
Hari terus bergulir, canda tawa mengiringi hari-hari Aldo dan Agatha rasanya mereka seperti pasangan baru yang tak terpisahkan dan memang itu kenyataannya sudah hampir dua bulan mereka menjalin hubungan pacaran satu sama lain mulai saling mengenal.
Contohnya seperti sekarang mereka berdua sedang berada di perpustakaan dimana Aldo sedang membawa sketchbook nya inilah sisi lain Aldo yang tidak banyak orang tahu ia sangat suka menggambar, menuangkan segala perasaan lewat gambar yang ia buat sendiri memang ia tidak terlalu ahli masih amatir namun ini hanya sebagian hobinya di waktu luang ia akan menggambar sketsa wajah, tempat dan benda.
Ia lebih menyukai sketsa dibanding gambar berwarna karena hanya dengan sebuah pensil ia dapat melukiskan ide yang ada di dalam kepalanya.
"Do ngapain sih?" tanya Agatha bosan ia sedang tidak ingin membaca buku di perpustakaan karena sekarang ia ingin memiliki waktu berdua bersama Aldo namun hanya kesepian yang ia dapatkan.
"Lagi gambar Tha." jawab Aldo masih sibuk dengan sketsanya.
"Aku tahu maksudnya, gambar apa? Pemandangan ya? Yang gunungnya ada dua mataharinya di tengah sama ada sawah juga sungai?" Agatha berkata polos, dan selanjutnya Aldo hanya terkekeh mendengar pertanyaan beruntun dari kekasihnya itu.
"Ini beda, ada nilai estetikanya tau," ucap Aldo mencubit kedua pipi Agatha yang chubby.
"Ih.. sakit tahu!" Agatha cemberut dan Aldo makin gemes.
"Aku gak bisa gambar Do, bikin garis aja gak lurus, mau bikin lingkaran gak jadi bulat, gatau deh gak ada yang bisa-bisanya dalam hal seni." Agatha jadi berbagi cerita dengan Aldo, akhir-akhir ini mereka sering menghabiskan waktu bersama bertukar cerita dan impian dan sejak belakangan ini pula sebutan mereka berganti menjadi aku-kamu itu adalah hal yang baru bagi Agatha namun tidak dengan Aldo yang sudah pernah memakai sebutan itu untuk pasangan-pasangan terdahulunya.
"Dalam menggambar gak bisa hanya karena jago butuh kesabaran dan ketekunan dalam mengerjakannya, setiap coretan yang kamu torehkan itu bermakna." ucap Aldo sambil terus fokus pada apa yang dikerjakannya sementara Agatha bingung mengapa Aldo menjadi sangat bijak berbeda ketika mereka belum memiliki hubungan.
"Sama seperti kamu yang suka menanam bunga anggrek putih butuh kesabaran saat menanamnya butuh 5-7 tahun agar ia tumbuh sempurna dan indah dan kamu tahu gak kalau dulu para pemburu tanaman harus masuk ke dalam hutan yang dihuni suku asing demi mendapatkan anggrek yang terbaik. Diteliti abis itu di kembangkan supaya bibitnya bisa kita tanam di rumah kayak sekarang." Aldo menyentuh hidung Agatha dengan telunjuknya.
"Ih Aldo jadi bijak dan pintar deh, sejak kapan seorang Aldo itu ngerti tentang pengetahuan kayak gini? Hem?" tanya Agatha cemberut.
"Sejak pacaran sama si Ketos yang selalu rangking 1." ucap Aldo membuat Agatha terkekeh.
"Tha, besok kan hari Minggu kalau kita jalan gimana? Anggap aja kencan pertama?" kata Aldo, sikapnya yang sekarang sangat lembut berbanding terbalik sebelum pacaran dengan Agatha, suasana hati Aldo tenang seperti mendapat kedamaian jika dekat dengan gadis itu.
"Pas banget, sekalian aku mau ngajak kamu ke makam mama." ucap Agatha spontan membuat Aldo sedikit kaget, karena belum lama mereka bersama tapi Agatha menganggap hubungan mereka serius membuat Aldo lebih semangat untuk terus menjaga wanita disampingnya.
"Boleh, jam 10 aku jemput," ucap Aldo selanjutnya hanya perbincangan singkat diantara mereka saling bertukar pengalaman dan cerita.
"Aku gabung sama anak-anak dulu ya." ucap Aldo saat melihat gengnya sudah ada di pinggir lapangan sehabis bermain futsal.
"Oke, aku ke kelas ya." ucap Agatha paham, walaupun mereka sekarang pacaran tentu dunia bukan hanya milik mereka berdua masih ada orang-orang di sekitar yang menjadi bagian dari kisah hidup mereka berdua.
"Bye ibu negara.." celetuk Dito dengan senyum yang menggoda Agatha dibalas Agatha dengan tampang sinis lalu beranjak pergi.
"Galak amat si ibu negara," ucap Dito lagi yang mendapat tawa dari keempat orang lainnya dan Aldo hanya bisa terkekeh ya itulah sikap kekasihnya ketus kepada banyak cowok kecuali Aldo, kekasihnya sekarang.
"Si Okky sama Rangga mana?" tanya Aldo yang hafal siapa-siapa saja geng nya, awalnya mereka memilik anggota 11 orang namun yang paling dekat hanyalah Okky, Rangga, Dito, Felix, Feldo, Gerald dan Zack mereka adalah teman yang cukup dekat hanya berbeda kelas dan jurusan saja.
"Lagi pacaran bos, sekarang mereka mah sombong udah jarang gabung sama jombol-jomblo kayak gini." ucap Zack yang memiliki sifat hampir mirip seperti Dito suka ngelawak sedang Felix dan Feldo adalah dua anak kembar lalu yang terakhir Gerald adalah yang paling cool bisa di bilang memiliki sifat hampir sama dengan Aldo.
"Gudang belakang aja deh." Aldo mengajak teman-temannya menuju tempat yang sangat nyaman bagi gengnya.
"Kenapa jadi kayak triple date ya kita?" tanya Riska spontan saat ketiga pasangan ini sedang ada di Kanti untuk menikmati jam istirahat.
"Padahal gak sengaja ketemu," ucap Mila yang kini mulai berani berbicara, biasanya ia hanya menjadi sosok cewek pendiam.
"Kapan-kapan kencan bareng oke tuh." celetuk Okky.
"Gue denger-denger ada yang nyebut-nyebut nama gue nih?"tanya Agatha tiba-tiba muncul.
"Serem amat Tha baru di sebut namanya sudah muncul aja,"celetuk Rangga.
"Tumben gak sama Aldo?" tanya Eza saat melihat ketiadaan Aldo.
"Lagi gabung sama gengnya, nih lo berdua tumben gak ikutan?" tanya Agatha mengarah pada Okky dan Rangga.
"Lagi pengen quality time dong sama pacar." ucap Okky melirik Riska yang dibalas dengan muka datar.
"Masih kaku aja lo Ris!" goda Febri yang akhirnya membuat tawa mereka pecah karena Riska blushing.
"Ah lo pada rese!" Riska menjadi cemberut.
"Eh gue sama Eza duluan ya, mau cek anak basket." ucap Febri yang memang akan selalu berurusan dengan tim basket ditambah Eza yang membantunya memiliki peran besar sebagai wakil ketua OSIS.
"Gue juga izin mau nemanin Mila latihan musik bareng kak Alvin." Rangga sengaja menggoda Agatha.
"Ati-ati muka lo jauh sama Alvin awas ketikung!" ucap Okky spontan membuat muka Rangga menjadi masam lalu tawa mereka pecah terutama Agatha dan Mila yang dulu memiliki rasa terhadap Alvin.
"Kalian juga mau pergi?" tanya Agatha memelas.
"Yeh Tha, lebay lo kita mah gak sok sibuk tenang kita bakal temanin lo." ucap Riska sambil menyuruh Agatha duduk dan diwaktu berikutnya hanya tawa mereka bertiga karena tingkah lucu Okky yang terdengar memenuhi kantin siang itu
"Aldo mana ya?" tanya Agatha bergumam.
"Dari tadi gak kelihatan Tha?" tanya Tari saat mengetahui kegelisahan Agatha terus memandangi tempat duduk Aldo, sejak tadi setelah mereka berpisah di lapangan Aldo tidak masuk di jam pelajaran berikutnya dan langsung membuat Agatha cemas.
"Paling lagi sama gengnya, udah fokus belajar aja dulu." ucap Febri yang juga mendengar kegelisahan sahabatnya itu dan Agatha hanya bisa berusaha fokus pada pelajaran bahasa Inggris di hadapannya kini.
Saat jam pelajaran berakhir dan digantikan dengan waktu istirahat.
"Lo pada beneran gak tau Aldo dimana?" tanya nya pada Okky dan Rangga.
"Enggak Tha, dari tadi belom belum anak-anak." ucap Rangga dengan memaksudkan anak-anak adalah geng mereka.
" Coba deh cari digudang belakang, tempat nongkrong biasa."ucap Okky menyarankan
"Mau kita temanin Tha?" tanya Riska
"Gak deh, kalian duluan aja ya." " ucap Agatha langsung menuju tempat yang dimaksud Okky.
Setelah sampai di gudang belakang, dengan ragu Agatha membuka gudang tersebut terdapat Aldo, Dito, dan Gerald yang sedang tertidur pulas ditemani beberapa bungkus rokok yang telah habis dengan rasa kecewa Agatha ingin melangkahkan kaki keluar ia merasa gagal sebagai pacar
Karena belum mampu merubah Aldo menjadi pribadi yang lebih baik sambil menahan rasa kecewa Agatha mengambil handphonenya dan segera menekan tombol hijau beberapa detik setelah itu ponsel Aldo berbunyi dan si pemilik perlahan membuka mata merenggangkan otot melihat siapa yang menghubunginya namun matanya lebih dahulu menatap gadis yang ada diambang pintu.
"Gatha?" tanya Aldo bingung.
Bersambung.........