IT'S MINE {DROP}

IT'S MINE {DROP}
Kenangan Suno



...꧁-`π™·π™°π™Ώπ™Ώπšˆ πšπ™΄π™°π™³π™Έπ™½π™ΆΒ΄-κ§‚...


...β—Ό...


...β—Ό...


...β—Ό...


"Kau kenapa? Kok nangis?" ucap seorang gadis berusia 14 tahun. Surai blonde yang dikepang dua dan gaun sederhana adalah sesuatu yang sangat menarik perhatiannya.


Saat itu Suno berusia 13 tahun, ia menangis disebuah gang sempit yang ada di pasar ibukota. Padahal sudah 4 jam ia menangis sendirian disini namun baru pertama kali ada seseorang yang menyapanya.


"Kau tidak menjawab ku? Kalau dilihat dari pakaian mu, sepertinya kau seorang bangsawan. Apa kau putra seorang Duke?" tanya gadis kecil itu dengan lantang. Suno saat itu tidak menjawab dan hanya menunduk dalam sambil terisak kecil.


Gadis itu terus memperhatikan dirinya, hingga akhirnya ia menyadari kalau ditubuh Suno yang berbalut pakaian mewah dan jubah hitam terdapat banyak luka lebam maupun luka gores.


"Jadi kau terluka?" gadis itu menarik tangan Suno. "Ayo ikut dengan ku, aku akan mengobati mu."


Saat itu Suno yang terkejut karena tangannya ditarik tiba-tiba hanya terdiam dan menurut. Gadis itu membawa Suno kesebuah tempat yang berada di hutan dekat Ibukota.


Ia membawanya ke tengah hutan hingga akhirnya Suno dapat melihat sebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu. Disana ada beberapa anak yang seumuran dengan Suno.


"Jeje, siapa yang kau bawa?" tanya seorang gadis kecil dengan surai yang digulung ke atas.


"Tidak tau, tapi dia terluka. Bisakah kau menyembuhkannya?"


Gadis itu terlihat berpikir. "Aku akan membuatkan potion untuknya." kemudian gadis itu masuk kedalam rumah kayu tersebut.


"Kau seorang bangsawan ya? Nama ku Hyun dan yang tadi Regina."


"Aku Jeremy. Kau memungutnya dimana?" anak lelaki bernama Jeremy itu menatap Jeanelle.


"Memungut? Kau pikir dia kucing? Tapi aku menemukannya di gang sempit diujung sana."


"Wah, itukan tempat para bandit. Beruntung sekali Jeje membawa mu kesini. Kalau tidak kau pasti sudah dijual."


Mendengar ucapan Hyun sontak membuat Suno merinding, ia tidak tau kalau itu adalah tempat para bandit beruntung sekali dirinya.


"Aku tau, aku melihat beberapa orang yang mengamati anak ini makanya aku membawanya kesini."


"Ternyata kau baik juga ya."


"Kau pikir aku jahat?!" kesalnya. "Tapi sepertinya aku punya sesuatu untuk mu." gadis itu merogoh saku gaunnya dan mengeluarkan 3 buah permen.


Gadis itu menarik paksa tangan Suno dan meletakan permen itu di telapak tangannya.


"Kata seseorang makanan manis bisa mengubah suasana hati yang buruk." gadis itu tersenyum manis yang seketika membuat hati Suno tersentuh.


Suno menggenggam permen itu dengan erat. "Terimakasih."


"Kalau begitu makan lah." ucap Hyun sembari tersenyum.


Suno mengangguk ia kemudian membuka salah satu permen itu dan memakannya. "Ini asam." gadis itu tersentak kaget.


"Oh benarkah? Apa mungkin itu rasa lemon?"


"Kau itu bagaimana sih?"


"Aku tidak tau sungguh."


Untuk pertama kalinya dihari itu Suno tertawa senang, ia melupakan apa yang terjadi tadi dan ia merasakan kebebasan disini. Suno di usianya yang ke 14 tahun menemukan sebuah tempat yang bisa membuatnya beristirahat sejenak.


...***...


'Dan orang yang membantu ku untuk menemukan tempat beristirahat itu adalah kau Jeanelle.'


Karena itu Suno tidak akan pernah segan-segan untuk membantu teman-temannya, bagi Suno teman-temannya adalah keluarga yang harus Suno lindungi.


Suno tidak begitu mengenal ibu kandungnya karena ibu kandungnya pergi setelah menyerahkan Suno pada Duke Algabert. Suno hanyalah anak haram dari keluarga itu.


Ibu dan kakak tiri yang iri kepada Suno selalu berusaha untuk melukainya atau bahkan membunuhnya, disaat itu hanya teman-temannya yang selalu membantu dirinya.


"*Suno! Apa kau baik-baik saja?" tanya Jeremy dengan raut wajah yang panik ia berlari menghampiri Suno yang terduduk ditanah dengan tangan yang terluka.


"Tidak, aku..."


Jeremy memegang bahu Suno. "Tidak apa-apa Suno, aku mengerti. Untuk sekarang kita bersembunyi dulu." Jeremy merobek baju lusuhnya dan mengikatkan kain robekan itu ke tangan Suno yang terluka.


"Regina pasti akan membuatkan potion penyembuh untuk mu. Karena itu kau harus bertahan dari racun ini."


"Bagaimana kau bisa tau kalau ada racun di pisaunya?" Suno nampak terkejut namun saat itu Jeremy hanya tersenyum.


"Suno, ayo naik ke punggung ku. Kita harus segera pergi sebelum pembunuh bayaran itu menemukan kita." kata Hyun yang langsung berlutut dihadapan Suno. Suno pun menurut dan menaiki pundak Hyun*.


Disaat itu Suno bersumpah kalau dirinya akan melindungi mereka semua apapun yang terjadi. Suno tidak akan membiarkan mereka terluka.


"KAAKKK..." Suno melirik sosok monster kalkun yang berlari kearahnya. Suno memundurkan langkahnya, kemudian ia berlari dan melompat. Ia menebas leher monster itu dengan sangat mudah.


Ukuran bukanlah sesuatu yang bisa mengalahkan Suno. Para Kesatria yang melihat hal tersebut langsung tercengang dan berdecak kagum. Padahal Suno masih muda usianya bahkan baru menginjak 15 tahun bulan depan tapi kemampuan berpedang yang Suno miliki sudah sangat hebat.


Suno terlihat sangat fokus dan menyeramkan. Penampilannya berbeda dengan Suno yang berada dihadapan teman-temannya. Jika dihadapan teman-temannya Suno seperti anak anjing yang penurut namun sekarang Suno terlihat seperti serigala yang siap mengoyak apapun yang berani menghalanginya.


"Kalian semua." Suara dingin Suno menyapa indera pendengaran mereka dan membuat mereka merinding. Salju yang menerpa tubuh mereka memang dingin tapi lebih dingin lagi nada bicara Suno.


"Kita akan melindungi Ibukota, kalau bisa kita harus mencegah para monster itu memasuki Ibukota." Kata Suno yang kini sudah siap untuk kembali menyerang.


Suno memasang posisi kuda-kudanya, ia menatap tajam para monster yang bersembunyi dihadapannya. Tatapan Suno seolah-olah berkata, 'Kalau kalian kesini maka aku akan membunuh kalian.''


Beberapa monster yang merasakan aura berbahaya dari Suno memilih untuk mundur namun beberapa dari mereka juga memilih untuk maju dan berakhir dengan mati mengenaskan ditangan Suno.


Di Ibukota ada Regina, tidak mungkin jika Suno membiarkan mereka masuk ke Ibukota dengan mudah.


...✢⊢⊷⊢⊷❍ β˜† ❍⊢⊷⊢⊷✢...


Zin dan Zen berdiri di atap rumah mereka dengan tatapan waspada mereka melihat keatas langit, beberapa burung besar terlihat terbang tinggi. Jika dilihat sekilas itu memang hanya burung besar biasa tapi jika diteliti lagi itu bukanlah burung besar, melainkan monster.


Monster yang terbang bersiap untuk menyerang penduduk. Zin mengangkat busur panahnya tinggi-tinggi dan kemudian memanah burung tersebut. Seketika burung itu terjatuh entah dimana, namun Zin yakin kalau burung itu sudah tewas.


...✢⊢⊷⊢⊷❍ β˜† ❍⊢⊷⊢⊷✢...


Jleb. Pria paruh baya bersurai orange dengan brewok yang menghiasi wajahnya itu menyeritkan keningnya.


Awalnya ia tidak percaya dengan istrinya yang tiba-tiba saja meminta dirinya untuk menjaga Ibukota dengan ketat dan berkeliling.


Istrinya beralasan jika Tuan Putri yang pergi bertarung memburu monster menulis surat jika ada monster yang bisa terbang akan segera muncul, itu hanya omong kosong jika menurutnya.


Tapi jika dirinya menolak maka istrinya akan marah hingga akhirnya ia terpaksa menuruti keinginan sang istri. Siapa sangka jika hal itu benar-benar terjadi? Apa Tuan Putri sudah memperkirakan hal ini?


"Count Elmanuel." panggil seorang pria paruh baya yang usianya sekitar 40 tahun dengan pakaian zirah. Ia berjalan menghampiri pria tersebut.


Surai hijau yang sangat khas itu sepertinya datang kesini juga karena terpaksa.


"Marquez Green? Saya tidak menyangka kita akan bertemu disini."


"Itu benar, tapi yang membuat saya lebih tidak menyangka adalah monster-monster yang berjatuhan ini, walaupun sudah dipanah masih ada yang hidup." jelas Marquez Green sembari menatap hamparan mayat monster itu.


"Ku dengar Tuan Putri sudah menyuruh seseorang untuk memanah monster-monster ini dan tugas kita membunuh mereka yang sudah terjatuh."


"Benar, orang-orang yang ada di hutan Skota sana pasti mati-matian menahan para monster ini untuk tidak menyentuh Ibukota. Kita hanya bisa membantu mereka dari jauh saja."


"Ya, ku harap Tuan Putri dan kawanannya bisa selamat." Count Elmanuel menatap lurus kedepan yang dimana itu adalah arah menuju hutan Skota.


Mereka tidak akan tau apa yang terjadi disana, sesuatu yang lebih heboh dan berbahaya mungkin saja sedang terjadi sekarang.


...꧁-`π™±π™΄πšπš‚π™°π™Όπ™±πš„π™½π™ΆΒ΄-κ§‚...