Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin

Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin
#22 Perasaan Liar



"Oh iya anaknya pak Eman, ada apa ya dek?" tanya Agatha ramah.


"Saya di suruh nganterin ini, ayah lanjut bekerja." ia menyodorkan sebuah kantong plastik.


"Makasih adik-adik semua." Agatha melihat bahwa dalam kantong plastik ada beberapa obat dan air mineral.


"Sama-sama kakak cantik, sampai jumpa lagi." koor keempat anak itu, mereka segera mengayuh sepedanya menjauh.


"Muka lo merah dibilang cantik sama bocah?" goda Aldo dengan mata sudah tak terpejam.


"Apa sih lo?!" tantang Agatha membuat Aldo kembali terkekeh, Agatha segera mengeluarkan isi kantong plastik dan mulain mengobati Aldo dan memberikannya air mineral.


"Lo minum aja duluan." ucap Aldo


karena ia tahu Agatha pasti lelah memapahnya tadi dijalan bagai gayung bersambut Agatha pun meminum air mineral itu setengah botol dan menaruhnya ketika ia ingin menutupnya, Aldo dengan cepat mengambil botol itu dan menghabiskannya.


"Sombong sih lo pake gak mau minum duluan." ucap Agatha meremehkan, awalnya ia kaget dengan perilaku Aldo karena minum di botol yang sama dengan ia minum.


"Bilang aja tadi lo takut karena secara gak langsung kata orang kita ciuman." Aldo tertawa kencang melihat ekspresi Agatha sekarang salah tingkah, memang itu yang dipikirkan Agatha.


Sekarang Agatha sedang pusing memikirkan hukuman apa yang ia terima karena hari ini ia bolos dari guru-guru paling killer.


di jam terakhir ia terus melihat ke arah jam, dua jam lagi bel sekolah berbunyi tanda semua murid akan pulang dan ia bingung bagaimana mungkin kedua kalinya ia bolos karena cowok bad yang sudah terbiasa membolos tanpa alasan itu.


"Bolos sesekali gak bikin lo bego kok!" ucap Aldo saat ia bersiap untuk berjalan setelah selesai merenggangkan otot-ototnya karena di keroyok oleh sepuluh orang.


"Itu berlaku buat lo! Beda sama gue!" ucap Agatha tegas.


"Percuma juga lo balik ke sekolah sekarang ujung-ujungnya lo bakal dihukum, saran gue besok aja dihukumnya jadi kita gausah ikut pelajaran biologi." kekeh Aldo berjalan duluan.


"Dasar cowok bad!" Agatha kesal dengan semua ucapan Aldo yang tak pernah dipikir dahulu sebelum diucapkan. Agatha tidak lupa menaruh beberapa lembar uang, tempat istirahat parah buruh tadi sebagai tanda terima kasih.


"Lo mau pulang atau gimana?" tanya Aldo saat berjalan menuju sekolah.


"Gue mau ambil tas aja di sekolah abis itu bilang kalau tadi ada sedikit masalah makanya gue balik ke sekolah jam segini.


"Oke, gue langsung balik." ucap Aldo singkat dan dingin.


ada gejolak aneh dihati Aldo sementara pikiran Aldo mengingatkan dirinya pada janjinya yang sudah terucap ketika kemarin mengantar Agatha pulang.


dia akan belajar menjauhi Agatha, berhenti dari semua tentang Agatha dari semua perasaan yang sudah tumbuh dihati Aldo disisi lain Agatha merasa ada yang aneh dari Aldo mengapa Aldo yang akan memaksa kehendak untuk mengantarnya pulang kini seolah tidak perduli dengan segala keputusan Agatha.


Sekarang mereka sudah sampai di gerbang belakang sekolah dimana tempat Aldo memakirkan motornya, ia bersiap mengarah ke motornya sampai sebuah tangan mencekal nya.


"Gue gak jadi balik ke kelas." ucap Agatha pelan, Aldo berbalik badan dengan tampang bingung.


"Gue mau balik ke rumah aja, capek." ucapnya lagi membuat Aldo mengangkat satu sudut bibirnya.


"Gue nebeng ya." cengir Agatha dan itu membuat senyuman Aldo semakin melebar, apa ini pertanda bahwa hubungannya dengan Agatha akan semakin membaik.


"Tas lo?" tanya Aldo.


" Nanti Nitip Riska atau Febri." ucap Agatha singkat, tangannya masih setia memegang pergelangan tangan Aldo.


"Yaudah yuk, gue anter balik." ucap Aldo mengandeng tangan Agatha, anehnya Agatha tidak menolak perlakuan Aldo kali ini. Ia lebih memilih terdiam menikmati sentuhan itu.


Sore hari ini ada rasa yang tidak bisa Agatha jelaskan, perasaan baru yang tumbuh liar di hatinya berhubungan erat dengan seseorang yang ada di hadapannya ini.


Pagi ini Agatha memantapkan hati menghadap ibu Alda untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah ia perbuat saat ia berjalan di koridor menuju ruangan yang tidak pernah ingin di kunjungi oleh siapapun.


"Gue ikut, lo gak ngajak-ngajak gue?" tanya sebuah suara mensejajarkan langkahnya dengan Agatha.


"Bisanya lo juga kabur dari hukuman." ketus Agatha.


"Kali ini gue belajar jadi murid teladan deh." ucapnya terkekeh dan mereka pun sampai di depan ruangan Bu Alda.


"Permisi Bu, selamat pagi." sapa Agatha sopan.


"Pagi Gatha." ibu Alda tersenyum namun matanya melotot saat melihat siapa yang ada di belakang Agatha.


"Aldo! Ngapain kamu kesini? Tumben-tumben kamu datang sepagi ini?" tanya Bu Alda tanpa henti membuat Agatha mengernyit dan Aldo terkekeh.


"Saya suka bingung sama guru di sini, saya tobat salah, tetap melanggar peraturan salah. Berasa Raisa saya Bu, semua serba salah." Aldo terkekeh lagi.


"Jadi kalian untuk apa kesini?" tanya Bu Alda akhirnya setelah berhasil meredam emosinya.


"Saya dan Aldo ingin .empertanggungjawabkan kesalahan kami kemarin karena bolos saat jam pelajaran Bu." ucap Agatha sopan dan tegas.


"Bisa jelaskan alasannya?" tanya Bu Alda membuat Agatha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


semalam ia sudah berlatih di depan cermin agar lancar saat di hadapan Bu Alda. Agatha tidak ingin membahas perlakuan Kevin yang memperm4lu kan nya


Demi menjaga kerjasama kedua sekolah, walaupun sebenarnya ia ingin, ia hanya berbicara tentang Kevin yang mengganggunya dan Aldo yang menyelamatkan namun berujung ricuh karena Kevin melakukan kekerasan.


Aldo dengan tenang memperhatikan Agatha sembari Agatha menjelaskan detail kronologisnya.


" baik Agatha, ibu akan memberikan keringanan karena keterangan kamu. Lain kali kamu tidak boleh sendirian ke sekolah itu. Aldo kamu tidak ada pembelaan? Ibu liat kamu dari tadi hanya fokus pada wajah Agatha? Tidak pada pembicaraan ini?" ketus Bu Alda seperti punya dendam kesumat pada muridnya itu.


"Abisnya Agatha lebih menarik Bu, saya jadi terpesona." ucap Aldo tersenyum membuat pipi Agatha memerah sedangkan Bu Alda geram dengan Jawaban Aldo.


"Peraturan tetap lah peraturan bila di langgar akan ada sanksi, sekarang ada hukuman yang ibu rasa cocok untuk kalian." ibu Alda tersenyum.


"Nilai matematika dan fisika Aldo dibawa rata-rata yang sudah ditetapkan sekolah, ibu ingin Agatha bisa membantu Aldo memperbaiki semua itu. Ibu tunggu perubahannya sampai kenaikan kelas dan bila tidak ada perubahan.Ibu tidak yakin kalian bisa melanjutkan naik ke kelas 12." kata-kata terakhir ibu Alda membuat Agatha semakin dilanda goncangan hebat, bagaimana mungkin ia dapat merubah cowok bad ini menjadi cowok yang jenius atau paling tidak memiliki nilai rata-rata, ini teramat sulit.


"Bu, tidak ada hukuman yang lain? Ngerjain tugas biologi? Bersihin koridor sekolah atau WC sekolah? Tolong Bu di pertimbangkan lagi." Agatha memohon.


"Saya setuju Bu." Aldo dengan mantap berkata berkata demikian.


"Baik kalau begitu sudah selesai, kalian boleh keluar dari ruangan saya." ucap Bu Alda.


"Tha gimana ceritanya lo gak di hukum apa-apa? Kemarin lo kan bolos?" tanya Riska bingung melihat Agatha sampai di tempat duduknya dengan wajah yang lelah dan disusul Aldo dengan cengiran lebar.


"Gue lagi masa hukuman, dan ini hukumannya bisa membuat gue stres menuju kematian." ucap Agatha memijat kepalanya


"Maksud lo?" tanya Febri.


"Gue harus ngajarin si cowok bad pelajaran fisika dan matematika sampai minimal nilai dia di atas rata-rata sekolah, mustahil kan ?" Cerocos Agatha sambil menghempaskan bokongnya di bangku kelas.


"Wih lo bakal sama dia terus dong setiap hari, setiap jam,setiap menit, bahkan setiap detik?" tawa Riska dan Febri pun pecah.


"Lo berdua sebenarnya sahabat atau musuh gue sih? Kok seneng liat sahabatnya menderita?" tanya Agatha kesal dan sambil membuka buku bahasa Inggrisnya.


"Agatha." sebuah suara menginterupsi perjalanan Agatha yang ingin sesegera mungkin meninggalkan kelas.


pasalnya satu kelas sekarang telah membuatnya semakin stres dengan mengejek bahwa ia dan Aldo berjodoh, padahal dalam hati ia bersumpah serapah tidak ingin terus berdekatan dengan si bad boy sekolah itu.


"Nanti jadi kan rapat acara buat ultah sekolah?" tanya Eza merangkul Agatha.


sedari dulu mereka memang terlihat dekat karena rupanya orang tua mereka saling mengenal baik satu sama lain, dan duku Eza dan Agatha adalah teman waktu SD, walaupun tidak terlalu dekat.


"Jadi dong, reminder anak-anak lagi ya." ucap Agatha tersenyum kepada Eza yang sudah dianggap kakaknya sendiri.


ia dan Eza memang sudah seperti saudara namun pasti ada jarak yang harus Agatha buat karena Eza sedang memiliki perasaan terhadap salah seorang sahabat Agatha.


"Siap Bu Ketos." balas Eza lagi.


"Eh Za, jadi lo udah mulai usaha deketin Febri?" tanya Agatha tiba-tiba karena melihat Febri yang sedang melatih basket putri untuk acara ulang tahun sekolah.


"Belum sama sekali lah Tha, lagian gue bingung harus mulai darimana?" ucap Eza frustasi memandang ke arah lapangan.


"Gue mau coba bantuin lo, tapi lo nya juga harus ada usaha dong!" Kekeh Agatha.


"Seriusan lo mau bantuin gue?" tanya Eza tersenyum riang, memang beberapa bulan ini pandangannya tidak lepas dari Febri yang merupakan ketua tim basket putri.


"Dia tuh cewek idaman gue banget ya Tha, udah jago olahraga, pintar, terus dewasa lagi beda banget deh sama cewek-cewek zaman sekarang." puji Eza lagi.


"Lebay lo, sahabat siapa dulu dong?" tanya Agatha menggoda.


"Lebih oke dia lah." sindir Eza.


"Gini nih gatau diri, udah mau di bantuin malah ngerendahin!" Agatha kesal.


"Canda sih." kekeh Eza lalu mereka berjalan bersama menuju kantin.


Bersambung