Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin

Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin
#51 Aldo Nikah?



"Kita gak bilang lo salah, cuma respon lo ke Aldo yang kurang tepat disaat dia dapat masalah kayak gini Tha. Lo seharusnya paham gimana posisi Aldo sekarang." Riska menatap sedih ke arah Agatha.


"Kadang cemburu gak pada tempatnya bisa buat suatu hubungan hancur lho." Febri kini duduk mendekati Agatha mencoba menguatkan sahabatnya yang teramat rapuh sekarang.


"Jadi gue harus gimana?" tanya Agatha selalu bingung dengan hal apa yang harus dilakukannya sekarang.


"Temuin Aldo, dan lo harus berusaha paham posisi dia. Dia tuh butuh lo sekarang." Riska juga menyusul untuk duduk di samping Agatha, di saat kepalanya pusing memikirkan masalah Aldo hanya Riska dan Febri yang menjadi obat terbaik untuk menutupi luka.


Hari ini adalah hari Sabtu dimana Aldo sedang berjalan kaki ke arah minimarket untuk membelikan Laras susu khusus ibu hamil, seharusnya ini adalah tugas Alvin namun laki-laki itu seperti orang aneh yang selalu saja mengurung diri di kamar sehabis pulang sekolah atau bila tidak sekolah ia sama sekali tidak akan keluar dari kamarnya, hanya akan keluar bila ia ingin makan saja.


Aldo tak habis pikir Alvin yang merupakan kebanggaan orang tuanya selalu di puja oleh banyak orang mempunyai mental tempe, tapi walau bagaimanapun Alvin tetaplah kakak Aldo jika dulu ia mengingat bagaimana ketika SD Alvin yang sangat pendiam selalu saja di bela oleh Aldo yang sedari dulu memiliki sifat pemberani.


Sedangkan Alvin akan selalu dengan sabar dan telaten mengajari Aldo tentang semua pelajaran sampai pada pelajaran hidup pun pernah Alvin berikan, dulu mereka saling melengkapi layaknya saudara sejati namun sekarang mereka seperti dua kerajaan yang terus saja bererang tak kenal kata perdamaian sejak SMP.


Semua perpecahan itu dimulai ketika papa dan mama mengucapkan kata cerai yang menorehkan luka terdalam bagi keduanya.


Aldo akan tetap melindungi Alvin sampai kapanpun hanya dengan caranya yang terlihat cuek diam-diam ikut ambil bagian dalam menjaga kakaknya itu, ia tahu bawa Alvin sekarang tidak siap dengan keadaan ia harus menjadi seorang ayah bagi anak yang ada di kandungan Laras namun ini semua sudah terjadi tak ada yang bisa mengulang waktu.


Saat Aldo menyusuri jalan ia teringat akan peristiwa lain yaitu peristiwa dimana ia menemukan Agatha yang sedang marah karena mobil melaju dengan cepat dan mengenai genangan air hujan, lalu Agatha yang selalu saja akan kesal dengan perbuatan Aldo yang suka menjahilinya sehingga Agatha melempar novel ke arah nya.


"Gue kangen lo Gatha." ucapan itu tulus dari dalam hati Aldo, ia sangat rindu pada pujaan hatinya.


Aldo paham dengan sikap Agatha, ia sudah sangat kecewa pada dirinya tapi ia tidak mau hubungannya dengan Agatha yang sudah ia perjuangkan sejauh ini harus berakhir karena sebuah kesalahpahaman saja memang ia sangat menyayangi Laras tapi itu hanya sebagai sahabat kecil dan Agatha adalah masa depan Aldo seseorang yang patut ia perjuangkan.


"Tunggu gue selesai dengan masalah ini ya Tha, gue bakal jelasin ke lo semuanya." Aldo terus saja berbicara pada dirinya sendiri di temanin angin pagi.


Andai Agatha tahu betapa sulitnya posisinya saat ini, ia berharap Agatha bisa mendampinginya menghadapi ini semua seperti janji mereka kala itu namun apalah daya Agatha mungkin terlalu sakit hati dan tak dapat mengerti ini semua Aldo tidak ingin melihat gadisnya sedih sampai meneteskan air matanya karenanya.


Suasana rumah Aldo tak seperti biasanya ada dua orang asing datang ke rumah ini.


"Ini salah mas yang tidak pernah mau memperhatikan mereka, sekarang liat Alvin jadi seperti ini." ucap Viani ibu Alvin dan Aldo.


"Salah saya kamu bilang? Harusnya sebagai seorang ibu kamu lebih mendekatkan diri sama mereka bukan sibuk sama keluar baru kamu!" ucap Yogi dirgantara.


"Semuanya berawal dari kamu yang selingkuh dengan sekretaris itu berimbas kepada keluarga kita yang hancur sekarang lihat Alvin yang menjadi pribadi yang tidak bertanggung jawab." Viani lagi-lagi sudah tak dapat menahan air matanya, sedangkan Alvin dan Laras duduk di sofa sambil menatap sedih kedua orang yang masih memikirkan ego nya masing-masing.


"Jangan bahas itu lagi." bentak Yogi.


"Buat apa kalian dateng kalau cuma bikin kondisi yang ada memburuk." ucap Aldo dingin saat melihat kedua orang tua yang telah membuatnya menjadi pribadi yang penuh amarah.


"Aldo." ucap Viani rindu.


"Lebih baik kalian pergi dan gak usah ikut campur, saya bisa urus ini semua!" ucap Aldo masih dengan wajah yang dingin melihat tajam kepada papa dan mamanya yang seharusnya menjadi panutan dalam menjalani hidup justru membuat hidupnya hancur karena keegoisan mereka.


"Tapi, pa..." ucap Alvin tertahan.


"Banci!" ketus Aldo.


"Gimana masa depan Alvin dan Laras, kita harus sama-sama ngejar pendidikan dan karir kalau sudah punya anak apalagi terikat hubungan pernikahan," ucap Alvin merajuk.


"Alvin! Kamu ini berbuat tapi tidak mau bertanggung jawab. Tidak ada alasan kamu harus menikahi Laras, kalau bisa bulan depan!" bentak sang papa kemudian duduk di sofa.


"Kalau dia gak mau tanggung jawab biar saya yang menikahi Laras." ucap Aldo tiba-tiba masih berdiri di tempatnya tanpa berkutik dengan pandangan mata menatap Alvin dan Laras kemudian menatap papa dan mamanya.


"Kalau dia masih mementingkan ego untuk pendidikan dan karirnya, lebih baik kejar itu. Saya gak mau Laras dan anaknya tidak terurus." Aldo tak menyadari seseorang diambang pintu telah meneteskan air mata mendengar penuturannya barusan seperti ribuan anak pana yang datang sekaligus langsung menancap pada sasarannya, dadanya terasa sesak ia sulit bernafas seperti tak percaya seolah takdir mempermainkannya sedemikian rumit.


"Agatha..." lirih Laras saat sadar siapa yang berada diambang pintu, dunia Aldo seperti berhenti mendadak ia memaksakan diri untuk memutar badan dan mata mereka bertemu, pandangan yang sulit diartikan sama-sama terluka, tersakiti, dan tersayat kira-kira itulah gambaran yang mereka rasakan pada hati masing-masing.


Agatha segera menghapus air matanya berjalan mundur secara teratur seperti masih ingin melihat pria dihadapannya namun tak kuat lebih lama bertahan, jadi ia segera berlari menuju gerbang dan Aldo hanya terdiam di tempatnya tak tau harus berbuat apa.


"Hal tersulit dalam membuat sebuah keputusan bukanlah melepaskannya, tapi merelakannya bersama orang lain."


"Baru kita mau nyusul, kok lo dateng-dateng mewek sih Tha?"tanya Riska dan Febri yang baru saja ingin keluar dari mobil milik Riska.


"Gue mau putus dari Aldo." Agatha menangis sejadi-jadinya, terisak hebat.


"Balik ke rumah lo dulu aja deh ya." ucap Febri kemudian mobil putih Riska melaju menyusuri jalan pagi itu.


"Aldo sama Laras akan menikah." kata-kata itu terucap dari bibir Agatha yang bergetar hebat, sesekali untuk menahan luapan emosinya Agatha akan mengigit bibirnya sambil m3meluk boneka beruangnya dengan amat erat.


"Aldo? Sama Laras menikah?" tanya Riska tidak paham.


"Alvin gak mau tanggung jawab, jadi Aldo yang bakal nikahin Laras." Agatha berusaha menjelaskan walau terbata-bata.


"Kok bisa? Maksud gue kok Aldo mau?" tanya Febri bingung dengan keputusan Aldo.


"Aldo masih cinta sama Laras mungkin, jadi ya ini kesempatan dia." ucap Agatha terlanjur kesal dengan Aldo, bahkan saat ia berlari Aldo tak mengejarnya kekasih macam apa itu?


"Kayaknya gak gitu deh Tha, lo jangan berpikir negatif dulu."Riska terlihat menganalisis masalah yang sedang dihadapi sahabatnya itu.


"Bisa aja Aldo terpaksa?" tanya Riska.


"Itu kan salahnya Alvin, kenapa Aldo yang harus tanggung jawab. Harusnya dia mikirin perasaan gue dan posisi gue sebagai pacarnya dong Ris?" Agatha merasakan dadanya semakin sesak , luapan emosi ini ingin dia utarakan.


Bersambung..........