
...κ§-`π·π°πΏπΏπ ππ΄π°π³πΈπ½πΆΒ΄-κ§...
...βΌ...
...βΌ...
...βΌ...
"Jeanelle." panggil Kai yang membuat Jeanelle menatap mata permata hitamnya. Mereka tengah berdansa dengan seluruh tamu yang memperhatikannya.
"Aku tau ini terlambat, tapi aku benar-benar minta maaf. Apa kita tidak bisa mulai menulis lembaran baru?"
Jeanelle terdiam. Tunggu! Kenapa kesannya Kai adalah mantan yang ditinggal oleh kekasihnya? Harusnya kan tidak begini.
"Mungkin akan sulit untuk mu memaafkan ku, tapi aku benar-benar ingin menjalin hubungan keluarga dengan mu. Tidak bisakah kau memaafkan kami?" tatapan Kai terlihat sendu, ia benar-benar pasrah akan segalanya.
"Sejak awal saya tidak pernah membenci kalian. Saya hanya tidak ingin kecewa lagi." kata Jeanelle.
Itu benar, mereka tidak memiliki salah pada dirinya, mereka bersalah pada Jeanelle yang asli. Sejak memasuki tubuh ini ia sudah bertekad untuk mengubah alur cerita dan entah kenapa alur ceritanya malah berubah sendiri
Tapi Jeanelle tidak begitu tenang, perasaan gelisah karena sesuatu yang berubah cukup membuatnya resah. Karena itu Jeanelle bertekad untuk mencari relasi dan melakukan pencegahan terhadap kejadian buruk kedepannya. Cerita yang ia tau tidak lagi bisa menjadi patokan, mau tak mau Jeanelle harus berusaha sendiri sekarang.
"Yang Mulia, saya sudah memaafkan kalian." kata Jeanelle sambil tersenyum lembut. Kalau Jeanelle yang asli juga pasti akan melakukan hal ini, bukan berarti Jeanelle ingin berdekatan dengan kakak-kakaknya hanya saja mungkin dengan cara seperti ini Jeanelle tidak akan mati ditangan mereka.
Tatapan haru terpasang diwajah Kai, ia tersenyum. "Aku janji untuk tidak mengecewakan mu Jeanelle, terimakasih banyak." Kai sangat senang namun berbeda dengan Jeanelle yang memasang ekspresi iba.
Ia merasa iba pada kakak-kakaknya Jeanelle yang tidak bisa meminta maaf pada Jeanelle yang asli, sepenuhnya mereka telah kehilangan gadis malang itu.
Begitu lagu pertama selesai, Baila langsung kembali mengajak Jeanelle berdansa, Baila dan Jeanelle berbincang-bincang hangat dan sama seperti Kai, Baila juga meminta maaf pada Jeanelle dan jawaban Jeanelle tidak jauh berbeda.
Setelah lagi kedua selesai, lanjut lagu ketiga. Kali ini Terry yang mengajak Jeanelle berdansa.
"Kau gugup?" tanya Terry yang membuat Jeanelle mengangguk.
"Sedikit, tapi sekarang saya sudah lebih baik."
"Aku bersyukur karena kau beradaptasi dengan cepat." Terry tersenyum dan mereka berbincang-bincang sesaat sampai lagi selesai.
"Nikmati pesta mu." kata Terry agak berbisik. Jeanelle hanya bisa tersenyum. Sejujurnya ia sangat lelah, kedua kakinya bahkan gemetar.
'Aku mau beristirahat.'
"Tuan Putri." suara itu menyapa telinga Jeanelle yang seketika membuat Jeanelle terdiam, ia sangat mengenali suara ini.
Jeanelle berbalik dan melihat pria bersurai perak itu tersenyum kearahnya, ini pertama kalinya Jeanelle melihat Suno dengan tampilan formal.
"Mau kah anda berdansa dengan saya?" Suno membungkuk hormat dan menjulurkan tangannya, tentu saja Jeanelle menerimanya dan Jeanelle kembali berdansa untuk yang ke empat kalinya.
...βΆβΆβ·βΆβ·β β ββΆβ·βΆβ·βΆ...
Begitu selesai berdansa Suno mengajak Jeanelle untuk pergi ke balkon dan disana sudah ada Hyun, Jeremy dan Regina dengan pakaian formal mereka.
"Jadi selama ini kau Tuan Putri?!" kata Hyun dan Regina bersamaan, ekspresi terkejut terlihat dengan jelas diwajah mereka.
"B-begitulah." kata Jeanelle agak gugup.
"Selama ini aku bersikap tidak sopan pada Tuan Putri." ujar Regina dengan heboh. Jeremy yang melihat kehebohan ini hanya tertawa.
"Sebenarnya tidak ada alasan khusus, aku hanya ingin mencari teman yang benar-benar tulus pada ku dan bukan karena aku seorang Tuan Putri, lagipula selama ini aku juga diabaikan." Jeanelle terkekeh pelan.
"Aku tidak menyalahkan mu, masing-masing dari kami juga punya rahasia." kata Jeremy. "Sebenarnya dulu aku adalah seorang Pangeran dari Kerajaan musuh, seluruh keluarga ku hancur dan aku melarikan diri."
Penjelasan Jeremy mampu membuat mereka semua terdiam sambil menatap Jeremy curiga. Kalau Kerajaan musuh berarti Kerajaan yang sudah dihancurkan oleh Kekaisaran Evan kan?
Apa Jeremy berteman dengan mereka untuk menghancurkan Kekaisaran ini alias balas dendam?
"Hey, aku tidak ada niatan untuk balas dendam atau semacamnya! Aku juga muak dengan Kerajaan ku yang saling membunuh untuk memperebutkan tahta Raja, untungnya Kerajaan itu hancur." Jeremy tertawa terbahak-bahak seolah-olah itu adalah hal yang lucu, namun berbeda dengan ke empat orang itu yang menatapnya dengan tatapan aneh, apa Jeremy serius mengucapkannya?
"Kalau rahasia ku, aku keturunan Siren. Ibuku seorang Alchemist dan ayahku seorang Siren." jelas Regina sembari tersenyum, "Aku punya sedikit sisik di bagian sini." Regina menunjuk paha kanannya. Sayangnya Regina tidak bisa berubah menjadi Siren namun kekuatan Siren masih ada dalam tubuhnya.
"Kalau aku tidak punya rahasia khusus sih, walaupun aku anak haram tapi aku satu-satunya anak lelaki dalam keluarga Algabert jadi aku adalah penerus keluarga itu. Banyak yang mengincar nyawa ku." kata Suno mengingat beberapa hari yang lalu ada seorang penyusup yang hampir membunuhnya.
"Karena kau seorang Tuan Putri dan sudah diketahui secara umum aku yakin banyak yang mengincar mu juga, jadi berhati-hatilah."
"Aku paham."
"Ngomong-ngomong tentang penyusup..." Jeremy menjeda ucapannya, "Aku dan Hyun mendapatkan undangan khusus untuk ujian Kesatria Kekaisaran."
Hyun memperlihatkan undangan dengan amplop coklat dan bersegel Kekaisaran itu kehadapan mereka.
"Aku dapat undangan untuk mempelajari Alchemist di menara sihir." kata Regina yang juga menunjukkan amplop berwarna yang sama.
"Kalau aku mendapatkan undangan belajar untuk menjadi penerus di Kekaisaran."
Jeanelle terdiam, ia agak terkejut sekaligus bingung. Ceritanya berubah sejauh ini padahal ini masih awal dan entah kenapa, Jeanelle seperti perlahan melupakan cerita aslinya. Apa yang sedang terjadi sekarang?
"Siapa yang mengirim undangan itu untuk kalian?" tanya Jeanelle yang malah membuat mereka juga kebingungan.
"Apa? Bukannya kau?" kata Hyun yang membuat Jeanelle buru-buru menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana cara kalian bertiga datang kesini? Aku tidak mengundang kalian untuk datang."
"Apa? Apa maksud mu? Jelas-jelas ada dua orang Kesatria yang memberikan undangan ini atas perintah Kekaisaran." jelas Regina. Seolah baru menyadarinya sesuatu mereka terdiam, orang itu hanya bilang atas perintah Kekaisaran bukan atas perintah Tuan Putri.
Jeanelle ingat dengan jelas kalau di dalam komik Jeanelle yang asli sama sekali tidak memiliki teman.
Nyut. Kaki Jeanelle mendadak gemetar, kepalanya terasa sakit. Jeanelle hampir saja terjatuh kalau saja ia tidak ditangkap oleh Suno.
"Tuan Putri?!" kata Suno dengan agak panik.
Entah kenapa seperti ada sesuatu yang Jeanelle lupakan. Ini aneh!
"Je-- Maksud saya Tuan Putri, anda baik-baik saja?" Kali ini Hyun yang bertanya.
Jeanelle mendadak menatap Suno dengan ekspresi yang sulit di artikan. 'Apa-apaan itu?!'
...κ§-`π±π΄πππ°πΌπ±ππ½πΆΒ΄-κ§...
πππ¦π§ :
γπuno πΈlgabertγ