
Agatha bingung harus bagaimana ia seperti orang yang tidak tahu diri. Aldo sudah menolongnya dengan mengorbankan dirinya masa ia meninggalkan cowok itu.
Jadi ia berniat untuk secepatnya pulang dan berganti baju kemudian pergi ke lapangan kosong itu untuk melihat keadaan Aldo, dalam hati ketakutan hebat melanda bagaimana karena menolong dirinya Aldo. Agatha segera menghilangkan pikiran itu.
"Dek, udah pulang?" Gea bertanya kepada adiknya karena melihat wajah Agatha yang sulit di artikan, yang di tanya tidak menjawab malah langsung menuju kamar.
"Gea, yang sabar adikmu itu memang keras namun didalam hatinya dia rapuh." Oma membawakan dua cangkir teh ke ruang tamu.
"Iya Oma, aku tahu. Aku juga ada andil membuat dia jadi seperti sekarang." Gea tersenyum getir.
Agatha segera berganti pakaian menggunakan baju putih dan celana jeans panjang hitam miliknya,Ia segera keluar kamar.
" Oma, aku pergi ke rumah teman dulu ya gak lama kok Deket sini." Ucap Agatha segera memakai sepatunya.
"Gak makan dulu sayang?" tanya Oma melihat Agatha begitu terburu-buru.
"Agatha!" panggil Gea, seolah Agatha menganggap Gea tiada.
"Enggak Oma, aku buru-buru. Bye!" sahut Agatha tanpa memperdulikan kakak perempuannya itu.
"Lagi-lagi ia menganggap aku gak ada, ini salahku yang membiarkan ia tumbuh tanpa adanya kasih sayang. Maafin Gea ya Ma, gak bisa jaga adik." Gea meneteskan air mata.
Agatha berlari sekencang yang ia bisa, pikirannya hanya berputar-putar dengan satu pertanyaan bagaimana keadaan Aldo saat ini?"
Sekarang Agatha sudah sampai di dekat lapangan dari balik pohon ia dapat melihat bahwa perkelahian itu sudah selesai. hanya tersisa anak-anak SMA Bima Garuda yang mencoba untuk bangkit berdiri dan melangkahkan kaki. Agatha melihat kebangga dalam diri mereka sehingga ia menyimpulkan bahwa sekolahnya lagi-lagi menang melawan sekolah tandingannya itu.
Ada perasaan lega teramat dalam yang ia rasakan saat melihat orang yang menolongnya tadi sedang membantu anak-anak lain untuk berdiri.
" Thanks you ya buat hari ini, kita menang telak untuk kesekian kalinya." Begitulah ucapan terimakasih Aldo kepada teman-temannya yang bekerja keras.
"Thanks bro, udah mau nolongin gue. Kalau gak ada lo dan yang lain pasti gue abis." ucap Zack tersenyum pada ketua gengnya itu.
"Santai, lo adalah bagian dari kita. Kalau mereka ganggu satu orang aja dari kita sama aja mereka ngebangunin macan tidur!" ucap Aldo berbangga diri mengatasnamakan solidaritas.
"Yauda kita semua balik aja, besok kita harus siap-siap dihukum lagi." ucap Aldo saat melihat luka-luka yang cukup parah pada teman-temannya.
Sekarang hanya tinggal Aldo yang menunggu di dekat lapangan sedangkan teman-temannya yang lain sudah terlebih dahulu pulang untuk mengobati lukanya.
Ia menunggu Rangga dan Okky yang sedang membawakan motornya dari sekolah.Aldo tidak sadar sedari tadi sepasang mata mengintipnya dari balik pohon.
" gue balik aja deh, lagian dia udah gapapa." ucap Agatha yang sedari tadi menunggu di balik pohon besar.
Setelah berdebat antara logika dan hati nuraninya Agatha memutuskan untuk kembali ke rumah, ia berjalan dengan sangat pelan.
" Agatha?" Bagaimana bisa ia bertemu dengan Rangga dan Okky yang sedang mengendarai motor.
"Lo ngapain disini?" tanya Rangga kebingungan yang memang sudah melihat Agatha dari kejauhan sedang mengintip dari balik pohon.
"Emmm... gue lagi...." Agatha memikirkan alasan yang tepat.
"Lagi ngintipin Aldo ya?" tanya Okky dengan senyum jail.
"Apaan sih lo! Jangan sok tau!" Agatha mulai meninggikan suaranya tidak terima dengan tuduhan Okky, walaupun pada kenyataannya apa yang dibilang Okky adalah fakta.
"Kalau gak bener ngapain marah neng?" sebuah suara tiba-tiba muncul dari arah belakang Agatha, suara itu membuat desiran darah Agatha meningkat dengan volume tinggi mati gue dalam hati Agatha.
"Gue cuma kebetulan lewat dan mau beli perlengkapan buat besok acara MOS." jawab Agatha yang menemukan alasan, ia akhirnya menemukan jawaban tepat karena memang keinginannya setelah melihat keadaan Aldo adalah membeli perlengkapan MOS.
"Yaudah kalau gitu gue antar." ucap Aldo cepat dan melangkahkan kaki pada motor sport hitam miliknya sedangkan perkataan Aldo tadi membuat Agatha, Rangga, dan bahkan Okky yang masih duduk di atas motor Aldo tertegun.
"Ayo!" ucap Aldo lagi melihat reaksi ketiga orang itu.
"Gue gak mau." Agatha dengan tegas menolak itu.
"Anggap aja ini ucapan makasih lo karena tadi gue udah nolongin lo, kalau gak ada gue mungkin lo gak selamat." ucap Aldo lagi-lagi, ini membuat Agatha sedikit kaget dan sadar bahwa perkataan Aldo benar, tapi sekali lagi Agatha adalah cewek yang memiliki gengsi setinggi langit jadi ia tak mau kalah.
"Dasar cowok bad, nolongin orang minta pamrih. Gue juga gak minta lo tolongin." ucap Agatha tak mau kalah.
"Abisnya gue liat muka lo pucet dan ketakutan masa iya gak gue tolongin?" tanya Aldo menaikkan alisnya mengejek, tingkat Aldo yang selalu meremehkan Agatha inilah yang membuat gadis itu geram.
"Aduh Ky, balik aja yuk pusing liat drama remaja begini gak kelar-kelar." ucap Rangga tersadar dari drama yang dimainkan oleh Aldo dan Agatha.
Dengan segera Okky berpindah posisi dan sekarang berada di motor Rangga.
" gue sama Okky balik duluan deh ya." ucap Rangga berpamitan dan langsung tancap gas motornya.
Agatha yang tidak suka dengan suasana canggung memilih melangkahkan kakinya menuju rumah tapi, sebuah tangan mencekal pergelangan tangannya.
"Gue antar." ucap Aldo dengan dingin dan mampu memberikan efek luar biasa pada diri Agatha, pasalnya Agatha tau ketika Aldo berbicara dingin ia berarti sudah malas dengan semua penolakan yang orang lain berikan.
Anehnya Agatha menghela nafas dan segera naik ke atas motor sport itu, dalam hati ia berharap tidak akan ada yang melihatnya bersama bad boy di depannya ini. Bagaimana imagenya bila ada anak sekolah nya yang melihat seorang ketua OSIS yang menegakkan peraturan justru bersama si pelanggar peraturan?
Bersambung.........