IT'S MINE {DROP}

IT'S MINE {DROP}
Salah Paham



...꧁-`π™·π™°π™Ώπ™Ώπšˆ πšπ™΄π™°π™³π™Έπ™½π™ΆΒ΄-κ§‚...


...β—Ό...


...β—Ό...


...β—Ό...


"Baila!" sentak Diego yang sontak membuat Baila memalingkan wajahnya dengan air mata yang terus mengalir.


Terry dan Kai juga ikut memalingkan wajahnya. Benar, dikehidupan kali ini mereka mencoba untuk membahagiakan Jeanelle, apapun caranya termaksud dengan mengikhlaskan kebahagiaan mereka untuk Jeanelle.


Mereka sudah cukup bahagia di kehidupan selanjutnya dan kali ini waktunya Jeanelle untuk merasakan kebahagiaan.


"Apa kau pikir Jeanelle akan bahagia jika kau seperti ini?" ucap Diego.


"Diego aku mohon agar kau bisa mengerti, Jeanelle itu mencintai mu jadi sudah pasti Jeanelle akan bahagia. Tolong berikan kebahagiaan untuk Jeanelle." kata Baila sambil menggenggam tangan Diego. Baila benar-benar memohon kepadanya.


"Lalu bagaimana dengan dirimu? Apa kau tidak boleh merasakan kebahagiaan lagi?"


"Apa kau tidak paham? Kita sudah berkali-kali merasakan kebahagiaan namun Jeanelle tidak pernah sama sekali! Kali ini aku berharap agar gadis itu bisa bahagia."


Diego terdiam, ia juga memiliki ingatan sebelum mengulang waktu. Ia juga tau jika dikehidupan sebelumnya Jeanelle mencintainya. Tapi Diego tidak memiliki rasa sedikitpun selain rasa sayang kakak kepada adiknya untuk Jeanelle.


"Aku akan bahagia jika Jeanelle bahagia karena itu aku mohon pada mu Diego. Hanya kali ini saja." Baila memohon dengan tulus.


"Aku tidak mencintainya, bukankah itu akan menyakiti perasaan Jeanelle?" suara Diego terdengar lemah, ia benar-benar mencintai Baila mau dikehidupan dulu ataupun kehidupan sekarang.


"Tolong belajar untuk mencintai Jeanelle. Dia tidak pernah merasakan cinta yang tulus." kata Kai yang sebenarnya juga merasa tidak tega karena harus memisahkan mereka.


Diego menundukkan kepalanya, dirinya juga sudah berhutang banyak pada Jeanelle. "Kalau dengan Jeanelle bahagia dan kau juga bahagia maka aku akan mencoba untuk melakukannya. Tapi cinta ku hanya untuk mu." jelas Diego yang membuat Baila tersenyum pedih.


"Terimakasih. Aku akan mengatur pertemuan kalian."


"Tidak perlu, kita langsung tentukan tanggal pertunangannya saja." kata Diego.


"Aku akan mengirimkan surat untuk mu nanti." ucap Kai yang membuat Diego mengangguk, pada akhirnya Diego pun mengalah namun bukan berarti ia akan berhenti berjuang, ia akan tetap berusaha membatalkan pertunangan ini dan mencarikan Jeanelle pendamping yang lebih baik.


"Maaf Baila." kata Terry sambil memeluk adiknya yang menangis.


"Tidak apa, ini keputusan ku. Jeanelle harus bahagia bagaimana pun caranya." ucap Baila.


Diego terdiam, ia memilih untuk pergi dari tempat itu. Ia pun memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut dan kembali pulang.


...✢⊢⊷⊢⊷❍ β˜† ❍⊢⊷⊢⊷✢...


Beberapa minggu kemudian Jeanelle sudah kembali menjalankan aktivitasnya dengan normal, ia mulai memperbaiki pekerjaan yang tertinggal dan kembali belajar sihir. Jeanelle juga menambah pekerjaannya agar Jeanelle bisa mengambil cuti.



Namun setelah terang-terangan Jeanelle menentang kisah cinta Louis dan Rena, entah kenapa Louis malah semakin gencar mendekati Jeanelle dan berbuat baik pada Jeanelle.


Tentu saja Louis akan melakukan itu, pasalnya Rena tidak mungkin menolak keinginan Jeanelle. Seperti sekarang dimana Jeanelle tengah bersantai di taman dan Louis berada dibelakangnya. Padahal disana sudah ada Hyun dan Jeremy.


"Anda ingin minum teh?" tanya Louis yang malah membuat Jeanelle kesal.


"Memangnya kau pelayan ku?!"


Jeanelle merasa risih karena terus diganggu oleh Louis.


"Tuan Putri." seorang dayang membungkuk dihadapan Jeanelle membuat Jeanelle menatapnya.


"Ada apa?"


"Putri Mahkota menunggu anda di rumah kaca Mansion Dandelion." ujarnya.


Sepertinya Jeanelle tidak memiliki janji dengan Baila, kenapa tiba-tiba dia datang kesana?


"Aku akan segera kesana." kata Jeanelle yang langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju taman belakang Mansion, tentu saja Louis mengikutinya dengan senang hati.


Begitu sampai disana Jeanelle semakin bingung karena sudah ada Diego dan kedua kakaknya. Baila yang menyadari kehadiran Jeanelle segera tersenyum ceria sambil melambaikan tangan.


Tapi Jeanelle tidak bodoh, atmosfer disana sangat jelek. Apalagi wajah Diego yang sangat murung.


"Jelek banget suasananya." kata Louis santai.


"Diam kau!" gumam Jeanelle memperingati. Jeanelle pun tersenyum formalitas dan berjalan mendekati mereka.



"Salam kepada Tuan Duke." kata Jeanelle sembari membungkuk hormat begitu juga dengan Louis.


"Kebetulan ada Louis, silahkan duduk." kata Baila mempersilahkan. Louis pun akhirnya duduk disamping Diego dan disamping Louis ada Jeanelle.


"Ku dengar kau habis jalan-jalan, bagaimana jalan-jalannya?" tanya Baila dengan senyuman yang begitu ceria namun Jeanelle tau kalau ia menyimpan sesuatu yang menyakitkan dalam hatinya.


"Menarik, karena musim panas banyak daun yang berguguran."


"Ya, aku suka melihat daun yang berguguran tapi aku tidak suka dengan udaranya." tangan Jeanelle bergerak mengambil beberapa gula batu dan mencelupkannya kedalam teh.


"Ngomong-ngomong Jeanelle, kau lebih suka musim apa?" tanya Kai tiba-tiba yang membuat Jeanelle menyeritkan kening bingung.


"Aku suka semua musim."


"Kalau begitu diadakan di musim ini juga tidak masalah kan?" Baila terlihat antusias.


"Memangnya ada acara apa?" tanya Jeanelle sembari menyeruput minumannya.


"Pertunangan kau dengan Diego, kau suka ditanggal berapa?" tanya Baila antusias yang malah membuat Jeanelle terkejut, sangking terkejutnya Jeanelle bahkan tidak sadar kalau teh yang dia minum mengalir keluar dari mulutnya.


Apa? Pertunangannya dengan Diego? Loh, kenapa jadi begini? Harusnya Diego bertunangan dengan Baila.


"Astaga Tuan Putri, apa ada lubang di dagu anda? Kenapa minumannya keluar semua? Tuan Putri tidak bisa melakukan apapun tanpa saya, bagaimana jika saya tidak ada?" kata Louis sembari mengusap air teh yang mengalir dari mulut Jeanelle dengan serbet.


"Ya bahagia lah! Dan juga sebelum ada kau aku melakukan semuanya sendiri." kesal Jeanelle. Kenapa tiba-tiba Louis berperilaku seperti pelayan sih?! Memangnya kalau begini Louis akan diberi izin untuk berkencan dengan Rena?!


Tunggu, ada masalah yang lebih penting disini.


"Sebentar! Kenapa aku harus bertunangan dengan Diego?!" kata Jeanelle dengan ekspresi terkejut.


"Tentu saja karena kau menyukainya, apapun yang kau sukai harus bisa menjadi milik mu Jeanelle." kata Baila dengan riang.


'Apa?! Ucapan konyol macam apa itu?! Sejak kapan aku menyukai Diego!'


"Kapan aku bilang jika aku suka padanya?!" sentak Jeanelle yang spontan bangkit dari duduknya.


"Bukankah kau saat itu bilang kepada Baila?" ujar Terry yang malah ikut heran. Pikiran Jeanelle melayang ke beberapa hari yang lalu saat dimana Baila menanyakan tipe pria Jeanelle.


Jeanelle menepuk keningnya. Ah, sial. Jeanelle jadi stres sendiri sekarang.


"Aku tidak menyukai Diego." kata Jeanelle. Yang menyukai Diego kan Baila.


"Jeanelle, kau tidak perlu menyembunyikan perasaan mu." kata Kai dengan tatapan sendu.


"Kau tidak perlu memikirkan diri ku Jeanelle."


Jeanelle melongo mendengar ucapan mereka. Omong kosong macam apa itu?! Jeanelle terlalu sibuk menyelamatkan diri jadi tidak memikirkan cinta. Jeanelle menoleh kearah Diego dan memberi isyarat untuk menghentikan semua ini, namun Diego hanya menggidikan bahunya tak acuh sambil tersenyum lelah.


Ah, sepertinya Diego juga sudah berusaha.


"Dengar! Tidak ada alasan untuk ku menyukainya, aku memang bilang kalau tipe ku seperti Diego tapi kenapa aku harus menyukai Diego!" Jeanelle terdiam sesaat kemudian menoleh menatap Diego. "Maaf, bukan berarti aku membenci mu."


Diego mengangguk dan tersenyum. "Saya mengerti Putri."


"Intinya aku tidak menyukai Diego."


"Jeanelle kau bahkan tidak perlu menekan perasaan mu." kata Terry yang membuat Jeanelle frustasi.


Kenapa mereka sama sekali tidak mendengarkan Jeanelle?! Jeanelle terdiam dan kemudian menoleh kearah Louis yang tengah memakan cemilan. Gurunya itu malah asik-asik makan cemilan disaat muridnya sedang kesulitan. Ah, tapi Jeanelle punya ide.


"Aku menyukai pria lain." kata Jeanelle tiba-tiba. Ini adalah satu-satunya cara yang terpikirkan oleh Jeanelle.


"Apa?! Pria br*ngs*k mana yang berani-- Maksud ku pria beruntung mana yang mendapatkan cinta mu?" kata Kai yang mati-matian menahan rasa kesalnya.


"Itu..." Jeanelle berucap dengan nada yang (pura-pura) malu-malu. "Pemimpin Menara Sihir."


Seketika itu juga mereka semua menjatuhkan apa yang mereka sedang pegang.


'Si b*jing*n itu...' batin Kai, Terry dan Baila kesal.


Disisi Lain...


Yuristhi tiba-tiba berhenti berjalan, ia menatap sekelilingnya dengan heran. "Apaan nih? Kok tiba-tiba aku merinding."


Yuristhi merasa kalau dirinya datang diwaktu yang salah.


...꧁-`π™±π™΄πšπš‚π™°π™Όπ™±πš„π™½π™ΆΒ΄-κ§‚...



{Diego}



{Baila}



{Terry}



{Kai}