
...κ§-`π·π°πΏπΏπ ππ΄π°π³πΈπ½πΆΒ΄-κ§...
...βΌ...
...βΌ...
...βΌ...
Jeanelle terdiam dimeja kerja, tangannya bergerak mendata dokumen-dokumen yang harus ia urus namun pikirannya melayang pada kejadian kemarin.
Jeanelle ingin bertanya mengenai hal ini pada selir Rose namun Selir Rose sedang berlibur di desa selama musim semi, apa Jeanelle harus menulis surat agar Selir Rose bisa pulang lebih cepat?
Jeanelle menggelengkan kepalanya, ia tidak boleh merusak liburan selir Rose. Tapi ini juga masalah genting untuk dirinya, atau sebenarnya Jeanelle memang bukan anak Kaisar Evan?
"Apa kau tau tentang kelahiran ku?" tanya Jeanelle pada Louis yang saat ini tengah merapikan dokumen miliknya, entah sejak kapan mereka berdua jadi kerja bersama.
"Mana mungkin, saya tidak ingin ikut campur dengan masalah Kekaisaran."
Benar juga, Louis kan baru masuk ke Istana Kaisar saat menjadi guru Jeanelle.
"Kalau anda penasaran kenapa anda tidak bertanya pada Nyonya Rena?" ucap Louis yang ada benarnya.
"Bertanya tentang apa?" sebuah suara menginterupsi pendengaran mereka yang sontak membuat mereka menoleh ke ambang pintu.
Rena berjalan santai sembari membawa sebuah nampan yang berisi cemilan ringan dan teh untuk Jeanelle dan Louis.
"Tentang asal usul ku. Apa benar aku bukan anak Kaisar?" tanya Jeanelle langsung yang malah membuat Rena mengerut kening dengan heran.
"Putri, apa anda ingat kapan Selir Anika meninggal?" tanya Rena.
"Saat musim dingin diusia ku yang ke 11 atau 10 tahun." Jeanelle menjawab dengan bingung, memang apa hubungannya dengan itu?
"Itu benar, dan bukankah Selir Anika sudah menceritakan semuanya kepada Putri berkali-kali? Apa Putri melupakannya?"
Ingatan jelas yang Jeanelle miliki hanya terbatas di usia 15 tahun, kalau usia dibawah 15 tahun ingatannya sangat samar-samar.
'Apa maksudnya? Aku bahkan tidak ingat wajah ibu ku. Apa ini efek dari pemutaran waktu berkali-kali?'
...βΆβΆβ·βΆβ·β β ββΆβ·βΆβ·βΆ...
Wanita bersurai perak dengan kedua mata yang tertutup kain putih, gaun putih panjang yang menjuntai kelantai dan kalung panjang berbentuk salib terpasang dengan cantik dilehernya.
Wanita itu berjalan dengan anggun dan kemudian membungkuk dengan hormat dihadapan Kaisar. "Salam kepada semesta Kekaisaran, semoga anda sehat selalu." ucapnya yang membuat Evan tersenyum puas.
"Bangunlah Saintess Noel, aku dengar kau mendapatkan firman tentang Kekaisaran. Aku ingin mendengarnya." kata Evan yang membuat Noel tersenyum.
"Tentu Baginda, tapi bukankah sebaiknya kita menunggu keluarga Kaisar yang lain datang dulu? Ah, tapi saya dengar Selir Rose sedang berada di desa luar ya." suaranya terdengar sangat lembut namun tegas.
"Benar, akan membutuhkan waktu lama untuk bisa sampai di tempat ini." Kata Elizabeth sembari menghela nafas lelah.
"Tidak apa, disini ada bola kristal yang akan merekam dan mengirim seluruh kejadian saat ini."
Noel menunjuk salah satu pendeta yang ikut dengannya dan kemudian Pendeta tersebut meletakkan sebuah bola kristal berwarna perak diatas meja yang terdapat di ujung ruangan agar bola kristal tersebut dapat merekam seluruh kejadian yang ada disini dengan sangat baik dan jelas.
"Putra Mahkota Kai, Pangeran Terry, Putri Mahkota Baila, Tuan Putri Jeanelle dan Duke Diego memasuki ruangan!" seruan kesatria itu terdengar oleh orang-orang yang berada didalam ruangan.
"Duke Diego?" tanya salah seorang Pendeta Agung dengan heran.
"Ah, Duke Diego sering main kesini. Sepertinya ia cukup dekat dengan Jeanelle." jelas Elizabeth yang membuat Evan mengangguk paham.
...βΆβΆβ·βΆβ·β β ββΆβ·βΆβ·βΆ...
Jeanelle bersama kakak-kakaknya membungkuk hormat dan kemudian menegakkan tubuhnya, mereka berlima berdiri di depan Kaisar yang duduk di singgasananya bersama Permaisuri.
Jeanelle melirik Noel yang berdiri di dekatnya. Merasa diperhatikan Noel tersenyum yang hanya dibalas dengan anggukan singkat oleh Jeanelle.
Seperti deskripsi singkat yang diceritakan dalam komik, sepertinya dia mendapatkan firman dari Dewa. Kekaisaran Zetta adalah Kekaisaran yang pusat keduanya adalah Kuil Suci, seluruh rakyat yang ada di Kekaisaran menyembah Dewa yang mereka puja.
Dewa Kronos yang merupakan Dewa waktu, konon katanya ada saat dimana Kekaisaran mengalami kejadian yang sangat berat hingga Kekaisaran berada diambang kehancuran. Lalu Kaisar pertama berdoa pada Tuhan, ia memohon agar waktu bisa diulang agar ia bisa memperbaiki segalanya.
Tuhan mengabulkan permohonan Kaisar pertama dan menurunkan seorang Dewa bernama Kronos yang memiliki kemampuan memutar waktu, namun setelah mengabulkan permintaan Kaisar pertama Dewa Kronos menghilang.
Ia hanya menuliskan sebuah wasiat disebuah pohon yang ada di kuil. Wasiat itu bertuliskan. "Setiap 10 tahun sekali akan terlahir anak-anak yang akan menyampaikan semua pesan-pesan ku, mereka adalah anak-anak ku. Karena itu kalian harus menjaganya baik-baik."
Itu adalah awal mula hadirnya Saintess. Orang-orang yang memiliki mata emas adalah orang-orang yang dipilih Dewa untuk menjadi anaknya. Rumornya pun Dewa Kronos memiliki mata berwarna emas.
Seolah baru teringat sesuatu Jeanelle tersentak. Mata berwarna emas? Bukankah Louis juga memiliki mata berwarna emas?!
"APA?!" Evan berteriak yang sontak membuat Jeanelle keluar dari pemikirannya. "Kakak kembar ku memiliki anak?!"
"Benar Baginda." kata Noel lembut.
"Bagaimana mungkin?! Sialan! Sudah mati pun ia masih menyusahkan." Evan menggebrak pegangan kursi dengan keras, ia terlihat sangat marah.
Semua rencananya hampir hancur berantakan, bagaimana mungkin ia tidak marah?
"Cari orang-orang yang berhubungan dengan Ervin dan bunuh mereka semua!" perintah Evan yang langsung di jalani oleh seluruh Kesatria.
"Tunggu sebentar Baginda! Apa firman itu memang benar?" Diego memicingkan matanya dengan curiga.
"Apa maksud mu Tuan Duke?! Kau meragukan Firman Dewa yang hanya bisa didengar oleh Saintess?!" Pendeta Agung terlihat marah, nada suaranya meninggi dan rahangnya mengeras.
"Tidak masalah jika Tuan Duke tidak mempercayainya tapi seperti itulah adanya." kata Noel dengan lembut.
Firasat Jeanelle cukup buruk sekarang.
"Tapi saya rasa para Putra dan Putri Mahkota, Pangeran dan Tuan Putri setuju dengan firman ini."
Oh, sepertinya dia tidak menyukai Diego. Dalam cerita juga sama sih, Fuego terlalu menentang Kekaisaran dan hal itu membuat Diego dibenci oleh orang-orang yang ada di Kuil suci.
"Aku agak meragukannya." ucap Baila tegas.
"Memang sulit dipercaya Yang Mulia, tapi firman Dewa tidak pernah salah dan selama ini pun saya tidak pernah salah dalam menyampaikan firman Dewa."
Itu memang benar, tapi ada keraguan di hati Baila, apalagi isi firman-nya berbeda dengan isi firman di kehidupan sebelumnya. Jelas-jelas ada yang ganjil disini.
"Yang Mulia Putra Mahkota, apa saya pernah menyampaikan firman Dewa yang salah?"
Kai terdiam namun tatapannya menunjukkan ketidak sukaan pada Noel. Ia tidak bisa berbuat apapun disini karena ada Kaisar dan Permaisuri. Persiapan belum selesai karena itu Kau tidak bisa bertindak gegabah, ia tidak mau mengulang kesalahan dimasa lalu.
"Tidak. Anda tidak pernah salah." Noel tersenyum penuh kepuasan yang sontak membuat Baila menatapnya tajam.
Maaf, tapi Kai takut untuk melakukan kesalahan. Lebih baik jika ia mengaku kalah sekarang. Kai tidak mau kehilangan orang berharganya lagi.
...κ§-`π±π΄πππ°πΌπ±ππ½πΆΒ΄-κ§...