
...κ§-`π·π°πΏπΏπ ππ΄π°π³πΈπ½πΆΒ΄-κ§...
...βΌ...
...βΌ...
...βΌ...
"Padahal Tuan Putri sedang sibuk tapi Tuan Putri menyempatkan diri untuk datang, saya jadi merasa senang." kata Rose sembari tersenyum.
Sore hari telah tiba, Jeanelle menepati janjinya untuk datang ke acara minum teh pribadi Selir Rose. Bahkan saat ini dirinya dan Selir Rose berada taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga yang indah, taman yang terletak di bagian timur Mansion Rose.
Mansion-Mansion yang ada didalam Istana dinamai dengan nama-nama bunga dan Selir Rose mendapatkan Mansion dengan namanya sendiri. Itu sangat bagus.
"Anda berlebihan Selir Rose, saya datang karena kebetulan saya sedang luang." kata Jeanelle yang tentunya bohong. Mana mungkin Jeanelle memiliki waktu luang, ia bermaksud untuk kabur sebentar dari pekerjaannya yang menumpuk dan tak ada habisnya itu.
"Benarkah?" Rose terkekeh pelan. "Tuan Putri sepertinya tidak pandai berbohong."
Jeanelle agak terkejut namun kemudian ia tertawa dan mereka pun memulai pembicaraan ringan di sore hari itu. Tidak seperti perkiraan Jeanelle yang sebelumnya.
Selir Rose benar-benar hanya mengobrol santai dengan Jeanelle dan Jeanelle sendiri pun merasa nyaman dengan wanita bersurai coklat ini.
Rose tersenyum menatap Jeanelle. "Walaupun orang-orang bilang Tuan Putri mirip dengan Baginda Kaisar tapi menurut saya Tuan Putri lebih mirip dengan Anika. Saya yakin Tuan Putri tau kalau saya dan Anika cukup dekat." tatapan sendu Rose terlihat sangat jelas, sepertinya memang benar jika mereka dekat.
Anika adalah ibu kandung Jeanelle yang tewas saat usia Jeanelle menginjak 12 tahun, tepat 2 tahun sebelum ia memasuki tubuh ini. Ia tidak tau pasti wajah, cerita ataupun penyebab Anika tewas, ingatan Jeanelle yang asli belum memasuki otaknya lagi sehingga ia tidak tau apapun mengenai masa lalu Jeanelle asli yang tidak diceritakan dalam komik.
"Begitu kah? Ibu saya orang yang sangat lembut." Rose terdiam, ia terlihat terkejut dengan ucapan Jeanelle.
"Saya terkejut anda berkata seperti itu, padahal dulu Tuan Putri selalu berteriak jika Anika sangat garang seperti monster."
'Apa?! Apakah ibu kandung Jeanelle orang yang garang?!'
Jeanelle mengedipkan kedua matanya berkali-kali, ia kemudian tertawa canggung untuk menutupi kesalahannya. "Begitu ya."
Rose terdiam, ekspresi aneh tergambar diwajahnya. "Apa Tuan Putri baik-baik saja?"
"Huh? Ya, saya cukup baik." Jeanelle tersenyum menenangkan.
"Tuan Putri, Baginda Kaisar Evan baru memimpin Kekaisaran ini selama 15 tahun dan itu seumuran dengan umur Tuan Putri. Saya dan Permaisuri sendiri baru memasuki istana ketika Baginda Kaisar Evan naik tahta." jelas Rose yang membuat Jeanelle menyerit heran.
Kenapa juga tiba-tiba membahas kapan Kaisar Evan naik tahta? Jeanelle tidak begitu memperdulikannya, pada akhirnya 4 tahun lagi Kaisar Evan akan segera lengser dari tahtanya dan diasingkan.
Yang harus Jeanelle pikirkan adalah mencegah kehancuran parah yang akan terjadi saat Kaisar Evan masih bertahan di posisinya.
"Kaisar Evan naik tahta karena berhasil membunuh Kaisar yang sebelumnya. Karena itu saya harap Tuan Putri mengingat rahasia kelahiran anda." sambung Rose yang malah membuat Jeanelle semakin tidak mengerti.
Apa hubungannya kelahiran Jeanelle dengan Kaisar Evan? Apa karena Jeanelle memiliki sihir kegelapan yang sama dengan Kaisar Evan? Tapi itu memang bisa terjadi karena bagaimanapun juga Jeanelle adalah putri kandung Kaisar Evan.
"Jeanelle kau adalah..."
"Percobaannya yang lain gagal."
Jeanelle terdiam, kepalanya mendadak pusing. Ingatan Jeanelle asli mendadak muncul, tapi tidak jelas bahkan tidak ada suaranya.
Jeanelle hanya melihat sosok Anika yang menangis-nangis sambil bergumam sesuatu, ia juga memeluk Jeanelle kecil dengan erat. 'Apa yang Anika katakan?'
"Putri?"
"Ah, ya?" Jeanelle tersentak dan keluar dari pemikirannya.
"Sekarang sudah hampir malam, saya sangat senang dengan kunjungan anda hari ini." Rose tersenyum dan bangkit dari duduknya. "Saya harap Tuan Putri mau menerima undangan saya lagi."
Jeanelle ikut bangkit dari duduknya dan tersenyum manis. "Tentu saja, saya pasti akan selalu meluangkan waktu untuk Selir Rose."
...βΆβΆβ·βΆβ·β β ββΆβ·βΆβ·βΆ...
Rose berjalan memasuki Mansion nya, pikirannya melayang akan ke beberapa hal.
"Ibu." panggil pemuda bersurai merah itu sembari berjalan mendekati Rose.
Berbeda dengan Elizabeth yang begitu menginginkan Kai menjadi Kaisar, Rose justru akan selalu mendukung apapun pilihan Terry, ia tidak peduli apa yang diinginkan anaknya. Selagi Terry bahagia dengan pilihannya maka Rose juga akan selalu mendukungnya.
"Ada apa? Tumben sekali Pangeran mengunjungi saya." Rose tersenyum jenaka menatap Terry yang entah sejak kapan sudah jauh lebih tinggi darinya.
"Kalau ibu berkata seperti itu, orang-orang akan mengira jika saya tidak pernah mengunjungi ibu."
Rose tertawa kecil kemudian menepuk pundak Terry, ia membawa Terry ke ruang tengah dan duduk disofa bersamanya. Sudah lama juga Rose tidak menghabiskan waktu bersama putranya yang super sibuk ini.
Rose perlahan menuangkan teh ke cangkir milik Terry dan menuangkannya ke cangkirnya sendiri, sebelumnya ia sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan teh dan cemilan di ruang tengah dan para pelayan segera melaksanakan perintah Rose.
"Saya dengar ibu habis minum teh bersama Jeanelle, apa semuanya berjalan lancar?" tanya Terry dengan tangannya yang bergerak mengambil kukis dan memasukkan kukis itu kedalam mulutnya.
"Sangat lancar, Tuan Putri benar-benar mirip dengan Anika. Ibu menyukainya, banyak pembicaraan seru yang sempat kami bahas tadi." Rose bercerita dengan sangat riang, sepertinya ia benar-benar menyukai Jeanelle.
"Saya jadi penasaran apa saja yang ibu bicarakan dengan Jeanelle."
"Eiy~ kenapa Pangeran ingin tau begitu? Inikan pembicaraan wanita." Rose terkekeh kecil, melihat ibunya begitu senang membuat hati Terry menghangat.
"Ngomong-ngomong Pangeran, apa Jeanelle pernah mengalami kecelakaan atau sakit?" tanya Rose tiba-tiba, raut wajahnya terlihat jika rose tengah berpikir keras.
"Kalau kecelakaan atau sakit jelas pernah tapi tidak sampai mendapatkan luka fatal atau sakit yang sangat parah. Kenapa ibu tiba-tiba bertanya begitu?"
"Hmm bagaimana ya bilangnya? Entah kenapa ibu merasa kalau Tuan Putri mengalami amnesia."
Netra Terry membelalak terkejut mendengar ucapan ibunya. Terry tau kalau ibunya sangat peka karena itu tidak mungkin jika ibunya mengada-ada atau hanya asal menebak saja.
"Ibu merasa kalau Tuan Putri tidak ingat sama sekali dengan masa lalunya, Tuan Putri bahkan tidak ingat dengan kelahirannya yang bahkan sudah Anika ceritakan berkali-kali sebelum ia meninggal."
"Apa?!"
...κ§-`π±π΄πππ°πΌπ±ππ½πΆΒ΄-κ§...