
Kejadian di lapangan tadi membuat acara go green sedikit terhambat namun untunglah semuanya dapat diatasi sedangkan sang Ketua OSIS menangis dan mengurung diri di ruangan OSIS, ia benci pada Steffy dan siapapun yang membelanya termasuk cowok bad yang g*la itu.
Sekarang semua wewenang dan tugas ia berikan kepada Eza selaku wakil ketua OSIS, ia hanya ingin menenangkan diri setelah kejadian yang cukup menguras emosinya kenapa mulut Steffy hanya bisa membuat orang terluka kenapa harus menyinggung mamanya seolah-olah mamanya salah ia benci itu. Bagi Agatha mamanya adalah mama terhebat di dunia karena ia bisa menjadi seperti sekarang karena motivasi mamanya sebelum meninggal.
"Lo boleh benci gue, hadapi gue tapi jangan bawa-bawa mama gue. Gue benci lo Steffy, Aldo!" kata-kata itu muncul saat Agatha masih terdiam duduk di ruang rapat OSIS dengan kedua tangan menjadi sandarannya di atas meja.
"Emang kalau sesuatu yang menyangkut keluarga sensitif ya."Sebuah suara asing masuk ke indera pendengaran Agatha, kepala Agatha berat jadi ia memilih diam dan mencoba mendengarkan Kalimat selanjutnya.
"Kamu boleh nangis tapi, nanti aja ya. Sekarang saya mau minta kunci ruang musik bisa?" kekeh Alvin, anehnya setelah Agatha mencerna lebih lagi suara itu ia seolah paham siapa pemilik suara itu.
jadi dengan perlahan ia merubah posisi kepalanya dan ia langsung Mundur dan hampir saja terjatuh seketika karena melihat siapa yang berdiri dengan gaya paling cool di dekat pintu dan melihat reaksi Agatha, Alvin hanya mengangkat sedikit sudut b*b*rnya.
Agatha melihat itu dengan jelas, ia melihat bagaimana seorang good boy terbaik di sekolah ini sedikit ya hanya sedikit mengangkat sudut b*b*rnya hanya dengan melihat tingkah b*doh ketua OSIS nan perfeksionis.
"Jadi? Saya bisa pinjam?" tanya Alvin, yang ditanya tidak memberikan reaksi sama sekali. Agatha mematung di posisinya melihat seorang titisan dewa Yunani ada di hadapannya dan sedang berbicara dengan ia, sungguh beruntung.
Tanpa sadar ada seseorang yang mengintip dari luar, ia kesal melihat apa yang terjadi di dalam dengan senyum getir seolah paham memang kakaknya lah yang pantas untuk gadis itu.
Agatha berharap waktu berhenti berputar, ia merasa seluruh darahnya beku, tangannya dingin, kegugupan hebat menggucang dirinya kemana Agatha yang pemberani mengapa hanya dihadapan seorang Alvin Dirgantara Pertama, ia ciut? Kenapa? Agatha masih terdiam sedangkan jantung tidak bisa di kontrol,
Alvin yang mulai jenuh akhirnya mengambil langkah dengan maju mendekati Agatha, pergerakan Alvin membuat Agatha tersadar dan ini tidak baik sinyal buruk untuk jantungnya tapi, semakin dekat jarak Alvin dan Agatha.
"Jadi kunci ruang musiknya dimana?" tanya Alvin yang masih berdiri menatap Agatha yang masih duduk. Agatha tau bahwa kunci musik memang ada di ruangan ini tapi, mengapa lidah nya kaku hanya untuk mengucapkan letak kunci itu setelah ia pasti bisa bernafas, oksigen di sekitarnya menipis itu yang Agatha rasakan.
"Di laci biru kak." suara yang sangat pelan perlahan keluar dari mulut Agatha, dan Alvin tanpa banyak bertanya mengambil kunci itu dan bersiap menuju ke arah pintu namun sebelum keluar.
"Makasih, jangan nangis lagi."Ucapnya sebelum membuka pintu.
Setelah Alvin keluar dari ruangan OSIS, Agatha memegang dadanya dan merasa jantungnya seperti lari maraton berdebar tidak karuan ditambah oksigen yang menipis baginya satu ucapan Alvin berdampak hebat mengubah seluruh perasaannya seperti sekarang ia senang bukan main saat Alvin menyuruhnya untuk tidak menangis lagi.
"Aduh mimpi apa gue semalam , satu ruangan sama kak Alvin di tambah dia kasih kata-kata penghiburan lagi." Agatha tersenyum senang dan melompat-lompat kesana kemari membayangkan kejadian tadi namun ia berhenti sejenak.
"Astaga gue kan abis nangis, pasti mata gue bengkak, hidung gue merah terus rambut gue acak-acakan. Yah hancur deh image gue di depan kak Alvin." ia memajukan b*b*rnya.
"Za, tadi anak MOS Uda ngapain aja? Sorry ya gue gak bisa ngikutin." ucap Agatha saat melihat Eza di pinggir lapangan.
"Tadi sih habis go green, makan bersama di lapangan sekarang masih jam mereka buat games.gapapa Tha, santai gue ngerti kok." Eza mengerti apa yang terjadi di lapangan, bahkan seluruh sekolah mendengar kejadian itu.
"Lo istirahat dulu gapapa Za, gue bisa gantiin kok buat ngawasin." ucap Agatha tak enak karena melihat Eza hanya minum.
"Serius lo udah lebih baik?" Eza memang sangat baik disamping itu dialah satu-satunya teman cowok yang cukup dekat dengan Agatha.
"Ini tanggung jawab gue dan gue pasti baik-baik aja." hanya itu yang terucap dari Agatha
setelah itu Eza pergi dan tinggal Agatha yang termenung memperhatikan langit siang hari dan lapangan luas tempat dimana tadi hatinya terluka karena perkataan Steffy.
"Iya Do, tuh siomay sampe melting gara-gara lu liatin doang." ucap Rangga seperti memelas
"lh dodol lu Ngga mana bisa siomay melting, lu kata dia cewek?" Okky menoyor kepala Rangga.
"Siapa tahu tuh siomay jenis kelaminnya cewek, coba lu cek Ky." ucap Rangga sambil tertawa dan mereka larut dalam candaan selanjutnya.
sedangkan di sisi lain Aldo mengulang memori dimana saat di lapangan sebuah kalimat yang sedari tadi memenuhi pikiran dan relung hatinya.
Gue benci lo rasanya hal itu sudah sangat sering ia dengar dari teman-teman cewek sekelas yang sering ia ganggu pasti membenci dirinya namun bila kalimat itu keluar dari Agatha mengapa efek yang ditimbulkan mampu membuat gejolak hebat pada dirinya.
"Kalau ada cewek yang bilang kalau dia benci kita, apa reaksi lo berdua?" tanya Aldo tiba-tiba Okky dan Rangga sedang tertawa sambil melahap bakso dengan sedikit tersedak Okky menjawab.
"Ya gue juga jadi benci sama tuh cewek." ucap Okky santai yang memang terkenal playboy seantero sekolah.
"Tuh kan begonya sih Okky kumat." Ucap Rangga.
"Gue serius." Aldo berucap dingin, kedua sahabatnya sangat paham bila Aldo sudah begini pasti ia ingin serius.
"Kalau gue sih pastinya gue tanya dulu lah kenapa dia benci sama gue? Alasannya apa?" Jawab Rangga santai namun bagi Aldo itu adalah titik terang, dari tadi ia terus memikirkan kata-kata yang diucapkan Agatha berulang namun tidak memikirkan solusinya.
"Tumben lo pintar, Ngga." ucap Aldo sambil melahap bakso sahabatnya itu.
"Dasar tukang tikung bakso." ucap Rangga kesal dan mereka larut dalam candaan.
"Kalau gitu gue mau makan ke kelas deh."
"Siomay lo?" tanya Okky melihat siomay milik Aldo tidak terjamah sedikitpun.
"Buat lo berdua aja." ucap Aldo.
"Asik siomay gratis, kapan lagi?" Okky berucap namun Aldo berbalik.
"Pak Dadang siomay saya dibayar Okky sama Rangga. Makasih." teriak Aldo dan langsung berlari.
"Kampret lo Do, gak jadi deh siomay gratis kita." Okky dan Rangga dengan wajah memelas pun kembali menikmati makanan mereka.
Aldo sedang mencari gadis yang membuat perasaannya tak karuan namun tak menemukannya di kelas, tapi mata tajamnya berhasil mendapatkannya di pinggir lapangan sedang menatap kosong ke depan, ada apa dengan gadisnya. Ia harus segera kesana.
Saat ia ingin berjalan menghampiri gadis itu ia melihat Riska dan Febri duduk di dekat Agatha jadi ia mengurung niat dan menatap gadisnya itu dari kejauhan.
"Tha, sorry ya gue sama Febri gak bisa bantuin Lo pas lo dihina-hina sama si Steffy." ucap Riska.
Bersambung.......