
...κ§-`π·π°πΏπΏπ ππ΄π°π³πΈπ½πΆΒ΄-κ§...
...βΌ...
...βΌ...
...βΌ...
Terry terdiam menatap langit malam tanpa bintang, saat ini ia berada ditaman belakang Mansion tak bernama tempat dimana dulu Jeanelle tinggal. Entah kenapa sejak ia kembali ia selalu ke tempat ini seolah-olah ada sebuah kerinduan yang mendalam yang tak akan pernah bisa di ulang.
Terry sendiri sejujurnya juga tau kalau tidak pernah ada kenangan apapun antara dirinya dengan Jeanelle, justru dirinya selalu mengabaikan Jeanelle dan bersikap acuh tak acuh pada gadis yang selalu memperhatikannya itu.
Surai merahnya bergerak-gerak tertiup angin malam, ia mengeratkan jubah tidurnya karena angin malam ini terasa dingin. Pikiran Terry melayang dikala ia menyampaikan berita tentang Jeanelle kepada Kaisar.
Terry agak terkejut karena Jeanelle menolak permintaannya, padahal dulu Jeanelle selalu melakukan apapun yang Terry suruh dengan wajah yang riang, tapi sekarang Jeanelle berubah. Tatapan cerianya tidak ada dan tergantikan dengan tatapan yang dingin nan tegas, senyum tulus yang selalu ditampilkan Jeanelle kepada kakak-kakaknya juga tergantikan dengan senyum palsu formalitas saja.
Sebenarnya apa yang terjadi? Menurut pengelihatan Terry, jiwa yang berada didalam tubuh Jeanelle adalah jiwa yang sama seperti sebelumnya hanya saja memang terlihat agak tua. Tapi tetap saja ia masih jiwa yang sama, lalu kenapa bisa berubah drastis seperti itu?
Apa ada kesalahan dalam memutar waktu?
"Sial! Bukan aku yang memutar waktunya, tapi semua ini jelas sangat aneh." gumam Terry sambil menyeritkan keningnya, kakinya bergerak menendang sebuah kerikil yang entah kenapa bisa berada disana.
Duk.
"Aww..." suara itu terdengar jelas ditelinga Terry membuat Terry dengan spontan menoleh sekelilingnya.
"Aduh, orang gila mana sih yang melempar batu malam-malam?!" kesal seorang gadis yang baru saja keluar dari semak-semak belukar.
Gadis itu mengenakan gaun pendek berwarna coklat berlengan ΒΌ, jubah coklat, sepatu boots tanpa hak dan surai bergelombangnya yang dikepang satu. Gadis itu mengelus kepalanya dan perlahan-lahan bangkit dari posisi merangkaknya, ia berdiri.
"Jeanelle, apa yang kau--" ucapan Terry terhenti.
Dilihat sekalipun sudah jelas jika Jeanelle kabur dari Istana dan bermain dengan teman-temannya yang entah siapa itu. Ini memang bukan pertama kalinya sih, tapi tetap saja Terry bertanya-tanya kenapa Jeanelle bisa seberani ini. Sebelumnya kan tidak begini.
"Apa yang Pangeran lakukan disini?" tanya Jeanelle tanpa rasa takut karena kepergok ataupun takut karena telah berbicara kasar.
"Ah! Aku hanya tidak bisa tidur, kau sendiri? Kau kabur lagi dari Istana?"
Jeanelle menukik alisnya, kabur lagi? Bukankah itu berarti selama ini Terry sudah sering melihatnya kabur dari Istana?
"Bukan urusan Pangeran." kata Jeanelle cuek.
"Kau berbicara informal kepada ku?" lagi-lagi Terry terkejut namun hal itu malah membuat Jeanelle bingung.
"Bukankah Pangeran sendiri yang menyuruh saya untuk berbicara informal?"
kenapa Jeanelle jadi serba salah begini?
Terry buru-buru menggelengkan kepalanya. "Bukan berarti aku tidak suka, aku hanya terkejut, Jeanelle." Terry tersenyum, senyum itu terlihat tulus dan lega.
Terry agak tertegun mendengar ucapan Jeanelle, kenapa Jeanelle bisa berkata seperti itu? Mereka tidak sedang merencanakan apapun dan juga mereka melakukan ini tulus untuk Jeanelle tanpa maksud tersembunyi.
"Apa kau tidak suka dengan hadia seperti ini? Atau ada yang kau inginkan?"
Jeanelle terdiam dan menghela nafas dengan kasar, satu-satunya yang Jeanelle inginkan hanyalah hidup dalam waktu yang lama dan melakukan apapun yang ia inginkan.
"Saya tidak menginginkan apapun dari kalian dan juga saya tidak menganggap apa yang kalian lakukan untuk saya sebagai hadia, menurut saya ini adalah bencana. Selama 14 tahun saya berusaha mendekati kalian namun kalian mengabaikan saya, kalian membuat saya berpikir apakah saya keluarga kalian atau bukan..." Jeanelle menjeda ucapannya, ia berpikir apalagi yang harus dirinya katakan kepada Terry.
"Pada akhirnya saya memutuskan untuk menyerah, saya menikmati hidup saya dengan cara saya sendiri dan tiba-tiba kalian datang dan memperlakukan saya seolah-olah saya sangat berharga. Apa menurut Pangeran itu semua tidak aneh?" ucapan Jeanelle membuat Terry terdiam, ia tidak bisa menjawab.
"Pangeran, saya tidak ingin dikecewakan lagi. Saya harap setelah ini kalian mengabaikan saya seperti dulu." Jeanelle berjalan melewati Terry namun baru beberapa langkah ia berjalan, Jeanelle berhenti sesaat dan mengucapkan kata-kata yang mampu membuatnya mematung.
"Saya juga harus berterimakasih karena berkat kalian kehidupan saya akan semakin rumit, apalagi Baginda Kaisar telah mengetahui keberadaan saya. Entah apa yang akan Baginda lakukan jika saya adalah sebuah ancaman untuk beliau."
Ah, kenapa Terry tidak memikirkannya sampai sana? Bagaimana pun juga yang berbahaya bukan hanya Baila tapi juga Jeanelle.
Tapi bagaimana bisa Terry mengabaikan Jeanelle setelah membaca buku harian itu? Terry tidak akan bisa mengabaikan Jeanelle. Gadis itu terlalu berharga untuk diabaikan, lalu alasan Dewa mengabulkan doanya adalah agar dirinya bisa membuat Jeanelle bahagia bukan untuk membuat hidup Jeanelle rumit seperti ini.
"Jeanelle, maafkan aku." kata Terry dengan lirih.
...βΆβΆβ·βΆβ·β β ββΆβ·βΆβ·βΆ...
"Apa kau bodoh Kai?" tanya Elizabeth sembari menatap putranya penuh amarah dan yang ditatap hanya terdiam memandang sang ibu dengan dingin.
"KENAPA KAU MEMBERITAHU TENTANG GADIS RENDAHAN ITU PADA KAISAR?! KAU GILA YA?!" bentak Elizabeth sembari melempar semua barang yang ada dikamarnya dengan sembarang arah.
Padahal keberadaan Terry dan Baila saja sudah menjadi ancaman untuk dirinya tapi Kai justru memberitahukan putri selir rendahan itu kepada Kaisar, apalagi wajah putri itu sangat mirip dengan Kaisar dan Kaisar juga terlihat menyukainya.
Kalau begini akan semakin sulit untuk Kai naik tahta menjadi Kaisar. Alasan Elizabeth membesarkan Kai adalah untuk menjadi Kaisar, tapi anaknya yang bodoh itu justru memberitahu keberadaan Jeanelle yang sudah susah payahnya ia sembunyikan dari pandangan Kaisar.
"Kenapa akhir-akhir ini kau tidak menuruti ucapan ibu?! Ibu melakukan semua ini untuk mu Kai!" Elizabeth mencengkram pundak Kai dengan kencang dan mengguncangnya.
Kai sendiri hanya menghela nafas dan menepis kedua tangan Elizabeth dari pundaknya. "Benarkah untuk diri ku? Bukankah ibu melakukan semua ini untuk kepentingan ibu sendiri?"
Plak. Sebuah tamparan mendarat diwajah Kai membuat pemuda itu berdecih kesal. Wajah putih Kai memerah dan mengeluarkan darah, pasti pipinya terkena kuku-kuku panjang Elizabeth.
"Kau anak yang tidak tau di untung!" geram Elizabeth sambil menunjuk-nunjuk wajah Kai.
"Mulai sekarang saya tidak akan menuruti ucapan ibu lagi dan juga kalau ibu mengganggu Jeanelle saya tidak akan tinggal diam." ucapan itu sangat tegas. Aura dingin dan mencengkam mengisi ruangan itu, Elizabeth bahkan sampai terkejut dan takut melihat raut wajah anaknya sendiri.
"Harusnya ibu puas dengan status itu sebagai Permaisuri Kaisar, keserakahan hanya akan membawa ibu pada kematian." kata Kai yang langsung berbalik pergi meninggalkan kamar Elizabeth.
Yang benar saja, dirinya dipanggil hanya untuk diomeli. Walaupun begitu setidaknya Kai sudah memberikan peringatan pada Elizabeth untuk tidak bertindak macam-macam, tapi kalau wanita itu tetap macam-macam pada Jeanelle maka jangan salahkan Kai jika ia akan menghukum ibunya langsung.
...κ§-`π±π΄πππ°πΌπ±ππ½πΆΒ΄-κ§...