Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin

Ketos Galak VS Bad Boy Nyebelin
#31 Dilema



"Iya? Kenapa Mil?" tanya Agatha saat Mila mengajaknya ke arah taman sekolah.


"Mau ngomong sebentar." Mila memang seorang yang sangat pemalu.


"Ngomong soal apa?" tanya Agatha mulai bingung dengan arah pembicaraan ini.


"Aku suka sama kak Alvin, aku mohon banget kamu tolong jauhin dia." Mila seperti ingin menangis.


Agatha menjadi bingung dengan perilaku Mila yang membuat posisinya sulit jadi ia berdiam sejenak berpikir kata-kata apa yang dapat menenangkan Mila sungguh ia tidak tega.


"Kalau buat jauhin aku gak bisa Mil, kalau kita bersaing secara sehat bagaimana?" tanya Agatha dengan tersenyum.


"Kamu kan udah punya Aldo harusnya kamu bisa lepasin kak Alvin." Mila sudah berlinang air mata.


"Kamu salah paham Mil," ucap Agatha memegang tangan Mila namun segera ditangkis dan ia berlari menuju ke luar gerbang.


Agatha merasa sangat bersalah ia berada di posisi yang sulit.Hiruk pikuk kota Jakarta sudah dimulai sejak pagi hari dimana setiap orang memulai aktivitas dan berharap hari ini akan lebih baik dari sebelumnya itu juga yang menjadi harapan seorang gadis berambut panjang dengan pita berukuran sedang yang berada di bagian belakang kepalanya, sekarang ia berada di gedung sekolah


Entah mengapa ia malas ke sekolah hari ini bukan karena guru killer atau pelajaran yang sulit namun perkataan Mila kemarin membuatnya ragu dan bimbang dengan hatinya, sejak dulu memang menyukai Alvin namun Aldo juga hadir menghiasi harinya.


Tapi hidup adalah sebuah pilihan dan Agatha tetap yakin dengan pilihan awalnya bahwa akan tetap memperjuangkan cintanya walaupun harus bersaing dengan Mila.


Satu hal yang membuat Agatha sedih setiap pilihan pasti memiliki konsekuensi dan sekarang ia merasakan bagaimana jauh dari kedua sahabatnya memang mereka sudah dewasa tidak ada sindiran yang diterima hanya sebuah jarak yang dibuat Riska dan Febri yang mungkin membuat posisi Agatha sangat sulit, beberapa hari terakhir Agatha berusaha mendekati keduanya namun hasilnya nihil keduanya memilih bungkam dan menjauhi dirinya.


Agatha sudah selesai dengan ulangan fisika dan sekarang ia berniat ke ruang Bu Alda untuk membuat hukumannya berubah menjadi hal lain selain berusaha membuat Aldo mendapat nilai lebih baik pada pelajaran hitung-hitungan.


"Permisi Bu." Agatha mengetuk pintu ruangan ibu Alda tapi ia dibuat terkejut dengan kehadiran Aldo yang kelihatannya sedang berbicara serius jadi Agatha akan mengurungkan niatnya, sekarang ia bingung akan mencari alasan yang tepat.


"Kebetulan ada Agatha." ucap Bu Alda, dan Agatha menjadi bingung.


"Aldo sudah bilang kepada saya bahwa selama ini ia memang diajar dengan baik oleh kamu namun ia juga kasihan karena kamu harus bagi waktu untuk ini dan itu jadi Aldo memutuskan untuk diajar oleh Steffi anak kelas XII IPA 2.


" Bu Alda memberi penjelasan dengan tersenyum namun ada yang berbeda dari Agatha ketika mendengar pernyataan itu bukanlah kelegaan yang ia dapat justru amarah dan ketidaksukaan.


"Steffi? Gak ada yang lain Bu?" tanya Agatha.


"Itu atas permintaan Aldo sendiri." ucap Bu Alda menatap Aldo yang berada disamping Agatha.


"Baik Bu bila itu keputusannya, saya pamit dulu." ucap Agatha cepat.


ada gejolak cukup hebat mendera hatinya seperti ada perasaan tidak senang saat mendengar Steffi, ia memang tidak suka kepada Steffi karena tindakan sewenang-wenangnya.


Namun bukan ini alasannya ia hanya tidak suka bila Aldo diajar oleh orang yang salah hanya itu alasannya. Tapi, jauh di dalam lubuk hati Agatha ia masih meragukan alasan itu, sejak dulu ia tidak pernah memperhitungkan Aldo agar masuk ke dalam hidupnya namun sekarang ia sadar arti kehadiran Aldo secepat mungkin Agatha berusaha melupakan perasaan itu.


"Hai kak!" sapa Agatha saat bertemu Alvin di dalam perpustakaan, sekarang keadaan Alvin sudah lebih baik dan tidak memakai kursi roda hanya ia harus berjalan lebih pelan, Agatha berusaha melupakan semua kecurigaannya tak beralasannya kemarin.


"Hai juga Agatha, ceria banget?" tanya Alvin.


"Harus dong kak, kalau kita ceria energi positif kita bakal keluar." jawab Agatha dengan semangat.


"Iya deh, saya senang kalau kamu jadi cewek yang selalu ceria begini." Alvin kembali mengacak puncak rambut Agatha membuat suasana romantis kembali tercipta di antara mereka.


"Hubungan Aldo sama Steffi itu gimana sih kak?" spontan pertanyaan itu membuat Alvin menatap Agatha.


"Mereka itu temen dekat dari SMP, pernah pacaran cuma sebentar setelah itu Aldo merasa kurang cocok dengan Steffi jadi mereka putus." jelas Alvin.


"Tapi mereka sampai sekarang masih dekat gitu?" Agatha belum puas.


"Karena orang tuanya Steffi nitipin dia ke Aldo, kayak semacam amanat." Alvin melanjutkan pembacaannya tapi Agatha hanya bisa terdiam setelah tau alasannya.


"Kenapa nanya tentang Aldo mulu? Suka ya sama adik saya?" tanya Alvin dengan senyum jahil.


"Ih apaan sih kak, ngarang deh!" ucap Agatha kesal namun mengemaskan.


"Atau suka kakaknya?" pertanyaan itu membuat Agatha bungkam.


apakah ini sebuah pertanyaan yang harus Agatha jawab sehingga Alvin tahu perasaannya atau ini hanya candaan semata.


"Iya kali ya." jawab Agatha dengan kekehan.


"Barusan kamu baru nyatain suka sama saya ya?" tanya Alvin tertawa kecil.


"Apaan sih kak udah deh godain saya nya." ucap Agatha cemberut tiba-tiba handphone Alvin berbunyi menandakan ada panggilan masuk sehingga Alvin pamit keluar untuk mengangkatnya.


Agatha bosan menunggu mengapa Alvin tidak kembali lalu ia melihat buku yang tadi di baca kak Alvin 7 jenis kanker awalnya Agatha bingung mengapa Alvin membaca buku itu pikiran buruk langsung melintas di otaknya namun segera ia singkirkan.


"Kan kita anak IPA wajar kali baca buku kayak gini." Agatha bermonolog kemudian terdengar suara bel tanda berakhirnya waktu istirahat jadi Agatha memutuskan untuk kembali ke kelas ketika ia berjalan tak ada Alvin mungkin ia sudah kembali ke kelasnya pikir Agatha.


Sesampainya di kelas Agatha baru teringat ia masih membawa hadiah pemberian dari Aldo, ia membukanya dan terkejut dengan pemberian Aldo, yang diberikan Aldo membuat hatinya yang sedari tadi gundah menjadi lebih baik. Novel yang dulu ia lemparkan ke arah Aldo saat ia bertemu dengan Aldo di jalan sudah di ganti yang baru serta sebuah bunga anggrek putih.


Sekarang Agatha merasakan dilema,


Bagaimana mungkin Aldo tetap baik padanya walaupun ia sudah seringkali berkata tidak mengenakan pada laki-laki itu, ia sering menyuruh Aldo pergi namun Aldo selalu ada di sampingnya.


bahkan Aldo membelikan novel yang sulit di cari seperti ini, bagaimana Aldo menemukannya? Apa mungkin Aldo menyukainya? Dengan segera Agatha mengusir pikiran macam itu, lagipula saat ini ia sudah dekat dengan Alvin, ia harus setia hanya pada satu laki-laki.


Bel pulang sudah berbunyi sejak tadi tapi Agatha belum bisa menemukan dimana Alvin padahal ia baru saja membeli dua tiket musik jazz untuk mereka berdua.


"Kok kak Alvin gak ada ya?" tanya Agatha saat ia sudah lelah mencari, lebih baik ia menelpon pikirnya.


Namun hasilnya nihil tak di angkat padahal ia telah menghubungi sebanyak tiga kali.


"Apa datengin rumahnya aja ya? Tapi gengsi banget." Agatha kembali bermonolog, kali ini matanya menemukan hal yang cukup memedihkan melihat kedua sahabatnya tertawa bersama.


"Gue kangen kalian." perkataan itu menyayat hati Agatha membuatnya meneteskan air mata.


"Gue pengen kita bisa bareng-bareng kayak dulu." kali ini luapan kerinduan kepada kedua sahabatnya kembali menikam hatinya,Sungguh memori tentang masa Smp kembali tergiang.


Bersambung........