh lo sana, gue tuh j1j1k sama lo bisa alergi Deket lo. Bye maksimal" ketus Riska menarik Febri pergi sedangkan Rangga hanya menertawakan nasib percintaan sahabatnya itu.


"Sob, mohon bersabar ini ujian." ucap Rangga setelah itu kembali tertawa.


"Ehh lo pada kenapa ikut tawa? Bubar...bubar!" ucap Okky kesal malah membuat tawa semakin kencang.


Setelah semua anak bubar, Rangga berinisiatif untuk mengajak Okky.


"Ky, ke rumah Aldo yuk dia kan udah gak masuk dua hari."ucap Rangga dan dibalas anggukan oleh Okky.


Agatha sekarang sudah sampai di depan gerbang rumah minimalis nah mewah.


"Masuk..enggak..masuk...enggak?" Agatha sedang menimbang-nimbang namun dorongan kuat dari dalam hatinya untuk menjawab segala rasa penasaran di hatinya membuat ia akhirnya mengetuk pintu dan hal pertama yang ia lihat adalah seseorang yang ia rindukan.


"Kak Alvin," ucapnya tersenyum sopan.


"Agatha?" Alvin juga tersenyum sangat ramah.


"Masuk dulu yuk." Alvin mempersilahkan Agatha masuk.


ia merindukan suasana rumah itu hampir setiap hari ia kesini untuk bersama dengan Alvin berbincang tentang apapun seperti seorang kekasih.


"Agatha mau minum apa?" tanya Alvin.


"Apa aja kak,"


"Yaudah bentar ya saya buatkan dulu." ucap Alvin membiarkan Agatha melepas rindu dengan setiap detail rumah ini.


"Bibi!" sapa Agatha saat bertemu bibi.


"Udah lama gak ngeliat non kesini." ucap bibi ramah.


"Iya nih bi baru sempet." ucap Agatha.


"Oh iya, mau dibuatin minum apa non?" tanya bibi.


"Gak usah bi, udah dibuatin kak Alvin." ucap Agatha tersenyum.


"Perasaan tadi den Alvin lagi suapin non Laras, kok udah turun ke bawah aja ya?" tanya bibi langsung membuat Agatha kaget.


"Laras?" tanya Agatha pelan namun terdengar oleh bibi.


"Iya non Laras itu kan pacarnya den Alvin yang baru pulang perawatan dari China." lanjut bibi dengan polosnya membuat Agatha hanya terdiam.


"Agatha maaf ya agak lama." Alvin saat meletakkan secangkir teh di atas meja tapi, Agatha masih saja terngiang dengan kata-kata 'pacarnya'


"Agatha? Kamu kenapa?" tanya Alvin melambaikan tangan sedetik kemudian Agatha sadar.


Bersambung.........