
"Itu juga gue tau, maksudnya alasannya apa? Dan harus menyakinkan." Aldo masih terlihat berpikir.
"Lo gausah kabur deh, nanti gue yang diomelin." Sebuah suara muncul dari arah belakang Aldo.
"Tadi diomelin sekarang sok perhatian." ucap Aldo ketus.
"Ya gue mentingin diri gue lah, kalau gue diomelin? Lo mau tanggung jawab?" ucap Agatha masih kesal.
"Nyentuh lo aja engga, ngapain gue tanggung jawab?" ucap Aldo dan membuat Okky dan Rangga menahan tawa.
"Bodoh amat, awas lo bolos!" Agatha mengancam kemudian berlalu pergi.
"Lo keluar selangkah dari kelas ini, gue laporin Pak Rama."ucap Agatha saat melihat Aldo dengan cepat membereskan bukunya dan bersiap meloloskan diri.
"Terserah gue dong jadi lo yang ribet?" tanya Aldo terlihat tak perduli.
"Lo kenapa sih sama Aldo?" tanya Riska melihat setiap harinya bukannya semakin dekat malah mereka berdua bertengkar.
"Perang dunia ke lll, Ris!" Agatha kesal, Agatha masih membaca bukunya melihat setiap jejeran rumus yang harus dihafal.
"Bye nenek lampir!" Aldo meledek dengan menjulurkan lidahnya.
Agatha tersenyum saat melihat Aldo kembali lagi ke kelas dengan wajah lesu dan membanting tas di meja.
"Pasti lo yang ngelakuin!" ucap Aldo melihat senyuman Agatha.
"Ngelakuin apa? Dari tadi kan gue disini." Agatha terkaget.
"Jangan bohong, siapa lagi yang pengen bikin gue tetap ikut ulangan? Cuma lo!" ucap Aldo kesal.
"Lo tahu kan kalau fitnah itu dosa?" ucap Agatha tidak mau kalah.
"Dan kalau gue bener?" ucap Aldo mendekatkan diri pada meja Agatha saking dekatnya Agatha sampai harus memundurkan wajahnya ia tak sanggup bertatapan dengan wajah Aldo itu membuat jantungnya dipompa cepat ini tidak berbeda jauh dengan Aldo yang hatinya sedang bergemuruh hebat ini sekian kalinya ia bisa sedekat ini dengan Agatha yang sangat sulit ia jangkau.
"Ehem ..." suara deheman
Membuat Aldo segera menjauh dan menormalkan kembali suasana hatinya.
"Bisa kita mulai ulangannya?" tanya Pak Rama, Agatha mengerjakan soal matematika dengan sangat teliti dan tanpa memperdulikan apapun yang ada di sekitarnya itulah ia tipe perempuan yang sangat pemikir dan sekarang ia sedang memecahkan soal peluang dari 3 buah dadu.
Tapi, di lain pihak Aldo hanya memutar-mutar pena nya tanpa ada satupun soal yang terjawab artinya, kertas Aldo masih kosong, ada yang harus di ralat kertasnya terisi namun hanya nama dan kelas juga tanggal hari ini tidak lebih dari itu.
30 menit sudah berlalu, tidak ada yang bisa menganggu dunia Agatha bersama soal matematika bahkan ia tidak sadar kalau sedari tadi di perhatikan Aldo.
"Waktunya tinggal 15 menit lagi." ucap Pak Rama mengingatkan lalu beranjak pergi dari kelas.
"Baru jawab 2 nomor? Dari 15 soal?" tanya Agatha kaget melihat kelakuan Aldo.
"Eits jangan liat-liat deh ntar lo nyontek lagi!" ucap Aldo menutup kertasnya.
"Jawaban lo salah semua." ucap Agatha jengkel.
"Nih." ucap Agatha memberikan selembar kertas yang sedari tadi ia selesaikan itu kertas kecil berwarna pink, Aldo tersenyum licik melihat kertas itu.
"Pak, Agatha mau kasih contekan ke saya." Ucap Aldo saat Pak Rama kembali dan Agatha kaget, marah, sebal karena perbuatan Aldo ia tidak menyangka Aldo tega melakukan ini sangat di luar dugaan.
"Apa buktinya?" tanya Pak Rama.
"Nih pak." Aldo memberikan kertas kecil berwarna pink yang tadi di berikan yang tadi di berikan oleh Agatha.
"Agatha apa benar kamu yang melakukan ini?!" Tanya Pak Rama.
"I-iya ... pak" Agatha tertunda sedih.
"Kenapa kamu bisa memberikan contekan ini? Baru pertama kali kamu melakukan hal buruk ini?" Pak Rama heran karena Agatha selama ini taat pada aturan.
"Saya yang maksa pak, abisnya saya gak ngerti tuh pak kertas saya masih kosong banyak." ucap Aldo memperlihatkan kertasnya dan dibales gelengan jengkel dari Pak Rama.
"Kalian berdua sama saja salah, sekarang kalian saya hukum hormat bandera sampai pukul 17:00 jangan coba-coba kabur saya akan minta pak Deden (satpam sekolah) untuk mengawasi kalian." ucap Pak Rama tegas.
"Saya akan koreksi punya kamu saja, saya akan tolerir kesalahan kamu kali ini tapi bila diulang. Saya jamin kamu akan lengser dari jabatan kamu sekarang." Pak Rama memperingati dengan menajamkan matanya, ia memang salah satu guru yang berperan disekolah jadi kata-katanya tidak bisa dianggap remeh.
"Sejak ketemu lo, hidup gue jadi sengsara terus." ucap Agatha sambil menahan teriknya matahari di pukul 15.00
"Lo yang dekatin gue kan?" ucap Aldo mengingatkan.
"Lo ngapain sih kasih tau ke pak Rama? Bukanya tinggal nyalin, jarang-jarang tuh gue mau kasih contekan!" ketus Agatha panjang lebar.
"Kata nenek gue dulu, nyontek tuh dosa.
"Halah, lo aja pernah masukin contekan ke dalam kaos kaki emang itu gak dosa?" tanya Agatha mengingat bahwa Aldo pencontek handal.
Aldo hanya terdiam sambil tersenyum melihat Agatha dengan wajah masamnya, ia memang sengaja menunjukkan contekan itu agar ia bisa kabur dari ulangan, tapi ia lebih bersyukur karena sekarang ia justru dihukum bersama Agatha.
"Perasaan Uda berdiri berjam-jam sekarang baru jam 15.15?"Agatha menggerutu kesal.
"Gue punya ide, ini sih bisa bikin kita gak usah lama-lama disini." tawar Aldo berbisik kepada Agatha.
"Ogah, pasti ide lo gila gue gak mau jadi bad girl." Agatha mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Ngelakuin ini sekali gak bikin lo jadi bad girl." ucap Aldo kesal.
"Sekali gak ya tetap gak!" bentak Agatha setelah 15 menit mereka kembali menunggu sampai waktu hukuman selesai tapi itu masih lama sekali, Agatha merasa dehidrasi dan kepalanya pening.
"Lo pucet tuh, coba aja lo mau ikutin rencana gue." ucap Aldo melihat ke arah Agatha.
"Gue gak selemah yang lo pikir!"Ucap Agatha masih dengan yakin.
"Gue gak kuat gendong lo kalau pingsan, lagian gue yakin Pak Rama bakal ngertiin lo kalau pingsan sih." Ucap Aldo kembali membujuk.
"Gue gak butuh bantuan lo." Agatha masih berusaha menopang tubuhnya.
"Jangan salahin gue." ucap Aldo memberi kode pada Rangga, Rangga yang memang sedang berada di motor langsung menancap gas dan menyerempet Agatha, tapi Aldo lebih dulu menyingkirkan Agatha sehingga Agatha hanya terbentur tiang bendera.
Menyebabkan siku dan lutunya lebam sedangkan Aldo, sikunya terluka hebat dan kakinya terkilir. Dia melihat Agatha pingsan dan melihat Rangga bingung.
"Lo buruan cabut, dan bilang ke pak Deden yang lagi tidur kalau kita keserempet" ucap Aldo sedikit panik.
Ini semua salahnya, awalnya Rangga hanya berpura-pura menyerempet Agatha agar cewek itu menyerah namun semuanya salah perhitungan, akibat Agatha yang mulai kehilangan kesadaran maka Aldo berkorban dengan menarik Agatha ke arah lain.
"Tapi lo?" tanya Rangga karena melihat kondisi Aldo yang cukup parah.
"Gue bilang buruan!" teriak Aldo, Rangga segera tancap gas motornya dan menuju pos pak Deden.
"Pak ada yang keserempet tu di lapangan." Teriak Rangga lalu melaju dengan cepat, Pak Deden yang kaget langsung menghampiri TKP.
"Pak, bisa tolong panggil Pak Rama. Ini penting." ucap Aldo menahan rasa sakitnya, lebih tepat rasa khawatirnya kepada Agatha, Pak Deden segara berlari keruang guru.
"Aldo kenapa bisa begini?" Pak Rama datang dengan panik.
"Tadi ada murid ugal-ugalan nyerempet Agatha, pak." Aldo menjelaskan.
"Setau saya murid disini baik-baik ya kecuali kamu." Pak Rama bingung.
"Yah si bapak, orang lagi kena musibah masih bisa menghakimi." Aldo kesal, ingin Agatha segera tertolong.
"Yauda kamu bawa dia ke UKS, hukuman kalian saya anggap selesai ucap pak Rama.
"Yes! Makasih ya pak!" Aldo langsung menggendong Agatha tidak perduli keadaan dirinya.
"Saya harus kembali rapat, tolong ya Aldo." Pak Rama sedikit tidak tega dengan kondisi Agatha, tidak ada yang sadar dengan kondisi Aldo yang jauh lebih parah.
"Dek Aldo, itu tangan dan kakinya.dek Agatha biar saya yang gendong." ucap pak Deden menyadari Aldo lah yang terluka lebih parah.
"Gapapa pak, makasih banyak."Dengan langkah terseok sedikit dan menahan segala rasa sakit ditubuhnya ia menggendong Agatha menuju UKS, ia sedikit kesal mengapa jarak lapangan dan UKS cukup jauh.
Bersambung.......