
"Pagi Pa, Oma, kak Gea." sapanya kemudian duduk dimeja makan dan setelahnya Agatha hanya melamun membuat suasana meja makan yang biasanya penuh canda tawa kini menjadi tegang.
"Aldo gak jemput kamu?" tanya papa.
"Enggak pa," jawan Agatha singkat sambil meminum susunya.
"Kenapa?" tanya papanya lagi.
"Dia gak masuk hari ini, jangan tanya aku alasannya kenapa aku juga gak tau." ketus Agatha, ya dia kembali menjadi cewek jutek yang tak memiliki ekspresi seisi ruangan seakan paham akan apa yang sedang terjadi pada Agatha jadi mereka memilih bungkam.
Suasana kelas XI IPA 1 sangat berisik pagi itu, sedang membahas mengapa matematika itu harus terdiri dari angka-angka yang sulit di pahami.
"Kenapa sih matematika gak nyelesain masalahnya sendiri, pakai acara minta bantuan kita!" ucap Zaki kesal kepada beberapa siswa yang hanya bisa menertawakannya.
"Kalau gak ada angka namanya bukan matematika, dodol banget sih!" ucap Tari kepada Zaki dan seterusnya candaan itu bergulir mengisi ruangan itu.
"Tha, lo kenapa?" tanya Febri bingung saat melihat Agatha seperti dirinya yang dulu tidak bersemangat, menjadi pendiam serta bersikap acuh tak acuh pada sekelilingnya.
"Gue gapapa kok Feb." ucap Agatha mengusap wajahnya kasar.
"Kalau ada masalah tuh diceritain atuh neng, lo anggap gue sama Febri apa?" tanya Riska.
"Pulang sekolah kalian bisa gak jangan pulang dulu?" tanya Agatha uang mendapat tatapan bingung dari kedua sahabatnya.
"Gue mau cerita." ucap Agatha pelan dan cepat Riska dan Febri mengangguk.
"Lo nih suka banget berasumsi!" ucap Riska saat Agatha selesai menceritakan masalahnya.
"Kadang ya Tha, apa yang kita pikirin tuh belum tentu kenyataannya." timpal Febri.
"Ya memang sampai sekarang gue bingung harus kayak gimana, disatu sisi gue kepo dan disisi lain gue gengsi kan yang salah Aldo, dia yang pelukan sama Laras masa ia gue yang chat dia duluan?" tanya Agatha sebal.
"Dalam hubungan tuh jangan gedein gengsi, lo harus pelajar paham gak selamanya cowok harus memulai duluan. Kita sebagai cewek juga harus pengertian, siapa tau sekarang Aldo dalam masalah dan dia butuh lo." Riska menasehati dan disetujui oleh Febri.
"Jadi gue mesti gimana?" tanya Agatha masih tidak paham dengan ini semua.
"Hubungi dia, dan jadi pendengar yang baik." ucap Febri tersenyum, lalu mereka bertiga berpelukan. Inilah peran sahabat dalam kehidupan kita, bukan?
Sedari tadi Agatha seperti orang gelisah berjalan kesana kemari di dalam kamarnya dengan pintu yang terbuka.
"Gatha ngapain? Kayak setrika mondar-mandir gitu?" tanya Oma.
"Gapapa Oma, biasa anak muda masalah percintaan."ucap Agatha santai tidak mau membuat Oma ikut memikirkan masalahnya.
"Oma siap dengarin cerita Agatha," ucap Oma tersenyum.
"Agatha yakin masih bisa selesaikan ini sendiri." Agatha tersenyum manis.
"Cucu Oma sudah dewasa, Oma bangga." Oma memeluk Agatha.
Sekarang Agatha benar-benar yakin pada keputusannya, ia akan menelpon Aldo duluan untuk menanyakan apa yang terjadi pada Aldo. Percobaan pertama sampai ketujuh kali tak berhasil, Aldo tidak mengangkatnya karena sudah terlanjur penasaran Agatha mencoba menelpon ke nomor rumah Aldo dan pada nada berdering ketiga.
"Halo, selamat malam ini dengan siapa?" sebuah suara bersahaja bibi memasuki telinga Agatha.
"Halo bibi, ini Agatha," ucapnya tersenyum.
"Non Agatha, bibi kangen. Apa kabar?" tanya bibi.
"Baik bi, bibi gimana?"
"Baik non, ada apa non tumben telepon kesini?"
"Hmm.. gini bi, tadi aku coba telepon Aldo berkali-kali cuma gak di angkat. Dia ada di rumah gak ya bi?"
"Oh den Aldo, dia lagi anterin neng Laras periksa ke dokter kandungan."
Deg..
Agatha tidak dapat mengontrol degupan jantungnya, seperti dunianya berhenti berputar kemudian ia hanya menekan tombol merah pada layar ponselnya tidak menghiraukan bibi yang memanggil namanya.
"Dokter kandungan?" tanya Agatha.
air matanya turun dengan deras dan sekarang ia hanya dapat memeluk bantalnya sambil terisak mencoba menahan j3ritan hatinya yang terdalam menandakan goresan luka yang kemarin saja belum sembuh sekarang luka menganga itu kembali dibuat membesar.
"Jika cinta bisa membuat seorang perempuan setia pada satu laki-lak, kenapa cinta tidak bisa membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan saja?"
Aldo melihat 7 panggilan tak terjawab dari Agatha, handphonenya memang lupa ia bawa karena terburu-buru melihat Laras merintih kesakitan. Aldo mencoba menghubungi Agatha, ia tahu pasti Agatha khawatir atau bahkan ia sudah siap mental bila Agatha memarahinya.
"Tha, ayo dong angkat." Aldo resah tapi hasilnya nihil sudah 21 kali Aldo mencoba tapi tidak ada satupun yang berhasil.
"Den Aldo lagi telepon non Agatha ya?" tanya bibi memperhatikan Aldo.
"Tadi dia sempat telepon kesini, nanyain den Aldo katanya dia sudah telepon aden berkali-kali tapi tidak diangkat. Saya bilang kalau Aden lagi anter non Laras periksa kandungan."ucap bibi polos tapi membuat Aldo terbelalak, jadi ini inti masalahnya Aldo bak di hantam bola besi yang telak mengenai hatinya.
"Yaudah bi makasih ya infonya." Aldo segera masuk ke kamarnya.
ia panik bagaimana ini masalah yang kemarin saja pasti sudah membuat Agatha marah dan kecewa ditambah info mendadak yang di berikan bibi pasti kekasihnya itu akan semakin meledak. Aldo bertekad akan menemui Agatha esok saat di sekolah jadi ia mengirimi Agatha sebuah pesan singkat.
"Aku jemput kamu besok pagi, aku bisa jelasin semuanya. Good night Gatha, love you!"
Begitulah pesan yang dikirimkan Aldo, ia berdoa semoga hubungannya dan Agatha akan baik-baik saja.
Agatha melihat sebuah notifikasi pesan dari Aldo, sedari tadi ia menahan diri tidak ingin bersinggungan dengan elektronik canggih itu namun tangannya tidak tahan untuk membaca pesan Aldo dan ia langsung membalas.
"Gak usah, gue bisa pergi sendiri."
Begitulah pesan balasan dari Agatha untuk Aldo, kemudian ia segera mematikan ponselnya ia. Menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya yang teramat kacau itu, bukan hanya wajah, hatinya pun kacau.
"Bullshit!" itulah kata pertama Agatha saat sampai di sekolah kepada kedua sahabatnya dengan mata membengkak dan wajah yang lesu.
"Siapa yang bullshit, Tha?" tanya Riska bingung.
"Aldo!" ucapnya terang-terangan membuat Riska dan Febri tercengang, dan detik berikutnya Agatha menceritakan alasannya dibalik kacaunya ia saat ini.
Saat ini Agatha bersiap menuju gerbang sekolah, rasanya penat ia memikirkan rumus fisika tadi.
"Agatha." ucap seseorang dan membuat Agatha berhenti berjalan, ia kenal betul suara itu ya suara yang ia amat rindukan sekaligus suara yang tak ingin dengar dalam waktu dekat.
"Aku mau ngejelasin semula, kamu salah paham!" ucap Aldo.
"Sekarang cewek lo Laras, bukan gue!" bentak Agatha saat tangannya dicekal.
"Kamu ngomong apa sih Tha, aku yakin ini salah paham karena kamu belum tahu cerita yang sesungguhnya." Aldo tampak sama kacaunya dengan Agatha.
"Gua mau balik, lepasin! Atau gue teriak!" bentak Agatha kencang sampai murid yang berada disana menoleh ke arah pasangan itu tetapi Aldo tetap bertahan pada prinsipnya Aldo akan menjelaskan kepada Agatha, ia tidak ingin hubungannya hancur.
"Lepasin! Ribet banget sih!" bentak Agatha lagi.
Riska, Okky, Febri, dan Rangga yang baru saja ingin menghampiri mereka tertahan di posisinya, Aldo masih tetap mencekal tangan Agatha.
"Lepasin gue sekarang atau kita putus?!" bentak Agatha tampak air matanya mengalir deras dan nafasnya memburu seperti ada luapan emosi hebat yang mengguncang perasaannya saat ini dan detik berikutnya Aldo lemas dan melepas cekalannya.
Agatha berlari ke arah gerbang sekolah, sambil sesekali menghapus air matanya dan Aldo hanya bisa diam terpaku di posisinya saat ini dan dari kejauhan Alvin melihat semua kejadian ini gara-gara dirinya sang adik harus mengorbankan hubungannya dengan Agatha. Ia juga hancur tapi ia bingung dengan semua keadaan yang yang diperhadapkan padanya.
Sudah seminggu Agatha dan Aldo membuat jarak tak kasat mata, pastinya semua pihak sadar akan ini dimana Aldo yang berusaha mendekati Agatha tapi berakhir dengan Agatha yang menghindar atau kadang Agatha menjadi marah besar kembali kepada sikapnya sebelum pacaran sama Aldo.
Semua sahabat mereka sudah mengupayakan yang terbaik yang terbaik untuk membantu kedua sejoli itu tapi hasilnya nihil Agatha tetap keras kepala dan tidak mau mengerti, Agatha selalu bilang bahwa ia tidak ingin masalahnya dengan Aldo menganggu ujiannya saat ini dan Riska serta Febri paham akan hal itu.
Malam ini Riska dan Febri memilih menginap di rumah Agatha, karena UAS sudah berakhir dan mereka tentu ingin merayakan hasil yang mereka dapat tapi masih dengan Agatha yang sangat kacau tampak biasa saja dari luar namun sangat rapuh didalam.
"Tha, gue sama Febri mau bicara jujur,karena selama ini lo gak mau kasih kesempatan sama kita, apalagi Aldo." ucap Riska pelan takut-takut sahabatnya ini kembali marah.
"Kalian mau ngomong apa lagi soal dia?" Agatha menghela nafas.
"Tentang apa yang sebenarnya terjadi sama Laras." ucap Febri.
"Ini tuh gak seperti yang ada di pikiran lo, bukan Aldo yang ngelakuin itu Tha tapi idola lo!" ucap Riska.
"Siapa? Kak Alvin?" tanya Agatha penasaran dengan arah pembicaraan ini.
"Iya, dan Alvin gak mau tanggung jawab!" Riska mulai kesal ketika mengingat cerita Aldo.
"Kalian tahu darimana? Aldo? Masih gak masuk di logika gue."
"Lo gak percaya sama pacar lo sendiri? Aneh!" ucap Febri.
"Alvin emang keliatannya baik, Aldo sebaliknya tapi sekarang keadaan udah berbalik Tha." kembali Febri coba menjelaskan.
"Gue pengen denger cerita ini dengan jelas." ucap Agatha tegas
dan diwaktu selanjutnya Riska membuka pembicaraan itu dan kemudian menceritakan sesuai yang Aldo ceritakan tentang keadaan Laras yang sedang mengandung anak Alvin karena kesalahan yang mereka lakukan ketika Alvin dan Laras sedang berada di Yogyakarta, tentang Alvin yang terpukul dengan kejadian ini dan masih tidak percaya sehingga dengan sangat p3ng3cutnya Alvin menghindari Laras, Aldo yang harus mengurus Laras.
Aldo sangat menyayangi Laras lebih dari apapun dan Laras adalah wanita yang harus ia jaga dan lindungi apapun yang terjadi baginya Laras adalah wanita terpenting setelah sang mama.
"Kenapa dia gak jujur sama gue dari awal? Kalian tahu kan gue ngeliat mereka pelukan, Aldo gak ngejelasin dan seolah lupa kalau dia udah punya gue? Terus dia tiba-tiba datang mau ngejelasin tanpa minta maaf?" Agatha mulai emosi dengan semua yang terjadi pada hubungannya padahal ini barulah awal dari hubungannya.
"Waktu itu dia pengen ngomong sama lo, tapi lo buru-buru ucapin kata terlarang dalam sebuah hubungan." Febri menghela nafas mengingat kejadian di lapangan.
"Emang ini sepenuhnya salah gue ya? Gue kan cuma gak mau kehilangan Aldo, gue cemburu sama Laras, emang salah?"jawab Agatha yang mulai terisak.