IT'S MINE {DROP}

IT'S MINE {DROP}
Kedatangan Terry Dan Kai



...꧁-`π™·π™°π™Ώπ™Ώπšˆ πšπ™΄π™°π™³π™Έπ™½π™ΆΒ΄-κ§‚...


...β—Ό...


...β—Ό...


...β—Ό...


Jeremy, Suno dan Hyun berlari memasuki tengah hutan. Mereka menebas monster apapun yang berani menghalangi jalan mereka, beberapa Kesatria ikut dengan mereka dan beberapa lainnya memilih untuk bertarung di bawah gunung.


Tiga mahluk titipan Jeanelle juga ikut bertarung melawan para monster, namun kali ini mereka lebih ganas seolah-olah sedang melampiaskan amarah mereka karena Tuan yang mereka puja menghilang.


"JEJE!" panggil Suno berteriak. Suno menatap sekelilingnya yang hanya menampilkan hutan lebat dan mayat-mayat monster.


"TUAN PUTRI!" teriak Diego.


Mereka semua mengatur nafasnya yang tak beraturan. Jeanelle menghilang dihadapan mereka namun mereka tidak bisa berbuat apapun selain hanya melihatnya.


"Ini semua karena ku, kalau saja aku lebih berhati-hati Jeje..." raut penyesalan terpampang jelas diwajah Jeremy, Jeremy menunduk membiarkan air mata membasahi wajahnya. Ia sungguh menyesal karena tidak bisa menolong sahabatnya itu.


"Tidak, ini semua salah ku. Harusnya saat itu aku tidak berlari ke atas."


Kalau saja Suno tidak berlari keatas maka Koroido Hole itu juga tidak akan mengikutinya. Suno menggerutuki kebodohannya sendiri.


"Kalau begitu malah kau yang akan memasuki lubang itu!" sentak Hyun yang kini kedua matanya sudah berkaca-kaca. "Kalau begitu Jeje pasti akan lebih menyalahkan dirinya sendiri..." kini tangisan Hyun pecah, begitu juga dengan Suno. Pada akhirnya Suno, Hyun dan Jeremy menangis.


Seharusnya saat itu mereka menolong Jeanelle bukan hanya melihatnya. Bagaimana bisa mereka sebodoh ini?!


Diego yang melihat ketiga anak itu menangis juga hanya bisa terdiam, raut wajah penuh penyesalan juga terpantri di wajahnya.


'Bagaimana pun juga mereka masih anak-anak yang akan menangis jika kehilangan permennya.' batin Diego yang merasa iba. Tapi kan Jeanelle bukan permen. Ah, bukan itu yang terpenting sekarang.


Diego sudah berjanji pada Baila untuk menjaga adik bungsunya tapi sekarang Diego malah kehilangan Jeanelle. Kemana juga lubang sihir itu menghilang? Pasti ada disekitar sini kan?


Suara hentakan sepatu kuda terdengar ditelinga mereka dan membuat mereka langsung menoleh kearah sumber suara. Dua orang pria dengan mata permata berwarna merah dan hitam muncul dihadapan mereka semua.


Wajahnya terlihat begitu panik dan khawatir, Terry yang pertama kali melompat turun dari kudanya berjalan menuju Jeremy dan mencengkram erat kerah baju Jeremy.


"Dimana Jeanelle?" tanyanya dengan nada suara yang dingin.


Jeremy terdiam sesaat. "Maaf." hanya itu yang bisa Jeremy katakan sambil terisak.


"Pangeran, ini semua kesalahan saya." kata Diego yang tiba-tiba saja berlutut dihadapan Terry. "Saya tidak menyangka jika Koroido Hole akan muncul dihadapan kami."


"Koroido Hole ?" gumam Kai terkejut. Mereka hanya mendapatkan kabar jika Jeanelle menghilang namun mereka tidak tau apa yang membuat Jeanelle menghilang.


Dan juga bagaimana bisa Koroido Hole yang sudah Terry dan Kai musnah kan tiba-tiba muncul kembali?! Itu mustahil!


Kai mengigit bibir dalamnya dengan penuh amarah. "Kalian bertiga berhentilah menangis, kita harus mencari Koroido Hole itu berada. Seharusnya lubang itu ada disekitar sini--"


DUAR! Sebuah ledakan besar terdengar dengan jelas ditelinga mereka. Mereka semua tentu saja terkejut saat mendengarnya.


Asal suara itu berasal dari bagian barat daya hutan Skota, yang berarti itu masih jauh dibelakang sana. Tapi kenapa bisa ada ledakan disana?


...✢⊢⊷⊢⊷❍ β˜† ❍⊢⊷⊢⊷✢...


"Kalau aku meledakan diri aku akan mati!" omel Jeanelle kesal, bagaimana bisa satu-satunya jalan keluar adalah dengan cara meledak?! Jeanelle tidak habis pikir.


"Aku tidak bilang kau harus meledakan diri mu sendiri." Yuristhi menyeritkan keningnya dengan bingung.


Tapi Yuristhi memang bilang untuk meledakan diri tapi bukan dirinya sendiri? Maksudnya bagaimana? Jeanelle tidak mengerti sama sekali. Apa yang harus Jeanelle ledakkan itu adalah Yuristhi?


"Ledakkan Manna mu."


"Membuat ledakan Manna ?"


"Kenapa harus meledakan Manna ?" tanya Jeanelle heran. Apa tidak ada cara lain?


"Lihatlah di sekeliling mu, ini semua berasal dari kekuatan suci yang Dewa berikan. Bukankah kekuatan suci dan sihir kegelapan saling bertabrakan? Kalau ada sihir kegelapan yang lebih besar menghancurkan tempat ini mungkin kita bisa keluar."


Benar, kekuatan suci dan sihir kegelapan mirip dengan minyak dan air yang tidak akan bersatu, mereka justru akan saling melukai. Akan sangat wajar jika mereka saling membenci.


Sedangkan sihir yang berasal dari Manna alam bersifat netral.


Tapi kalau sampai meledakan Manna itu agak gimana ya. Kalau Jeanelle masih hidup setelah meledakan Manna maka ia tidak akan memiliki kekuatan sihir lagi. Tapi mustahil alias tidak ada orang yang setelah meledakan Manna dan orang itu masih hidup.


"Hei, kenapa kau berpikiran rumit begitu?" Yuristhi memiringkan kepalanya dengan bingung. Apa gadis ini tidak bisa mendengarkan penjelasannya lebih dulu?


"Dengarkan aku! Kau harus menggunakan setengah Manna mu untuk melindungi diri dan setengahnya lagi untuk diledakkan."


Jeanelle menyeritkan keningnya. "Hah? Memangnya bisa begitu?"


"Tentu saja bisa, memangnya kau tidak tau?" Yuristhi terlihat tak kalah bingungnya dan hal itu membuat Jeanelle menggelengkan kepalanya. "Ya ampun siapa sih yang mengajari mu sihir tapi tidak mengajarkan hal sepenting ini?" Yuristhi berdecak sambil menggelengkan kepala dengan heran.


Lagipula memangnya ada penyihir yang akan mengajarkan cara meledakan diri?


"Kalau begitu biar aku yang akan mengajarkan mu, kau harus merasa terhormat karena diajarkan oleh orang dari Menara Sihir." ucapnya menyombongkan diri.


Sebenarnya guru sihir Jeanelle juga berasal dari Menara Sihir, tapi Jeanelle akan membiarkannya menyombongkan diri.


"Dengar, gunakan sebagian Manna mu untuk melindungi diri seperti Zhup... Lalu sebagian nya lagi tangkap Hap dan Wush..." jelas Yuristhi sambil menggerakkan tangannya yang sontak membuat Jeanelle melongo.


'Penjelasan macam apa itu?!' Jeanelle benar-benar tidak mengerti sama sekali.


"Tunggu sebentar! Tolong jelaskan lebih jelas lagi." pinta Jeanelle.


"Apa? Kau bodoh ya?"


"Apa?!" entah kenapa Jeanelle jadi kesal. "Manusia mana yang akan paham dengan penjelasan seperti itu?! lagipula apa bedanya Zhup, Hap dan Wush ?!"


"Beda penulisan dan pengucapan."


Uh, ya itu benar tapi setidaknya Yuristhi harus menjelaskan dengan bahasa manusia kan?


"Baiklah akan ku jelaskan sekali lagi. Lindungi Zhup... lalu tangkap Hap dan Wush lepaskan, dengan begitu DUAR! tempat ini akan meledak."


"Kalau aku meledakan diri apa yang akan terjadi pada mu?" Jeanelle baru kepikiran hal itu sekarang.


"Apa? Tentu saja aku akan berada di dekat mu dan melindungi diri ku sendiri."


Wah, pria ini mengambil keuntungan saat Jeanelle kesusahan ya.


"Sekarang apa yang sedang kau pikirkan? Coba lakukan hal yang ku jelaskan tadi."


'Duh, gk tau deh.' Jeanelle memejamkan kedua matanya dan mencoba apa yang Yuristhi jelaskan tadi, walaupun penjelasan sangat tidak jelas.


"Ah, iya benar begitu." kata Yuristhi yang tengah memperhatikan Jeanelle.


'Hah? Benar begini?'


Ah, gk tau lah kalau Jeanelle mati sekarang Jeanelle bersumpah akan menggentayangi Evan sampai dia jadi gila.


"Lalu sekarang, lepaskan."


DUAR!


...꧁-`π™±π™΄πšπš‚π™°π™Όπ™±πš„π™½π™ΆΒ΄-κ§‚...