
...κ§-`π·π°πΏπΏπ ππ΄π°π³πΈπ½πΆΒ΄-κ§...
...βΌ...
...βΌ...
...βΌ...
Kekaisaran Zetta di hebohkan dengan munculnya bintang Kekaisaran ke empat yang katanya seorang Tuan Putri yang memang sengaja disembunyikan.
Rumor yang awalnya samar-samar kini langsung menyebar luas dan para penduduk ataupun para bangsawan membicarakannya. Ada yang bilang alasan Tuan Putri itu disembunyikan karena wajahnya yang buruk rupa, ada pula yang bilang kalau Tuan Putri itu adalah aib Kekaisaran dan bahkan ada pula yang bilang kalau Tuan Putri itu tidak memiliki mata permata khas keluarga Kaisar dan tidak memiliki sihir apapun.
Tapi ada pula yang bilang kalau alasan Tuan Putri disembunyikan karena Baginda Kaisar yang terlalu menyayanginya entah yang mana yang benar.
"Alasan yang sebenarnya kan karena Baginda lupa kalau memiliki seorang putri lagi." gumam Jeremy sembari melempar buah apel itu keatas dan kemudian kembali menangkapnya.
"Kau bicara apa Jer? Aku tidak dengar." tanya Hyun yang tangannya bergerak mengayunkan sebuah kampak besar untuk membelah kayu dihadapannya.
Jeremy yang mendudukan diri di rerumputan pun terdiam sembari menatap Hyun yang tengah membuat sesuatu untuk dijual. Regina sendiri terlihat sedang memetik beberapa tumbuhan yang memang sengaja ia tanam di hutan itu, entah tumbuhan itu digunakan untuk memasak atau bahkan untuk membuat ramuan.
"Apa kalian tidak penasaran dengan Tuan Putri yang disembunyikan itu?"
"Lumayan, hanya saja kita akan tau nanti kan? Tuan Putri katanya akan diumumkan didepan publik." sahut Regina yang tangannya masih fokus mencabuti beberapa tumbuhan dan meletakkannya di sebuah keranjang yang terbuat dari rajutan rotan.
Sejujurnya mulut Jeremy sudah gatal ingin memberitahu mereka mengenai siapa Tuan Putri itu, hanya saja bukan hak Jeremy untuk memberitahu mereka. Lagipula Jeanelle akan memberitahu mereka setelah pesta debutante kan?
Jeanelle sih bilangnya begitu.
"Kau berbicara seolah-olah sudah pernah melihat sang Tuan Putri." celetuk Hyun yang membuat Jeremy mematung.
'Karena Tuan Putri itu adalah orang yang sering bermain dengan kita.' boleh tidak sih Jeremy bilang begitu?
"Ngomong-ngomong Suno dan Jeje sudah 4 hari ini tidak bermain dengan kita." ujar Regina sambil membawa keranjang itu, sepertinya ia sudah selesai memetik tumbuhannya.
"Mereka kan bangsawan walaupun anak haram tapi mereka pasti sedang mempersiapkan diri untuk pesta debutante itu." kata Hyun.
"Tapi mereka bukan tipe orang yang suka pesta, setiap ada pesta mereka jarang ikut atau sekalinya ikut mereka akan kabur ditengah acara."
"Aduh, kau itu bagaimana sih. Kali inikan pestanya diadakan di Istana Kaisar, kalau mereka melarikan diri atau tidak hadir di acara ini mereka bisa dianggap sebagai pemberontak."
Regina mengangguk mendengar ucapan Hyun, itu benar juga sih.
Jeremy yang awalnya hanya terdiam sambil menyimak perdebatan mereka tiba-tiba saja bangkit dari duduknya dan memasang posisi siaga.
"Ada yang datang."
"Siapa?" tanya Regina sembari menatap sekelilingnya. Manusia mana yang mau datang ke tempat ini? Apa mungkin orang itu nyasar saat ingin melewati perbatasan?
Benar ucapan Jeremy, tak lama setelah itu dua orang kesatria yang menunggangi kuda datang dan berdiri dihadapan mereka. Mereka bertiga kelas menyerit heran, mereka tau kalau seragam para kesatria itu adalah seragam milik Kekaisaran tapi mereka tidak pernah membuat masalah apapun dengan Kekaisaran.
Kedua kesatria itu saling menatap dan kemudian mengangguk. "Ini perintah Kekaisaran..."
...βΆβΆβ·βΆβ·β β ββΆβ·βΆβ·βΆ...
4 hari berlalu dan Kaisar Evan menepati ucapannya, selain Mansion nya yang dipindahkan ke Mansion Dandelion yang dekat dengan Mansion Putri Mahkota.
Jeanelle juga mendapatkan pendidikan layaknya putri bangsawan, mulai dari tata krama, ekonomi, bisnis, sejarah, geografi, fisika, memanah dan bahkan sampai berpedang. Tapi karena Jeanelle tidak berbakat dalam ilmu pedang maka pelajaran berpedang dihapus dan diganti dengan pelajaran sihir dasar.
"Aku sangat sibuk dan tidak ada waktu untuk keluar walau hanya sebentar." gumam Jeanelle sembari membaringkan kepalanya diatas meja.
Kalau begini akan sulit untuk Jeanelle bermain bersama teman-temannya. Jeanelle bahkan belum mengabarkan apapun kepada teman-temannya.
"Tuan Putri apa anda mendengarkan saya?" ucap seorang pria dihadapannya yang sontak membuat Jeanelle mendongak. Jeanelle hampir lupa kalau sekarang adalah jam pelajaran ilmu sihir.
Pria berusia 20 tahun dengan rambut blonde panjang dan netra berwarna kuning keemasan, tubuhnya setinggi 175 cm, mengenakan jubah berwarna putih dengan bordiran khusus berwarna emas dan juga jubah berbentuk jas yang memiliki warna yang sama. Poni depannya terlihat agak acak-acakan dan kantung mata yang menghitam, sepertinya pria bernama Louis Vuitton itu agak lelah.
Louis Vuitton merupakan seorang penyihir agung, diusianya yang ke 18 tahun ia sudah berhasil menjadi penyihir agung level 5. Dia sangat membenci Kaisar, tapi ia tetap mengajar Jeanelle secara profesional. Entah apa yang Kaisar gunakan untuk membujuknya, padahal sebelum-sebelumnya ia tidak mau mengajar keluarga Kekaisaran dan hampir dihukum mati karena memberontak.
"Aku jadi penasaran Louis." ucap Jeanelle tiba-tiba, ia menyandarkan punggungnya disandaran kursi. Jeanelle menyilang kedua tangannya di depan dada sambil mengayun-ayunkan kakinya kedepan dan kebelakang.
Mendengar ucapan Jeanelle, Louis hanya menaikkan sebelah alisnya dan ekspresi seolah-olah seperti bertanya apa yang membuat Jeanelle penasaran.
"Apa yang Kaisar tawarkan pada mu sampai-sampai kau mau menjadi guru ku? Aku tau kau bahkan menolak untuk mengajar Putra Mahkota tapi kau bersedia mengajar ku."
"Kenapa anda penasaran dengan hal yang tidak penting itu?" ucap Louis dengan tenang.
"Memangnya kalau kau jadi aku, kau tidak akan penasaran? Pasti penasaran kan?"
"Entahlah." pria itu mengangkat kedua bahunya tak acuh. "Kalau saya jadi anda, saya tidak ingin mencaritahu sesuatu yang tidak penting." ucapan Louis mampu membuat Jeanelle tertohok.
Pria itu sudah sekali untuk diajak berteman, kalau Jeanelle bisa berteman dengannya kemungkinan Jeanelle bisa meminta bantuan juga kepadanya.
"Tapi itu penting untuk ku." balas Jeanelle tak mau kalah.
"Begitu kah? Kalau begitu sebaiknya Tuan Putri mencari taunya sendiri, dan juga bukan Baginda yang memaksa saya untuk mengajar anda, tapi Pangeran yang meminta saya dan memberikan penawaran yang sulit ditolak kepada saya. Saya sudah menerimanya dan sebagai gantinya saya harus mengajar anda." jelas Louis yang membuat Jeanelle tercengang.
Selain tercengang karena Louis yang berbicara panjang lebar, Jeanelle juga tercengang sekaligus heran dengan ucapan Louis. Kenapa Terry mau repot-repot meminta Louis untuk mengajarinya ilmu sihir? Jeanelle tidak begitu tertarik dengan sihir dan Jeanelle juga jarang menggunakan sihir.
"Tuan Putri." panggil Louis, "Anda memiliki banyak sekali Manna walaupun tak sebanyak Manna milik Pangeran tapi Manna yang anda miliki melebihi Manna milik Baginda Kaisar. Cepat atau lambat Baginda akan mengetahui hal ini dan mungkin Baginda akan menguji anda."
Kalau itu Jeanelle juga tau, didalam cerita juga tertulis seperti ini. Tapi entah karena Jeanelle yang tertulis dalam cerita terlalu baik dan naif, ia sama sekali tidak pernah menggunakan sihirnya.
"Terlebih elemen sihir Tuan Putri sama dengan elemen sihir milik Baginda, kemungkinan Baginda akan merasa terganggu dengan anda."
Jeanelle juga tau hal itu. 'Ah, sial! Bisa saja cerita yang berubah membuat masalah juga berubah menjadi lebih runyam.'
Mau tak mau Jeanelle harus memutar otak untuk menunda kematiannya. Jeanelle masih ingin hidup lebih lama.
...κ§-`π±π΄πππ°πΌπ±ππ½πΆΒ΄-κ§...
πππ¦π§ :
γβeginaγ
γβyunγ
γπouis πuittonγ