
Pagi ini di SMA Bima Garuda seperti biasanya ramai dengan murid-murid ditambah akan ada try out untuk anak kelas XII, Agatha seperti biasa datang dengan tampang
Yang kurang bersemangat bahkan matanya bengkak dan hidungnya memerah membuat siapa saja yang melihatnya akan kasihan jika biasanya Agatha datang dengan wibawa dan detail melihat setiap siswa dan siswi juga menegur bila ada yang melanggar peraturan kali ini semuanya tampak berbeda.
Agatha seperti orang yang bingung, tatapan matanya kosong.
" 1-0 Tha, udah gue bilang lo gak akan lebih unggul dari gue buktinya sekarang Agatha yang diidolakan malah seperti cewek sakit jiwa!" ucap Steffi dengan kedua dayangnya saat berpapasan dengan Agatha.
"Katanya direbutin Alvin sama Aldo kakak beradik paling populer di sekolah eh malah ujung-ujungnya jadi stres gak dapat keduanya?" cibir Lulu.
"Uuu....kacian!" timpali oleh Fita, jika biasanya Agatha akan melawan dengan memcaci maki habis ke tiganya sekarang ia memilih melewati mereka tanpa ada perlawanan.
"Kok songong sih nyuekin kita?" tanya Steffi tidak terima.
"Eh tunggu!" Steffi mencekal tangan Agatha, emosi Agatha sudah tidak tertahankan.
"Terserah lo ya mau ambil dua-duanya gue udah gak perduli, sekarang lepas atau lo gue dorong?!" bentak Agatha membuat siapa saja yang melihatnya akan takut bahkan Steffi sudah diam tak berkutik detik selanjutnya Agatha sudah berjalan entah kemana.
Agatha sedang membaca novel yang semalam menemaninya tidur bahkan bunga anggrek putih yang sudah kering ia jadikan pembatas novel kegiatan ini membuat dirinya semakin lebih baik dan rileks, novel ini
Menjadi pengganti dari si pemberi novel dan bunga itu melambangkan betapa si pemilik mungkin memiliki hati yang tulus.
Agatha termenung tatapannya kosong melihat ke depan memutar kembali memori indah saat ia dan Aldo sering bertengkar bahkan Aldo lah orang pertama yang membuat Agatha bolos kadang saat mengingat setiap kejadiannya bersama Aldo ada senyuman namun ada tangisan.
"Sekarang kan dia udah sama Laras." ucap Agatha lembut.
"Agatha," sebuah suara mengejutkannya segera ia menatap ke atas.
"Kamu kenapa? Kenapa nangis?" tanya suara itu dan duduk di depan Agatha.
"Ehh... gapapa kak cuma lagi baca novel eh bagus banget sampai baper sayanya." Agatha berdusta segera menghapus air matanya.
"Cerita kalau ada masalah ya, jangan dipendam sendiri." Alvin memegang kedua bahu Agatha dengan tatapan yang menghipnotis wanita manapun dan Agatha hanya tersenyum tak mampu berkata-kata sedangkan hatinya sudah bergejolak mengapa di saat Alvin sudah dimiliki oleh orang wanita lain justru Agatha tidak terima.
"Laras suruh kamu main ke rumah, dia mau lebih dekat gitu sama kamu." ucap Alvin dengan mata yang penuh harap.
"Laras? Maksudnya gimana ya kak?" tanya Agatha bingung.
"Dia tuh gak kenal siapa-siapa disini, punya teman cewek pun enggak ya jadi dia pengen ada cewek lain yang bisa di ajak ngobrol. Saya setuju kamu orangnya." ucap Alvin menjelaskan.
"Nanti ya kak, saya gak janji tapi coba saya usahakan." ucap Agatha tidak mau membuat kecewa
"Saya minta tolong ya Agatha, soalnya saya bingung belum ada yang saya percaya selain kamu lagian kita sudah dekat saya merasa cocok." ucap Alvin sambil tersenyum.
Sepanjang pembicaraan itu Alvin selalu tersenyum, cocok? Maksud Alvin apa? Mungkin Agatha dan Alvin cocok? Mengapa perkataan itu memberikan sebuah harapan.
Jangan-jangan Alvin dan Laras hanya sebatas sahabat lagipula Alvin pernah bilang bahwa Laras adalah masa lalunya itu memberikan percikan kebahagiaan dihati Agatha entah mengapa ia sekarang lebih semangat.
"Iya kak." hanya jawaban singkat itu yang Agatha ucapkan.
"Yaudah saya balik ke kelas, pulang nanti kita bareng langsung ke rumah ya." Alvin mengelus puncak kepala Agatha, perlakuan itu membuat Agatha sangat bahagia ia merindukannya.
Hari ini Aldo nampak hadir didalam kelas membuat suasana canggung bagi Agatha dan juga Aldo.
"Ibu ingin berterimakasih kepada Aldo dan Agatha karena pementasan drama musikal kalian baik sekali." Bu Puji tersenyum, sejujurnya ia ingin mengucapkan itu kepada kedua muridnya namun beberapa hari yang lalu Aldo tidak masuk.
"Kepala sekolah bangga dengan apa yang kalian capai kemarin jadi ia ingin agar tidak hanya sampai disitu kalian berkreasi saat nanti perpisahan kelas XII kelas kalian terpilih kembali untuk mengisi acara jadi ibu harap kalian bisa lebih maksimal." Bu Puji memberikan suatu perintah yang membuat satu kelas gembira tapi tidak dengan Aldo dan Agatha.
"Sore Laras." sapa Alvin saat tiba di rumah melihat Laras sedang menonton televisi.
"Alvin!" ia tersenyum bahagia sepertinya seharian ini ia bosan.
"Lihat siapa yang aku bawa?" Alvin mengarahkan pandangan ke arah Agatha yang ada di pintu.
"Agatha, aku pikir kamu ingkar janji." ucap Laras berusaha mendorong kursi rodanya namun masih belum sanggup akhirnya Alvin membantunya.
"Semangat banget sih dapet teman baru?" goda Alvin, Laras langsung memeluk Agatha
"Iya dong, aku gak bakal kebosanan deh." manja Laras.
Laras mengajak Agatha duduk di sofa ditemani Alvin, mereka bercerita banyak hal sampai...
"Aku kangen sekolah, kangen pakai seragam." ucap Laras sedih
"Aku aja pengen cepat-cepat gak pake seragam, males dibilang bocah bau matahari." ucap Agatha membuat Laras dan Alvin tertawa lepas.
"Ngapain dia disini?" suara dingin seseorang menyeruak di dalam ruang tamu, pertanyaan itu membuat Agatha sangat mengenali suara itu tanpa melihat wajahnya.
"Maksud lo apa?" tanya Alvin bingung.
"Ya dia si cewek keras kepala itu!" Aldo kembali berucap, ia tak sendirian sekarang ia sedang menggandeng tangan Steffi.
"Siapa aja berhak jenguk aku!" ketus Laras.
"Siapapun kecuali dia!" ucap Aldo dingin membuat Agatha hanya diam,
Jika dulu ia akan membalas dan setelah itu perdebatan sengit terjadi kali ini ia hanya terpaku ingin mendengar kata demi kata dari bibir Aldo.
"Kenapa sih Do, Agatha itu baik dia bakal jadi temen aku!" ucap Laras kesal.
disisi lain Aldo terus mengamati gadis itu berbeda dari biasanya, ia tidak membalas ucapan Aldo sedikit pun, ia cenderung tenang dan diam, pandangannya juga lurus kedepan, apa ia terlalu kasar?
"Udahlah terserah, dia itu gak baik buat kamu Ras!" Aldo langsung menarik tangan Steffi menuju lantai atas, dan Steffi dengan bangga menyunggingkan senyum kemenangan sambil melirik Agatha yang diam saja.
"Udah ya Tha jangan dengerin, Aldo emang suka emosian gak jelas!" ejek Laras dan Agatha masih terdiam.
"Ras, besok lanjut ngobrolnya ya sekarang aku antar Agatha pulang kasihan dia lelah." ucap Alvin kemudian Agatha sadar ia telah melamuni kebod*hannya. Alvin sepertinya paham kondisi Agatha.
Steffi benar ia memang menang telak di bandingkan Agatha
Hari ini adalah hari sabtu jadi Agatha bisa bangun lebih siang, semalam ia kembali menangis sungguh ia benci karena dirinya lemah menangis bukan karena Alvin rasanya perasaan itu sudah perlahan memudar tapi yang baru ia sadari adalah ketika Aldo membencinya menjauh dari dirinya itu sakit sekali dan perih.Agatha kembali tertidur dengan memegangi foto sang mama.
"Dek." Sebuah suara terdengar samar.
"Tumben kok belum bangun ya?" tanya Gea mendekati Agatha, wajah Agatha pucat badannya menggigil.
Bersambung........