
...κ§-`π·π°πΏπΏπ ππ΄π°π³πΈπ½πΆΒ΄-κ§...
...βΌ...
...βΌ...
...βΌ...
Ekspresi lega terpancar dengan jelas diwajah Louis ketika melihat Jeanelle. Begitu Jeanelle datang Louis langsung mempersilahkan mereka untuk duduk dikursi yang sudah disediakan.
"Tempat mu berantakan seperti biasa ya."
"Kalau begitu bagaimana jika kita minum teh di luar? Saya rasa udara panas akan sangat cocok dengan Tuan Putri." ucap Louis santai sambil mendudukkan diri dihadapan Jeanelle.
"Terimakasih, setelah ku pikir-pikir aku lebih suka disini."
Louis mengangguk dan kemudian memberikan sebuah kalung dengan batu Manna berwarna merah untuk Jeanelle. Dilihat sekilas pun warna batu ini mirip dengan warna mata Yuristhi, pasti si sialan itu sengaja memilih sesuatu yang mirip dengannya.
"Saya tidak terlalu tau kegunaannya namun beliau bilang kalau ini akan sangat bagus untuk pembersihan dan mengontrol Manna anda." jelas Louis yang membuat Jeanelle mengangguk.
"Hey kau tidak mau memakainya pada ku?" kata Jeanelle yang membuat Louis menyerit bingung.
"Tuan Putri kan punya dua tangan, pakai saja sendiri."
Wah, lihat tingkahnya. Apa benar dia guru Jeanelle, mana mungkin Jeanelle membiarkan pria itu bersama Rena yang lembut dan manis.
Pada akhirnya Jeanelle memakai kalung sendiri.
"Kau sangat sibuk ya." kata Suno sembari menatap sekelilingnya yang benar-benar berantakan.
"Iya, karena itu tolong cepatlah pergi."
"Kau bahkan tidak menjenguk ku saat sakit. Masa kau mau mengusir ku begini!" protes Jeanelle.
"Saya menjenguk anda setiap hari tuh dan sekarang anda terlihat baik-baik saja. Saya kan juga bosan melihat wajah anda setiap hari."
Oh iya, itu benar. Tapi apa boleh dia berbicara begitu pada Tuan Putri?
"Hey aku ini Tuan Putri loh, orang-orang bahkan rela mengantri untuk melihat wajah ku." Jeanelle menunjuk dirinya sendiri.
"Kalau begitu apa saya orang yang beruntung? Wah, saya jadi ingin menukar keberuntungan ini dengan orang lain."
Ah, orang ini benar-benar sarkas ya. Tapi entah kenapa Jeanelle malah tidak bisa marah. Jeanelle kemudian menghela nafas dan menghempaskan punggungnya disandaran kursi.
"Apa anda kesini ingin meminta bayaran untuk inti dan bangkai monsternya?" tanya Louis yang tumben sekali ia peka.
"Kau tau darimana?"
"Saya hanya menebak, lagipula Tuan Putri mata duitan seperti anda mana mungkin membiarkannya secara gratis." ucapnya sarkas dengan wajah datar.
Tidak salah sih, tapi kok rasanya kesalnya. Jeanelle tiba-tiba jadi ingin melempar cangkir teh ke wajah Louis.
"Benar, aku menginginkan beberapa hal. Akan ku beritahu nanti."
"Anda bisa menulisnya disurat."
"Baiklah. Ngomong-ngomong sejak kapan kau potong rambut?" tanya Jeanelle mengingat jika dulu rambut Louis panjang sepinggang namun sekarang menjadi pendek.
"Beberapa hari yang lalu." kata Louis.
"Apa semua itu karena Rena?" tanya Suno yang entah kenapa jadi antusias sendiri. Suno dengar jika Louis berusaha untuk melindungi Rena.
"Mungkin."
Jeanelle dan Suno mendadak tercengang, mereka tidak menyangka kalau Louis akan mengakuinya.
"Kau langsung mengakuinya ya."
"Saya tidak berniat untuk menyembunyikannya."
Suno mengangguk sembari menyeruput minumannya.
"Kenapa kau menyukai Rena? Kau dan Rena terpaut 5 tahun dan juga Rena lebih tua dari mu." tanya Jeanelle yang sebenarnya ia hanya ingin mengetes Louis.
"Tuan Putri." nada bicara Louis mendadak serius. "Cinta itu tidak membutuhkan alasan." tatapan Louis terlihat serius namun berbinar dan wajahnya menjadi cerah.
"Hah?"
"Umur bukanlah patokan untuk jatuh cinta, bukankah cinta itu buta? Nyonya Rena adalah orang yang cantik dan lembut mana mungkin saya tidak jatuh cinta padanya. Bahkan walaupun umur kami terpaut 100 tahun pun saya akan tetap mencintai Nyonya Rena..."
Jeanelle dan Suno terdiam dengan wajah yang melongo, bahkan teh yang sempat Suno minum mendadak mengalir keluar dari mulutnya.
Tunggu! Bukankah Louis adalah orang yang sarkasme? Kenapa tiba-tiba ia jadi puitis begini? Apa dia kesurupan setan cinta?!
Brak. Louis mendadak bangkit dari duduknya dan menggebrak meja. Tentu saja hal itu membuat Jeanelle dan Suno terkejut.
"Bagaimana bisa anda bilang seperti itu?! Cinta saya ini tulus... Saya mencintai Rena apa adanya, bahkan walaupun Rena tidak mencinta saya, saya akan tetap mencintai Rena bla... bla... bla..."
Gila! Louis pasti sudah gila sekarang. Jeanelle yakin hal itu. Karena terlalu banyak melakukan penelitian dia pasti jadi gila, bahkan semua kata-kata puitis yang Louis katakan membuat Jeanelle dan Suno jadi merinding. Mereka bahkan sampai speechless mendengarnya.
Dan juga kenapa wajah Louis bersinar begitu? Apa ada lampu neon diwajahnya?! Tunggu, memangnya di zaman sekarang sudah ada lampu neon?
"Saya bahkan rela mendaki gunung tertinggi di dunia jika itu untuk--"
"STOP!" jerit Jeanelle tiba-tiba, ia langsung bangkit dari duduknya. Kalau begini terus bisa-bisa Jeanelle jadi ikutan gila.
"Bagaimana jika kita mulai pelajaran sihir Minggu depan?" Jeanelle buru-buru mengubah topik.
"Oh benar, banyak hal yang harus anda pelajari." kata Louis yang sudah memegang sebuah gulungan kertas yang berisi daftar-daftar pelajaran Jeanelle.
Sejak kapan dia memegang gulungan itu?! Tapi itu lebih baik dari pada Louis yang mendadak puitis.
"Baik." Jeanelle hampir kehilangan akal sehatnya.
...βΆβΆβ·βΆβ·β β ββΆβ·βΆβ·βΆ...
Keesokan harinya, pada malam hari Jeanelle mengunjungi toko Regina. Jeanelle disambut dengan pelukan dari Regina, Zin dan Zen. Mereka bahkan menangis histeris.
"Apa kau tau? Mereka bahkan berniat untuk menyelinap masuk ke Istana." kata Jeremy yang membuat Jeanelle terkekeh pelan.
Malam sudah larut dan toko Regina sudah tutup, karena itu mereka semua berkumpul didalam rumah Regina.
"Sebenarnya Tuan kenapa?" tanya Zin penasaran. Ia benar-benar khawatir ketika mendengar kabar tentang Tuannya.
Jeanelle menundukkan kepalanya. "Aku ingin membicarakan tentang itu kepada kalian, sebenarnya..."
Jeanelle pun mengatakan yang sejujurnya, tentang bagaimana ia melihat kematian tragis mereka, tentang dugaan mengulang waktu dan tentang kemungkinan mereka semua akan mati jika terus bersama Jeanelle.
Mereka semua mendengarkan ucapan Jeanelle dengan serius.
"Jadi karena itu kau menyuruh kami untuk tidak dekat-dekat dengan mu lagi?" tanya Hyun yang membuat Jeanelle menganggukkan kepalanya.
"Maaf, sepertinya kalian tidak akan aman jika terus bersama ku." tatapan mata Jeanelle berubah menjadi sendu.
Suasana kembali hening, mereka semua terdiam dan saling berpandangan.
"Jeje." panggil Regina yang membuat Jeanelle mendongak.
Plak... Regina tiba-tiba saja menampar wajah Jeanelle pelan dan hal itu membuat Jeanelle terkejut.
"Hey, memangnya boleh memukul Tuan Putri?!" protes Jeanelle.
"Kau itu sebenarnya menganggap kami apa sih?" Suno menyilangkan kedua tangannya didepan dada, ia terlihat kesal.
"Apa?"
"Jeje, kita tidak selemah itu. Kau tau itu kan?" kata Jeremy.
Regina mengangguk. "Itu benar, kau menganggap kami lemah ya?!"
"Sampai mati pun aku tidak akan meninggalkan Tuan." ujar Zen penuh semangat.
"Benar, kami adalah milik Tuan. Karena itu kami tidak bisa meninggalkan Tuan." sambung Zin.
"Kau berniat untuk menanggung semuanya sendiri lagi?" tanya Hyun. "Kalau kau melakukan itu apa kau pikir kami bisa hidup dengan tenang?"
"Apa?! Aku tidak bermaksud begitu... Aku hanya takut. Kematian kalian selalu berbeda-beda, kalau begitu bukankah artinya kita selalu mengulang waktu dan kembali pada akhir yang sama?"
"Kalau pada akhirnya kita mati dikehidupan ini, maka di kehidupan selanjutnya aku akan tetap memilih kalian! Kalau kalian tidak ada maka tidak ada artinya aku hidup." kata Jeremy. Benar, sampai akhirnya Jeremy selalu memilih sahabatnya.
"Ini bukan seperti Jeje yang kami kenal." Regina tersenyum miring.
"Benar, Tuan yang kami kenal itu adalah orang yang licik dan selalu mengambil keuntungan." sahut Zin.
"Berhentilah menjadi sosok Tuan Putri yang agung dan hidup hanya sebagai Jeanelle atau Jeje yang kami kenal. Hiduplah sebagai diri mu sendiri." kata Suno yang disetujui oleh mereka semua.
"Kalau kami tidak cukup kuat maka kami akan berusaha menjadi kuat." Zen tiba-tiba angkat suara. Mungkin setelah ini mereka harus menambah jumlah latihan.
Jeanelle tersenyum lega, ia sangat beruntung memiliki teman-teman seperti mereka. Mereka benar, walaupun ada butterfly effect namun bukan berarti semuanya harus berakhir gagal.
Jeanelle harus melindungi apa yang sudah menjadi miliknya. "Kalau begitu ayo kita buat Guild." ucap Jeanelle tiba-tiba.
"Eh? Guild?!"
...κ§-`π±π΄πππ°πΌπ±ππ½πΆΒ΄-κ§...
{LOUIS}