Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin

Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin
#35 Lebih Dekat Dengan Laras



"Dek kamu sakit?" tanya Gea langsung panik dan memanggil papanya.


"Pa, Agatha sakit." teriak Gea membuat sang papa yang terlihat sudah rapi tampak mengurungkan niatnya pergi ke kantor


"Gatha kenapa? Ayo ke rumah sakit?" tanya yang hanya di balas gumaman oleh Agatha.


"Mama... mama!" itu yang Agatha gumamkan.


"Dia kangen Mama." ucap Gea melihat bingkai foto mamanya sedang dipeluk sang adik.


"Papa telepon dokter dulu ya, kamu kompres dulu dia."biasanya ada Oma yang menjaga Agatha ketika sakit namun sekarang Oma harus berada di luar kota untuk menjenguk keponakannya. Gea langsung melakukan apa yang di perintahkan papanya.


Dokter sudah memeriksa keadaan Agatha, dan menurut diagnosanya Agatha terlalu banyak beban pikiran juga kelelahan.


"Pa secepatnya kita harus ke makam mama." ucap Gea yang juga merindukan Mamanya.


"Iya Gea, papa merasa bersalah Papa hari ini gak jadi ke kantor, kamu juga jangan ya Kita jaga Agatha." Papanya tersenyum melihat kedua putrinya.


mereka berdua adalah harta titipan Tuhan yang sangat berharga ia berjanji akan menjaganya dengan sepenuh hati,Perlahan mata Agatha terbuka.


"Kak Gea." Agatha baru bangun dari tidurnya, kepalanya masih sangat pusing, ia melihat kak Gea telah tidur di sampingnya sedangkan papanya tertidur di sofa.


Sekarang tetesan air mata mengalir deras melihat perhatian papa dan kakaknya menjaganya selama sakit bahkan melupakan sejenak kesibukan mereka, Gea tersadar karena isakan tangis Agatha.


"Gatha, udah bangun? Kok nangis?" tanya Gea bingung.


"Sakit banget ya Tha, tahan ya kalau bisa di pindahkan rasa sakitnya biar kakak aja deh yang sakit." ucapan itu membuat isakan tangis Agatha semakin menjadi membuat sang papa juga terbangun.


"Loh Agatha kenapa?" tanya papa menghampiri.


"Gea juga gatau bangun-bangun dia nangis, apa segitu sakitnya ya?" tanya Gea masih bingung.


"Gatha mau peluk kalian," ucap Agatha menangis seperti anak kecil membuat Gea dan sang papa tersenyum lalu menghambur ke pelukan Agatha, sekarang suasana rumah ini kembali hangat ada sebuah perasaan


Yang begitu hebat di hati Agatha entah sudah berapa tahun hatinya beku memiliki keluarga yang tak perduli padanya sekarang ia melihat bahwa keluarganya adalah keluarga terbaik yang ia punya.


"Gatha sayang kalian, maafin Agatha yang suka kurang ajar." Agatha masih menangis.


"Uuhh adikku manja ya, baper ya?" Gea menggoda membuat suasana tawa di kamar Agatha pagi itu.


Hari Minggu ini Agatha, papanya, dan juga Gea sudah berada di sebuah makam tertanda nama seorang perempuan yang dirindukan ketiganya sosok yang tak tergantikan sepanjang masa.


Setelah mereka berdoa dan menaburkan bunga, Agatha ijin untuk pergi ke rumah Alvin awalnya sang papa tidak mengizinkan karena Agatha masih sakit tapi karena Agatha yang terus memaksa akhirnya hati papanya luluh.


"Boleh tapi jangan lama-lama ya." ucap papanya saat ia sudah sampai di depan rumah Alvin.


"Siap bos." Agatha pamit dan turun dari mobil tak lupa mencium pipi sang papa juga Gea.


"Agatha, aku dengar kemarin kamu sakit aku mau jenguk tapi gak boleh sama Alvin katanya kamu butuh istirahat jadi kemarin aku bete seharian cuma di temanin Alvin dan Aldo."


Laras seperti anak umur 5 tahun yang mengadu kepada mamanya. Agatha sebetulnya ingin menolak undangan Alvin untuk menemani Laras hari ini, hanya saja Agatha justru ingin ke sini, ia ingin bertemu seseorang yang sudah memenuhi pikirannya.


"Iya gapapa kok Ras, kan sekarang aku udah disini." ucap Agatha, ia ingin memanggil Laras dengan sebutan 'kak' tapi Laras melarangnya walaupun ia sama umurnya dengan Alvin tapi ia merasa masih awet muda.


"Main ke taman belakang yuk!" ucap Laras menarik tangan Agatha, mereka bersiap menuju taman.


"Ih Alvin kamu jangan ikut, ini tuh khusus obrolan cewek." Laras meledek,


"Loh kok gitu, sekarang kalo ada Agatha aku dibuang." Alvin berpura-pura ngambek,


"Gak gitu maksud aku." Laras dengan suara lembut juga manja.


Di Taman Rumah,


"Tha, aku ingin berterimakasih karena selama gak ada aku kamu udah baik ke Alvin dan Aldo," ucap Laras saat menatap banyak sekali bunga mawar merah kesukaannya seperti Alvin dan Aldo tidak lupa bunga kesukaan Laras.


"Aku mungkin baik ke kak Alvin tapi kayaknya nggak ke Aldo deh, kita lebih sering berantem." Agatha tersenyum tipis saat mengingat ia akan selalu bertengkar dengan bad boy itu.


"Aku rasa kamu sama Aldo tuh cocok banget!" ucap Laras sambil melihat setiap deretan mawar itu aromanya membuat ia lebih hidup.


"Cocok? Ayolah jangan berbohong kami itu seperti tom and Jerry." Agatha juga ikut menikmati suasana sore itu.


"Alvin sering cerita soal dia dan kamu dan juga soal Aldo dan kamu, selama aku gak disini mereka rupanya menemukan sesosok gadis cantik yang menemani mereka.Alvin bilang kalian baru dekat belakangan ini dia merasa nyaman dekat sama kamu, dia bilang kamu mirip sama aku keras kepala dan sensitif.


Makasih ya udah ngerawat Alvin dengan baik." Laras menatap Agatha dalam.


pembicaraan ini menghipnotis Agatha sehingga ia hanya terdiam dan terus menjadi pendengar yang baik, ia sudah sadar diri jika dirinya dibandingkan dengan Laras jauh berbeda, ia lembut, sopan, dan parasnya cantik sedangkan Agatha keras kepala, cenderung kasar, juga tidak cantik.


"Jangan mikirin Aldo terus, dia belum pulang." Laras menyentuh tangan Agatha mengangetkannya dan itu membuat Agatha menggeleng.


"Mereka itu udah kayak dua malaikat pelindung aku, mereka itu gak tergantikan oleh apapun, senang banget rasanya punya mereka dihidup, aku kalo gak ada mereka aku lebih memilih mati dan gak berjuang untuk hidup." Laras meneteskan air mata.


"Ras, ngomong apa sih kok malah bahas gituan kita kan mau bahas yang happy." ucap Agatha menguatkan Laras dan di balas senyuman.


"Aku mau ceritain tentang mereka, kamu mau dengar gak?"tanya Laras semangat dan Agatha hanya bisa mengangguk.


sejujurnya ia juga ingin tahu hubungan Laras dan Alvin juga Aldo. Ia juga penasaran mengapa Laras meninggalkan Alvin dan Aldo sehingga kedua laki-laki itu tampak sangat senang ketika Laras kembali.


"Aku mulai dari Alvin ya, buat aku dia itu terlampau dewasa dibanding dengan umurnya berpikir sangat luas dan juga jenius. Aku dan Alvin dulu sering bersaing untuk menjadi yang terbaik di kelas, tidak ada persaingan yang terlalu kami bawa serius karena sudah mengenal sejak kecil.


Alvin selalu berusaha mengalah dia bahkan menyemangati aku agar lebih daripadanya, buatku dia lebih dari sekedar sahabat aku sudah menganggap dia sebagai kakak, saking dekatnya kami saling bercerita dan saling bertukar pikiran, saking dekatnya orang berkata dimana ada aku situ ada Alvin dan juga begitu sebaliknya. Aku bahagia kembali berada disisinya."Laras menerawang jauh sambil terus bercerita.


"Kalau Aldo, kita dekat banget waktu masih kecil bermain bersama dan dia adalah anak laki-laki yang sangat suka melindungi dulu saat ada yang berusaha menyakitiku dia akan berdiri paling depan melindungiku bahkan siapapun yang mengejek kakaknya ia tidak segan-segan memukul sungguh dia amat emosional seiring berjalannya waktu Aldo berubah ditambah masalah yang menghantam keluarganya dia menjadi Aldo yang dingin, tertutup, pemarah, kasar, suka mamukuli orang, dan play boy." ucap Laras kembali meneteskan air mata.


Agatha menjadi semangat saat Laras menceritakan tentang Aldo entah kenapa dorongan dihatinya bertanya masalah apa yang membuat Aldo berubah, ia pikir sedari dulu Aldo memang bad.


"Aku jadi gak deket sama dia karena sikapnya itu, aku gak kenal Aldo yang dulu walaupun kami masih berkomunikasi hanya aku lebih dekat dengan Alvin. Aldo marah besar, ketika Alvin menyatakan perasaannya untukku ia merasa Alvin merebut aku darinya."


"Aldo menyatakan perasaannya juga tapi dengan paksaan, aku gak suka sikapnya itu jadi aku marah dan memilih meninggalkannya untuk beberapa saat agar ia sadar dengan kesalahannya yang sudah memukuli Alvin, Aldo menjadi sedikit berubah dan tidak emosi melihat Alvin saat tahu aku terkena penyakit kanker darah. "


"Sejak sikap Aldo yang semakin membaik hubungan aku dengannya pun semakin membaik tapi tidak dengan hubungannya dengan Alvin. Paman dan bibi ku ingin agar aku ke China untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif.


Jadi aku harus meninggalkan dua orang yang paling aku sayangi tapi, aku bersyukur kepada Tuhan kalau sekarang aku bisa berkumpul dengan mereka walaupun sikap Aldo belum berubah." Laras mengusap pipinya yang sudah di basahi air mata.


"Aku turut prihatin sama perubahan sikap Aldo, aku pikir sikapnya dari dulu seperti itu tapi ternyata engga. Ras, aku mau tanya sesuatu boleh?" tanya Agatha.


"Boleh tentang apa?" tanya Laras.


"Kamu sama kak Alvin punya hubungan apa?" spontan pertanyaan itu keluar dan itu memang ingin Agatha dapatkan jawaban agar ia mendapat kepastian bahwa ia tidak bisa memiliki Alvin.


"Aku gak bisa bilang pacaran tapi pas Alvin nyatain perasaannya aku juga ngomong perasaan aku, aku gak berani janji untuk menjalin hubungan pacaran karena takut dia kecewa kalau umurku gak lama lagi." Laras tersenyum getir.


"Tapi sekarang kamu udah sembuh kan? Jadi kalian pantas bersama ." Agatha tersenyum walau masih ada rasa tidak nyaman


"Belum sepenuhnya sembuh, ya aku tahu Tha kamu memiliki rasa pada Alvin aku melihat itu dari tatapan kamu ke dia." Laras menggenggam tangan Agatha dan menatapnya lembut, Agatha jadi mengingat sosok Mamanya yang kuat juga lembut dalam bertutur kata.


Happy reading


Bersambung.........