
...κ§-`π·π°πΏπΏπ ππ΄π°π³πΈπ½πΆΒ΄-κ§...
...βΌ...
...βΌ...
...βΌ...
Jeanelle mengerjapkan kedua matanya, tangannya mengibas menghalau debu yang berterbangan. Sesekali Jeanelle terbatuk kecil karena debu-debu yang tak sengaja memasuki hidung dan tenggorokannya.
"Wah tidak ku sangka kau akan berhasil." kata Yuristhi sembari menatap sekelilingnya, kedua matanya menyipit karena sinar matahari yang tiba-tiba saja memasuki kornea matanya. "Aku tidak menyangka akan melihat hal seperti ini lagi." senyum lega sekaligus puas terpancar di wajah Yuristhi.
Jeanelle jadi bertanya-tanya, sebenarnya sudah berapa lama Yuristhi terkurung di tempat tanpa cahaya itu? Pasti rasanya sangat melegakan karena bisa menghirup udara lagi. Tanpa sadar Jeanelle jadi tersenyum dan hal itu tidak luput dari pengelihatan Yuristhi.
"Kau senang karena sudah keluar ya? Padahal kalau kau mau kabur dari Istana akan lebih baik kalau kau tinggal disana."
"Aku memang ingin kabur dari Istana tapi bukan berarti aku ingin terkurung ditempat itu selamanya. Ngomong-ngomong sudah berapa lama kau terkurung disana?"
Yuristhi mengangkat kedua bahunya tak tau. "Aku tidak tau, ada perbedaan waktu di Koroido Hole dengan dunia nyata. Aku bahkan tidak tau tahun berapa sekarang."
Jadi ada perbedaan waktu, kalau begitu sudah berapa lama Jeanelle menghilang? Sepertinya tidak terlalu lama.
Walaupun begitu Jeanelle belum percaya jika dirinya masih hidup setelah meledakan Manna dan ditambah sihirnya masih ada. Walaupun aliran Manna Jeanelle jadi kacau akibat ledakan tersebut dan membuat jantung Jeanelle agak sakit, tapi semua ini masih bisa ditahan nanti Jeanelle akan memperbaiki alirannya sendiri.
Manna sihir itu berpusat di jantung, kalau alirannya kacau maka jantung akan berdebar kencang dan terasa tidak nyaman.
"Karena kau sudah mengeluarkan ku, sepertinya aku harus membayarnya." Kata Yuristhi sambil tersenyum, Jeanelle menatapnya sekilas dan langsung berjalan keluar dari tempat itu, tentu saja Yuristhi mengikutinya.
"Tentu saja, aku akan menagihnya nanti." jawab Jeanelle cuek.
"Ku pikir kau akan bilang tidak perlu."
"Kenapa aku berkata seperti itu? Kan kau sendiri yang menawarkan, aku mana mungkin menolaknya. Menolak pemberian orang lain itu tidak baik."
Yuristhi hanya bisa menghela nafas mendengar ucapan Jeanelle, Jeanelle benar-benar tidak mau rugi. Tapi itu lebih baik daripada orang-orang yang hanya berpura-pura menolak.
"Kau tau jalan keluarnya?" tanya Yuristhi.
"Tidak."
"Bagaimana kalau kita kesasar?"
"Kalau begitu kita bisa mencari jalan lain kan." jawabnya santai.
Gadis itu bukankah terlalu santai? Padahal sihirnya sedang kacau tapi dia masih bisa santai begitu. Ya itu tidak aneh sih. Yuristhi menghembuskan nafasnya dan tersenyum tipis.
"JEJE!"
Bruk.
Jeanelle mengerjapkan kedua matanya terkejut. Suno, Jeremy dan Hyun yang tiba-tiba saja berlari menabrak dan memeluk dirinya. Mereka bertiga menangis tersedu-sedu sambil memeluk Jeanelle erat.
Jeanelle mendongak dan melihat Diego, Terry dan Kai yang menatapnya dengan khawatir namun penuh kelegaan.
"Maafkan aku..."
"Aku juga minta maaf..."
"Kalau saja aku..."
"HUWAA KAMI BENAR-BENAR MINTA MAAF HIKS..."
Ini kedua kalinya Jeanelle melihat Jeremy dan Hyun menangis dan ini pertama kalinya Jeanelle melihat Suno menangis. Jeanelle benar-benar terkejut namun disatu sisi ia juga bingung, apalagi dirinya masih dipeluk dengan erat begini.
"Kalian semua tenanglah aku baik-baik saja." kata Jeanelle menenangkan. "Tapi, tolong lepaskan dulu pelukan kalian. Aku sesak..." Jeanelle menepuk pundak mereka bertiga dan hal itu membuat mereka langsung melepaskan pelukannya.
Menurut Jeanelle mereka sangat menggemaskan saat menangis.
"Kau menghilang selama 7 hari." jelas Hyun sembari mengusap air mata yang masih terus mengalir.
"Apa kau yakin jika kau baik-baik saja?" tanya Suno.
Jeanelle terdiam, ia agak terkejut. "Padahal aku disana rasanya sangat sebentar, tapi ternyata aku menghilang selama itu? Selain aliran Manna ku yang kacau, aku baik-baik saja."
"Kan aku sudah bilang kalau ada perbedaan waktu disini." celetuk Yuristhi yang seketika membuat mereka semua menatap kearahnya. Mereka benar-benar tidak menyadari keberadaan Yuristhi.
"Siapa kau?" tanya Diego agak menyerit.
"Dia adalah orang yang menolong ku, dia juga terkurung disana lebih lama dari ku." kata Jeanelle yang bangkit dari duduknya dan menepuk-nepuk pakainya yang kotor.
Yuristhi membungkuk hormat dan tersenyum. "Salam kepada para bintang Kekaisaran dan Duke muda, saya Yuristhi. Penyihir dari menara sihir."
"Bangunlah." kata Kai yang langsung dituruti oleh Yuristhi. "Aku sangat berterimakasih karena kau telah menolong adikku, kalau kau menginginkan sesuatu katakan saja pada ku."
"Ya ampun Tuan Putri hanya merendah. Sebenarnya saya lah yang ditolong oleh Tuan Putri, karena itu suatu saat nanti saya akan membalas kebaikan beliau." Yuristhi berjalan mendekati Kai dan Terry, kemudian ia agak berbisik.
"Tapi Yang Mulia, ada baiknya jika kalian tidak menghancurkan Koroido Hole secara sembarangan, lubang sialan itu sebenarnya tidak akan bisa dihancurkan." bisiknya sambil tersenyum dan kemudian ia menjauhkan tubuhnya dari mereka.
Terry dan Kai seketika menatap Yuristhi dengan tajam namun yang ditatap malah tersenyum tanpa dosa.
"Ayo kita kembali." kata Diego tiba-tiba. "Selama anda menghilang, mereka lah yang menyerang para monster." Diego menunjukkan tiga mahluk kegelapan yang saat ini tengah menunduk sedih.
Ya ampun Jeanelle melupakan mereka, Jeanelle jadi terharu sekarang. "Ya ampun kalian pintar sekali." Jeanelle seketika langsung memeluk mereka dan mereka balas memeluk Jeanelle.
"Karena tugasnya sudah selesai kalian boleh kembali, nanti kita main lagi ya." ketiga mahluk itu mengangguk dan kemudian menghilang bersama hembusan angin.
"Ayo kita kembali, aku juga penasaran dengan kerja orang-orang yang mengangkut inti dan bangkai monster itu." Jeanelle menampilkan senyum liciknya.
"Disaat seperti ini kau masih memikirkan itu?" tanya Jeremy dengan tatapan heran.
"Apa maksud mu?! Tentu saja aku harus memikirkan hal itu. Kalau aku tidak membawanya aku bisa-bisa dikutuk oleh Louis."
"Kau lebih takut dengan Louis daripada Baginda ya." sahut Terry.
"Entahlah, saat aku sekarat tadi aku merasa kalau Louis sedang mengutuk ku." seketika tatapan Jeanelle hampa.
"Benarkah?" entah kenapa rasanya sulit dipercaya tapi bukan berarti itu tidak mungkin sih, apalagi melihat hubungan mereka berdua yang memang dekat.
"Lagipula..." netra Jeanelle melirik kearah belakang pohon, tiba-tiba saja Jeanelle mengambil panah milik Hyun.
Ia membidik seseorang yang berada dibelakang pohon, itu adalah salah satu Kesatria yang ikut mencari Jeanelle.
Syung... Jleb... anak panah itu mengenai tepat di bahunya. Jeanelle berjalan mendekati pria dengan bintik-bintik merah diwajahnya, pria itu meringis sakit.
Namun tubuhnya mendadak merinding apalagi saat Jeanelle menatapnya tajam. "Hei, kau tidak perlu memberitahu siapa tuan mu. Tapi katakan ini pada Tuan mu..." Jeanelle menjeda ucapannya. "Orang yang berani mengusik teman-teman ku akan mendapatkan ganjarannya, kalau kau memang ingin mengibarkan bendera perang pada ku maka aku akan menyambutnya dengan senang hati." Nada bicara Jeanelle begitu dingin dan terdengar mengancam.
Tak lama Jeanelle tersenyum picik. "Sepertinya kau tidak perlu menyampaikannya, aku yakin Tuan mu sudah mendengarnya kan?"
Orang itu tersentak, bagaimana bisa Jeanelle tau? Bukankah katanya Jeanelle hanya seorang Tuan Putri yang lemah? Tapi apa-apaan ini?
Di Sisi Lain...
Seorang wanita disebuah ruangan yang serba putih tengah berlutut sambil menangkupkan kedua tangannya untuk berdoa, di depan wanita itu terdapat sebuah patung besar berbentuk wanita cantik dengan sepasang sayap di punggungnya.
Wanita cantik bersurai coklat dengan iris mata berwarna emas. Sebuah renda cantik dan panjang terpasang di kepalanya, menutupi surai panjang wanita itu. Kulitnya yang begitu putih seperti salju, bibirnya yang merah, mata bulat dan wajah mungil.
Wanita yang sering dipanggil orang suci itu tiba-tiba saja mendongak dan tersenyum. "Sepertinya akan ada sesuatu yang menarik sekarang." ucapnya lembut.
...κ§-`π±π΄πππ°πΌπ±ππ½πΆΒ΄-κ§...