
"Jadi gimana Win, lo udah dapet info soal ketos itu?" tanya seorang cowok saat berada di gudang sekolah.
"Udah dong bos, kebetulan pelindungnya yang sok jagoan itu lagi sibuk ngurusin cewek lain jadi aman kalau lo mau sedikit main-main sama Ketos cantik dan galak itu." ucap Erwin lagi yang mendapat senyuman jahat dari ketua gengnya itu.
"Oke siapin semua nanti sore, gue gamau tau gimana caranya bawa dia ke hadapan gue. Lo semua atur kalau berhasil gue kasih bonus." perintah Kevin sambil meninggalkan gudang dengan senyum yang amat lebar.
"Bentar lagi lo bakal hancur Do, cewek lo bakal gue hancurin dan setelah itu lo akan menjerit karena kekalahan!" Kevin sudah memikirkan akan mengunakan Agatha
Sebagai senjata menghancurkan Aldo, ia tahu sejak awal ia melihat bahwa Aldo mempunyai rasa terhadap ketua OSIS itu jadi apa salahnya ia sedikit bermain-main dengan gadis manis itu.
Aldo menatap langit pagi, ia geram ketika seseorang mengirimkan foto kedekatan sang kakak dengan gadis yang ia sayangi namun ia tak dapat berbuat banyak setidaknya ia sudah berjuang.
Sudah empat hari Aldo bolos dari sekolah, ia menghindari bertemu dengan Agatha tak mau menambahkan luka di hatinya beberapa hari belakangan ini ia merokok dan terkadang meminum minuman keras untuk menghilangkan stres dan sesak di hati setiap membayangkan wajah Agatha.
Semua kebenaran itu membuat Aldo sebenarnya ingin meminta maaf pada Agatha namun gengsi dihatinya membuat ia mengurungkan niat itu, tadi pagi Laras menceritakan bahwa ia lah yang berusaha menangkap sebuah kupu-kupu dengan mencoba berdiri sendiri dan akhirnya ia terjatuh.
Jelas ini bukan salah Agatha, baru Aldo yang tau kebenaran ini, hatinya lega saat dugaannya benar Agatha tidak mungkin mencelakakan orang lain demi tujuan tertentu itu bukan sifat gadisnya.
"Gue kangen lo," hanya Kalimat itu yang dapat diucapkan Aldo.
Sore ini ketua OSIS SMA Nusantara meminta Agatha untuk bertemu di sekolah mereka untuk membicarakan tentang pertandingan persahabatan. Sekarang Agatha sudah berdiri di depan pagar sekolah itu namun hatinya berat melangkah masuk jika mengingat kejadian buruk yang ia dapatkan di sekolah itu jika dulu Aldo tidak menolongnya maka ia akan di permalukan oleh geng Kevin.
"Coba bukan urusan sekolah, gak bakal gue mau kesini!"dengus Agatha kesal.
"Udah jam segini, apa Orin masih di dalam ya?" tanya Agatha ragu saat melihat jam tangan putihnya sudah menunjukkan pukul 17.00
"Coba cek dulu deh." Agatha melangkahkan kaki masuk.
"Korban udah masuk men." Erwin memberikan info.
"Kak, kakak mau ketemu sama kak Orin ya?" tanya seorang gadis.
"Iya betul, kamu tau dimana?" tanya Agatha sopan, senang rasanya menemukan orang baik di sekolah ini.
"Kakak lurus saja nanti di ujung lorong belok kiri."
"Oh iya makasih ya." Agatha tersenyum ramah dan mengikuti petunjuk anak itu.
Perasaan takut menjalar dihati Agatha mengapa Orin tidak mengajaknya untuk bertemu di lapangan atau ruang OSIS saja? Kenapa harus di ruangan pojok seperti ini, tapi Agatha terus melangkah.Sebuah suara mengejutkan Agatha, tangannya dicekal.
"Sasaran masuk perangkap bos." ucap sebuah suara, ia tidak sendirian, kedua temannya sedang memegangi Agatha.
Agatha takut dan memberontak dengan luar biasa kerasnya namun kekuatannya tidak sebanding dengan ketiga pria dihadapannya. Mereka pun membawa Agatha masuk ke dalam sebuah ruangan yang gelap, pengap, dan berdebu ya ini adalah gudang.Di saat itulah mulut Agatha yang tadinya dibekap pun di buka.
"Lo semua siapa?!" jerit Agatha dengan amat takut.
"Uh sayang, kok galak banget? Jangan ganas gitu dong kan aku jadi pengen mangsa kamu" ucapnya dengan seringaian jahat, Agatha masih belum bisa melihat siapa laki-laki itu namun samar-samar ia melihat ia memakai seragam SMA Nusantara
Sudah dua kali ia diperlakukan semena-mena oleh anak sekolah ini namun sekarang ia tak dapat berkutik, dalam hati memohon pertolongan Tuhan atas nasib selanjutnya yang harus ia hadapi dalam doanya ia memohon agar dikirimkan pahlawan kesiangan yang selalu berhasil menyelamatkan dirinya namun rasanya itu mustahil.
Sekarang pahlawannya tengah bersama wanita lain, ia punya tugas untuk menjaga wanita lain yang ia cintai bukan wanita bodoh yang menyia-nyiakan cintanya saat mengingat itu air mata Agatha menetes deras.
"Sayang kan gue belum apa-apain lo kok udah nangis aja, kalau gitu aku akan buat kamu menjerit aja ya." laki-laki itu mulai maju ke hadapan Agatha dan sekarang mata Agatha membelalak, ia kaget saat melihat Kevin di hadapannya rasanya kemarahannya memuncak mengapa selalu cowok ini yang menganggu ketenangan hidupnya apa salahnya?
"Jangan pernah lo katain Aldo dengan mulut kotor lo! Dan jangan bawa-bawa Laras!" ucap Agatha tegas menantang, entah keberanian dari itu mencuat saat mendengar Kevin mengatai Aldo.
"Lo terus aja belain dia, sekarang dia udah gak bakal nolongin lo! Lo milik gue sekarang, jujur aja lah Tha lo juga mau kan sama gue? Kita bisa habisin waktu berdua kok tanpa ada pengganggu." Kevin semakin mendekat ke arah Agatha sambil mengisyaratkan agar anggota gengnya pergi karena ia ingin menikmati waktu bersama perempuan yang dicintai oleh musuh bebuyutannya.
"Gue gak mau sama lo! Dan gak akan pernah mau!" bentak Agatha lalu mundur perlahan.
"Apa sih hebatnya si peng3cut itu? Arghhh!!! Semua cewek suka sama dia! Gak lo, gak Steffi!" ucap Kevin kesal mengingat kejadian 3 tahun lalu.
"Steffi?" tanya Agatha bergetar.
"Oh jadi si brengsek itu belum cerita ke lo? Biar gue kasih seberapa buruknya dia!" Kevin menyeringai.
"Dulu gue, dia dan Steffi adalah sahabat dekat dan ya gue punya rasa yang beda ke Steffi begitupun Aldo tapi dengan liciknya dia ngerebut Steffi dengan cara curang dia deketin orang tuanya Steffi supaya dapat restu,
Buruk kan kelakuannya? Dan sialnya gue kalah telak Steffi mencintai Aldo bahkan sampai saat ini dan gue hanya bisa bersedih melihat itu, setelah Aldo dapat Steffi dia malah dengan begonya memcampakan Steffi, gue berharap bisa gantiin posisi Aldo tapi, Steffi terlalu mencintai Aldo dan menjadi buta akan cinta sejak hari itu gue berjanji akan merebut semua yang Aldo punya terutama kebahagiaannya.
"Aldo gak salah, orang tua Steffi yang minta dia untuk jaga Steffi selama mereka ke luar negeri." terang Agatha tiba-tiba membuat amarah Kevin semakin memuncak.
"Bohong! Lo gak tau apa-apa! Jangan ikut campur! Jangan bela si brengsek itu!" tegas Kevin semakin mendekat ke arah Agatha, sekarang Agatha sudah sampai kepada tembok dan tak bisa melangkah kemana-mana lagi.
"Sekarang gue akan balas dendam dengan merebut pacarnya, kita lihat apakah kalau gue udah nyentuh lo dia masih tetap mencintai lo?" tanya Kevin mulai mengangkat tangannya ke bagian wajah Agatha tepatnya di daerah kening lalu turun ke pipi 'cup' Kevin memberikan kecupan hangat di pipi Agatha. Agatha menghindari namun pundaknya ditahan oleh tangan Kevin.
"Udahlah sayang gak perlu berontak, gue cuma butuh sebentar aja kita bermain, oke?" tanya Kevin membisikkan di telinga Agatha sedang Agatha terus berontak.
"Si pencndang itu gak salah milih cewek, lo cantik dan gue suka itu." Kini Kevin mula memeluk Agatha menghirup aroma tubuh Agatha.
Agatha tidak tinggal diam ia terus memberontak kesana dan kemari seperti orang gila, ia tak mau tubuhnya di sentuh oleh cowok semacam Kevin sampai akhirnya kesabaran Kevin memuncak.
"Sialan! Lo diem atau..." umpat Kevin dan ucapannya tertahan dan ia mengeluarkan sebuah pisau dan itu membuat Agatha kaget setengah mati jantungnya mulai berdebar tidak karuan ia takut sekali dan hanya berharap ada keajaiban.
"Nah gini dong, kalau diem aku gak bakal nyakitin kamu sayang." Kevin kembali melunak, ia seperti orang gila yang terkadang menjadi buas namun kembali lembut.
Kevin mulai bertindak lebih kurang ajar ia ingin mencium Agatha tepat di bibirnya namun Agatha mendorong Kevin dan segera ingin membuka pintu mencari pertolongan sayangnya pintu terkunci rapat dan tawa jahat Kevin menggema di seluruh ruangan.
"Jangan pikir gue bodoh dengan ngelepas lo gitu aja, kita lihat sejauh mana cowok lo cinta sama lo!" tantang Kevin lalu bangkit dengan amarahnya karena sudah di dorong oleh Agatha.
"Sekarang lo gak akan bisa kabur heh?" Kevin menarik tangan Agatha kasar.
"Tolong ...!" teriak Agatha namun percuma saja di SMA Nusantara sudah tidak ada orang
"Percuma lo teriak mending lo diam dan menikmati permainan ini." Kevin mendorong Agatha sampai ke tembok, tanpa sedikitpun rasa menyerah Agatha kembali memberontak ia tidak terima jika diperlakukan seperti ini sampai Kevin mendorongnya ke lantai.
"Gue muak sama lo yang ngelawan gue terus!" bent4k Kevin mengeluarkan pisau dan itu membuat tubuh Agatha bergetar hebat air mata mengalir lebih deras.
"Please gue mohon jangan sakiti gue," lirih Agatha namun hanya mendapat tawa dari Kevin
"Bugh terdengar dentuman keras dari pintu yang ditendang.
"Udah gue peringatkan, jangan pernah sentuh dia!" sebuah suara dingin namun terdengar sangat berat memenuhi ruangan membuat Kevin menyeringai tahu siapa pemiliknya
Bersambung.........