
"Ah iya kak, saya gapapa." Agatha kikuk.
"Jadi kamu kesini ada apa ya?" tanya Alvin.
"Hmm...cuma mau jenguk kakak, saya pikir kakak sakit soalnya udah gak masuk dua hari dan tiba-tiba abis dari perpustakaan saya gak liat kakak lagi di sekolah." Agatha menjelaskan.
"Oh itu, saya ada keperluan mendadak jangan khawatir saya gapapa kok." Alvin tersenyum.
"Saya juga takut pikiran saya macam-macam pas kakak baca buku tentang kanker di perpustakaan." ucap Agatha terkekeh dan di balas senyuman oleh Alvin.
"Saya makasih kalau ada yang perhatian sama saya, kamu jadi cewek baik banget." Alvin mengusap puncak kepala Agatha,
la merindukan sentuhan Alvin biasanya Alvin akan mengusap lembut rambutnya bila Agatha melakukan hal lucu seperti ini.
"Vin," sebuah suara membuyarkan adegan romantis mereka berdua seorang wanita digendong oleh seorang pria turun dari tangga dan dibawah bibi telah mempersiapkan sebuah kursi roda wajah wanita itu tampak pucat seperti seseorang yang telah sakit parah.
"Do, kan kakak bilang jangan bawa Laras turun." ucap Alvin menghampiri mereka berdua sedangkan Agatha hanya terpaku diam.
"Laras butuh udara sore juga." ucap Aldo ketus lalu menurunkan Laras di kursi roda, matanya langsung bertemu mata Agatha namun Aldo segera memutuskan kontak mata tersebut.
"Ah iya hampir aja lupa, Agatha sini." ajak Alvin lembut dan Agatha langsung tersadar dan segera menghampiri Alvin.
"Ini Laras." ucap Alvin.
"Laras, ini Agatha adik kelas aku." Alvin memperkenalkan dan Agatha terlebih dahulu mengulurkan tangan di sambut baik oleh Laras.
"Yaudah kalau gitu saya pamit dulu ya, soalnya sudah sore."ucap Agatha tersenyum.
"Cepet banget padahal kita belum ngobrol banyak." ucap Laras teramat lembut sambil tersenyum walaupun Laras sangat kurus, wajahnya pucat, kesan cantik melekat erat pada dirinya.
"Mungkin next time ya." Agatha membalas senyuman itu.
"Iya sering-sering kesini ya temanin aku, masa aku ditemani sama dua cowok ini doang. Bosen liat muka mereka mulu."Laras membuat Agatha terkekeh sedangkan Alvin dan Aldo cemberut.
"Jadi bosen sama aku?" tanya Alvin mengelus puncak kepala Laras sedangkan tangan yang lain merangkulnya.
"Bukan gitu Vin, kan enak kalau punya teman cewek."
"Iya, aku sempetin waktu untuk main kesini ya." ucap Agatha kepada Laras, sedangkan hatinya sudah perih melihat kemesraan yang terpampang di depan mata.
"Saya pamit," ucap Agatha namun langkahnya terhenti.
"Gue gak bisa, kalau mau lo aja biar gue yang jaga Laras."ucap Aldo ketus membuat sesuatu yang tidak nyaman dihatinya mengapa luapan emosi menggebu-gebu di hatinya sekarang ia sedang menahan itu.
"Saya bisa pulang sendiri kok, permisi." ucap Agatha.
Saat sampai depan pintu gerbang tak terasa tetesan air mata mengalir begitu saja di pipi mulus Agatha kenapa rasanya sangat sakit bersamaan melihat dulunya dua orang yang begitu dekat dengan dengannya sekarang begitu memperhatikan wanita lain.
"Tha, lo kenapa?" tanya Okky yang baru datang bersama Rangga membuat Agatha kaget.
"Eh...enggak, oh iya ini gue punya dua tiket konser buat lo berdua, gue balik dulu ya." Agatha memberikan tiket konsernya pada Okky dan Rangga kemudian berjalan cepat meninggalkan mereka.
"Aneh deh tuh sih Agatha kok tiba-tiba ngasih tiket konser musik gratis, nangis terus kabur?" tanya Rangga.
"We gue rasa ada yang gak beres nih didalam." ucap Okky.
"Si Aldo ngapain anak cewek orang nih?" Rangga berucap cepat setelah itu mendapat jitakan dari Okky.
"Pikiran lo terlalu jauh!" ucap Okky kemudian mereka berdua masuk kedalam rumah.
Agatha pulang dalam keadaan mata bengkak dan hidung memerah, rasanya dunianya runtuh disaat melihat Alvin memperlakukan gadis lain dengan begitu romantis karena bagi Agatha, Alvin lah dunianya dimana hatinya ia serahkan kepada Alvin. Mimpinya sedikit lagi tercapai jika saja Laras gadis cantik nah rupawan itu tidak datang.
Agatha menghempaskan dirinya ke kasur menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan berharap mimpi buruk ini usai, inilah kenyataan yang harus ia terima
Agatha harus bersaing dengan dua wanita sekaligus Mila dan Laras dan anehnya lagi mengapa bukan semangat menggebu untuk persaingan yang ia rasakan tapi lebih ke arah kehancuran hati yang tak berujung,
Tiba-tiba kalimat Aldo yang menolak untuk mengantarnya pulang Agatha terngiang jelas di setiap katanya seolah ada penekanan jika dulu Agatha lah yang menolak Aldo mentah-mentah bersikap kasar dan acuh sekarang semuanya berbanding terbalik Aldo menolak Agatha di depan Laras dan Alvin, Aldo lebih memilih menjaga Laras mengapa ia tidak suka melihatnya, ada rasa panas di hatinya.
Apa ini cemburu?
Tidak mungkin Agatha menyukai kakak beradik itu, sungguh serakah, ia bingung hatinya ia jatuhkan untuk siapa semua pertanyaan itu membuat kepalanya sakit namun tak terasa air mata mengalir deras, matanya tertuju pada sebuah kotak segera ia mengambilnya dan membuka isi kotak itu senyuman getir tercetak jelas di wajah Agatha merindukan si pemberi kotak.
"Gue bahkan gak ingat pernah lempar novel ini ke lo!" Agatha yang memang sudah lupa kalau itu novel kesayangannya, membaca adalah kesukaannya hal favorit yang selalu ia lakukan bila tidak ada pekerjaan
Namun anehnya ia tak bisa membaca jalan kisah percintaannya sendiri yang ia tahu sekarang ada perasaan liar yang tumbuh di hatinya kepada seseorang yang tak pernah ia perhitungkan si bad boy sekolah yang selalu menjadi musuh bebuyutannya.
Agatha memilih larut dalam tidurnya dengan sisa air mata sambil mendekap novel pemberian orang yang sekarang memiliki ruang di hatinya tanpa dia sadari.
Bersambung........