
"Jadi kita kemana?" ucap Aldo saat sudah keluar dari komplek.
"Toko buku di jalan angkasa." jawab Agatha, setelah pembicaraan itu tidak ada lagi yang mengeluarkan suara masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
Agatha sedang menikmati udara dan pemandangan sore hari dan Aldo sedang tersenyum dibalik helmnya melihat gadisnya sedang menutup mata menikmati angin sore yang berhembus, sekarang ia hanya ingin gadisnya bahagia walau mungkin tidak bersama dirinya.
Aldo sudah memakirkan motornya di depan toko buku terlengkap yang ada di daerah itu, Agatha juga sudah turun dari motornya.
" lo boleh balik." ucap Agatha dingin dan mendapatkan Jawaban dari ekspresi wajah Aldo yang kebingungan.
"Iya lo balik sekarang, budek ya lo?" tanya Agatha kesal melihat ekspresi wajah Aldo.
"Gue temanin." ucap Aldo lagi.
"Tadi kan lo cuman bilang mau nganterin?" Tanya Agatha melihat tingkah laku Aldo yang semakin lama membuatnya jengkel, mengapa seperti takdir selalu membuat Agatha berdekatan dengan Aldo? Pertanyaan besar itu membuat Agatha mematung.
"Suka-suka gue lah, toko buku ini bukan punya lo kan? Siapa aja berhak ada di dalam." ucap Aldo langsung turun dari motornya dan melangkahkan kaki masuk sedangkan Agatha hanya mengikuti.
Setelah lima belas menit membeli segala keperluan OSIS, Agatha pun melangkahkan kakinya keluar di ikuti Aldo.
" lo mending pulang aja, lo gak sadar apa orang-orang di dalam itu liatin luka lo dan seragam lo yang udah berantakan." ucap Agatha kesal
sedari tadi melihat pandangan aneh yang di tunjukan orang-orang kepada Aldo dan dirinya karena Aldo berjalan bersama Agatha.
"Gue gak perduli tuh kata orang." ucap Aldo dengan santai.
"Ya paling enggak kalau lo gak perduli apa kata orang, sedikit aja perduli sama diri lo." ucap Agatha menaikan suaranya satu oktaf.
"Lo khawatir sama gue?" kata-kata itu langsung menancap tepat pada jantung Agatha.
membuat dirinya diam tak berkutik sekarang kata-kata itu berhasil menjadi mantra yang berputar-putar di otak seolah memastikan bahwa apa benar ia khawatir pada bad boy sekolahan itu?
"Khawatir? Gak ada sedikitpun rasa itu terlintas dalam benak gue." ucap Agatha cepat membuat Aldo nyengir.
"Ayo gue antar pulang." Aldo akhirnya mengalah dari perdebatan itu.
"Gak usah, gue bisa pulang sendiri." lagi-lagi Agatha keras kepala.
"Yakin mau pulang sendiri dengan belanjaan sebanyak itu?"Aldo nyengir melihat betapa banyak paper bag yang Agatha pegang.
"Gue gak suka di remehin!" ucap Agatha menantang.
"Gue tunggu sampai lo dapet taksi, kalau dalam 15 menit kedepan lo gak dapet. Lo gue antar pulang." ucap Aldo tegas.
ia yakin gadisnya itu memang terlampau keras kepala maka dari itu ia membuat suatu perjanjian yang menguntungkan. Ia tahu tidak akan ada taksi atau angkutan umum yang melewati jalan itu pada sore hari.
Setelah 15 menit menunggu dugaan Aldo benar tidak ada satupun kendaraan umum bahkan taksi yang lewat. Agatha menghela nafasnya melihat senyuman kemenangan tercetak jelas di wajah Aldo, ia bingung dengan
Perasaannya sebenarnya ia hanya tidak ingin terus berdekatan dengan pembuatan masalah itu hanya itu saja, tapi sebuah pernyataan lain muncul di hatinya. Atau ia hanya ingin Aldo segera pulang dan mengobati lukanya yang sangat parah itu?
"Gue bisa pesan ojek online, mending lo pulang." ketus Agatha lagi.
"Kenapa sih lo tuh keras kepala banget?" tanya Aldo yang kesal melihat gadisnya terus-terusan keras kepala.
"Kenapa sih lo selalu maksa gue?!" tak mau kalah Agatha kembali menantang, Aldo menghela nafas, ia sudah cukup lelah hari ini dengan semua hal, dan tidak ingin menguras energi dengan bertengkar.
"Gue antar lo pulang sekarang!" perintah itu dengan suara dingin yang sama seperti tadi membius Agatha membuat cewek itu akhirnya menaiki motor sport hitam itu.
Dalam perjalanan tidak ada satupun dari mereka yang mau membuka suara, sama seperti ketika pergi mungkin mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Agatha tersadar ketika ia sampai di rumahnya.
"Ayo masuk." pernyataan itu membuat aktivitas Aldo yang tadi ingin menyalahkan motornya pun berhenti.
"Jangan pikir aneh-aneh ya, gue suruh lo masuk sebagai ucapan terimakasih aja. Gak lebih." Agatha memberikan penekanan di bagian akhir kalimatnya, sikap gadisnya itu membuat Aldo terkekeh dan memakirkan motornya di dalam pekarangan rumah Agatha.
"Agatha, kenapa baru pulang?" tanya Oma lembut melihat cucu yang paling disayanginya terlihat lelah.
"Maaf Oma, tadi Agatha mampir ke toko buku buat beli perlengkapan buat MOS disekolah besok." Agatha memeluk Omanya sebagai tanda sayangnya pada seseorang yang sangat ia sayangi, yang sudah mengantikan posisi mamanya selama 10 tahun belakangan ini.
"Permisi." suara bariton itu menginterupsi suasana haru antara cucu dan Oma, membuat Oma melihat ke arah pintu siapa pemilik itu.
"Siapa ya?" tanya Oma merasa kedatangan tamu tak diundang.
"Teman Gatha, Oma." ucap Aldo bersalaman dengan Oma, Oma pun tersenyum melihat Aldo lah laki-laki pertama yang Agatha bawa ke rumah ini.
"Jadi cuma teman ya?" Oma berusaha menggoda kedua insan muda ini.
"Pengennya sih lebih, Oma." ucap Aldo terkekeh.
"Lo tuh jangan ngarep deh!" begitu pernyataan yang Agatha buat membuat Aldo masih tersenyum melihat reaksi gadisnya yang sudah ia duga.
"Oma, kotak p3k dimana ya?" tanya Agatha.
"Coba kamu cek di dekat dapur." ucap Oma dan Agatha segera melangkahkan kakinya ke dapur dan menaruh semua barang yang telah ia beli dilamarnya.
"Jadi Aldo teman Gatha di sekolah?" tanya Oma melihat seragam Aldo.
"Iya Oma betul banget." Aldo memang bad boy tapi, ia tetaplah orang yang humoris.
"Hehe... Iya nih Oma, maaf ya kalau saya gak sopan dengan dandanan kayak gini." Aldo kikuk.
" Terkadang kita bisa membuktikan kita hebat bukan hanya dari otot, tapi juga bisa dengan otak yang kita punya." ucap Oma tersenyum.
"Dia mana punya otak Oma." sebuah suara datang dari arah dapur, perkataan itu langsung saja membuat Oma dan Aldo kaget.
"Hush, Gatha jangan sembarang bicara." ucap Oma melihat Aldo yang sekarang sudah terkekeh.
"Apa yang di bilang Gatha benar kok Oma." Aldo tersenyum.
"Maafin Gatha ya, dia emang suka gitu." ucap Oma tersenyum melihat Aldo yang sama sekali tidak tersinggung.
"Iya gapapa Oma saya tahu Agatha cuman tampak menyebalkan kalau dari luar tapi, hatinya baik."
"Yaudah kalau gitu Oma tinggal ke dalam untuk bikin minuman." Oma melangkahkan kakinya ke dapur.
"Jangan sok baik di depan Oma!" ketus Gatha kesal.
"Gue emang baik, lo aja yang gak pernah liat sisi baik gue."ucap Aldo terkekeh.
Agatha memutar kedua bola matanya jengah.
" nih!" ia memberikan kotak p3k nya.
"Masa gue ngobatin diri sendiri sih?" tanya Aldo memancing Agatha.
"Terus?" tanya Agatha seperti sudah tahu arah pembicaraan Aldo.
"Ya lo obatin dong,"
"Ogah!" Agatha menjawab dengan cepat.
"Kalau gitu mah mending gue obatnya di rumah." ucap Aldo lagi.
"Yaudah sana pulang!" Agatha dengan gaya yang angkuh.
"Lo kok udah mau pulang aja, Aldo?" tanya Oma yang membawakan teh manis hangat.
"Biarin aja Oma, lagian udah malam kan." Agatha masih saja dengan gayanya yang tidak berubah.
"Agatha, kenapa kamu jadi gak perduli gini sama orang lain? Kalau ada teman yang kesusahan harusnya kamu bantu." ucap Oma yang terlihat kecewa.
Agatha segera sadar akan sikap Oma jadilah ia dengan segera menarik kotak p3k itu.
"Oma tinggal ya." Oma lagi-lagi tersenyum melihat dua insan itu.
"Bikin susah orang aja." gerutu Agatha yang di balas cengiran kemenangan Aldo.
Dengan cepat Agatha mengobati Aldo di bagian pelipis, sudut bibir, kening, dan lengan.
"Makasih ya." ucapan itu keluar dengan senyum paling tulus yang Aldo punya, sedari tadi ia tidak berhenti menatap Agatha yang begitu telaten mengobatinya.
"Gak sama-sama." ucap Agatha kesal melihat belakangan ini ia selalu saja dekat dengan bad boy dihadapannya ini, Aldo kembali terkekeh dan meminum teh hangatnya.
"Teh nya manis ya kayak lo." ucap Aldo tiba-tiba membuat Agatha yang sedari tadi melamun kaget tapi, segera ia menetralkan suasana hatinya.
"Pulang sana!" Agatha dengan suara jengkelnya.
"Ngusir?" tanya Aldo.
"Udah tau pake tanya!" jawab Agatha lagi.
Aldo lagi-lagi terkekeh dengan kelakuan angkuh Agatha.
" gue mau pamit dulu sama Oma." ucap Aldo.
"Sejak kapan bad boy jadi good boy?" sindir Agatha.
"Sejak dekat sama Ketos yang good girl." ucap Aldo cepat membuat Agatha naik d4r4h, ia tidak mau dekat sama Aldo itu pikirnya.
"Aldo sudah mau pulang ya?" Oma melihat Aldo yang sudah berdiri.
"Iya nih Oma, abisnya yang punya rumah udah suruh saya pulang." Aldo melihat ke arah Agatha dengan tersenyum dan Oma juga ikut tersenyum dengan tingkah kedua anak muda ini.
"Lain kali main-main lagi kesini ya Aldo ucap Oma.
"Pasti Oma." balas Aldo cepat.
"Gak bakal gue izinin." ucap Agatha yang membuat Oma melirik ke Agatha menginterupsi perkataan Agatha.
"Yaudah saya pamit Oma, permisi." ucap Aldo yang menjabat tangan Oma.
Bersambung.........