IT'S MINE {DROP}

IT'S MINE {DROP}
Pengobatan Yuristhi



...꧁-`π™·π™°π™Ώπ™Ώπšˆ πšπ™΄π™°π™³π™Έπ™½π™ΆΒ΄-κ§‚...


...β—Ό...


...β—Ό...


...β—Ό...


"Jeanelle."


"Ya?"


Jeanelle dan Baila berjalan sambil bergandengan tangan, Baila sangat berhati-hati agar Jeanelle tidak menabrak atau tersandung sesuatu.


"Seperti apa pria yang kau sukai?"


Jeanelle terdiam, kenapa Baila tiba-tiba berkata seperti itu?


"Kenapa kakak bertanya begitu?"


Baila tertegun sesaat, ia merasa senang karena dipanggil kakak oleh Jeanelle.


"Aku hanya ingin tau saja, kau tau kan kalau usia 16 tahun sudah bisa menjalin pertunangan."


Itu benar, apa Jeanelle dimasa lalu juga memiliki tunangan? Tapi Jeanelle belum memikirkan hal itu sekarang.


"Ya, aku suka pria yang tampan dan kuat." kata Jeanelle yang tiba-tiba membuat suasa menjadi hening. Jeanelle tidak tau ekspresi apa yang sedang Baila buat sekarang.


"Hmm, apa seperti Diego?"


"Hm? Mungkin." jawab Jeanelle ragu-ragu. Di komik sih Diego adalah suami idaman.


"Begitu ya." Baila terdiam. "Ternyata perasaan tidak pernah berubah." gumam Baila yang masih bisa terdengar oleh Jeanelle.


Apa ini? Entah kenapa Jeanelle memiliki firasat buruk.


"Bagaimana kalau besok kau pergi ke Menara Sihir? Kau bisa bertemu Yuristhi untuk melakukan pengobatan."


Benar, di Menara Sihir ada Louis juga kan? Bagaimana kalau Jeanelle bertanya langsung pada Louis mengenai perasaannya kepada Rena? Jeanelle tidak akan membiarkan Louis mendapatkan Rena dengan mudah.


"Aku ingin Suno yang menemani ku."


"Baiklah, aku akan mengabari Suno." Baila tersenyum. Kalau hal tersebut bisa membuat Jeanelle bahagia, maka Baila akan melakukannya.


...✢⊢⊷⊢⊷❍ β˜† ❍⊢⊷⊢⊷✢...


Begitu mendapatkan surat dari Baila, Suno langsung bergegas ke Mansion Putri pagi-pagi buta. Suno langsung menangis saat melihat Jeanelle yang kedua matanya ditutup dengan kain hitam.


Tentu saja dengan masih setengah mengantuk Jeanelle harus menenangkan Suno terlebih dahulu dan setelah itu Jeanelle bersiap-siap dan pergi ke Menara Sihir.


"Ku dengar kau mengatakan sesuatu pada Hyun."


"Kau benar, setelah itu ia mengomeli ku sepanjang malam." Jeanelle terkekeh pelan. Ia ingat betapa marahnya Hyun saat ia menyuruhnya untuk pergi menjauh dari Jeanelle.


"Lagipula kenapa kau berbicara begitu?" tanya Suno yang kini tengah berjalan sambil menggandeng tangan Jeanelle dan menuntunnya untuk menaiki tangga perlahan.


"Aku akan menjelaskannya nanti, setelah mata ku sembuh kita akan bertemu di toko Regina dan aku akan menceritakan semuanya."


"Kalau begitu aku akan menunggu."


Jeanelle tersenyum senang. "Terimakasih Suno. Ngomong-ngomong apa masih jauh?"


"Sejujurnya kita sudah berada di dalam menara sihir, hanya saja sekarang kita akan bertemu dengan Yuristhi dilantai atas." jelas Suno yang membuat Jeanelle mengangguk paham, pantas saja disini agak dingin padahal sedang musim panas.


"Apa kau gugup, Jeje?"


"Sedikit, aku khawatir kalau mata ini tidak bisa sembuh."


"Kau akan baik-baik saja, kalau kau gugup buka mulut mu." suara Suno terdengar ceria, Jeanelle agak bingung namun ia tetap membuka mulutnya.


"Uhm... Enak."


Suno memasukkan coklat kedalam mulut Jeanelle, "Aku tidak bisa masuk, jadi berhati-hatilah." Suno mendorong pelan tubuh Jeanelle hingga ia memasuki sebuah ruangan. Disini begitu sunyi karena mata Jeanelle ditutup ia tidak bisa melihat apapun.


Apa sekarang Jeanelle harus memanggilnya?


"Kau sudah datang ya?" sebuah suara terdengar ditelinga Jeanelle, Jeanelle mengenali suara itu.


Tak lama Jeanelle merasakan kalau tangannya digenggam oleh seseorang dan dibawa ke suatu tempat. "Duduk disini." ucap Yuristhi yang ternyata membawa Jeanelle untuk duduk disofa.


"Aku akan langsung mengobati mu."


Yuristhi melepaskan kain yang menutupi mata Jeanelle dan seketika darah merembes keluar dari kedua matanya. Jeanelle membuka kedua matanya dan akhirnya ia bisa melihat wajah Yuristhi walaupun pengelihatannya agak kabur karena darah.


"Manna mu terlalu banyak dan kotor jadi hal itu yang menyakiti mu."


Jeanelle menyeritkan keningnya. Kotor? Memangnya Manna itu cucian?


"Ya ampun kau itu main dimana sih sampai banyak kotoran yang menempel?" Yuristhi menggelengkan kepalanya dengan heran.


"Memangnya sekotor itu?"


"Iya, aku akan membersihkannya sekarang." Yuristhi menutup kedua mata Jeanelle dengan tangan kirinya, tak lama sebuah cahaya keemasan muncul ditangan Yuristhi sesaat dan akhirnya menghilang. Setelah itu Jeanelle merasa tubuhnya agak ringan.


Jeanelle terdiam, ini aneh jelas-jelas Yuristhi tadi memegang wajahnya tapi kenapa Jeanelle tidak melihat apapun?


Jeanelle yang penasaran kembali menyentuh tangan Yuristhi yang sedang sibuk mengelap wajahnya.


"Kau tidak akan bisa melihat kematian ku." kata Yuristhi yang membuat Jeanelle tersentak kaget.


"Kenapa? Aku bisa melihat kematian orang lain."


"Kau tidak bisa melihat kematian orang lain, kau hanya mengingat kematian mereka di berbagai kehidupan mereka."


"Apa?! Kalau begitu kenapa aku tidak bisa melihat kematian mu?"


"Karena aku tidak mengizinkannya, mungkin lebih tepatnya karena aku tidak pernah mengalami kematian."


"Apa maksud mu?"


"Tidak ada." Yuristhi tersenyum dan hal itu malah membuat Jeanelle makin curiga, ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh penyihir itu.


"Karena pengobatannya sudah selesai dan aku sibuk jadi kau boleh keluar." Yuristhi meraih tangan Jeanelle dan menariknya keluar.


Tunggu! Apa sekarang Jeanelle sedang diusir?


"Tunggu dulu! Aku masih ingin bertanya banyak hal pada mu." ucap Jeanelle sambil memberontak kecil.


"Kau bisa bertanya nanti, aku benar-benar sibuk sekarang."


"Apa kau sesibuk itu? Sampai-sampai tidak datang ke Istana..."


Yuristhi spontan menarik tangan Jeanelle agak kencang dan membuat Jeanelle berdiri dihadapannya. Tatapan Yuristhi berbinar.


"Apa kau merindukanku?"


"Apa?! Tidak."


"Benarkah?" senyum mengejek tersungging di bibir Yuristhi.


Yuristhi tiba-tiba mendekatkan wajah mereka hingga hanya berjarak satu jengkal saja. "Apa kau suka dengan coklat?"


"Huh?"


"Kau habis makan coklat kan? Kalau kau segitunya merindukan ku, beberapa hari lagi aku akan berkunjung ke Istana dan membawakan coklat untuk mu." Yuristhi tersenyum, ia pun membuka pintu dan menyeret Jeanelle keluar.


"Sampai jumpa sayang."


Brak.


Jeanelle terdiam dengan ekspresi terkejut, dirinya benar-benar di usir?! Jeanelle berbalik menghadap pintu besar di hadapannya.


"SIAPA YANG KAU PANGGIL SAYANG?! SIALAN!" teriak Jeanelle sembari menendang pintu dengan agak keras membuat orang-orang yang berlalu lalang disana terkejut.


"Jeje? Ada apa?" tanya Suno bingung. Ia dengar sih saat Yuristhi memanggil Jeanelle dengan sebutan sayang, tapi kan...


Pintu terbuka, kepala Yuristhi menyembul dari balik pintu dan menatap Jeanelle. "Jangan lupa kunjungi Louis ya, aku menitipkan sesuatu padanya." ucap Yuristhi dengan nada jenaka dan mengedipkan sebelah matanya kepada Jeanelle, setelah itu ia kembali menutup pintu.


"Si sialan itu?!" Jeanelle mengepalkan tangannya. Sepertinya kurang lebih Suno tau apa masalahnya.


"Sudahlah, ayo kita pergi Jeje." kata Suno sambil bersusah payah menyeret Jeanelle agar pergi dari tempat itu.


...✢⊢⊷⊢⊷❍ β˜† ❍⊢⊷⊢⊷✢...


Yuristhi menghembuskan nafas leganya dan menyandarkan punggungnya dibalik pintu.


"Bukankah tadi hampir saja?" kata Yuristhi santai. Tak lama seorang pria tua muncul dari dalam lemari pakaian dan menatap Yuristhi kesal.


"Aku tidak akan merestui mu." kesal pria bersurai hitam pekat dengan mata permata ungu itu, wajahnya benar-benar mirip dengan Evan yang membedakan mereka hanyalah rambutnya.


"Ey~ itukan bukan perjanjian awalnya."


"Tetap saja."


"Jangan begitu paman Ervin, oh haruskah aku memanggil mu mantan Kaisar? Tapi sepertinya Jeanelle tidak mengingat apapun tentang mu."


Ervin menghela nafas kasar, ia juga tau tentang hal itu. "Mau bagaimana lagi, aku lega karena dia baik-baik saja. Bagaimana pun juga anak itu mirip dengan ibunya."


Ervin terdiam, tidak masalah walaupun Jeanelle tidak mengingatnya. Ia juga tidak pantas untuk diingat.


"Tapi kenapa kau menyembunyikan ku? Aku ini bukan manusia."


"Kau lupa? Jeanelle juga bisa melihat roh."


...꧁-`π™±π™΄πšπš‚π™°π™Όπ™±πš„π™½π™ΆΒ΄-κ§‚...



{YURISTHI}



{ERVIN}